Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 65. Benci Dan Cinta Sedang Berperang.


__ADS_3

Udara semakin terasa dingin berhembus. Menembusi tulang-belulang Nawa yang sudah basah kuyup akibat tercebur di laut.


Perlahan, Nawa membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Ia bisa melihat cahaya kilau kemerahan di depan matanya.


Apa aku sudah mati?


Itulah hal yang pertama terlintas dalam benak Nawa. Dan cahaya yang ia lihat itu pastilah wujud dari malaikat.


“Kau sudah bangun?”


Suara itu terdengar samar di telinganya yang masih berdengung. Nawa menyatukan pelipisnya demi merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tepatnya di perut dan lengannya. Hal itu membuatnya sulit untuk menggerakkan badan.


Nawa ingin mencari sumber suara namun pandangannya masih belum jelas. Ia bisa melihat sosok menyerupai manusia di depannya.


“Nawa?”


Ah, Nawa berhalusinasi setelah pendengarannya berangsur normal. Ia seperti mendengar suara Anis.


Ya! Anis! Pekik Nawa dalam hati. Dan seketika kesadarannya merangsek untuk kembali.


Nawa membuka mata lebar-lebar. Hendak bangun tapi langsung mengernyit menahan sakit. Tapi ia memaksa untuk duduk.


“Jangan dulu bergerak. Lukamu masih basah.”


Sekarang Nawa tidak lagi berhalusinasi. Karna kini ia melihat dengan jelas sosok Anis yang duduk di dekat perapian di depannya. Gadis itu sedang mengeringkan celana jeansnya di dekat api.


Melihat wajah Anis, sontak membuat emosi Nawa kembali memuncak. Perasaan dibohongi dan di  kacungi oleh Anis membuat darahnya kembali mendidih. Ia menatap Anis dengan penuh kemarahan. Ingin rasanya dia merangsek maju dan mencekik leher gadis itu hingga tewas.


Sementara Anis nampak bersikap santai saja. Ia kemudian menjemur celananya yang setengah kering di atas batang kayu yang sudah tumbang. Dengan hanya menggunakan tangtop berwarna hitam, dan celana pendek ketat di atas lutut, ia berjalan mendekati Nawa.


Nawa ingin sekali memaki dengan sumpah serapah dari mulutnya. Tapi, kalimat-kalimat itu hanya tertelan kembali dan tidak sanggup ia keluarkan.

__ADS_1


Anis berjongkok di hadapan Nawa dengan bertumpu pada sebelah lengan di atas siku. Terus menatap pias kepada Nawa yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.


“Maaf.” Kata itu justru membuat Nawa semakin ingin mencincang tubuh gadis itu.


“Maaf? Setelah semua ini?”


“Aku tidak punya pilihan lain.”


“Punya. Kau punya pilihan lain. Kau bisa jujur padaku kalau kau itu adalah Miss Z! Bukan malah mempermainkanku seperti ini!” Geram Nawa. Sungguh, ia ingin mencekik gadis itu. Tapi tangannya sibuk memegangi luka di perutnya yang entah kapan sudah terbalut.


Dada Nawa naik turun. Merasakan emosi yang membuncah di dalam dirinya. Ia sangat marah kepada Anis. Tidak, bukan. Kepada Miss Z yang telah tega mempermainkan dan memanfaatkannya.


Ya, Rengganis adalah Miss Z. Pembunuh bayaran yang sudah di sewa Nawa untuk melindungi Anis. Itulah konyolnya. Nawa menyewa Anis untuk melindungi Anis. Bagaimana ia tidak merasa di permainkan?


Nawa mengetahuinya lewat video yang dikirim oleh Bagas padanya. Dan ia semakin yakin saat melihat video lengkapnya di atas kapal tadi.


Video itu adalah video yang Bagas ambil saat Anis bertemu dengan Dianty di restoran tempo hari. Dimana disana jelas menampakkan Anis menghabisi satu persatu anak buahnya dengan sadis. Kemudian bertingkah seolah bukan dia yang melakukannya setelah Nawa datang.


“Akting yang mana? Menjadi anak buah Dianty? Atau, berpura-pura bodoh dan tidak tau apa-apa? Ya, kalau kau menganggap itu akting, oke. Tidak masalah. Tapi aku tidak berakting untuk satu hal.” Ujar Anis kemudian. Ia memajukan wajahnya hingga berada sangat dekat dengan Nawa. Memandangi pias wajah pucat yang ada di hadapannya itu. Kemudian menempelkan bibirnya di bibir pucat Nawa.


Nawa hanya bisa membulatkan matanya. Heran bercampur marah dengan perlakuan Anis padanya itu. Bagaimana bisa dia menciumnya di saat seperti ini?


Setelah beberapa detik berlalu, Anis barulah menjauhkan wajahnya. Menatap Nawa dengan tatapan yang entah. Nawa tidak bisa mengartikannya. Nawa tidak tau betapa leganya Anis melihatnya masih bernafas.


Dalam gelapnya malam dan hanya terbias oleh cahaya api unggun, Nawa bisa melihat kilatan ketulusan dari netra Anis. Tapi ia berusaha untuk mengusir perasaan itu. Dia sedang marah kepada Anis. Jadi dia tidak boleh terbawa suasana hanya dengan kecupan kecil dan tatapan saja.


“Aku tidak pernah berakting saat menyukaimu.” Lirih Anis kembali.


Anis berdiri dan kembali ke tempat duduknya semula. Kembali mengganggang celananya yang masih setengah kering itu. Sesekali ia menatap Nawa yang masih terpaku melihatnya.


Ya, Anis tau. Nawa pasti merasa terhianati setelah semua yang pria itu lakukan untuknya.

__ADS_1


“Aku lega kau selamat. Apa kau tau betapa khawatirnya aku saat menarikmu dari dalam air? Apalagi saat itu kau tidak bernafas dan darah terus saja keluar dari lukamu. Aku fikir aku akan kehilanganmu.”


Nawa melirik perutnya yang sudah di ikat kain. Begitu juga dengan lengannya.


“Cih! Omong kosong.” Rasa cinta Nawa, kini sudah terbungkus oleh sebongkah kebencian.


Raut wajah Anis berubah setelah mendengar hardikan dari Nawa itu. Entah kenapa, ada rasa sakit yang berani menelusupi jantungnya. Nyeri di ulu hati.


Anis faham kalau Nawa membencinya. Tapi, ia lega karna berhasil menyelamatkan pria itu.


Yang terjadi beberapa saat yang lalu adalah.


Anis tidak sepenuhnya tertidur saat Nawa mendapat telfon di tempat tidur. Ia terus mendengarkan. Dan saat Nawa menelfon sambil marah-marah kemudian keluar dari kamar, Anis mengikutinya. Membuka sedikit daun pintu agar ia bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan oleh Nawa.


Melihat kemarahan Nawa, Anis merasa ada sesuatu yang tidak beres yang sudah terjadi. Dan entah kenapa perasaannya mengatakan itu tidak baik.


Diam-diam, Anis mengikuti Nawa. Bahkan ia menyewa sebuah perahu untuk mengikuti Nawa sampai ke tengah laut. Ia juga berpindah ke kapal besar dan mengendap-endap disana. Untungnya, Bagas dan anak buahnya tidak melihatnya.


Anis terus memantau situasi. Menyembunyikan diri dengan terus mengawasi Nawa. Ia juga terkejut saat melihat video dari tempatnya bersembunyi.


Dan, Anis kalah langkah saat tiba-tiba Bagas memukul tengkuk kepala Nawa sampai pria itu pingsan. Dia juga tida bisa berbuat banyak saat Bagas memaksa menyuapai Nawa yang pingsan dengan sesuatu. Ia tidak bisa mengambil tindakan karna tidak tau apa yang di masukkan Bagas ke dalam mulut Nawa.


Setelah mendengar pembicaraan Bagas mengenai tempura udang, barulah Anis mengerti. Ia teringat dengan kata-kata Nawa yang mengatakan kalau ia alergi seafood.


Sudah kepalang terlambat. Jadi Anis memutuskan untuk memantau situasi dulu sebelum bertindak menyelamatkan Nawa.


Anis memutar otak untuk mencari cara untuk menyelamatkan Nawa. Nyawa pria itu sedang di ujung tanduk. Apalagi ia melihat Nawa yang sudah lemas tak bertenaga. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu. Mata Anis tertuju kepada sekaleng jus lemon di atas meja di dalam ruangan. Ia segera masuk dan menyambar jus itu kemudian memasukkannya ke dalam kantung celana.


Anis segera keluar saat ia mendengar suara tercebur yang begitu kuat. Dan benar saja, ia melihat Bagas di pinggir kapal dengan melonggokkan kepala ke bawah. Senyum kepuasan terpancar jelas dari wajahnya.


siall!! Umpat Anis dalam hati. Ia segera mencari jalan untuk ikut menceburkan diri.

__ADS_1


__ADS_2