
Akhir pekan menjadi alasan banyak orang untuk memulihkan pikiran yang penat karena aktifitas dan rutinitas yang padat untuk sekedar bertamasya ataupun jalan-jalan.
Tapi tak begitu dengan sepasang suami istri ini. Hal semacam itu belum berlaku mengingat beberapa minggu kebelakang, mereka tidak bertemu dan menahan rindu.
Saat ini, mereka duduk di taman tengah rumah. Krishan sedang mengepang rambut istrinya, menyelipkan beberapa bunga kecil di sela rambut Kana yang panjang dan terlihat sangat cantik.
"Kau mencabuti bunga, apa tidak rusak?" Tanya Kana yang melihat suaminya dibelakang dengan cermin kecil yang ia pegang.
"Selesai." Krishan mengecup puncak kepala Kana lalu memutar tubuh wanita itu supaya menghadapnya.
Kana memegangi rambutnya sambil menatap heran pada suaminya.
"Rapi sekali. Apa kita buka salon saja?"
Krishan tergelak, lalu menyesap kopinya.
"Lusa aku akan menemanimu ke dokter."
"Aku sudah tidak apa-apa. Perutku sudah lebih baik."
"Tetap harus periksa. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Kita berdua harus panjang umur untuk menikmati indahnya dunia."
Kana tersenyum sambil memandang rambutnya di cermin kecil.
"Oh ya, Krish. Hari ini aku akan bertemu Alana."
"Tidak. Hari ini sampai besok kau hanya bersamaku. Baru tiga hari kau disini dan langsung ingin bermain lagi bersama Alana?"
"Aku akan bersamamu selamanya, Krish."
"Memang harus, tapi saat ini tidak boleh keluar. Aku melarang. Katakan pada Alana, dia sudah bersamamu sejak zaman dahulu kala, maka sekarang giliranku."
Kana memandang sambil tersenyum ke arah suaminya yang terus mengomel. Dia langsung duduk di pangkuan Krishan, menghadap ke arah lelaki itu dan langsung melahap bibir yang sejak tadi belum mau diam.
Krishan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kana dan membalas ciuman wanita itu.
"Kau milikku, aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa izinku. Kau mengerti itu?"
Kana menatap suaminya. Kini Krishan berbeda dari ia yang dulu. Krishan sekarang sedikit posesif dan sulit mengalah.
"Tuan, maaf mengganggu. Ada tuan David dan tuan Daniel di depan."
Kana bangkit dari pangkuan suaminya.
"Aku tidak boleh pergi, tapi kau ada tamu." Gerutu Kana.
"Sebentar, sayang." Krishan mengecup bibir Kana dan langsung menuju ruang depan sementara Kana menuju dapur membantu Marry menyiapkan makanan.
"Ada apa?" Krishan duduk di hadapan David dan Daniel.
"Arex kabur ke negara sebelah. Kurasa dia tahu rencana kita." Kata Daniel.
__ADS_1
"Sepertinya benar yang kau bilang, kita harus menemukan siapa penyusup di Foldcury." Sambung David.
"Aku menyerahkan itu pada kalian, artinya sekarang adalah tugas kalian. Aku tidak ingin ikut campur karena aku tak ingin kehilangan istriku lagi."
"Ayolah, Han. Bantu sekali lagi saja." Bujuk Daniel.
"Aku yakin istrimu itu pasti akan mengerti. Kau hanya membantu kami dari luar. Kami yang akan menjalankannya." Sambung David lagi.
Krishan menatap istrinya yang sedang tertawa di dapur bersama Marry.
"Aku akan katakan dulu pada Jia."
"Kau sudah membangun Foldcury sampai sejauh ini. Masa kau membiarkannya roboh?" Tutur Daniel.
Kana datang membawa teh dan cemilan. Matanya melirik tajam pada David.
"Apa??" David merasa heran dengan tatapan Kana.
Krishan menarik tangan istrinya hingga ia terduduk di sebelahnya.
"Baby, bagaimana menurutmu, mereka ingin aku membantu di Foldcury."
"Ayolah kakak ipar, sekali saja suamimu membantu kami menangani masalah kecil." Bujuk David.
"Itu kan, sudah diserahkan pada kalian. Seharusnya kalian bisa mengatasi masalah itu. Kecil saja minta bantuan pada Krishan, bagaimana kalau masalah besar?"
Setelah berkata begitu, Kana langsung pergi dan Krishan tersenyum senang dengan respon bijak istrinya itu.
"Kakak ipar, ayolah." David mengikuti Kana ke dapur.
David malah cengengesan. "Aku kira kau sudah benar-benar melupakan Yohan. Makanya aku mencarikan perempuan lain untuknya!"
Daniel mencolek Krishan. "Sejak kapan mereka sedekat itu?" Krishan hanya mengangkat bahunya.
"Lalu, kenapa kau menyuruhku mengatakan supaya Yohan mencari perempuan lain saja??"
Krishan menoleh pada dua orang itu saat mendengar namanya disebut.
"Hei, berani kau mengatakan itu." Suara Kana mulai pelan dan menekan pada David.
"Apa! Benar, kan? Kau yang bi.."
Kana memasukkan roti ke mulut David dengan cepat. "Kau ini melantur, ya. Haha." Kana menepuk-nepuk punggung David yang sulit menelan roti itu.
Kana duduk lagi disebelah Krishan. "Ya sudah, sekali ini saja. Setelah ini, aku tidak mau lagi Krishan berkaitan dengan Foldcury atau apapun itu."
"Wahahah, begitu dong dari tadi.." Tawa David yang mengunyah roti dalam mulutnya.
...☆★☆...
Untunglah Krishan pergi bersama Daniel dan David untuk menyelesaikan masalah mereka. Kini Kana akan bertemu dengan Alana dan Bastian. Mereka membuat Janji dirumah Alana karena Kana malas pergi keluar yang pasti akan tergoda dengan alkohol lagi dan lagi.
__ADS_1
"Bas, kau datang."
Bastian masuk dan dipersilakan Alana duduk di sofa. "Kana belum sampai?"
"Mungkin sedang di jalan. Kau mau minum apa?"
"Apa saja. Aku akan mengerjakan tugasku sebentar." Ucap Bastian sambil membuka laptopnya.
"Ini weekend. Bagaimana bisa kau masih membuat tugas."
"Yah, begitulah. Mereka tidak akan tenang sebelum aku mati."
Alana tertawa dan menuju dapur menyiapkan cemilan dan minuman untuk teman-temannya nanti.
"Bas.."
"Hei, Kana. Kau sudah datang rupanya."
Kana meletakkan tasnya di atas sofa. "Kemana Alana?"
"Menyiapkan makanan di dapur." Jawabnya tanpa melihat, dia fokus pada pekerjaannya.
Kana menuju dapur, membantu sahabatnya itu menyiapkan makanan untuk mereka. Karena mereka akan menonton film terbaru bersama.
Tak lama, Ibunda Alana datang dan mendapati Bastian berada di ruang tamu.
"Oh, apa pacar Alana tengah disini?"
Bastian mendongak, lalu berdiri memberi salam pada Inna. "Alana sedang di dapur, Tante."
"Jangan panggil tante, panggil saja Ibu."
"Ah, baiklah." Ucapnya merasa canggung.
Kana keluar bersama Alana membawa makanan di tangan mereka.
"Ibu, kenapa datang?" Tanya Alana yang cepat-cepat meletakkan makanan di atas meja dan mendorong perlahan tubuh ibunya supaya menjauh dari tempat mereka.
"Iss, kau ini. Ibu ingin berkenalan dengan pacarmu!"
"Hah, pacar?" Alana menoleh pada Bastian. "Ibu, itu temanku."
"Kenapa harus jadi teman jika bisa jadi pacar. Iya, kan.." Inna terhenti sebentar. "siapa namanya?" Bisiknya pada Alana.
"Bastian."
"Bastian, apa kau menyukai anakku?"
"Astaga, ibu, yang benar saja!" Pekik Alana yang merasa malu pada bastian. Sementara Kana menahan senyum melihat tingkah ibu dan anak itu.
"Ah, kau juga disini ternyata." Inna menoleh pada Kana yang sejak tadi sudah menyudut. Takut jika suara Inna akan menyakitinya lagi.
__ADS_1
"Ibu, bisakah kita bicara sebentar?" Pinta Alana sebelum ibunya meledak. Apalagi ada Bastian, dia akan semakin tidak enak nantinya.
"Tidak, aku ingin bicara pada wanita itu." Inna mendekati Kana. "Kau sudah bertemu ibumu? Temuilah dia, kasihan. Karena aku sudah mengabarkannya kalau kau menikahi lelaki buta. Hahaha." Inna tergelak. Sementara Bastian mengerutkan dahi mendengar ucapan Ibu Alana.