Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Dealing


__ADS_3

Sean menemui Sherly yang sudah amat kegirangan dengan apa yang ia dengar. Krishan akhirnya sepakat dan menandatangani surat perjanjian.


Dengan begitu, siang ini Krishan langsung menjalankan operasinya. Dia tidak ingin menundanya lagi sebab ia sudah tidak ingin menahan gejolak emosi yang sejak kemarin menggetarkan seluruh tubuhnya. Apalagi jeritan Kana yang meminta tolong waktu itu masih terus berdengung. Dia tidak bisa melupakan rasa penyesalannya yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk istrinya.


"Baiklah, katakan pada tuanmu bahwa aku sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk kornea mata itu." Tukas Sherly sambil terus tersenyum.


"Satu lagi, Nona. Selama proses operasi dan pemulihan, Nona dilarang mendekat dengan tuan Krishan."


"Lho, apa-apaan itu? Kenapa begitu? Aku mau menjadi orang pertama yang dilihat oleh Krishan!"


"Saya hanya menyampaikan apa yang tuan katakan. Kalau begitu, saya permisi, Nona." Sean berdiri, membungkukkan badan dan berlalu pergi sambil membawa berkas yang sudah Sherly tanda tangani.


"Yah, tidak masalah, sih. Yang jelas, aku akan bersama Krishan."


Sherly bergerak dari tempatnya, dia berniat menemui Danny untuk mengakhiri hubungan dengannya. Untuk apa ia bersama Danny jika Krishan jauh lebih unggul ketimbang lelaki itu.


Hah, rasanya Sherly menyesal telah mengkhianati Krishan hanya karena rayuan dan persuasi dari Danny. Jika saja dari awal dia tahu kalau mata Krishan bisa disembuhkan, sudah pasti dia akan tetap di sisi lelaki itu.


Krishan, siapa yang menolak jika bersanding dengan lelaki tampan nan kharismatik itu. Bahkan nenek-nenekpun terus mendekatinya, kan?


Sherly berjalan sambil bersenandung. Hatinya sangat bahagia sekarang. Dia ingin pergi ke salon dulu untuk mempercantik diri supaya saat Krishan melihatnya, dia sudah menjadi perempuan yang lebih cantik dari yang terakhir Krishan lihat.


Langkah Sherly terhenti. Dia mengingat sesuatu yang belum ia lakukan.


"Aaah, aku belum menghubunginya." Gumamnya lalu mulai mengeluarkan ponsel dari tasnya.


...○●○●...


Kana bersiap keluar dari hotel. Entah mengapa ia merindukan rumah Krishan yang sejuk dan penuh bunga itu. Disana, pikirannya agak tenang.


Kana sedikit terkaget mendapati dua orang penjaga yang membungkukkan badan saat melihat Kana membuka pintu.


"Bisa kalian mengantarku ke rumah?" Tanya Kana dan mereka langsung mengangguk, mempersilakan Kana berjalan duluan.


Kana melihat satu mobil mengikutinya dari belakang, diisi sekitar empat orang. Nampaknya Krishan semakin memperketat penjagaannya.


"Hei, siapa namamu?" Tanya Kana pada pemuda yang menyetir.

__ADS_1


"Saya Harits, Nona."


"Hufff.." Kana membuang napas dengan kasar.


"Baiklah, Harits. Maukah kau membantuku?"


"Saya akan melakukan apapun yang Nona katakan." Jawabnya dengan terus menatap jalan di depannya.


"Kau anak buah Krishan, kau pasti tahu tentangnya, kan? Jadi, kenapa Yohan menyamar menjadi Krishan? Apa dia memang suka menipu? Ah bukan. Maksudku, apa dia memang sengaja menargetkan aku?"


Harits diam, Kana bisa melihat matanya dari spion depan. Pemuda itu nampak bingung.


"Kau jujur saja, aku tidak akan melibatkanmu."


"Saya tidak tahu, Nona. Itu bukan ranah saya. Tugas saya hanya menjaga Nona." Jawabnya kemudian.


"Tapi, apa benar kalian merampok dan mencuri, mengedar narkoba dan sejenisnya?" Kana mulai bingung dengan pertanyaannya sendiri. Sudah jelas Yohan itu penjahat, kenapa malah bertanya.


"Kami tidak merampok dan mencuri, Nona. Kami memang dikenal sebagai raja jalanan. Tapi sebenarnya Foldcury hanya perusahaan kecil dibagian jasa security atau sejenisnya. Orang-orang banyak menyewa body guard atau pengawal pada Foldcury karena terkenal kehebatanannya dibawah pimpinan tuan Krishan. Beliau orang hebat walau terkadang..." Harits menghentikan kalimatnya. Dia menganga sebab bicara terlalu lancang.


"Terkadang apa? Pemarah ya, maksudmu?" Tanya Kana.


"Tidak apa-apa. Aku juga sudah tahu dia emosional. Apalagi kalau marah, bisa saja kan, dia membunuhku?"


"Tuan tidak mungkin begitu, Nona. Dia sangat menyayangi anda." Sanggah Harits.


"Ya, kau anak buahnya. Jelas kau mendukungnya. Kalau Foldcury itu jasa pengawal, lalu yang dikatakan Felix soal narkoba, apa benar?" Tanya Kana lagi.


"Sebenarnya Foldcury yang dikenal banyak orang adalah perusahaan. Bukan gudang kejahatan yang seperti Felix katakan."


"Benarkah? Berarti yang dikatakan Felix adalah kebongan??" Tanya Kana penasaran.


"Itu juga benar, Nona."


Kana mendesah kasar. "Panjang lebar kau berbicara, intinya sama saja." Tukas Kana kesal sementara Harits merapatkan bibirnya.


"Satu lagi yang diincar oleh Felix dan Arex, yaitu Judi terbesar yang dipegang Foldcury sangat menghasilkan banyak keuntungan. Itulah sebabnya posisi tuan Krishan sangat diinginkan banyak pengusaha-pengusaha besar lainnya."

__ADS_1


"Judi, ya. Haah, Krishan ternyata seperti itu. Pantas saja dia juga tidak melarangku minum dan merokok.Ternyata karena dia sudah biasa dengan yang seperti itu. Jadi intinya, kalian dikenal baik-baik diluar walau didalamnya sangat bar-bar."


"Tapi tuan Krishan sudah lama tidak menjalankan Foldcury dari dalam, Nona. Dia hanya memegang nama saja. Tuan Daniel-lah yang mengawasinya sekarang."


"Tapi tetap saja dia pernah melakukan itu. Hei, jawab pertanyaanku, apa dulu Krishan suka meniduri perempuan??"


"Ah.. itu.."


"Sudah berapa orang yang dia bunuh? Apa ada 100 orang? Atau jangan-jangan seribu??"


"Kalau itu..." Harits nampak bingung sendiri dengan pertanyaan majikannya itu.


"Nona, sudah sampai." Harits sedikit lega karena sudah sampai di tujuan.


Kana keluar dari mobil dan mendapati rumah yang nyaman itu dikelilingi bunga yang bermekaran.


"Ah, ditinggal beberapa minggu saja sudah terlihat semakin cantik." Ucapnya sembari memegangi bunga-bunga di taman.


"Nona, anda pulang?" Marry keluar menyambut Kana yang masih berdiri memandangi tanaman.


"Aku hanya singgah, Bi. Bibi masak apa? Aku ingin makan steak buatan bibi."


"Nona masuklah, akan saya buatkan. Ayo.." Marry mengajak Kana masuk dan membuatkannya jus jeruk, sementata dia membuat masakan yang diminta Kana.


Kana berjalan menyusuri rumah yang sejak awal ia tempati bersama Krishan. Dalam hatinya sangat merindukan rumah ini. Sejuk dan sangat tentram.


Dia terhenti di salah satu tumbuhan yang pertama kali Krishan berikan padanya. Daunnya sudah sangat lebar dan tumbuh dengan lebat. Marry benar-benar merawat tanaman-tanaman di rumah itu dengan sangat baik.


"Bi, apa Krishan menyimpan foto-foto pernikahan kami?" Tanya Kana tiba-tiba.


"Sepertinya ada di kamar tuan, Nona."


Kana langsung masuk ke dalam dan mencari album foto. Dia menemukan satu kotak yang berisi banyak sekali foto-foto Krishan dulu saat muda. Dia sangat tampan dan senyuman menawannya sangat Kana sukai. Tetapi belakangan ia tidak melihat senyuman itu. Sebab hubungan yang kian memburuk. Apalagi Krishan yang sejak awal Kana tekankan untuk tidak membohonginya, pada akhirnya tidak bisa jujur akan dirinya sendiri. Jika hal seperti itu dia mampu sembunyikan, bagaimana dengan hal lain.


"Nona, makanan sudah siap."


Kana langsung keluar dan duduk di meja makan. Menghirup aroma Steak Marry membuatnya semakin lapar.

__ADS_1


"Ini enakk!!" Ucapnya sambil mengunyah.


__ADS_2