Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 43. Telur Dan Batu.


__ADS_3

Brak!!!


Suara pintu ruangan Nawa yang terbuka dengan paksa membuat Nawa langsung menoleh ke arah suara. Barra datang dengan menmatap Nawa dengan marah dan langsung menghampiri meja Nawa.


Brakkk!!!


Lagi-lagi Barra menggebrak meja Nawa penuh emosi. Ia sampai menggeretakkan giginya di hadapan Nawa.


“Beraninya kau melakukan ini padaku?!! Hah?!!” Teriak Barra.


Nawa tidak peduli, ia hanya menatap Barra sekilas kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mengacuhkan kedatangan Barra.


Tentu saja hal itu membuat Barra semakin berang setengah mati. Ia mengambil vas tanaman hias kecil yang ada di meja Nawa kemudian melemparkannya ke arah dinding sampai vas itu pecah berhamburan.


Kali ini, Nawa tidak bisa diam saja karna sudah merasa terganggu dengan tindakan Barra. Jadi ia menghentikan pekerjaannya dan kembali menatap Barra tajam.


“Itu kau, kan? Kau yang membunuh Dion dan mengirimkan jari-jari itu padaku? Mengaku!!”


“Aku hanya mengembalikan apa yang di berikan padaku. Hanya saja, aku mengembalikannya berkali-kali lipat. Seharusnya kau menyadari posisimu saat ini setelah mencari gara-gara denganku.” Balas Nawa.


“Apa?”


“Jangan mengusikku.”


“Apa itu ancaman?”


“Bukan, ini peringatan. Dan apa yang terjadi hari ini, juga bagian dari peringatan dariku sebelum aku benar-benar melenyapkanmu.” Tegas Nawa kemudian.


“Kau pasti sudah benar-benar jatuh cinta dengan  gadis itu. Padahal kau tau kalau ibu yang mengutusnya padamu. Permainan apa yang sedang kau mainkan, Nawa?”


“Aku hanya mengikuti permainan yang sudah di siapkan oleh ibu. Dan aku memerankan peranku dengan baik.” Kini Nawa sedang menatap Barra dengan tatapan tajamnya. Hal itu membuat Barra mati kutu.


Memang pada dasarnya Barra tidaklah seberani kelihatannya. Pria itu lebih banyak bicara daripada bertindak.


Barra hanya bisa pergi dari ruangan Nawa dengan perasaan marah yang menggunung. Tapi tetap, ia tidak berani melawan Nawa karna tau seperti apa sifat Nawa.


Setelah Barra keluar dari ruangan Nawa, Yoham segera masuk karna ia mengkhawatirkan Nawa.


Sementara Barra tidak lantas kembali ke ruangannya, namun ia pergi ke ruangan Dianty untuk menjelaskan situasinya seperti yang sudah ia janjikan.

__ADS_1


Namun ternyata Dianty tidak ada di ruangannya. Asistennya mengatakan kalau Dianty pergi ke rumah sakit untuk menemui Bagas setelah mendapat telfon kalau Bagas terluka dan di larikan ke rumah sakit.


Setelah istirahat makan siang, ruangan Nawa kembali kedatangan seseorang yang dengan ekspresi marah kepada pria itu. Dianty datang bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia langsung duduk saat sudah masuk ke dalam ruangan Nawa.


Mau tidak mau, Nawa terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Dianty. Ia duduk di hadapan wanita itu sambil mempersiapkan diri. Ia sudah menduga kalau wanita itu pasti akan menemuinya.


“Apa yang ingin ibu bicarakan?” Tanya Nawa langsung.


“Aku ingin bertemu dengan perusahaan yang berinvestasi padamu.” Jelas Dianty dengan ekspresi datar.


Nawa mengernyit, “Kenapa ibu ingin bertemu dengan mereka?” Dalam hati Nawa berfikir, apakah Anis tidak memberitahu Dianty tentang siapa investor itu?


“Ibu bisa menghubungi nomor yang ada di kartu nama yang pernah ku berikan.”


“Mereka tidak menanggapiku.”


“Baiklah, aku akan memberitahu mereka.”


Untuk beberapa saat, baik Dianty maupun Nawa hanya terdiam saja. Nawa tau kalau Dianty sedang ingin menanyakan perihal apa yang terjadi pagi tadi di kantor.


“Aku tau kau yang melakukannya...” Ujar Dianty pada akhirnya. “Kau menghabisi anak buah Barra dan bahkan mengirim Bagas ke rumah sakit.”


“Bukankah kau yang mengirim Anoda untuk melukai Bagas?”


Nawa kembali mengernyit. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Dianty.


“Pagi ini, Bagas di hajar oleh orang-orang Anoda sampai babak belur. Pasti kau yang ada di belakang semua ini.”


“Apa menurut ibu begitu?”


Kali ini giliran Dianty yang mengernyitkan keningnya. “Apa kau sedang mengumumkan perang denganku?”


“Bukankah kita sudah berperang sejak lama, Ibu?”


“Kenapa? Apa kau fikir bisa menyingkirkanku dengan mudah? Kau hanya sebuah telur yang tidak akan pernah bisa memecahkan batu.”


Nawa tersenyum sinis. “Memang, mungkin aku hanya sebuah telur. Tapi sebuah telur bisa membuat sebongkah batu paling cantik di duniapun menjadi kotor dan tidak berharga. Dan lama kelamaan, batu itu akan berlumut karna sudah tidak terlihat cantik lagi di mata orang. Kemudian batu itu akan hancur dengan sendirinya.”


Dianty tetap terdiam mendengar ucapan Nawa. Ia sedang menguji tentang perkataan Barra kalau Nawa sudah jatuh cinta kepada Anis. Dan melihat reaksi Nawa, sepertinya itu benar.

__ADS_1


“Sepertinya kau sudah menyiapkan sesuatu untuk melawanku. Aku penasaran apa itu sampai kau bisa percaya diri seperti ini.”


“Aku harap ibu bisa bersabar menantikannya.” Balas Nawa lagi.


Pada akhirnya, Dianty memilih untuk pergi dari sana setelah memastikan perasaan Nawa kepada Anis. Ia tersenyum saat keluar dari ruangan Nawa karna senang dengan rencana Anis. Membuat Nawa menyukai Anis, pastilah itu rencana yang di buat oleh Anis.


“Ternyata dia pintar..” Gumam Dianty sambil terus melangkah menuju ke ruangannya.




Griya Tawang..


Anis sedang duduk termenung di balkon ruang tamu. Ia sudah tidak punya cara untuk mengelabui CCTV lagi. Ia sedang menimbang-nimbang kemungkinan dia akan selamat jika ia nekat menerobos masuk ke dalam ruang rahasia itu. Disini, nyawa adalah taruhannya.


Di tangannya, Anis sedang memegangi sebuah silikon yang sudah tercetak sidik jari Nawa di atasnya. Maka dari itu, dia sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan diri setelah ia berhasil masuk dan melihat apa sebenarnya yang ada di dalam ruangan itu.


Namun setelah lama berfikir dan mencari cara, Anis tetap tidak menemukan cara lain selain misi  bunuh diri demi mendapatkan informasi itu.


Apa iya dia harus mati demi sebuah informasi penting?


Anis mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia tidak punya jalan keluar apalagi melarikan diri. Ia akan tetap mati entah itu di tangan Nawa, atau di tangan Dianty.


“Baiklah, aku akan memikirkan caranya nanti.” Gumam Anis pada akhirnya.


Perlahan Anis berjalan menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua. Kemudian dengan hati-hati Anis berjalan mendekati pintu ruang rahasia dan langsung memencet tombol kemudian meletakkan silikon di atas sensor sidik jari.


Tlilit.


Pintu itu berhasil terbuka.


Walaupun dengan mata yang sedikit terbelalak, Anis segera masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menutupnya rapat. Ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah tirai transparan yang menyekat sebuah ruangan di hadapannya. Serta bunyi bip yang teratur dari dalam tirai itu.


Perlahan Anis mendekat dan menyibakkan tirainya. Hal yang ada di hadapannya sungguh membuat Anis ternganga.


Seorang pria paruh baya yang sedang berbaring di atas ranjang dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuh pria itu.

__ADS_1


“Siapa anda?”


__ADS_2