
Krishan menahan lengan jeket Kana, dia berdiri di belakang Kana dengan wajah kacau, seolah dirinya meminta wanita itu kembali padanya. Sedangkan Kana sudah membeku di tempatnya.
"Permisi, maaf mengganggu anda. Apa anda melihat wanita berambut panjang bergelombang dan tingginya segini." Krishan memperkirakan tinggi Kana dengan tangan di dadanya.
Kana menghela napas yang sejak tadi ia tahan. Syukurlah, Krishan ternyata tidak mengenalnya.
"Matanya cantik, bulu matanya panjang, dia juga memakai parfum lavender. Mungkin anda melihat wanita yang seperti itu tadi?"
Kana menatap wajah lelaki itu dengan terpaku. Bagaimana bisa Krishan mendeskripsikan dirinya seperti itu?
'Seperti apakah aku dibayanganmu, Krish?'
"Dia sangat cantik"
Kana lagi-lagi tertegun. Baru saja dia bertanya, seolah Krishan mendengar isi hatinya.
"Apa.. Anda.. pernah bertemu dengan wanita yang seperti itu?" Tanya Krishan dengan nada yang mulai terdengar parau.
Kana sedikit menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Entah mengapa, rasanya sedikit bersalah.
"Krishan!"
Seorang perempuan berlari perlahan, membuat pandangan Kana dan Krishan beralih padanya.
"Krish! Benarkah ini, kau bisa melihat?" Alissa tertawa perlahan. "Astaga, benar kau sudah bisa melihat."
Krishan menoleh lagi pada orang yang ia tanyakan tadi. Orang itu pergi dengan jalan yang agak tergesa.
"Apa kau mengenalku?" Tanya Alissa.
"Alissa."
"Aaaahh! Kau mengenal suaraku dengan baik. Waah, pantas saja penjaga tokomu diganti orang lain. Ternyata kau operasi mata. Selamat ya, Krish." Ucap Alissa dengan penuh senyuman.
"Apa kau melihat perempuan berambut panjang bergelombang, tingginya segini." Ucap Krishan lagi pada Alissa.
"Aku tidak memperhatikan. Kau mencari siapa?"
Krishan menatap sekelilingnya. Rasanya dia tidak mungkin bertemu istrinya jika tidak membawa orang yang mengenal wajah istrinya itu.
"Tidak, lupakan saja. Bagaimana kabarmu?"
Krishan berjalan santai dengan Alissa. Matanya tetap terus memperhatikan perempuan sekelilingnya.
~
Kana membuka maskernya yang mulai membuatnya terasa sesak. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa sesampainya di rumah Alana.
"Kenapa? Habis mengejar maling?" Tanya Alana sambil membawa milkshake dan duduk disebelah Kana.
"Aku.. haah. Bertemu Krishan!" Ucapnya dengan napas terengah.
"Serius?"
"Aku tidak akan keluar lagi." Kata Kana sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Sial, aku sudah seperti buronan!" Keluhnya sambil merampas milkshake Alana dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
"Heiiii!!"
...◇◆◇◆...
__ADS_1
"Cepat kemari atau kuusir kau dari rumahku !" Pekik Alana dari seberang. Kana meletakkan telepon rumah dan mulai melangkah ke kamarnya dengan gontai.
Malas sekali rasanya. Jika bukan karena diancam seperti itu, Kana takkan mau keluar lagi. Terpaksa dia menuruti Alana karena perempuan itu teramat baik sudah menampungnya tinggal di rumahnya.
Kana mengganti pakaiannya dengan dress merah diatas lutut. Dia menggulung rambutnya ke atas, menyisakan sedikit di telinganya. Memakai jeket jeans, tak lupa menyemprotkan parfum berbeda dari yang kemarin-kemarin. Untunglah Alana punya banyak varian parfum, tidak sepertinya yang hanya satu, yang penting wangi.
Tak lupa Kana memakai masker dan berjalan santai ke sebuah Club yang Alana sebutkan. Tak jauh dari rumahnya.
Alana melambaikan tangan saat melihat Kana muncul. Dia sudah memesan minuman dan juga ada seseorang di sebelahnya. Kana menghampiri sambil membuka maskernya.
"Kau?" Kana mengerutkan alis melihat sosok laki-laki di depannya.
"Oh, kau sudah kenal ternyata." Ucap Alana.
"Hai, Kana. Tidak sangka bisa bertemu denganmu." Tukas Adam sambil tersenyum cerah.
"Bagaimana kau mengenal Alana?"
"Tidak sengaja, aku yang menghampirinya disini." Jawab Alana langsung sambil tersenyum centil pada Kana.
Kana, dengan sorot matanya mengatakan kalau dia tidak suka pada orang disebelahnya.
Mata Alana membulat, seolah bertanya, Kenapa??
Kana memutar bola matanya, dia tidak bisa menjelaskannya disini.
"Aku tidak pernah melihatmu lagi di sekitar kantor. Apa kau tidak masuk?"
"Kau mengintaiku?" Tanya Kana dengan nada tak suka.
"Tentu tidak, aku hanya suka makan di kafe itu."
"Tidak sengaja juga. Kami makan di kafe yang sama. Kana dan temannya." Jelas Adam.
"Kau bekerja dimana, Adam?" Tanya Alana lagi.
"Aku bekerja di anak cabang Wellgroup. Perusahaan sainganmu, Kana."
Kana membuang wajah sambil meneguk beer dalam botol.
"Astaga, tuang ke gelas, dong! Kau ini tidak sopan." Alana mengomel pada Kana. Sementara dia melengos, biasanya juga seperti itu. Bisa-bisanya Alana memprotesnya karena kehadiran Adam.
"Kana, kau sedang ada masalah apa?" Tanya Adam yang melihat wajah tak sedap Kana.
Kana tak menjawab dan langsung mengambil rokok dan korek milik Alana di atas meja. Dia beranjak dari tempatnya menuju pintu belakang club.
Kana berdiri menyandar di tembok belakang Club. Ada beberapa orang yang lalu lalang dari pintu.
Kana menyalakan rokok dan mulai menghembuskannya perlahan. Bukannya menghilangkan stres, suasana hatinya yang buruk malah semakin bertambah karena kehadiran Adam. Untunglah angin malam membuatnya sedikit lebih baik.
Kana mendengar sesuatu dari balik tembok di sebelahnya. Tak lama, seseorang keluar dengan setelan jas dan berhasil membuat Kana berdiri tegak. Lelaki itu berjalan sambil memasang tali pinggang dan seleting celananya.
Dia terhenti saat melihat Kana yang ikut membeku.
"Kanazya?"
Rasanya ingin lari, tetapi matanya malah fokus pada perempuan yang baru keluar dari tempat yang sama dengan David. Perempuan itu menurunkan dressnya yang tersingkap ke atas, dia terhenti. Sesaat melihat Kana dan David secara bergantian dan cepat-cepat masuk ke pintu belakang.
"Kau.. sedang apa?"
__ADS_1
Kana tak menjawab, dia melihat rokok di tangannya yang masih menyala.
"Mau kupanggilkan Krishan?"
"Ck! Jangan coba-coba."
David tertawa dan ikut menyandarkan tubuhnya ke tembok disebelah Kana.
"Kau lari karena dia Yohan, atau apa?" Tanya David, lalu tangannya mengadah.
Kana memberinya rokok dan korek.
"Entahlah." Jawabnya pendek lalu menghisap lagi rokoknya.
"Kau pasti sudah mengenalnya selama tiga bulan pernikahan kalian, kan?" David menghembuskan asap rokoknya.
"Tiga bulan waktu yang singkat." Ucap Kana sambil terus menatap ke depannya. "Apa aku sudah dipecat?"
"Kau bercanda? Itu perusahaan suamimu, siapa yang berani memecatmu."
Entah dia masih suamiku, atau bukan. Batin Kana.
"Kembalilah. Dia terus gelisah mencarimu selama dua minggu ini. Dia bahkan tidak konsen dengan pekerjaannya."
"Aku mungkin tidak kembali."
"Apa? Kau gila, ya. Hahaha." David malah tertawa lebar lalu menginjak puntung rokoknya. "Setidaknya, bantulah dia untuk tetap waras."
"Sampaikan padanya, kencani saja perempuan manapun yang dia mau." Ucap Kana sambil berdiri tegak.
"Kau mau aku mati karena tidak melaporkannya saat bertemu denganmu?"
Kana mengangkat bahunya lalu berjalan pergi meninggalkan David.
"Hei, datanglah ke Loyal Pub. Krishan hampir setiap malam sendirian disana!"
Kana tak menjawab, dia berjalan saja di kegelapan malam itu. Pergi menjauh dari David yang bisa saja diam-diam melaporkan keberadaannya pada Krishan.
...°•°•°•°•°•°•°...
Krishan memandangi parfum Kana yang tidak ia bawa satupun. Dia menggenggamnya dengan erat, lalu menghirup aromanya.
Jia, sudah lama sekali dia mencari dengan berbagai hadiah yang ia tawarkan pada anak buahnya. Tetapi tak satupun ada yang menemukan. Bahkan ponselnya juga tidak pernah aktif lagi setelah ia mengejarnya ke jalan Redhill.
Krishan menutup mata sambil merasakan aroma Jia, dia teramat rindu. Perasaannya menderu karena keinginan luar biasa untuk bertemu wanita itu. Krishan sangat-sangat merindukannya.
Dulu Krishan pernah berpikir, mungkin istrinya akan meninggalkannya jika Jia bertemu laki-laki lain, atau karena bosan dengan kekurangannya itu. Namun nampaknya Jia malah terus mendampinginya. Krishan bahkan sangat bisa merasakan kasih sayang Jia dengan tulus.
Hal yang ia khawatirkan tidak terjadi. Malah kini istrinya itu meninggalkannya karena hal lain.
Jia, sudah jelas dia pergi karena Krishan melanggar janji yang ia buat untuk tidak berhubungan apapun dengan Sherly.
Krishan meletakkan ponselnya di telinga, mengirim pesan suara pada istrinya.
"Jia, apa aku harus buta lagi supaya kau mau kembali padaku?" Krishan menutup matanya, mencoba merasakan lagi rasanya saat pandangannya menggelap.
"Jika iya, aku akan melakukannya asal kau terus berada disampingku. Kumohon, Jia. Temuilah aku, walau sekali saja." Lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
TBC
__ADS_1