
Nawa melemparkan besi dari tangannya ke sembarang tempat sampai menimbulkan bunyi yang sangat keras karna besi itu mengenai dinding peti kemas. Ia bahkan membanting pintu peti saat ia keluar dari sana sambil memandangi percikan darah yang ada di telapak tangannya
Yoham yang mengikuti Nawa keluar sempat bergidik ngeri melihat aura yang dipancarkan oleh Nawa.
“Urus dia. Bilang pada Gasuta kalau kita sudah selesai berurusan dengan anak buahnya.” Pesan Nawa kemudian.
Nawa meninggalkan Yoham untuk mengurusi anggota Anoda. Sementara ia sendiri sudah pergi menuju ke sebuah kamar mandi umum yang ada di sekitaran depo untuk membersihkan darah yang ada di tangannya.
Ia memandangi pantulan wajahnya di cermin dengan bertumpu pada washtafel kamar mandi. Ia sedang berfikir, bagaimana Bagas bisa tega berniat untuk melenyapkannya?
Sikap pendiam Bagas tidak pernah membuat Nawa mencurigai pria itu. Karna selama ini Bagas nampak acuh dan tidak peduli dengan intrik yang terjadi antara Nawa beserta ibu dan kakaknya. Tapi siapa sangka, dibalik sikap pendiamnya, ternyata Bagas jauh lebih mengerikan di bandingkan Barra.
Setelah membasuh wajahnya, ia duduk berdiam diri di dalam mobil. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bagaslah dalang di balik semuanya.
Perhatian Nawa beralih kepada ponselnya saat ponsel itu berdering. Telfon dari Dianty.
“Halo?” Sapanya dengan suara malas.
“Nawa, kau dimana? Kenapa tidak ada di kantor?”
“Aku sedang keluar, Bu. Ada apa?”
“Bisakah kau ikut makan malam denganku malam ini? Ada seseorang yang ingin ku kenalkan padamu.” Ujar Dianty.
“Baiklah, tolong kirimkan alamatnya.” Jawab Nawa. Ia memang sudah berencana untuk mengikuti setiap permainan Dianty. Jadi ia akan memerankan perannya dengan baik.
*****
Dua hari menunggu, akhirnya Rengganis mendapatkan pemberitahuan lewat Tahara. Wanita itu bilang kalau malam ini akan ada pertemuan dengan Dianty dan putranya.
“Apa kau yakin akan melakukannya?” Tanya Tahara pada Rengganis.
Gadis itu hanya mengangguk saja.
“Kau yakin tidak apa-apa? Pekerjaan ini terdengar berbahaya.” Nada suara Tahara terdengar khawatir.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Aku akan baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir. Kurasa resikonya akan sebanding dengan bayaran yang ku terima.”
“Anis, tidak bisakah kau tetap bekerja di club saja?”
Rengganis hanya tersenyum saja. Tahara tau apa arti dari senyuman itu.
__ADS_1
“Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Aku akan meminta pengawalku untuk mengantarkanmu.”
“Tidak perlu, Nyonya. Aku akan pergi dengan sepeda motorku saja.”
Rengganis gadis yang keras kepala. Ia benar-benar tidak mau menerima bantuan dari Tahara untuk mengantarkannya. Ia merasa lebih nyaman dengan sepeda motornya sendiri.
Jam 7 malam, itulah waktu yang sudah di tentukan oleh Dianty. Rengganis melajukan sepeda motornya menuju ke sebuah restoran bintang lima yang terkenal. Sesampainya disana, ia segera memarkirkan sepeda motornya di antara deretan mobil-mobil milik pengunjung restoran.
“Selamat malam, selamat datang. Apa anda sudah punya reservasi?” Tanya seorang pelayan yang menyambutnya di depan pintu.
Rengganis mencoba untuk mengedarkan pandangannya demi mencari Dianty. Namun ia tidak menemukannya. Ia nampak kebingungan.
“Apa, anda nona Rengganis?” Tanya pelayan itu lagi.
Rengganis terkejut kenapa pelayan itu tau namanya. Tapi ia kemudian mengangguk.
“Oh, kalau begitu mari silahkan ikut saya.” Ajak pelayan itu masih dengan sikap ramahnya.
Rengganis mengikuti pelayan wanita itu dengan berjalan di belakangnya. Mereka menuju ke lantai dua dimana terdapat ruangan privat untuk para tamu VIP.
Tok, tok, tok.
Pelayan itu mengetuk salah satu ruangan kemudian membukanya.
Pelayan itu mempersilahkan Rengganis untuk masuk, kemudian ia kembali menutup pintu.
“Oh, kau sudah datang? Sini, duduk.” Perintah Dianty mempersilahkan Rengganis untuk duduk.
Rengganis hanya mengangguk. “Apa kabar anda, Nyonya?”
“Baik, baik.”
Disana hanya ada Dianty seorang saja. Dimana pria yang akan menjadi suaminya?
“Putraku belum datang. Mungkin dia agak terlambat.” Ujar Dianty yang faham jika Rengganis penasaran.
Sambil menunggu, Dianty dan Rengganis mengobrol ringan perihal apa-apa saja yang harus di lakukan Rengganis nanti untuk menjadi mata dan telinga Dianty. Dengan serius Rengganis memperhatikan setiap ujaran dari wanita itu.
Rengganis sama sekali tidak tertarik dan bertanya kenapa dianty melakukan hal ini kepada putranya sambungnya.
Dua puluh menit kemudian, pintu ruangan kembali di ketuk. Kemudian muncullah seorang pria yang mengenakan kemeja abu-abu dengan menenteng jas di tangan kanannya.
__ADS_1
Pria tampan dengan tinggi semampai dan tubuh yang kekar itu terus berjalan ke kursi di samping Dianty. Tepat di hadapan Rengganis.
Nawa menyampirkan jasnya di kursi kosong yang ada di sampingnya. Tanpa ekspresi apapun, ia langsung duduk di sana dan menatap Dianty sekilas.
“Maaf aku terlambat, Ibu.” Ujar Nawa.
Rengganis asyik memperhatikan Nawa. Pandangannya terfokus pada noda merah yang ada di leher pria itu. Noda itu terlihat seperti darah.
Setelah duduk dengan sempurna, Nawa memalingkan pandangannya kepada Rengganis yang juga sedang serius menatapnya. Pria itu nampak sedikit terkejut saat melihat Rengganis.
Kenapa gadis yang pernah menolongnya dulu ada disini?
“Anis, perkenalkan, ini Nawa, putraku yang ku ceritakan padamu.” Jelas Dianty.
Nawa semakin mengernyitkan keningnya. Ia memang sudah menebak kalau Dianty akan menjodohkannya dengan seseorang. Tapi ia tidak tau kalau gadis yang menolongnya itulah yang menjadi pilihan Dianty.
Bagaimana meraka bisa bertemu?
````
“Halo.” Sapa Rengganis ramah sambil menganggukkan kepala. “Saya Rengganis.” Ia memperkenalkan diri.
Nawa menoleh kepada Dianty sebentar kemudian membalas anggukan dari Rengganis. “Halo.” Sapanya dengan nada dingin.
“Kalian mengobrollah. Aku masih ada urusan yang harus ku selesaikan.” Pamit Dianty kemudian sambil beranjak dari kursi.
Rengganis jadi kebingungan karna kini Dianty malah meninggalkannya berdua bersama seorang pria asing yang entah kenapa auranya terasa menyeramkan. Padahal pria itu punya wajah yang tampan.
Rengganis meringsut di kursinya. Tapi ia tetap berani menatap dan memperhatikan pria itu.
Sedangkan Nawa masih merasa bingung kenapa Dianty bisa kenal dengan Rengganis. Apa ini termasuk kedalam permainan yang sudah di siapkan oleh Dianty? Baiklah, kalau begitu Nawa akan tetap mengikuti alurnya.
“Apa, kebetulan kita pernah bertemu?” Tanya Rengganis mengusir keheningan di ruangan itu.
Nawa mengernyit dan menatap Rengganis dengan aneh. “Kurasa tidak. Kenapa?”
“Soalnya aku seperti pernah melihat wajahmu.” Imbuh Rengganis. Ia berusaha mengingat-ingat wajah familiar itu.
Nawa tetap tidak menjawabnya. Wajar saja jika gadis itu tidak mengenalinya dengan wajah yang bersih sempurna seperti ini. Karna waktu ia terdampar di gudang Rengganis, wajahnya kotor penuh dengan bercak darah.
“Ssshhhh. Tapi aku sepertinya pernah melihat wajahmu. Matamu itu, aku pernah melihatnya di suatu tempat.” Rengganis tetap berusaha mengingat-ingat memorinya.
__ADS_1
“Memangnya di dunia ini yang punya mata seperti ini cuma aku saja?” Jawab Nawa dengan ketus.
Rengganis sampai terkejut mendengar cara bicara pria itu. Dari sikapnya, sepertinya pria itu pria yang kasar. Begitulah kesan pertama Rengganis bertemu dengan Nawa. Akankah tugasnya lebih sulit dari bayangannya?