Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 54. Pertarungan Miss Z.


__ADS_3

Yoham mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mendapat kabar dari anak buahnya, kalau Pak Surya, salah satu pemegang saham tertinggi sedang ada di sebuah restoran yang ada di dekat kantor SJ Group.


“Cepat. Kita tidak bisa kehilangan dia kali ini.” Perintah Nawa kembali.


Dan untunglah, saat mereka sampai d irestoran itu, pak Surya masih ada di sana. Segera saja Nawa menghampiri pria paruh baya itu yang sedang duduk bersama dengan istrinya.


“Apa-apaan ini tidak sopan sekali. Apa kamu tidak tau kalau aku sedang makan bersama dengan istriku?” Hardik pak Surya saat tiba-tiba Nawa duduk di meja mereka.


“Maaf, Pak. Bukan bermaksud lancang. Saya hanya ingin berbicara penting kepada Bapak. Mohon untuk mendengarkan sebentar.”


“Pa, apa aku harus pergi dulu?” Tanya sang istri kepada pak Surya. Merasa tidak enak dengan keberadaannya di sana akan mengganggu pembicaraan penting yang di maksud oleh Nawa.


“Tidak perlu, Bu. Anda disini saja. Tidak akan mengganggu.” Ujar Nawa kemudian.


“Ehem.” Pak Surya berdehem pelan. “Apa yang ingin kamu bicarakan? Apa ini menyangkit dengan rapat direksi mendatang? Saya dengar kalau rapat itu akan menentukan posisi CEO selanjutnya.”


“Ya. Dan saya harap, anda mau mendukung saya untuk memimpin SJ Group di waktu yang akan datang.”


Pak Surya terdiam. Ia melanjutkan makannya.


“Bukankah anda dan ayah saya berhubungan sangat baik, dulu?”


“Ya, dulu memang begitu. Saya sangat mempercayai kinerja ayahmu. Tapi, apa kamu bisa menggantikan posisi ayahmu seperti Dianty? Sepertinya, perjalananmu masih jauh, Nawa.”


“Dianty hanya orang lain, Pak. Tapi saya, adalah anak kandung dari ayah saya.”


“Bisnis tidak mengenal darah, Nawa. Bagi pebisnis seperti kami, siapa yang mampu memberikan keuntungan kepada kami, dan memiliki pemahaman yang baik tentang perusahaan, itulah yang kami pilih.”


“Berikan saya kesempatan untuk membuktikan diri, Pak.”


“Entahlah, kita lihat saja nanti. Aku sudah punya pilihanku sendiri.” Ujar pak Surya menghentikan pembicaraan itu.


Nawa mengangguk dengan wajah lesu dan kecewa. Sepertinya, yang ini juga tidak berpihak padanya.


Dengan menghela nafas kecewa, Nawa pamit undur diri dari sana dan kembali ke kantor.


**


**


Di Club ARA.


Hari sudah menjelang malam. Matahari bersiap beristirahat di singgasananya. Di sebuah ruangan VIP di Club Ara, Suta sedang bersantai bersama dengan Miss Z. Suta memberitahu tentang permintaan Dianty yang meminta ia menyerahkan wanita itu.


“Bagaimana dia bisa tau kalau aku membantu Nawa?”


“Entahlah, aku juga tidak tau. Kau harus berhati-hati, Z. Dia sangat berbahaya.”

__ADS_1


“Aku tau. Kalau tidak mana mungkin aku memulai permainan ini. Tapi tenang saja, separuh tujuanku sudah tercapai.”


“Perasaanku tidak enak soal ini.”


“Jangan khawatir. Kita sudah mempertaruhkan semuanya untuk ini. Aku tidak akan mundur begitu saja hanya karna dia membahayakanku. Aku akan memastikan kemenangan kita.”


Suta tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Miss Z. Genggaman hangat yang mengalirkan kepercayaannya kepada wanita itu.


“Berhati-hatilah.”


“Pasti.”


Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar keributan di luar ruangan. Tepatnya, dari arah bagian bartender. Untungnya club baru saja di buka, jadi belum banyak pengunjung yang datang.


Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh dan masuk ke ruangan vip dimana Suta dan Miss Z berada.


“Tuan, nyonya Tahara, Tuan.” Kata pelayan pria itu.


“Tahara kenapa?” Tanya Suta segera. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menatap pelayan itu dengan tatapan cemas.


“Seseorang sedang menghajarnya.”


“Apa?” Pekik Suta dan Miss Z kompak. Mereka berdua langsung berlari keluar. Miss Z segera memakai kembali maskernya sambil berlari.


Dan benar saja, di dekat meja bartender, seorang pria berbadan tegap sedang menarik rambut Tahara sampai kepalanya mendongak ke belakang. Sementara wanita itu nampak babak belur dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah.


“Apa yang kamu lakukan?!!” Pekik Miss Z. Ia langsung merangsek mendekat kepada mereka. Menatap marah kepada pria yang menjambak Tahara itu.


“No-na.” Lirih Tahara lemas. Ia menatap pias kepada Miss Z.


“Waahhhh, akhirnya muncul juga.” Terdengar suara seorang wanita dari meja pengunjung yang tidak di perhatikan oleh Miss Z dan Suta. Karna pandangan mereka langsung tertuju kepada Tahara.


“Dianty?” Suta terkejut. Begitu pula dengan Miss Z. Mereka kompak menatap Dianty dengan kernyitan.


“Halo, Miss Z. Lama tidak bertemu.” Kekeh Dianty seolah mendominasi keadaan dengan senyuman lantangnya.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia” tanya Miss Z.


Dianty memberi kode kepada anak buahnya untuk melepaskan Tahara. Setelah terlepas dari jambakan pria itu, Suta segera menghampiri Tahara dan membantunya menyingkir dari sana.


“Apa kau tau betapa sulitnya aku mencarimu? Aku bahkan hampir mendatangi rumahnya. Karna ku fikir kau ada disana.”


“Ada urusan apa kau denganku?”


“Aku penasaran. Kenapa kau membantu Nawa dan ikut campur urusanku?”


“Suka-suka aku ingin membantu siapa. Apa urusannya denganmu?”

__ADS_1


“Aaahhhh. Itu bukan jawaban yang ku inginkan.”


“Kau juga, kalau mencariku, kenapa sampai melibatkan Tahara?”


“Aku hanya ingin menghajar teman yang tidak tau diri yang sudah berani menipuku. Wajar kan. Soalnya aku sedang kesal.”


“Mau melampiaskan kekesalanmu padaku?” Tawar Miss Z kembali.


“Aku senang, akhirnya aku punya lawan wanita yang sepadan. Tapi tidak sekarang, aku akan meladenimu lain kali. Saat ada Nawa bersama kita.”


Kening Miss Z berkerut. Ia terus menatap tajam kepada Dianty.


“Kenapa? Kau takut melawanku? Pengecut.”


Merasa sudah terdinggung, Dianty memberi kode kepada anak buahnya untuk menghajar Miss Z.


Dan, perkelahian tidak dapat di hindarkan. Suta dan Miss Z masing-masing melawan anak buah Dianty. Sementara wanita itu hanya jadi penonton saja.


Miss Z berhasil menumbangkan satu lawannya. Itu memudahkan dia untuk pergerakan selanjutnya. Satu pria telah terkapar di lantai dengan meng-aduh kesakitan.


Miss Z mengeluarkan senjata andalannya, yaitu sebuah pisau lipat mini yang tajamnya melebihi silet. Ia menggenggam dengan tangan kananya dan memasang kuda-kuda. Menyimpan pisau itu di depan wajahnya dan,


Sret!


Secepat kilat ia sudah berhasil menorehkan luka di samping lutut pira itu dalam satu gerakan saat pria itu merangsek untuk melancarkan serangannya.


Darah sudah berceceran di lantai. Dan pria kedua sudah sulit menyeimbangkan tubuhnya.


Namun, pria pertama yang ia kalahkan kembali bangun, dengan sisa tenaganya, ia berusaha mengalahkan Miss Z yang jelas bukan tandingan mereka.


Di sisi lain, Suta juga tidak mau kalah, ia sudah berhasil mengalahkan kedua lawannya hingga terkapar tidak berdaya.


Dengan gerakan gesitnya, Miss Z meninju bagian perut pria itu kemudian berbalik sambil meraih tangannya.


Brakk!


Ia membanting pria pertama sampai mengenai meja dan membuat meja hancur berkeping-keping. Dan tanpa di sadari oleh lawannya, ia sudah meletakkan pisau kecilnya di leher pria itu dan siap menggeseknya di sana.


“Ayo kita sudahi saja yang ini. Tidak seru kalau permainan kecil begini.” Ujar Dianty yang kemudian langsung berjalan keluar dari club. Di ikuti oleh ke empat anak buahnya yang berjalan dengan terseok-seok.




jangan lupa terus dukung author dengan cara meninggalkan jejak yaaa. kalau ada ya vote, rate bintang lima, dan hadiahnya juga akan dengan senang hati author terima. biar tambah semangat nulisnya.


makasih yang udah dukung cerita ini sampai sekarang. semoga kalian gak bosen.

__ADS_1


love, love,


PiEl


__ADS_2