Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 61. Keserakahan.


__ADS_3

“Aaaaaaaaaaaaaakkkhhhh!!!!!!!!!!”


Pekikan pria yang terikat di kursi itu semakin menjadi saat sebuah pisau menyayat lutut pria itu. Sementara wajahnya sudah lebam tidak karuan. Benjol dan berdarah di sana sini. Wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.


Tapi Nawa, tidak puas. Seakan kehausan yang selama ini ia tahan menjadi sia-sia saat mendengar ayah angkatnya di habisi oleh pria itu. Iblis yang bersembunyi di dalam diri Nawa mencuat saat sudah bersinggungan dengan dendam.


“Aaaaaaaaaaaaa!!!!! Hentikan!! Bang*at!!!!!” Maki pria itu lagi. Tubuhnya sudah basah oleh keringat bercampur darah.


Nawa tidak menggubris. Ia hanya terus memainkan jempolnya di luka sayatan di lutut kaki kanan pria itu. Menekan luka hingga tubuh musuhnya itu  menggelinjang menahan rasa sakit yang luar biasa.


Sreeeetttttttttttttt.....


Nawa menyayat lutut kiri pria itu. Setelah sayatan terbuka, setelah itu, ia menusuk-nusuk tepat di luka sayatan itu dengan ujung pisau.


“Aaaaaaaaaaa!!!!!” Entah sudah keberapa kalinya pria itu memekik kesakitan. Bahkan anak buahnya ngeri melihatnya sampai memejamkan mata.


Lemas, sakit tak terhingga dan pandangannya sudah mulai berkunang-kunang. Itulah yang di rasakan oleh pria yang duduk d kursi itu.


“Buka bajunya.” Perintah Nawa kepada anak buahnya.


Setelah baju pria itu terbuka, Nawa segera mengukir sesuatu di dada pria itu. Yaitu nama tuan  Nakamura dengan menggunakan pisau.


Jeritan demi jeritan kembali terdengar. Sayatan kali ini bahkan lebih sakit. Tidak puas sampai di situ, Nawa mengubek-ubek luka itu dengan jari telunjuknya. Telunjuknya masuk ke dalam luka sayatan hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


“Setan!! Iblis!!!!” Maki pria itu dengan sisa suaranya yang sudah serak. Ia terlalu banyak berteriak saat Nawa terus menyiksanya tanpa henti.


Seolah Nawa belum merasa puas. Ia terus mengobrak abrik luka sayatan di dada pria itu. Ia tidak peduli jika tangannya sudah penuh berlumuran darah musuhnya. Ia akan melakukannya sampai ia merasa puas. Sampai nyawa musuhnya berada di ubun-ubun. Sampai musuhnya memohon untuk di berikan kesempatan hidup.


Tidak ada yang berani mencegahnya. Mereka semua membiarkan Nawa bermain dengan kesenangannya itu.

__ADS_1


“Bunuh saja aku, ba-ji-ngan.” Lirih pria itu kembali. Sungguh, rasa sakit itu sudah tidak bisa ia tahan lagi. Akan lebih baik kalau Nawa langsung membunuhnya saat itu juga.


Mendengar itu, senyum Nawa melebar. Kalimat itulah yang ia tunggu-tunggu dari tadi.


“Baiklah, karna kau sudah mengutarakan permohonanmu, aku akan mengabulkannya.” Desis Nawa dengan seringai iblis dari wajahnya.


Nawa berdiri dari jongkoknya. Menatap musuhnya itu dengan tatapan membunuh dan penuh dendam.


“Jangan lupa meminta maaf kepada tuan Nakamura nanti. Dan, sampaikan salamku padanya. Bilang padanya kalau kami akan baik-baik saja dan dia tidak perlu khawatir.” Ujar Nawa kemudian membalikkan badanya. Ia berjalan ke arah luar.


“Runtuhkan gedungnya.” Perintahnya. Ia menerima saputangan yang baru saja di berikan oleh anak buahnya. Mengelap piasu dan tangannya ke saputangan itu.


Mendapat perintah dari Nawa, anak buahnya langsung bergegas menggumpulkan sisa anak buah dari musuh mereka. Jadi satu dengan pria yang duduk di kursi. Wajah ketakutan jelas tergambar dari raut wajah mereka semua. Beberapa diantaranya bahkan memohon untuk di biarkan hidup.


Beberapa peledak yang sudah di pasang oleh anak buah Nawa beberapa saat yang lalu, berada di beberapa titik krusial di dalam gedung.


Nawa berdiri di samping mobilnya. Memainkan remote kecil di tangannya. Ia melirik kepada seseorang dan mendapatkan anggukan kepala dari orang itu. Itu adalah tanda kalau anggota mereka sudah ada di luar gedung. Setelah memastikan seluruh anggotanya sudah keluar dari gedung, Nawa segera menekan tombol remot di tangannya. Dan,


Booomm!!!!!!


Brrrruuukkkkkkk!!!!!!!!


Suara dentuman menggelegar di sekitar area. Untung saja lokasi itu berada di daerah terpencil. Kalau tidak pasti sudah membuat warga sekitar ketakutan.


Bangunan itupun runtuh. Luluh lantah oleh ledakan. Menimbun semua manusia yang ada di dalamnya.


Begitulah Nawa, saat ketenangannya di usik, dia tidak segan-segan menyiksa dan menghabisi orang yang mengusiknya.


Andai urusannya dengan Dianty semudah ini, dia pasti sudah lama menghabisi wanita itu beserta antek-anteknya. Sayangnya, urusannya dengan Dianty tidak semudah itu. Kalau ia salah mengambil tindakan, ia justru bisa kehilangan semuanya.

__ADS_1


Lagipula, di Indonesia, dukungan Nawa tidak sebanyak di Jepang. Jadi dia harus lebih berhati-hati lagi. Apalagi sekarang ada seseorang yang harus ia lindungi. Itu membuat pekerjaannya jauh lebih sulit daripada sekedar menghabisi Dianty. Dianty lebih licik dari siapapun yang pernah di kenal Nawa.


Akan lebih mudah berususan dengan kecoak seperti orang yang baru saja tertimbun dalam  bangunan itu. Karna dendam mereka hanya di atas nyawa. Tapi dengan Dianty, di atas nyawa dan keserakahan. Gabungan dua hal yang sangat sulit untuk di lawan.


Nawa melirik jam tangannya. Sudah pagi. Beberapa menit lagi matahari pasti sudah muncul. Ia kemudian masuk saat anak buahnya membukakan pintu untuknya. Dan rombongan itu segera pergi meninggalkan lokasi.


Nawa meraih ponselnya dan menghubungi Nozomi untuk menanyakan keadaan Anis.


“Dia masih tidur.”


“Baiklah.”


Setelah menyimpan ponsel dalam saku, ia menatapi tangannya yang masih berlumuran darah. Dan sesampainya di mansion tuan Nakamura, ia berjalan menuju ke kamarnya. Di luar kamar, ia bertemu dengan Nozomi  yang memang sudah mendengar kepulangannya.


Wanita itu melirik ke arah tangan Nawa yang memerah. Kemudian ia melemparkan senyuman dan berlalu pergi dari sana.


Nawa masuk ke kamar dengan mengendap-endap. Ia tidak ingin Anis melihat kekacauannya itu. Itu akan membuat gadis itu ketakutan nanti. Nawa melirik kepada Anis yang masih ternganga. Sepertinya gadis itu sedang lelap. Perlahan, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.  Melepas semua pakaiannya dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air hangat.


Nawa menyabuni tubuhnya. Membersihkan tangan dan tubuhnya hingga sisa-sisa bercak darah menghilang dan tubuhnya menjadi bersih dan wangi. Setelah selesai, ia keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Nawa berjalan ke sisi ranjang. Berjongkok dan menatapi wajah Anis lekat-lekat. Membelai wajah gadis itu dengan tangan dinginnya. Tangan yang beberapa saat yang lalu masih berlumuran darah.


Mendapat gangguan kecil, Anis menggeliat. Ia membuka matanya karna merasakan tangan Nawa yang masih menempel di kepalanya.


“Oh, apa aku membangunkanmu?”


Anis mengangguk. Tidak mau berbohong. Memang dia terbangun karna Nawa.


“Kau sudah pulang?” Anis bangun terduduk. Menatap Nawa sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

__ADS_1


Nawa melemparkan senyuman kepada Anis. Ia berdiri dan langsung mendekap tubuh Anis. Menenggelamkan wajah gadis itu ke dada bidangnya yang polos.


Air terus menetes dari rambut basah Nawa. Beberapa bahkan jatuh ke kepala Anis. Tapi, Anis malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu dengan erat.


__ADS_2