Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
UPSET


__ADS_3

Kana membantu Krishan membersihkan punggungnya di dalam bathup. Air yang penuh wewangian, kelopak mawar, juga busa sabun, membantu Krishan merileksasikan pikirannya.


Tetapi sebenarnya, pikiran Krishan sudah tenang saat ia mendengarkan kata-kata Kana yang menyentuh hatinya, ditambah pergulatan nikmat yang mereka lakukan beberapa jam belakangan, membuat percaya dirinya tumbuh kembali.


Terlebih saat Kana terang-terangan memuji kekuatannya di atas ranjang, membuat harga dirinya meningkat naik.


"Kita makan malam diluar?" Tanya Kana sambil terus menggosok lembut punggung Krishan.


"Aku sudah atur tempat untuk kita makan berdua, menggantikan malam itu."


Kana membasuh punggung suaminya sampai bersih. "Sudah selesai." Ucapnya dan Krishan membalikkan badan, menghadap Kana.


"Krish, apa boleh aku bertanya?"


Krishan menyandarkan tubuhnya lalu meminta Kana bersandar di dada bidangnya.


Krishan kemudian memeluk erat Kana dalam dadanya, sesekali Kana menyirami air ke lututnya yang ia tekuk.


"Apa yang ingin kau tanya, Jia? Aku akan menjawabnya."


Kana menoleh ke belakang, mencium dagu lelaki itu sekilas, lalu Krishan melingkarkan tangannya lagi.


"Apa kau punya usaha lain?" Tanya Kana hati-hati.


"Usaha?"


"Hm.. kulihat kau royal. Kau bahkan bisa memesan hotel-hotel mewah."


Terdengar tawa pelan dari Krishan, membuat Kana menoleh lagi ke belakangnya.


"Iya, aku punya." Jawabnya lalu mengecup tengkuk leher Kana.


"Begitu, ya."


"Apa uang bulananmu kurang?" Tanya Krishan sembari menaikkan tangannya ke atas, meremas dua gundukan indah Kana.


"Aahh..Tidak." Jawab Kana dengan sedikit mendesah. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di dada Krishan sambil memain-mainkan air.


"Kau ingin apa? Aku akan mengabulkannya. Apa perlu membeli mobil untukmu bekerja?" Tanya Krishan.


"Tidak, aku belum membutuhkannya. Tapi Krish, kenapa kau membuka toko bunga jika perusahaanmu masih ada?"


"Hm.." Krishan tampak berpikir lalu merapatkan lagi tubuh Kana ke dekapannya. Dia menciumi bahu Kana hingga membuat wanita itu meremang.


"Menipu musuh." Jawabnya lalu mencium belakang telinga Kana dengan lembut. Wanita itu merasakan darahnya yang mengalir kencang karena sentuhan lembut Krishan.


Tak berhenti disana, Krishan mencium leher Kana, lalu dia mulai mengesap dan mengigit kecil untuk membuat tanda merah.


"Krish!" Kana terlonjak, sementara Krishan tertawa renyah.


"Jangan buat apapun disini. Aku tidak mau repot menutupinya saat pergi bekerja." Larangnya pada Krishan.


"Baiklah.." Krishan menarik lagi tubuh Kana, mendekatkan ke tubuhnya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kana, mengecup lagi tengkuk gadis itu.


"Memangnya kau punya musuh?" Tanya Kana lagi.


"H'em.. itu sebabnya aku tidak mau orang-orang tahu kau istriku." Jawabnya sambil meletakkan hidung dan bibirnya di punggung istrinya yang halus.


"Tapi, Kenapa kau sampai bisa punya musuh? Kau dulu apa?" Tanya Kana penasaran. Apalagi melihat Krishan punya banyak tato, membuatnya sedikit curiga dengan masa lalu Krishan.


"Hmmm.." Krishan tampaknya enggan bercerita, sebab dia tengah menikmati harum leher Kana.


"Krish.."

__ADS_1


"Banyak yang ingin menjatuhkan perusahaanku, Jia.." jawabnya malas, sebenarnya dia ingin terus memeluk dan menciumi istrinya itu. Menikmati tubuh Kana, tetapi wanita itu sedang banyak pertanyaan.


"Masa sampai seperti itu? Memangnya kalau tahu, aku mau diapain?"


"Diculik." Jawan Krishan santai.


"Yang benar saja.." Ucap Kana tak percaya. "Kalau begitu, ceritakan tentang hidupmu. Pasti seru."


"Tidak ada yang seru. Hidupku seru setelah mengenalmu." Jawabnya sambil terus menempelkan hidung dan bibirnya di pinggung Kana.


"Masa begitu??" Protes Kana yang tahu Krishan tengah malas bercerita. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Krishan.


"Iya, sayang. Aku serius." Jawab Krishan lalu menarik lagi tangan Kana, mendekatkan ke dirinya.


"Ah, Sudah, ah. Aku lapar." Kana berdiri, Krishan sedang tak enak diajak cerita. Dia lalu menarik tangan Krishan hingga tubuh pria itu ikut berdiri.


Kana mengelap lembut tubuh Krishan yang sangat bagus di matanya, membuatnya terus memikirkannya. Jari telunjuk Kana menyentuh perut Krishan, menjalankannya hingga ke beberapa kotak-kotak kecil di perut Krishan, membuat pria itu tersenyum karena ia tahu, istrinya menyukai tubuhnya.


"Kau bilang lapar, apa mau makan yang lain?" Goda Krishan saat Kana terus menyentuh setiap inci tubuhnya yang keras.


"No!" Tolaknya dan langsung berlalu meninggalkan Krishan yang tertawa-tawa.


~


"Kenapa harus pakai pakaian begini segala?" Tanya Kana sambil membenarkan posisi dasi Krishan.


"Aku mau kau mengingat malam ini bersamaku." Jawabnya sambil merapatkan tubuh Kana ke dekapannya. Wanita itu memakai gaun indah sepaha berwarna hitam yang membentuk badannya, senada dengan setelan jas Krishan.


"Memangnya ada apa, sih.."


TING


Pintu lift terbuka, Kana dan Krishan memasuki ruangan yang terlihat seperti menggantung.


Di tengah lantai kaca itu sudah ada meja dan dua kursi yang berhadapan, dengan lilin dan anggur di atasnya.


"Krish, ini.. sangat indah." Kana benar-benar takjub dengan apa yang ditunjukkan pada Krishan.


"Kau pernah kemari?" Tanya Kana sambil memegang tembok kaca, melihat kebawahnya, dia agak takut.


"Aku yang membangun ini."


"Ha? Benarkah?" Kana berjongkok, lalu mengetuk-ngetuk lantai kaca bening itu. "Apa ini aman, Krish? Aku takut kacanya pecah dan kita..."


Krishan tertawa mendengar celotehan istrinya.


"Jia, kemarilah." Krishan mengulurkan tangannya, lalu menarik tangan Kana mendekatkan ke tubuhnya.


"Hotel ini milik kita." Bisiknya di telinga Kana, membuat wanita itu melongo.


"Mi-milik kita?"


"H'm.. Kau bebas kemari sesuka hatimu. Karena aku akan memberikan kartunya nanti padamu."


"Ah.. terima kasih, Krish." Ucap Kana lalu mengecup sekilas bibir suaminya.


"Akulah yang berterima kasih, Jia. Kau melengkapiku.." tuturnya lalu memeluk erat istrinya. "Aku tidak sabar ingin melihatmu."


"Ha?" Kana melepaskan pelukannya. "Apa maksudnya, Krish?"


"Aku sedang menunggu orang yang ingin menjual kornea matanya padaku. Jika itu sudah ada, aku akan segera operasi dan bisa melihatmu."


Kana menganga, "Se-serius??" Tanya Kana tak percaya.

__ADS_1


Krishan tersenyum lebar. "Iya, semoga aku segera mendapatkannya."


"Bukannya itu ilegal?" Tanya Kana lagi dan Krishan tertawa renyah.


"Benar, aku hanya menunggu pendonor. Makanya lama.." Tukasnya sembari menarik tangan istrinya untuk dipeluk lagi.


"Aah.. tidak sabarnya.." Kana membalas pelukan Krishan.


Bukankah luar biasa jika Krishan bisa melihat, hidupnya akan sempurna. Mempunyai suami yang super mempesona dan hebat seperti Krishan. Sungguh, rencana Tuhan luar biasa. Batinnya.


"Ayo, kita makan.." Ajak Krishan pada istrinya yang terus mengembangkan senyum sejak tadi.


...♧♣︎♧♣︎...


Kana tengah termenung setelah mendengarkan ucapan Alana barusan. Dia tidak lagi menyentuh makan siangnya sebab kini pikirannya menerawang jauh.


"Kan, kenapa?" Tanya Alana yang melihat Kana hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Kau dengar cerita itu darimana?" Tanya Kana penasaran.


"Cerita itu kan, sempat membuat heboh. Masa tidak tahu?" Jawabnya sambil mengunyah.


"Eh, kau kepikiran, ya?" Tanya Alana lagi. "Krishan pasti tidak begitu. Kalau dari ceritamu, sepertinya dia sangat mencintaimu."


"Bukannya kau tadi cerita laki-laki itu juga sangat mencintai istrinya saat dia buta?"


"A.." Alana melirik ke atas, mengingat ceritanya lagi. "Tapi jangan dipukul rata, dong. Tidak semua seperti itu."


"Tapi aku jadi kepikiran. Bagaimana kalau Krishan juga begitu. Saat buta dia benar-benar cinta lalu setelah sudah bisa melihat, dia malah tidak tertarik dengan wajahku dan mencari wanita lain."


Alana bengong. Dia menyesal sudah cerita begitu pada Kana.


"Duh, aku kayanya yang salah bicara. Kalau kuingat-ingat, lelakinya tetap cinta, kok. Iya, dia semakin cinta dan menerima istrinya, dia berterima kasih karena istrinya sudah menerima dirinya apa adanya." Oceh Alana panjang lebar demi memperbaiki kegundahan hati Kana.


Tetapi wanita itu malah semakin menjadi. Wajahnya mulai cemberut.


"Aaaa.. bagaimana ini? Bagaimana kalau dia malah minta pisah setelah melihat wajahku." Rengeknya tiba-tiba, membuat beberapa orang melirik pada mereka.


"Eh,, kenapa takut? Bukannya selama ini kau terlampau percaya diri dengan wajahmu itu?"


"Kalau memang aku cantik, pasti Noah tidak akan pernah selingkuh, kan?"


"I-iya juga, sih."


"Wuaaaaaaa.." Kana tambah merengek mendengar jawaban Alana.


"Eeh, aduh, kau ini!" Alana pindah duduk kesebelah Kana.


"Maaf.. aku tidak bermaksud membuatmu begini. Sumpah, aku tadi cuma asal cerita aja, kok." Tukas Alana mulai menyalahkan dirinya.


"Tapi apa yang kau bilang benar. Aku juga harus waspada, kan?" Ucap Kana sembari menghapus air matanya.


"Daripada memikirkan itu, mending pikirkan cara supaya suamimu itu cinta mati dan tergila-gila padamu. Jadi, dia tidak akan lari kemana-mana." Tuturnya memberi saran.


"Benar, cuma itu jalan satu-satunya." Kana menunduk.


Alana menggelengkan kepala. Padahal Kana baru cerita, kemarin Krishan tidak percaya diri karena takut Kana meninggalkannya karena dia buta. Lalu sekarang, Kana yang takut Krishan meninggalkannya jika suaminya itu sudah bisa melihat.


Sungguh, Alana menatap Kana dengan pandangan aneh. Apakah cinta memang membuatnya seperti itu? Rasa takut ditinggalkan dan kehilangan.


Benar, dulu Kana juga selalu memaafkan Noah yang jelas-jelas selalu selingkuh karena Kana yang tidak sanggup kehilangan Noah. Untunglah dia langsung bertemu Krishan, walau saat ini dirinya gundah takut ditinggal suaminya karena cerita aneh Alana.


TBC

__ADS_1


__ADS_2