Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 38. Dendam Karna Wanita.


__ADS_3

Dengan sangat cepat, Anis berlari menuju ke arah pintu ruang rahasia dan menekan tombol yang ada disana. Namun yang tidak pernah ia duga adalah, kalau ternyata itu bukan hanya butuh angka untuk membukanya melainkan sebuah sidik jari dari Nawa.


Anis menatapi kegagalannya dengan frustasi sebelum ia sadar kalau ia harus segera pergi dari sana. Ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.


Dua orang security langsung menerobos masuk saat melihat CCTV yang terhalang. Mereka berdua langsung naik ke lantai dua dengan terengah-engah dan mendapati Anis yang sedang berusaha membersihkan kamera CCTV itu.


“Ada apa, Nona?” Tanya salah satunya dengan nada curiga.


“Oh? Astaga, aku minta maaf. Aku tidak sengaja menumpahkannya.” Jawab Anis yang sedang menahan diri karna ia sedang gemetar luar biasa.


“Apa semua baik-baik saja?” Tanya yang lain dengan mengintip ke arah pintu ruang rahasia.


“Ehm, ya. Semua baik-baik saja. Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Kalau begitu kami permisi dulu.” Pamit mereka kemudian mengangguk dan berlalu pergi setelah memastikan tidak terjadi apa-apa disana.


Anis segera membereskan barang-barangnya dan beranjak dari koridor untuk pergi ke dapur. Sesampainya di dapur, Anis terduduk lesu di kursi makan. Ia sedang meratapi kebodohannya sendiri. Sia-sia ia merencanakan semuanya sampai ia mengira itu akan berhasil.


Anis meraih ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu disana dan mengirimkannya kepada Dianty. Ia mengatakan kepada dianty kalau ia membutuhkan sidik jari Nawa untuk bisa masuk ke dalam ruang rahasia itu.


“Baiklah, jangan khawatir. Aku kenal seseorang yang bisa membantumu.” Jawab Dianty optimis.


Sementara security sudah kembali ke ruang kontrol dan sedang melaporkan hal yang baru saja terjadi kepada Nawa. Tentu saja Nawa sangat berang mendengar kabar itu. Ia bahkan sampai memaki ponselnya padahal ia sedang berada di lobi gedung kantor. Untung Yoham segera menenangkannya.


“Aku fikir dia sudah menyerah. Sial!!” Maki Nawa meluapkan kekesalannya saat sudah berada di dalam ruangannya.


“Apa yang akan anda lakukan, Tuan?”


“Tentu saja aku harus memberi pelajaran padanya.” Geram Nawa. “Bagaimana dengan Miss Z?”

__ADS_1


“Saya sudah mendapatkan kontaknya dari Anoda, Tuan. Dan saya juga sudah membuatkan janji untuk bertemu dengan miss Z. Namun belum ada tanggapan sama sekali.” Jelas Yoham kemudian.


Tidak mudah untuk mendapatkan informasi tentang Miss Z dari Anoda. Bahkan Yoham butuh waktu selama hampir satu bulan untuk mendapatkannya. Mereka sangat melindungi Miss Z jadi tidak sembarang orang yang bisa bertemu dengan wanita itu.


“Berikan kontaknya dan aku akan menghubunginya sendiri dan meyakinkannya.”


Yoham memberikan sebuah alamat E-mail kepada Nawa. Itu adalah satu-satunya cara untuk terhubung dengan Miss Z. Dengan segera Nawa membuka laptopnya dan mengirimkan E-mail kepada Miss Z.


‘Aku Arnawama Samudera, aku ingin bicara dan bertemu denganmu.’ sesingkat itu yang Nawa kirimkan. Ia berharap kalau miss Z akan membalas pesannya.


Saat istirahat makan siang, Nawa meninggalkan pekerjaannya dan pergi dari gedung SJ Tower. Ia ingin menemui seseorang yang sudah lama mengganggu fikirannya.


“Anda mau kemana, Tuan?”


“Aku harus bertemu dengan Bagas. Ayo kita ke studio.”


Karna sibuknya Nawa dengan Anis dan hal-hal yang terjadi di luar dugaannya, ia sampai lupa tentang kasus penusukan dirinya beberapa waktu yang lalu. Dimana yang ia tau, yang mendalangi penusukan itu ialah Bagas. Dan juga ia sudah punya janji dengan Suta untuk mengusut dan mencari tau kenapa Bagas bisa terlibat.


Yoham langsung membuka pintu studio saat mereka sampai disana dan mempersilahkan Nawa untuk masuk terlebih dahulu.


Bagas sedang duduk dengan santainya di sofa ruang tamu saat Nawa masuk ke dalam studionya. Ia nampak sedikit terkejut namun berhasil menguasai diri. Tatapan jengah nampak jelas dari mata Bagas.


Nawa tidak peduli, ia hanya langsung mengambil duduk tepat di hadapan Bagas yang bahkan tidak mau berdiri untuk menyambutnya.


“Mau apa kau kemari?”


“Aku hampir lupa dengan masalahmu. Kenapa kau melakukannya?” Tanya Nawa langsung pada intinya.


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


Karna melihat Bagas yang pura-pura tidak mengerti, Yoham segera mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Bagas.


Bagas hanya melihat sekilas kepada ponsel yang di letakkan di atas meja itu kemudian kembali menyandarkan punggungnya seperti semula.


“Kau yang memerintahkannya, kan?” Desak Nawa.


“Hhhhhhh! Kenapa kau tidak mati saja waktu itu?” Ternyata Bagas tidak berniat untuk menutupi perbuatannya. Ia hanya sedang menunggu Nawa untuk mengetahui semuanya dan bertanya padanya secara langsung.


“Apa selama ini kau memang orang yang seperti ini?”


“Aku berhasil menipumu, iya kan? Hahahahaha.” Bagas tertawa dengan congkaknya.


“Kita tidak pernah berselisih. Kenapa kau tega melakukan hal itu padaku?”


“Dengar, ya. Aku ini anak Ibuku. Dari segi manapun, aku selalu ada di pihaknya. Tentu saja aku ingin menyingkirkanmu karna kakakku tidak becus melakukannya. Siapa tau, kalau aku bisa menyingkirkanmu dengan ke dua tanganku, Ibu akan memilihku sebagai ahli warisnya?”


“Uang? Itukah alasanmu?”


“Tentu saja tidak. Harumi, apa kau mengingatnya? Gadis yang kau lenyapkan dengan tanganmu sendiri.” Nada bicara Bagas berubah dalam dan berat. Ia seperti memendam sebuah dendam kesumat kepada Nawa.


Mendengar nama Harumi, ingatan Nawa langsung melesat ke waktu sekitar lima tahun yang lalu saat ia masih tinggal di Jepang. Harumi merupakan salah satu orang kepercayaannya yang pada akhirnya menghianatinya dan berakhir di tangannya sendiri. Kalau Nawa tau sejak awal bahwa Harumi merupakan mata-mata yang di kirim musuhnya, ia tidak akan menaruh rasa kepercayaan yang begitu tinggi kepada gadis itu.


“Bagaimana kau mengenal Harumi?”


“Hemph! Ternyata kau masih mengingatnya. Ku fikir kau sudah melupakannya.”


“Aku tanya bagaimana kau bisa tau tentang Harumi!!!!!” Teriak Nawa karna kesabarannya sudah mulai menipis. Ia merangsek melompati meja kemudian mencengkeram kerah baju Bagas. Bola matanya hampir keluar saat menatap marah kepada Bagas.


“Dia adalah wanita yang sangat ku cintai. Dan kau merenggutnya dariku, jadi akan ku pastikan kau mengalami hal yang sama. Aku akan menghancurkan apapun yang kau cintai, termasuk gadis itu. Aku tidak peduli apa kau mencintai istrimu apa tidak, aku hanya akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping.” Tegas Bagas sambil menggeretakkan giginya.

__ADS_1


Tatapan matanya yang beradu dengan tatapan Nawa, sama sekali tidak menampakkan kalau Bagas takut dengan Nawa. Justru sebaliknya, Bagas seperti sedang meluapkan dendam lewat tatapan itu.


Nawa menghempaskan kerah baju Bagas dengan kasar sampai pria itu sedikit terhuyung. Kini jelas sudah bagi Nawa siapa yang lebih membahayakan dirinya antara Bagas dan Barra, dan kepada siapa ia harus lebih berhati-hati lagi.


__ADS_2