
Benarkah, Adam??
Tapi tunggu dulu. Aku membaca ulang kertas di tanganku.
"Astaga, Sean!"
Aku menemui Sean yang berkumpul bersama para pengawal di depan rumah.
"Sean, ini siapa?"
"Ah, maaf Nona. Saya menemukan beberapa nama Adam di Wellgroup jadi saya menyalin semua biodata yang ada Adam-nya."
Aku membolak-balik lembaran kertas, ternyata ada 9 orang bernama Adam.
Hah, Sean. Ternyata ada sisi lucunya juga.
"Baiklah." Akupun duduk di teras depan sambil membuka lembaran yang fotonya kukenali sebagai Adam si penguntit.
Aku membacanya perlahan. Dia Adam Holmes asli negara ini. Dia bersekolah dasar sampai sekolah menengah juga disini. Lalu melanjutkan sekolah 2 tahun di Inggris.
Apa? Inggris? Tapi kata Felix, Sanders dibesarkan di inggris, kan?
Tidak ada catatan buruk, malah dia lulusan terbaik di inggris. Hm, pantas saja Adam punya posisi yang bagus di Wellgroup.
Orang tuanya pengusaha besar, masih hidup namun sudah bercerai.
Ini tidak ada yang menyangkut ke Sanders sedikitpun. Aargh! Aku frustrasi. Apa tidak ada sedikit petunjuk??
"Apa Jia sudah pulang?"
Suara Krishan terdengar dari dalam.
"Ada di teras depan, tuan." Sahut Marry.
Aku langsung berdiri saat melihat Krishan sudah berada di ambang pintu.
"Kau bosan? Apa mau jalan-jalan?" Tanyaku langsung dan dia menggelengkan kepala.
Aku menggandeng tangannya masuk ke dalam menuju taman tengah dan duduk di kursi santai.
"Mau aku buatkan teh?" Tawarku lagi. Apapun yang membuat perasaannya lebih baik. Karena belakangan aku jarang melihatnya tersenyum cerah.
"Tidak. Tapi kenapa kau tidak pakai parfummu?" Bola mata Krishan mengarah padaku. Seperti mata yang bisa melihat tepat ke arahku.
"Aah, soal itu, aku lupa." Aku sengaja tidak memakai parfum karena setiap Krishan tahu keberadaanku, dia selalu mengubah ekspresi sedihnya. Di depanku dia benar-benar terlihat santai. Tapi sebenarnya aku tahu dia sangat terpukul.
"Krish, apa kau tahu posisiku saat ini?" Tanyaku penasaran.
Krishan mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku. "Aku bisa melihat bayangan dengan jelas."
"Benarkah?" Aku menggenggam tangan Krishan, senang sekali mendengarnya. Jika benar, nampaknya Krishan bisa sembuh dengan cepat tanpa operasi. Nampaknya, obat dari dokter gila itu mujarab juga.
"Ya, tapi sepertinya jika dibawah cahaya saja." Lanjut Krishan.
"Oh, apa itu yang disebut oleh dokter itu, ya? Katanya, kau mengalami buta jenis.. apa, ya?" Aku lupa namanya.
"Intinya, buta jenis itu bisa melihat bayangan walau kadang bisa, kadang tidak." Jelasku pada Krishan.
__ADS_1
"Ya, tapi ini lebih jelas dari yang dulu."
Aku merapatkan wajahku ke wajah Krishan. Menatap matanya dengan seksama.
Sebenarnya mata Krishan sangat indah. Bulu mata yang panjang, bola mata biru keabuan, juga tatapanya yang membuat tubuh bergetar.
Cup
Aku terbelalak. Krishan mengecup bibirku sekilas lalu tersenyum jahil. Tapi aku menatapnya dengan penuh rasa takjub.
"Kau benar-benar tahu posisiku."
Krishan menarikku ke dalam dekapannya. Memelukku dengan erat seakan tak ingin melepaskanku. Dia mengelus rambutku dengan lembut. Akupun memeluknya, mendengarkan detakan jantung Krishan yang membuatku betah berlama-lama disana.
"Aku akan berusaha sembuh, Jia. Aku ingin bisa melihat seperti kemarin lagi."
Aku diam saja, mendengarkan apa yang dia rasakan sebenarnya.
"Aku ingin terus menjagamu. Aku ingin menjadi orang yang sempurna untukmu. Aku ingin bisa berdiri lagi di depanmu, melindungimu, juga membimbingmu. Kali ini, aku takkan kalah dengan takdir. Aku akan berusaha sekuat tenaga."
Mendengar ucapan Krishan membuatku tersenyum senang. Syukurlah dia punya keinginan yang kuat. Dulu, Krishan sedih karena keterbatasannya itu dia tak bisa melindungiku. Apalagi waktu itu aku dua kali diculik dan dia benar-benar merasa kacau karena itu.
"Aku mendukung itu, Krish. Yang harus kau tahu adalah aku sangat mencintaimu. Itu saja." Aku sudah banyak sekali mengungkapkan isi hatiku pada Krishan sejak kemarin. Tujuannya adalah supaya semangatnya timbul kembali.
Walau dia memang banyak tertawa saat bersamaku, tetapi tetap saja itu hanya pura-pura.
"Mau ke kamar?" Bisikku pada Krishan. Lelaki itu menarik garis senyum lalu menggendongku.
"Krish, Are you kidding me??" Aku terperanjat dan langsung melingkarkan tanganku di lehernya.
"I-iya. Baiklah, tuan Yohan." Ucapku mencoba tenang walau tubuhku menegang.
Krishan berjalan perlahan menuju kamar kami. Aku tahu dia memang sudah sangat paham letak rumah ini, hanya saja aku takut jatuh.
"Kau tegang sekali."
"Krish, geser ke kanan sedikit. Kita bisa menabrak tembok." Tukasku yang terus menatap jalan.
"Aku tahu, sweetheart."
Krishan menendang pintu lalu menutupnya lagi dengan kakinya. Lihai sekali, membuatku terkekeh.
Krishan melemparku ke tempat tidur, sempat membuatku jantungan tapi untunglah tepat di atas tempat tidur.
Krishan membuka bajunya dengan perlahan. Bola matanya tidak mengarah padaku, artinya diruang redup, Krishan memang tidak bisa menangkap bayangan.
Aku dengan sangat perlahan mengendap-endap berjalan mendekatinya.
Setelah ia berhasil membuka semua bajunya, aku memeluknya dari belakang dan itu cukup membuat respon tubuh Krishan mengeras karena terkejut dengan sentuhan tiba-tiba.
Aku meraba seluruh tubuhnya dari belakang. Benar-benar luar biasa tubuh Krishan.
"Sepertinya tubuhmu semakin mengeras." Ucapku sembari terus meraba kotak-kotak kecil di perutnya.
Krishan meraih kedua tanganku lalu menggiringnya ke bagian bawah tubuhnya.
"Yang ini juga semakin mengeras." Ucapnya sambil menuntun jariku terus mengelus pusat tubuhnya itu.
__ADS_1
"Hm, nampaknya kali ini akan menjadi malam yang panas."
Krishan langsung membalik badan dan menghimpitkan tubuhku ke tembok.
"Kau ingin malam ini menjadi malam yang panas, atau malam yang indah?" Bisik Krishan sembari mengunci kedua tanganku dengan satu tangannya.
Wah, lihatlah wajah laparnya itu. Wajah yang sangat aku sukai.
Krishan mulai menjalarkan tangan satunya ke bagian atas tubuhku. Membuatku meremang dan mulai bergairah.
"Aahh.."
"Cepat jawab." Tukas Krishan sambil memainkan Pd-ku dengan jari-jarinya.
"Aku...hhaah.. " ah sial, permainan Krishan dengan satu tangannya saja sudah membuat aliran darahku mengalir kencang.
"Malam panas.." jawabku yang memang sudah memanas.
Krishan tersenyum miring dan langsung menyambar bibirku. Dia mengesapnya dengan sedikit kasar, membuatku mengerang karena ternyata liarnya Krishan membuatku semakin menyukainya.
TRANG!
Oh, Gosh. Saking panasnya permainan itu, dia sampai menjatuhkan vas bunga di atas nakas.
Krishan langsung menarik tengkukku dan menciumiku saat aku ingin melepaa diri karena pecahan vas itu.
Aku takut Krishan mengincak pecahan kaca. Dengan membalas ciumannya, aku menggiring Krishan menuju atas tempat tidur tanpa melepaskan ciuman kami. Malam itu benar-benar panas. Krishan menunjukkan sisi lain dari dirinya untuk yang pertama kali, dia mengabulkan permintaanku dan menghajarku dengan permainan panasnya yang membara.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°...
...PoV A**uthor**...
"Apa kau sudah gila, Hah??!" Sherly melempar lembaran foto ke atas meja hingga berserak berjatuhan ke bawah.
"Kenapa? Kau sedih karena mantan calon suamimu itu buta lagi?" Tanya Danny yang duduk dengan kaki menyilang di kursi kerjanya.
Sherly menatap foto-foto yang berserakan. Foto yang menampilkan peristiwa kecelakaan Krishan.
"Anggap saja aku membalaskan dendammu. Aku hanya ingin merebut kembali apa yang dia ambil darimu." Kata Danny dengan entengnya.
"Kau tidak perlu melakukan itu, Danny! Aku sudah meminta maaf dan bersedia kembali padamu, kan? Untuk apa kau lakukan ini? Apa kau lupa, kau berhadapan dengan siapa??" Sherly mencoba membuka pikiran Danny yang sudah berani menembus tembok bahaya.
"Aku tidak lupa. Justru aku sengaja membuatnya buta lagi karena mentalnya pasti lebih jatuh." Danny berdiri. Dia mendekati Sherly yang masih tak habis pikir dengan cara yang dilakukan Danny.
"Kau tahu, dua minggu lalu dia menghancurkan perusahaanku. Semua investor beralih dan sahamku anjlok! Itu semua karena dia ingin membalaskan dendamnya padaku." Danny berdiri dibelakang Sherly yang menghadapkan badannya ke jendela yang terbuka.
"Kupikir itu akan menjadi akhir dari hidupku. Akupun mencari cara supaya bisa bertahan. Lalu, itulah saat dimana dewi keberuntungan berpihak padaku." Danny mulai tertawa membayangkan betapa dia masih sangat beruntung.
"Aku bertemu seseorang. Dia mengajakku bekerja sama untuk menghancurkan Yohan dan imbalannya adalah, dia menyelamatkan perusahaanku."
Sherly membalikkan badannya. "Siapa??" Tanyanya dengan alis yang berkerut.
Danny mengangkat bahunya. "Entahlah. Kami tidak berkenalan, tapi kulihat dia berteman dengan kekasih Yohan. Pada awalnya Aku hanya ingin mengajak kekasih Yohan itu untuk bekerja sama menghancurkan Yohan. Ya, sebelum aku tahu kalau dia ternyata istri Yohan. Aku bertemu dengan pria itu saat mengikuti istri Yohan beberapa waktu lalu. Aku juga tidak begitu peduli. Yang penting hubungan kami simbiosis mutualisme." Jelas Danny sambil menaik-naikkan alisnya.
Sherly diam sebentar menatap Danny dengan perasaan bercampur aduk. Dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Kau jangan khawatir. Selama Yohan buta, dia akan melemah. Dan lelaki itu, tak akan membiarkan Yohan berdiri tegak. Percayalah. Aku bisa melihat kebencian di matanya. Dan untuk selanjutnya, dia akan membuat Yohan semakin melemah dengan menghabisi kekasihnya itu." Kata Danny lalu memeluk Sherly dengan tawa jahatnya.
__ADS_1