
Krishan mengumpulkan semua anggotanya di markas mereka. Dia akan membuat pengumuman penting.
"Kalian pasti sudah melihat wajah istriku. Aku mau kalian mencarinya. Jika kalian berhasil menemukannya, aku akan memberikan hadiah besar. Ingat, jangan sampai istriku terluka sedikitpun saat kalian membawanya. Kalian mengerti?!"
"Mengerti, bos!" Sahut mereka ramai-ramai, lalu membubarkan diri.
"Han, ayo." Daniel mengajak Krishan menuju lantai bawah, dimana Felix terkurung di dalam penjara yang mereka buat sendiri.
Krishan duduk di kursi yang telah disediakan. Di hadapannya, Felix berdiri sambil tertidur dengan kedua tangan yang terikat rantai ke atas. Wajahnya sudah penuh luka lebam, juga tubuhnya yang tanpa baju penuh dengan luka.
Dia tersentak bangun saat Sean menyiramnya dengan air es.
"Hah, sialan!!" Makinya karena kedinginan. Matanya langsung menangkap Krishan yang duduk tenang tak jauh dari hadapannya.
"Ah, tuan Yohan akhirnya muncul juga. Bagaimana? Kudengar istrimu lari setelah tahu kau adalah mafia terkejam di negara ini. Hahahaa."
BRUK!
Daniel langsung menendang tubuh Felix hingga terayun ke belakang. Menghajarnya berkali-kali sampai wajah Felix mengeluarkan darah.
Krishan dengan matanya, memberikan kode pada Sean supaya melepas rantai di tangan Felix.
Lelaki itu terjatuh ke bawah saat tangannya dilepas. Rasa remuk redam lebih terasa saat dia hanya terduduk lemas dengan bahu yang sangat sakit akibat ikatan itu.
Krishan berdiri menghadap Felix. "Apa Arex membantumu?" Tanya Krishan dengan tangan yang terselip di kantong celananya.
"Sudah satu minggu. Dia tidak datang dan tidak mencarimu sekalipun." Krishan lalu berjongkok di hadapan Felix yang sudah melemah.
Mata Felix tak berkedip saat menyadari Krishan sudah bisa melihat. Tubuhnya semakin bergetar karena tahu, dia mungkin tidak akan mati dengan cepat di tangan Krishan. Lelaki itu lebih menyukai penyiksaan sampai orang itu sendiri yang membunuh dirinya.
"Aku akan mengirimmu pulang. Kau setuju?"
Felix melihati Krishan dengan tatapan nanar. Dia memang ingin pulang, tetapi dia sangat tahu maksud lelaki di depannya itu.
"Antar dia pulang. Jangan lupa, letakkan bom di tubuhnya dan ledakkan saat dia masuk ke dalam ruangan Arex." Ucap Krishan sambil berdiri.
__ADS_1
"Ja-jangan.. aampun.." Felix mencoba meraih kaki Krishan dan memohon pada lelaki itu.
"Kau masih sayang pada ketua yang bahkan tidak memperdulikanmu itu? Hahaha." Tawa Daniel pecah saat mendengar Felix mulai memohon. Padahal saat ia yang menyiksa, Felix masih bisa menertawakan Daniel.
"Bu-bunuh saja aku. A-akulah yang merencanakan penculikan istrimu.."
Krishan menendang keras wajah Felix sampai hancur bersimbah darah. Dia langsung teringat dengan jeritan istrinya meminta tolong saat lelaki itu mencoba memperkosanya. Kini Felix hanya terkapar di atas lantai. Terdengar napasnya yang tercekat, rasa sakit yang besar di seluruh tubuhnya sudah tidak bisa ia ekspresikan lagi. Felix hanya mengerang menahan sakitnya.
"Tangkap Arex secepatnya. Aku tahu dia merindukan ketuanya." Titah Krishan dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Tuan.."
Langkah Krishan terhenti saat Evan berjalan cepat menemuinya.
"Nomor ponsel nona Jia aktif di jalan Redhill."
Krishan langsung berlari setelah mendengar ucapan Evan. Dia dengan cepat mengendarai mobil ke arah yang disebut bawahannya. Tanpa pengawal, Krishan melajukan kencang mobilnya seakan lupa bahwa dia pernah kecelakaan dahsyat karena itu.
...♡♥︎♡♥︎...
Kana menarik hoodi untuk menutupi kepalanya. Tak lupa masker yang masih menyantol dibawah dagunya untuk menutupi wajahnya dari orang-orang Krishan.
Tadi sebelum berangkat, Kana menyemprotkan parfum rose Alana yang sebenarnya tidak begitu ia sukai. Tetapi demi menyembunyikan diri dari penciuman Krishan, dia pun menyemprotkan banyak-banyak keseluruh tubuhnya. Khawatir jika bertemu Krishan, lelaki itu akan mengenali bau tubuhnya yang kata Krishan punya ciri tersendiri di hidungnya.
Sebenarnya Kana sangat malas berjalan-jalan seperti ini jika bukan karena paksaan Alana.
Kana duduk di sebuah bangku. Memperhatikan sekitarnya, orang-orang sibuk dengan aktfitasnya masing-masing.
Dia mengaktifkan ponsel, mencoba melihat pesan-pesan yang ia lewatkan.
Sambil menunggu proses ponselnya, mata Kana menangkap satu orang lelaki berjualan bunga di tepi jalan. Dia tidak buta seperti Krishan, tetapi itu cukup membuat Kana mengingat suaminya.
Sejak awal mengenal Krishan, laki-laki itu adalah orang yang hangat, penuh keceriaan dan senyuman yang menawan. Memang sangat berbeda dibanding ciri Yohan yang seperti belakangan ia ketahui. Krishan dan Yohan seperti orang yang berbeda. Bagaimana mungkin hal itu terjadi. Sebenarnya, dia menikahi Krishan atau Yohan? Entahlah, Kana sudah tidak ingin memikirkannya lagi.
Kana melihat layar ponselnya. Banyak pesan masuk dari Bianna dan teman kantor lainnya. Mencari tahu kenapa Kana tidak masuk berhari-hari tanpa kabar. Ah, juga pesan dari Sherly.
__ADS_1
Lagi, wanita itu mengirim foto ruangan perawatan Krishan dengan kata-kata yang membuat Kana panas. Kana memblokir nomor itu. Sekarang, terserah padanya. Jika dia kembali pada Krishan pun, itu bukan urusannya lagi. Toh, Krishan juga sudah menyetujuinya.
Kemudian Kana mendengarkan kotak suara yang masuk. Dari teman-teman, juga Krishan...
"Jia, bisakah kau mengunjungiku di rumah sakit? Aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau menemaniku disini."
"Jia, maafkan aku. Aku bukan bermaksud menipumu. Aku hanya ingin mengubah masa laluku saat setelah mengenalmu. Kuharap bisa bersamamu seterusnya seumur hidupku.."
Kana terdiam sebentar sebelum mendengarkan kotak suara selanjutnya. Bagaimana bisa Krishan mengucapkan kata yang bersebrangan dengan apa yang dia lakukan?
Kana semakin membeku saat dari jauh melihat seseorang berwajah Krishan berlari kecil menyisiri orang-orang sekitarnya. Wajah itu mencari kesana kemari, seolah tahu dirinya ada disekitar pasar ini.
Kana langsung membuang wajah ke arah lain, dia takut Krishan menemukannya.
Kana melepas permen di mulutnya, membuangnya ke tempat sampah dan menarik masker untuk menutupi wajahnya.
Dia menonaktifkan ponselnya yang baru ia sadari sebagai sumber mengapa Krishan bisa menemukannya. Kana berjalan perlahan, membelakangi Krishan yang berusaha mengenalinya melalui indra penciumannya.
Kana melambatkan langkahnya saat Krisha berlari kecil melewatinya. Dia bisa melihat punggung lelaki itu yang berhenti, membungkuk untuk mengatur napasnya.
"Jiaaa!"
Kana terhenti tak jauh di belakang saat Krishan berteriak memanggil namanya. Membuat beberapa orang disekeliling mereka melihat ke arah Krishan.
Kana sedikit berdetak. Walau seperti itupun, Kana belum ingin menemuinya. Dia berusaha mengatur langkahnya supaya tidak terlihat kaku. Dia berjalan melewati Krishan yang masih berdiri bingung di tempatnya.
"Jiaa.." Teriaknya lagi.
Kana berjalan melewati Krishan, dia memasukkan tangannya yang sedikit bergetar ke kantong jeket sambil berdoa supaya Krishan tidak mengenalinya. Walau dia sendiri bingung, kenapa Krishan terus mencarinya. Padahal sudah jelas, apa yang dilakukan Kana adalah pemutusan hubungan dengan lelaki itu.
Langkah Kana terhenti saat dia merasa tangannya ditahan seseorang dari belakangnya. Dia terkaget, mencoba membalikkan badan sambil berharap yang menahan tangannya bukanlah Krishan.
Tetapi tidak terkabul. Dia menahan napas saat ternyata orang itu adalah Krishan.
TBC
__ADS_1