
Mereka terhanyut dalam suasana tenang di tempat itu. Perasaan kacau Olivia pun perlahan muncul saat Daren menyudahi ciuman mereka.
Olivia merasa canggung. Jantungnya semakin berdegub saat Daren masih terus memandangnya. Olivia memaki dirinya dalam hati, kenapa dia tidak mendorong Daren saja tadi. Jika sudah begini, dia merasa sangat malu sekarang. Bukankah dia terlihat seperti seorang perempuan murahan?
"A-aku.."
"Ayo." Daren berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Olivia.
Olivia menatap Daren dengan bingung. Mau kemana? Bukankah mereka tidak punya jalan lagi? Tapi Olivia meraih tangan itu dan merasa lega karena perasaan canggung dan malu itu bisa teratasi karena Daren sendiri.
Dia mengikuti Daren masuk ke dalam gua kecil itu.
"Ki-kita mau kemana?"
"Aku rasa dari sini bisa keluar."
"Apa? Ini sangat gelap, bagaimana kita tahu jalannya??" Tanya Olivia panik.
"Kau pegang saja tanganku erat-erat. Jangan sampai terlepas."
Mereka mulai berjalan perlahan di dalam gua. Gini keadaan sekitar sangat gelap. Bahkan Olivia sulit melihat Daren yang berada di depannya.
"Daren, kau mau membawaku kemana??"
"Tenanglah, aku tidak akan mencelakaimu." Jawabnya santai dan tangannya benar-benar menggenggam erat tangan Olivia.
"Iya, tapi ini gua apa? Bisa saja di dalamnya ada hewan buas. Bagaimana kalau Aaahhhh!" Olivia terjatuh dan Daren dengan cepat meraba tempat.
"Olive, kau kenapa?" Tanya Daren sembari meraba kaki Olivia yang sudah dipegangi gadis itu. Dia merintih kesakitan.
"A-aku keinjak lubang. Aahh.. sakit."
"Yang mana yang sakit?"
"Ini.." Olivia menuntut tangan Daren menuju pergelangan kakinya yang sepertinya keseleo.
"Kalau gitu, naik."
"Ha? Naik kemana?"
Daren memegang tangan Olivia dan meletakkannya di punggungnya. Dia sudah berjongkok dan bersiap.
"Maksudnya gendong?" Tanya Olivia yang menyadari punggung Daren kini dihadapannya.
"Iya. Cepat."
Olivia dengan ragu melingkarkan tangannya di leher Daren. Lelaki itu dengan cepat mengeratkan lingkaran tangan Olivia hingga membuat gadis itu merapatkan tubuhnya. Jantung Olivia bergedegup kencang. Dia menutup mata dan berusaha menahan napasnya supaya Daren tidak merasakan detakan jantung yang kencang.
Daren berdiri dan mulai berjalan perlahan di kegelapan.
"Apa selama ini aku menyebalkan?" Tanya Daren tiba-tiba. "Aku pasti membuatmu kesal setiap hari." Sambungnya lagi.
"Begitulah."
__ADS_1
Daren tersenyum tipis mendengarnya. "Aku akui, aku memang suka mengerjaimu dan melihatmu kesal."
Kini Olivia yang tersenyum di belakangnya.
"Hidupku sangat membosankan. Karena aku harus membagi tugas antara menjadi pelajar dan pewaris tunggal. Dimana aku harus terus belajar mengurus urusan politik dan kenegaraan."
Olivia mendengarkan saja, dia sebenarnya sudah tahu karena Bundanya yang sudah bercerita panjang lebar tentang tugas dan kewajiban Daren. Berat memang, Olivia pun tahu itu.
"Aku hanya sering mencari ketenangan diluar. Untuk bisa sampai sini saja, aku harus mengajak Hugo yang berbicara pada ayahku."
Kasihan Daren, hidupnya pasti sangat berat. Batin Olivia.
"Kau lanjut kemana setelah ini?" Tanya Daren lagi.
"Aku tidak lanjut. Aku akan bekerja saja. Aku akan menyekolahkan adikku."
"Apa kau tidak punya mimpi?"
Olivia tersenyum getir. Jika ditanya seperti itu, dia merasa sedih. Bukan tak punya, hanya saja dia harus memendam itu demi kehidupan Bunda dan adiknya.
"Mimpiku adalah melihat bunda dan adikku bahagia. Kehidupan yang tenang, tanpa ada hambatan apapun. Cita-cita adikku tercapai, dan apa yang diharapkan Bunda bisa terjadi. Hal yang seperti itu, aku berusaha mewujudkannya."
Daren mendengarkan dengan seksama. Keinginan Olivia hanya keluarganya. "Lalu kau? Apa kau sendiri tidak punya keinginan untuk dirimu sendiri? Yang kau sebutkan hanya kebahagiaan keluargamu."
"Jika itu terwujud, maka aku akan bahagia." Jawab Olivia singkat, dia tak ingin membahas keinginannya karena dia sudah mengubur itu.
Mereka sudah keluar dari gua itu dan berjalan perlahan di jalan setapak kecil. Kini, suara jangkrik dan sinar bulan menemani jalan mereka.
"Maaf.." Kata Daren tiba-tiba.
Daren memilih diam karena dia tahu jawabannya akan menimbulkan kemarahan bagi Olivia.
Suasana hening menemani perjalanan mereka. Kini keduanya hanya diam dan mulai berbicara dengan pikiran masing-masing.
Daren, dia sebenarnya mengerjai Olivia. Tetapi anehnya kejadian ini malah membuatnya dalam masalah besar. Dia sendiri juga tidak menyangka dengan apa yang sudah ia lakukan tadi pada gadis itu. Bagaimana bisa dia menungkapkan perasaan pada Olivia? Apa dia sudah gila? Lalu ciuman itu? Mengapa dirinya malah mencium Olivia?
Daren memang menyukai Olivia karena mental dan pribadi gadis itu yang kuat dan mandiri. Tapi, apa benar perasaan itu suka seperti kebanyakan sepasang kekasih? Bukankah itu hanya sekedar kagum?
Entahlah, Daren sendiri belum bisa memastikannya. Mungkin karena terbawa suasana dan tempat yang mendukung, Daren jadi kelewatan batas.
Sementara Olivia, dia melihati lelaki itu dari belakang tubuhnya. Rambut, telinga, lalu bentuk tubuh Daren yang ia akui, bahwa ia menyukainya. Tetapi apa itu tadi? Daren mengungkapkan perasaannya. Lalu ciuman itu?
Olivia menggigit bibirnya saat mengingat ciuman Daren. Itu ciuman pertamanya dan dia benar-benar memberikannya pada Daren. Lalu setelah ini, apa yang terjadi? Apa dia akan menerima Daren dan berpacaran saja dengannya? Lagi pula Daren sebenarnya pemuda yang baik dan peduli pada keluarganya. Daren juga menyayangi Bunda, kan? Olivia menggelengkan kepalanya. Tidak, itu tidak bisa terjadi. Olivia tiba-tiba teringat siapa Daren dan kehidupannya. 'Tidak, Kau harus sadar diri, Oliviaa.' Batinnya.
"Itu mereka!"
Olivia melihat ke depan, dimana sumber suara itu berasal. Itu Clair dan yang lain sudah berdiri jauh dari tempat mereka berdiri.
Eh? Olivia baru menyadari kalau mereka sudah keluar dari gua itu. Jadi, Daren tahu jalan keluarr??
"Turuunn!" Olivia menepuk-nepuk pundak Daren dan lelaki itu membungkuk.
Olivia menahan sakit kakinya untuk bisa berdiri. "Kau.. tahu jalan keluar?" Olivia melihat wajah Daren lekat-lekat. Lalu memperhatikan sekelilingnya. Benar, itu adalah jalan yang tadi siang dia lewati.
__ADS_1
"Bukannya kau bilang, kalau kau tidak tahu jalan keluar?"
Pertanyaan Olivia tidak ditanggapi Daren.
"Astaga. Apa ini? Apa maksudmu? Kau mengerjaiku?"
"Aku kan, sudah minta maaf."
Olivia mengerutkan alisnya. Jadi, Daren memang mengerjainya? Tapi.. untuk apa?
"Kau membiarkanku ketakutan disana? Apa maksudmu menanyakan ini itu, lalu kau... kau.." Argh, lidah Olivia kaku saat terlintas lagi dipikirannya saat-saat Daren mencium bibirnya.
"Aku hanya mengerjaimu. Aku iseng."
Olivia mengerutkan dahi dengan bibir yang terbuka. Perkataan Daren barusan, sungguh membuat napasnya seperti terhenti. Pasokan oksigen pun tak bisa ia rasakan lagi. Semilir angin yang membuat dingin tak lagi bisa ia rasakan. Baru saja dia mengubah seluruh cara pandangnya pada lelaki di depannya itu. Kini lelaki itu sendiri yang menghancurkannya. Olivia benar-benar kaku.
"Anggap saja yang tadi tidak terjadi."
A-apa katanya? Olivia mengepalkan tangan. Ingin sekali dia menghajar wajah lelaki sialan itu.
"Lagi pula, kau juga lucu sekali tadi hahaha." Tawa Daren pecah. Dia tertawa tanpa melihat wajah Olivia yang sudah hampir menangis.
"Sialan!" Olivia melayangkan tinju ke arah Daren tapi sayangnya, Kepalan tangan itu berhasil di tahan Clair.
"Hei, hei.. Stop, Olive."
"Sini, kau! Sialan!" Maki Olivia yang tubuhnya di tahan Clair dan Bella. Sementara Daren masih saja tertawa.
"Ada apa, Daren?" Tanya Axel dan yang lain saat sudah mendekat.
"Lihatlah dia. Lucu sekali. Kalian pasti akan tertawa jika kuceritakan." Katanya ditengah tawa.
Olivia menegang. Wajahnya pasti sudah tidak bisa ia sembunyikan jika Daren menceritakan semua yang mereka lalui.
"Kami terjebur ke dalam air terjun lalu aku membawanya ke belakang air terjun itu. Kau tahu, Hugo? Tempat kita biasa bermain sejak kecil dulu." Daren memegang perutnya yang terasa menggelitik.
"Kubilang kalau kami tersesat dan tahu jalan. Lalu dia menangis hahaha."
Daren berceloteh ria, menceritakan kejadian itu tanpa ia sadari, Olivia menatapnya dengan nanar. Semenyedihkan inikah saat kehangatan yang ia anggap yang sebenarnya, ternyata hanya sebuah gurauan bagi Daren.
"Wah, kau ini ya, Daren." Sahut Isac sambil ikut terkekeh.
"Karena kasihan, akhirnya aku bawa saja dia kembali. hahaha."
Olivia merasa kali ini Daren sangat keterlaluan karena dia sudah mempermainkan perasaannya.
Tapi walau begitu, apa dia berhak marah? Bukankah selama ini Daren memang suka mengerjainya? Mungkin saja Daren memang tengah mengujinya.
Olivia tersenyum manis menatap Daren.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, tuan Daren. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi hari ini." Ungkap Olivia dengan nada yang terdengar tulus di telinga Daren.
Perempuan itu melangkah pergi dengan kaki yang sedikit pincang.
__ADS_1
'Baiklah, tuan Daren. Aku mengerti sekarang. Aku yang salah karena aku yang terbawa perasaan. Tapi kali ini aku tidak akan diam. Kau akan merasakan apa yang kurasakan. Tunggu saja waktunya. Kau akan merasa kecewa dengan perasaanmu sendiri.' Batin Olivia sambil berjalan meninggalkan mereka semua yang masih diam disana.