Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Prisoner Free


__ADS_3

Krishan sejak tadi tak mau bergerak dari tempatnya. Tangannya terus menggenggam erat jari-jari istrinya yang masih belum sadarkan diri. Kana kehilangan banyak darah karena dua luka tembak di bahunya.


Perempuan itu masih berdiri tegak melindungi dirinya dari tembakan musuh, tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Untunglah, tembakan itu bukan di tempat vital, sehingga tidak menimbulkan masalah besar.


Sebab itu pula, Krishan merasa amat berterima kasih sekaligus merasa bersalah karena tak mampu melindungi Kana dengan baik.


"Tuan, makan siang sudah siap. Tuan belum makan dari kemarin."


Suara Sean begitu khawatir terdengar. Sejak Kana masuk rumah sakit sampai sekarang, Krishan tak menyentuh apapun yang masuk ke dalam perutnya. Dia terus duduk dan bahkan tidur disamping Kana.


"Pergilah, jangan ganggu aku." Sahut Krishan dengan nada yang melemah.


"Kenapa belum makan?"


Krishan tersentak dengan suara Kana yang tiba-tiba muncul. Dia menggenggam erat dan tangannya meraba wajah istrinya yang melukiskan senyum lemah.


"Jia, jia, kau sudah sadar?"


Kana memberi kode pada Sean, lelaki itu pun pergi. Kana lalu menggenggam tangan suaminya. Dia bisa melihat wajah Krishan yang tampak sangat khawatir padanya


"Katakan, apa yang kau rasakan? Apakah masih ada yang sakit? Aku sudah bilang pada dokter supaya kau diberi obat yang membuatmu tak merasa sakit sedikitpun. Jika itu tidak bekerja, katakan padaku. Apa masih sakit?"


Kana tertawa kecil melihat suaminya itu. Lucu sekali.


"Aku baik-baik saja. Tidak ada rasa sakit. Obatnya berjalan dengan baik." Jawab Kana dengan nada yang masih lemah.


"Kenapa belum makan?" Tanya Kana lagi.


Krishan diam sejenak, jarinya merasakan hangat tangan Kana. Dia mengelus lembut jari itu dengan ibu jarinya.


"Aku tidak selera, Jia. Mana bisa aku makan, saat kau dalam keadaan sekarat."


"Siapa yang sekarat?" Kana berusaha duduk dari tempatnya. Membuat Krishan semakin panik.


"Jia, Jia, sedang apa? Tidurlah, kau butuh istirahat."


Kana tertawa pelan. Dia bersandar lalu mengambil sepiring nasi yang dibawakan Sean.


"Yang terluka hanya lenganku, Krish. Seluruh tubuhku masih berfungsi dengan sangat normal. Sekarang, buka mulut. Aku akan menyulangimu makan."


Krishan yang semula menegang, kembali tersenyum. Dia memang selalu kalah dari istrinya itu. Apalagi hal yang membuat Krishan terkejut saat melihat istrinya yang tiba-tiba mahir memegang senjata, membuatnya semakin sadar bahwa istrinya benar-benar keras kepala.


Krishan menerima satu suapan dari Kana. Dia mengunyah dengan semangat. Kemarin, Sean sudah menceritakan dengan detail mengapa Kana sangat berusaha berlatih tembak dan beladiri. Salah satunya adalah untuk melindunginya. Itu saja sudah membuat Krishan sangat senang. Perjuangan perempuan itu memang harus dihargai.


Kana menyulangi Krishan sampai selesai. Dia memberikan minum pada Krishan dan menyerahkan piring kosong pada Sean. Lelaki itu menunduk sambil tersenyum, merasa sangat berterima kasih pada nonanya yang sangat membantu untuk memperbaiki mood tuannya itu.

__ADS_1


"Kapan operasimu, Krish?"


"Aku menundanya, sweetheart. Aku ingin menemanimu dulu."


"Kalau begitu, mulai segera. Karena giliranku yang menemanimu nantinya."


Krishan mengangguk cepat. Senyuman merekah di bibirnya. Melihat itu, Kana ikut tersenyum senang. Walau susah dan kerepotan pada awalnya, sekarang Kana akan menikmati hidupnya. Semoga saja tak ada lagi hambatan untuk mereka berdua. Semoga operasi Krishan akan berjalan dengan lancar, supaya dia bisa melihat dan hidup Kana pasti sangat bahagia.


...○●○●...


Krishan tengah menjalani operasinya. Dia tidak menunggu disana. Kana memanfaatkan waktunya untuk pergi ke markas dan menemui seseorang disana sebelum Krishan sadar dan marah karena tak menemukan Kana disampingnya.


Dia berjalan di hadapan Sean, pemuda yang selalu dibelakang Krishan kini lebih sering dibelakang Kana.


Wanita itu membuka pintu. Dia mendapati Danny dan Felix di dalam sana.


Felix, dengan berat hati harus ikut lagi ke dalam penjara kecil itu karena Arex yang menolaknya, juga telah mati di tangan Kana. Bastian, lelaki itu dibawa pergi oleh sisa pengawalnya. Entah bagaimana nasibnya sekarang, yang jelas, dialah yang melanjutkan perusahaan kakaknya.


"Hai."


Sapa Kana pada kedua tahanannya. Kedua orang itu tak membalas sapaan Kana. Tapi Felix, dia terlihat sedikit tersenyum.


"Kupikir kau akan mati." Katanya pada Kana.


"Aku takkan mati sebelum kau, Felix." Balas Kana dengan bersidekap di depan pria itu. "Bagaimana rasanya ditolak?"


"Ah, aku akan membebaskanmu." Tukas Kana pada Danny.


Wajah Danny langsung cerah. Dia melihat seorang pengawal datang membuka jeruji besi itu dan membiarkan Danny keluar.


"Kau bercanda? Kau biarkan dia keluar? Kenapa??"


Kana tak menghiraukan pertanyaan yang keluar dari mulut Felix. Nampaknya lelaki itu hanya iri karena Danny, salah satu tokoh yang membuat Krishan buta malah bebas begitu saja.


"Sana, pergi. Jangan pernah menyapaku jika bertemu diluar."


Danny yang kepalang senang hanya mengangguk-angguk. Walau wajah dan tubuhnya masih babak belur, dia begitu semangat berlari kecil keluar dari penjara yang sudah sangat membuatnya tersiksa.


"Hei, aku tidak kau lepas, hah? Aku sudah memberikanmu banyak informasi! Tapi yang kau lepas malah anak gila itu. Kenapa??" Tanya Felix frustrasi.


"Kenapa? Karena permainan Krishan pada dirinya belum dimulai." Jawab Kana dengan senyum yang terlihat gila di mata Felix. Aneh sekali, saat pertama melihat Kana, gadis itu amat manis dan lugu. Tapi belakangan, Kana terlihat menjengkelkan dan lebih berani.


"Baiklah. Aku akan memberikanmu dua pilihan. Keluar dari sini, atau menjadi budakku."


"Hahahahaha. Jadi budak, kau bilang?? Hahaa. Kau bercanda? Aku memilih keluar!" Jawab Felix tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


Kana diam sebentar. Matanya menyipit pada Felix sampai akhirnya dia memerintahkan Sean membuka pintu sel itu dan Felix pun keluar dengan tawa puas.


"Hahahaha. Akhirnyaaa.. aku bebaassss..." Felix tertawa ke arah Kana sebentar, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.


"Nona, keputusan anda ini, bukankah akan beresiko?" Tanya Sean.


"Tentu tidak. Kau harus melakukan sesuatu, Sean. Dan kau lihat, setelah ini, Felix akan kembali lagi." Jawabnya sambil tersenyum jahil.


...°•°•°•°•°•...


Operasi Krishan pun selesai. Seperti janjinya, Kana terus berada di sisi Krishan. Dia menguap beberapa kali, Kana mulai mengantuk setelah meminum obatnya. Entah kapan suaminya itu sadar, Kana sudah tak lagi peduli. Dia merebahkan tubuhnya disebelah Krishan karena kini dirinya sangat mengantuk.


Beberapa jam kemudian, Kana terbangun setelah merasa seseorang menciumi keningnya. Dia membuka mata dan mendapati Krishan memeluknya. Mata lelaki itu ditutupi perban dan Kana hanya bisa melihat hidung dan bibir yang mengembang itu.


"Sudah bangun?" Bisik Krishan dan Kana mengangguk.


"Aku tidur karena sangat mengantuk." Jawab Kana lalu berusaha bangkit. Namun tubuhnya ditahan Krishan.


"Mau kemana? Disini dulu. Aku ingin terus memelukmu."


Kana nurut. Dia kembali merebahkan kepalanya dan membiarkan Krishan memeluk tubuhnya.


"Terima kasih, sweetheart. Kau benar-benar menjagaku. Setelah ini, aku pastikan kalau akulah yang akan menjagamu."


"Lalu untuk apa aku berlatih bela diri, Krish." Sahut Kana sembari terus menutup matanya.


"Itu tidak diperlukan jika tak genting. Setelah ini, kau hanya akan terus disampingku."


"Aku akan bekerja kembali."


"Aku bosmu."


Kana tergelak. Dia mengeratkan pelukannya. Cuaca diluar sedang dingin, pelukan Krishan menghangatkannya. Detakan jantung beraturan dan harus khas Krishan. Ah, Nyaman sekali.


"Setelah ini, aku akan membawamu menikmati hidup. Kau mau kan, sweetheart."


Kana mengangguk cepat. Sontak Krishan memeluk wanita itu semakin erat.


Pintu terbuka. Suara langkah kaki yang mendekat tak membuat Kana membuka matanya.


"Hei, aku ingin bicara padamu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan tentang kemarin. Aku tahu, aku salah. Aku ingin meminta maaf. Lalu, aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah menolongku."


Hening. Itu yang Daniel tangkap. Padahal dia mendengar dua orang itu mengobrol tadi.


"Aku sudah salah. Hei, aku datang untuk meminta maaf. Kau dengar? Hei! Aku takkan mengulang permintaan maafku ini, asal kau tahu!"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari kedua orang yang tengah berpelukan itu. Membuat Daniel semakin kesal.


"Sial!" Umpatnya seraya pergi dari kamar pengantin sialan itu.


__ADS_2