
Anis sedang berdiri di ambang pintu ruang cuci. Ia memandangi satu selimut yang masih setia berendam di dalam bak plastik. Ia baru saja terbangun dari tertidur di sofa ruang tamu saat jam menunjukkan pukul 16.38.
Matanya masih terasa perih dan sayu namun ia memaksakan diri untuk menyelesaikan tugasnya. Karna kalau di biarkan sampai besok, selimut itu akan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Jadi mau tidak mau, ia harus menyelesaikannya sekarang juga karna ia tidak mau mendapat masalah lagi setelah ia hampir mati hari ini.
Sambil menggerutu, Anis menginjak-injak selimut di dalam bak plastik seolah sedang melampiaskan amarahnya. Ia sedang membayangkan wajah Nawa yang ada didalam bak itu.
“Dasar jahat! Bisa-bisanya kau mencekik leherku seperti itu? Hah?” Gumam Anis sambil terus menghentakkan kakinya ke dalam bak. Ia tidak peduli jika air terus menyiprat ke mana-mana. Yang jelas ia gemas sekali dan ingin mengucek-ucek wajah tampan Nawa.
“Apa gunanya punya wajah tampan seperti itu? Kau benar-benar seperti iblis!” Geram Anis tertahan.
“Sudah puas memakinya?”
Suara itu langsung membuat Anis menoleh ke arah belakangnya. Dan ternyata Nawa sudah berdiri di pintu dan bersandar sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia menatap lurus kepada Anis yang nampak terkejut dan takut.
“Kau belum menyelesaikannya?” Tanya Nawa yang kini sudah berjalan mendekati Anis. Ia melemparkan jasnya ke atas mesin cuci dan menggulung lengan kemeja dan celananya. Sementara ia membiarkan saja rompi yang melekat di kemejanya itu sehingga membuatnya semakin gagah saja.
Anis hanya mematung saja sambil terus menatap pias kepada Nawa. Ia fikir Nawa akan memukulnya setelah pria itu menggulung pakaiannya.
“Aku akan membantumu.” Lirih Nawa yang membuat Anis mengernyitkan keningnya.
Tanpa ijin dari Anis, Nawa langsung saja ikut menceburkan kedua kakinya dan langsung ikut menginjak-injak selimut itu. Sementara Anis masih mematung seperti semula. Ia terus mengernyit kepada Nawa. Lama-lama, perlahan Anis memegangi lehernya. Ia takut jika Nawa akan mencekiknya lagi.
Melihat raut ketakutan dari wajah Anis, membuat Nawa tidak enak dan ia menghentikan gerakannya. Ia menatap Anis tidak tega.
setrauma itukah dia?
“Biar aku yang menyelesaikannya. Kau keluarlah. Pakaianmu sudah habis basah semua.” Ujar Nawa dengan nada rendah.
Anis tidak mengindahkan perkataan Nawa, ia fikir Nawa sedang mempermainkannya. Jadi ia hanya diam saja sambil menatap pias kepada pria itu.
__ADS_1
“Kau tidak dengar? Pergilah. Aku akan menyelesaikannya.”
“Tidak. Ini tugasku. Aku yang akan menyelesaikan pekerjaanku.” Tolak Anis. Entah dari mana sikap berontak itu muncul.
“Ya sudah, terserah kau saja.”
Baik Nawa maupun Anis, sama-sama keras kepala dan tetap pada keinginan mereka. Keduanya terus saja menginjak-injak selimut itu. Anis menghentakkan kakinya hingga air memuncrat ke segala arah, hingga membuat Nawa terpaksa melindungi wajahnya dengan telapak tangannya.
Mendapat celah untuk melampiaskan ‘dendam’nya, Anis menyeringai sambil terus menghentakkan kakinya.
“Hei, hentikan. Kau membuat pakaianku basah.” Protes Nawa. Tapi Anis tidak peduli. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan itu.
Saking sudah tidak sabarnya Nawa, ia menghentikan Anis dengan mencengkeram lengannya sambil memelototinya. “Ku bilang hentikan. Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?” Suara Nawa terdengar berat dan dalam.
Netra Anis bertemu dengan tatapan milik Nawa. Sementara lengannya sedang di cengkeram oleh pria itu. Tiba-tiba Anis kembali merasakan ketakutan jika pria itu akan mencekiknya lagi.
“Ma, ma-af-kan aku.” Ujar Anis sambil menundukkan wajahnya. Air mata sudah menggenang di sudut matanya dan siap tumpah untuk menghancurkan keberaniannya.
Untuk sesaat Anis membeku mendapat perlakuan seperti itu. Namun saat ia tersadar, ia segera menarik dirinya dari pelukan Nawa. Namun ternyata Nawa menahannya dengan kuat.
“Maaf. Kau pasti sangat terkejut tadi. Aku hilang kendali. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu lagi.” Ujar Nawa yang sedang berusaha meluluhkan Anis. Ia berharap Anis mau mempercayai ucapannya.
Dan ternyata rencana Nawa tidak sia-sia. Perlahan, tubuh Anis mulai melemas dan berhenti memberontak. Ia tenggelam sepenuhnya di dalam dekapan Nawa. Membuat Nawa menyeringai senang.
Nawa menarik tubuh Anis keluar dari dalam bak plastik kemudian mendudukkannya di sebuah kursi kecil di samping pintu. Sementara ia kembali untuk menyelsaikan cucian itu.
Setelah selesai mencuci, Nawa kembali menghampiri Anis yang masih terduduk di tempatnya kemudian mengajaknya keluar dari sana.
Nawa terus menuntun Anis masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Nawa sudah mempersiapkan sebuah kotak hadiah untuk Anis. Kotak itu di letakkan di atas ranjang tempat tidur. Kotak berwarna hitam dengan pita merah yang melingkar di atasnya.
__ADS_1
“Ini untukmu. Mandilah, dan kenakan ini. Kita akan makan malam bersama ibuku.” Ujar Nawa sambil menyerahkan kotak itu kepada Anis.
Anis membuka kotak itu dan mendapati sebuah gaun berwarna peach yang terlipat rapi di dalamnya. Ia manatapi gaun itu dan Nawa bergantian.
Ia mengernyit saat Nawa tiba-tiba melemparkan sebuah senyuman manis kepadanya sambil mengangguk pelan.
apa ini? Setelah hampir membunuhku kemudian dia bersikap manis begini? Dia ini psyco atau bagaimana?
“Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu.” Perintah Nawa dengan nada lirih.
Sambil berjalan ke kamar mandi, Anis merasa heran dengan sikap Nawa yang tiba-tiba berubah. Ia merasa aneh dengan itu. Tapi makan malam ini, terasa lebih aneh dari sikap Nawa yang tiba-tiba melunak padanya.
Dianty pasti akan menuntut hasil pekerjaannya selama dua hari ini. Apa yang akan dia jelaskan kepada wanita itu? Sementara ia belum punya informasi apapun mengenai Nawa. Dia masih mencari cara untuk bisa masuk ke dalam ruangan terlarang itu.
Setelah selesai mandi, Anis keluar kemudian masuk ek dalam ruang ganti. Ia sempat melirik kepada Nawa yang sedang berdiri di depan jendela sambil memandang keluar jendela.
“Kau sudah selesai?!” Pekik Nawa.
“Iya.”
“Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu.” Ujar Nawa lagi.
“Lama juga tidak apa-apa. Sepertinya aku akan lama disini, aku tidak pandai memakai gaun!” Jawab Anis dari dalam ruang ganti.
“Mau ku bantu?” Tawar Nawa sambil memegang knop pintu berencana untuk masuk ke sana. Tapi ternyata pintu itu sudah di kunci oleh Anis dari dalam.
“Tidak! Aku bisa sendiri.!” Pekik anis degan segera saat ia melihat suara pintu yang hendak di buka.
gila saja. Aku sedang polos begini dia mau masuk? Untung aku sudah menguncinya.
__ADS_1
Nawa tidak jadi masuk ke dalam ruang ganti untuk menghormati privasi Anis. Ia memilih untuk berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.