
Malam ini, Kana meminta Krishan untuk memijit kepalanya karena mabuk laut masih membuat pandangannya serasa berputar.
"Apa mau ke dokter?" Tawar Krishan yang sudah satu jam lebih memijit-mijit pelipis Kana.
"Apakah aku harus ke dokter karena mabuk laut?" Tanya wanita itu dengan mata terpejam.
"Memangnya kenapa, sweetheart. Supaya tubuhmu terasa lebih baik." Jawabnya.
"Malulah, Krish. Coba kesini, Krish. Perutku terasa mual." Kana memukul pelan perutnya.
Krishan bergeser duduk tepat di depan perut kecil Kana. Dia mulai mengusap-usap perut itu. Tetapi tangannya terhenti saat merasakan sesuatu.
"Jia, kenapa terasa keras dibagian ini?" Tanya Krishan yang tangannya terhenti dibawah perut.
Kana langsung mengangkat kepalanya, ikut memijit-mijit kecil disana. Dia langsung menatap Krishan dengan mata yang membulat.
"Krish, apa aku.." Kana langsung duduk dan mencoba memijit lagi perutnya.
"Krish, aku takut penyakit itu muncul lagi. Gejalanya sama, Krish." Kana menutup mulutnya. Matanya mulai berkaca karena rasa takut kini mulai menyelimutinya.
Krishan langsung beranjak dari tempat tidur. "Kita ke dokter sekarang."
~
"Kapan terakhir haid, nona?" Tanya dokter Margy, dokter yang memeriksa Kana tempo dulu.
"Em.. mungkin dua minggu lalu. Aku lupa." Jawab Kana yang berbaring di brankar, sementara dokter Margy memeriksa keadaannya.
"Boleh minta sampel urin?" Dokter Margy memberi cawan kecil pada Kana.
Wanita itu tampak sedikit bingung sambil menoleh pada Krishan, walau kakinya tetap melangkah menuju toilet kecil di dalam ruangan dokter itu.
"Tuan Krishan, ada yang ingin saya bicarakan." Ucap dokter dengan senyuman.
Beberapa menit setelahnya, Kana keluar membawa cawan kecil di tangannya.
"Ada demam?" Tanya dokter Margy sembari melakukan tesnya.
"Tidak, dok."
"Keluhan lain?" Tanya dokter lagi.
__ADS_1
Kana menoleh pada Krishan. Wajahnya tegang karena banyak pertanyaan dari dokter Margy, tapi Krishan dengan tenang menggenggam erat tangan Kana.
"Hanya mual dan pusing saja, dok."
Dokter Margy duduk di mejanya, lalu memberikan alat kecil dengan garis dua merah di ujungnya.
Kana menatap benda yang ia sangat kenali itu. Tapi, dia masih belum yakin dengan apa yang ia pikirkan.
"M-maksudnya, dok.. sa-saya.."
"Selamat, nona Krishan sedang mengandung."
Kana menatap dokter tak percaya. Mengandung, katanya? Dia menoleh pada Krishan, meminta penjelasan. Tapi laki-laki itu malah tersenyum lebar dan mencium tangannya.
Sekali lagi Kana menatap dokter. Seolah bertanya, benarkah? Dia belum percaya.
Dokter Margy mengangguk kecil. "Nona mengandung janin berusia 2 minggu." Sambungnya meyakinkan Kana.
Barulah Kana percaya. Bendungan air di matanya meledak. Dia menangis di dada suaminya. Krishan hanya tertawa kecil sambil terus mengelus rambut istrinya.
"Selamat, sweetheart." Bisik Krishan pada Kana yang masih terisak dipelukannya. Rasanya tak percaya, padahal dia baru mencoba tes lagi bulan lalu karena Kana selalu saja telat haid satu minggu dan itu benar-benar dimanfaat Kana untuk berdoa supaya dia bisa hamil. Dan sekarang, do'anya terkabul, akhirnya Kana mengandung hasil buah cintanya bersama Krishan. Detik itu juga, runtuhlah segala kekhawatiran yang selama ini tertimbun di dalam dirinya.
Hari-hari Kana kini mulai terasa seperti musim bunga. Wanita itu lebih banyak tersenyum dan bersenandung ria karena kehamilannya. Marry juga selalu sigap dengan makanan apa yang Kana selalu inginkan. Tak luput Felix dan Sean ikut kelimpungan dengan sederet keinginan Kana yang tiba-tiba suka menata taman, membuat Felix dan Sean ikut repot menggeser kesana kemari pot-pot bunga yang disukai Kana.
Krishan yang melihat perubahan drastis dari istrinya ikut merasa senang. Rumahnya kini benar-benar terasa hidup, sampai-sampai Krishan sering memilih bekerja dari rumah saja demi sang istri yang wajahnya kian bersinar.
Tak lupa Kana menjahili Krishan dengan meminta ini itu padanya. Tapi sayangnya Krishan selalu mampu memenuhi keinginnya. Dengan sigap laki-laki itu melakukannya, bukan karena anaknya, tapi karena itu adalah istrinya, Kanazya.
"Krish.." Kana membuka pintu ruangan kerja Krishan, mendapati laki-laki itu memakai kacamata menatap ke layar laptop dengan headset di telinganya. Wajahnya fokus, sesekali dia berbicara. Sepertinya dia sedang melakukan rapat online. Kana terkekeh, padahal dia bisa saja pergi rapat secara langsung. Tetapi laki-laki itu menolak keluar dari rumah jika bukan hal darurat.
Krishan menutup laptopnya dan menatap istrinya yang masih berdiri diambang pintu.
"Perlu sesuatu, permaisuriku?"
Kana tergelak, suaminya itu benar-benar memanjakannya saat sedang hamil.
"Aku ingin ke dokter untuk USG. Aku ingin lihat jenis kelamin anak kita."
Krishan langsung berdiri, mendekati permaisurinya yang semakin hari perutnya kian membesar.
Krishan mengelus lembut perut Kana yang sudah memasuki 6 bulan. "Sudah waktunya, ya. Baiklah, ayo kita pergi."
__ADS_1
Kana menggandeng lengan kekar suaminya. Tak lupa senyum ceria terus tersungging di bibirnya memasuki ruangan dokter Margy.
"Wah, jenis kelaminnya sudah terlihat jelas."
Krishan langsung memperhatikan layar dengan seksama, mencoba melihat apa yang kini ditatap oleh dokter Margy. Tapi dia tidak mengerti.
"Selamat ya, nona Krishan. Kalian akan memiliki anak perempuan."
Kana tertawa bahagia. Air mata mengalir melalui sudut matanya.
"Cantik sekali, aku bisa melihatnya." Kata dokter Margy lagi dan Krishan menyipitkan mata untuk melihat apa yang dikatakan dokter Margy, tapi dia benar-benar tidak mengerti. Yang ia lihat hanyalah buntalan yang bergerak-gerak.
"Berapa bulan lagi akan lahir?" Tanya Krishan.
Dokter Margy terkekeh. "Ayahnya sudah tidak sabar, ya. Sekitar 12 minggu lagi, tuan."
Krishan membantu istrinya bangkit dari brankar. "Tidak bisa dipercepat?"
"Krish!"
"Aku hanya bertanya, sweetheart."
Dokter Margy tertawa renyah. "Bersabarlah, tuan. Masa-masa kehamilan akan dirindukan nona nantinya."
Setelah memberikan vitamin dan lainnya, Krishan dan Kana keluar dari ruangan dokter Margy, berjalan sambil bergandengan tangan.
"Kau sudah tidak sabar, Krish?" Kana senang akhirnya Krishan menantikan anak mereka lahir.
"Sebenarnya aku hanya kasihan padamu, sweetheart. Jika dia bisa lahir lebih cepat, kau tidak akan sakit pinggang terus menerus."
Kana menghentikan langkahnya. "Astaga, Krish. Kau ini!"
"Aku juga menantikannya, sweetheart. Aku menyukai semua yang kau sukai. Sumpah." Katanya sambil mengacungkan dua jarinya.
Ponsel Krishan berbunyi, dia segera mengambilnya.
"Jia, duduklah disini sebentar. Ada hal penting, aku angkat telepon sebentar. Jangan kemana-mana, kau mengerti?" Krishan mengecup puncak kepala Kana yang duduk di bangku lorong. Sementara Krishan sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
Kana bersenandung sembari mengelus perutnya. Dia mulai memikirkan nama yang cocok untuk anak perempuannya dan tentu saja dia berencana untuk belanja keperluan bayi sekarang.
Saat menyapu lorong rumah sakit dengan pandangannya, tak sengaja mata Kana menangkap sosok wanita yang ia kenali. Wanita itu berjalan sambil menelepon seseorang. Perut wanita itu juga membesar. Nampaknya dia tengah hamil. Sherly, ternyata dia sudah menikah dengan Danny? Tapi, bukankah laki-laki itu bangkrut total? Tanya Kana dalam hatinya.
__ADS_1