Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Taken II


__ADS_3

"Han! Serahkan saja pada kami. Kau tunggu saja berita baik dari kami!"


"Aku tidak bisa diam karena ini ISTRIKU!!" Pekiknya dengan tangan mengepal. Dia menutup panggilan dari David. Sejak tadi perasaan gundah sudah mengerumuni hatinya. Jika terjadi sesuatu pada istrinya, dia akan menyalahkan dirinya seumur hidupnya.


"Berani kau menyentuhnya, kau akan langsung berhadapan denganku." Berangnya dengan mata yang menyala. Saat ini, amarah berkecamuk dalam dirinya.


Mobil melaju kencang menuju tempat yang sudah dilacak keberadaannya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang sepanjang perjalanan.


Setelah mobil berhenti, Krishan langsung keluar. Dia bisa mendengar langkah kaki yang berkerumun di dekatnya, meminta arahan untuk bergerak.


"Saat ini, kita di sebuah gedung yang sudah tidak terpakai. Disekitarnya adalah pembuangan barang rongsokan. Gedung hanya dua lantai. Sepertinya Nyonya Jia ada di lantai dua." Sean menjelaskan detail lokasi pada Krishan.


Krishan menyadari kekurangannya. Dia tidak mungkin bisa masuk dengan cepat dalam keadaannya yang seperti ini.


David dan Daniel datang, mereka berlari kecil mendekati Krishan.


"Aku akan di depan." Tukas Daniel.


"Aku percayakan padamu. Hancurkan siapapun yang menyentuh istriku." Suara Krishan pelan tapi terdengar membunuh di telinga para anggotanya.


"Bergerak sekarang!" Titah Daniel dan mereka semua berhamburan.


Suara kaki berlari terdengar, Krishan berjalan perlahan di dampingi Sean dan beberapa orang di belakang yang melindungi Krishan.


Dia meraba jalan dengan tongkatnya. Ada rasa kecewa pada dirinya, sebab dia tidak bisa menyelamatkan istrinya secara langsung.


Dari dalam sudah terdengar suara tembakan dan barang-barang yang dibanting dengan keras.


Di dalam, Jia meringkuk di atas lantai. Dia menangis tanpa suara karena rasa takut yang luar biasa. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi, orang-orang tadi menanyakannya dengan berbagai pertanyaan yang dia sendiri tidak mengerti.


Suara tembakan terdengar, Jia menutup mata dan telinganya dengan kuat. Dia benar-benar ketakutan. Apakah tembakan itu akan mengenai dirinya nantinya? Jia mulai memasrahkan hidupnya. Dalam hatinya, dia berharap Krishan datang menemuinya, Krishan menyelamatkannya, walau itu tidak mungkin terjadi. Karena Krishan sendiri tidak mau menemuinya lagi. Krishan sudah benar-benar marah padanya. Lagi, Jia meneteskan air mata saat mengingat suaminya itu.


"Krishan, aku takut.." gumamnya dengan tangan yang bergetar, hingga akhirnya Jia tidak sadarkan diri.


BRAK!!


Pintu terbuka dengan keras, suara langkah kaki terdengar.


"Jiaaa!!" Krishan berteriak, tetapi tidak ada jawaban.


"Han, dia pingsan!" Pekik David dan langsung mengecek keadaan istri sahabatnya.


"Jia, jia.." Krishan meraba wajah istrinya dengan panik. Dia takut terjadi sesuatu pada Jia. "Bagaimana kondisinya??!"


"Tidak disentuh." jawab David.


"Akan aku bawa dia." Ucap Daniel dan langsung menggendong Jia, berlari menuju mobil mereka.

__ADS_1


~


Jia mengerjap, seketika pikirannya langsung mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Tubuhnya langsung menjauh saat merasa seseorang mendekapnya.


"Jia.."


Wanita itu menatap lama, Krishan ikut berbaring miring ke arahnya. Mendapati itu, Jia langsung memeluk tubuh suaminya dan terisak-isak. Perasaan sedih dan lega menjadi satu di dalam hatinya.


"Jia, maafkan aku." Krishan mencium ke sembarang wajah istrinya. Mendengar isakan tangis Jia membuat hatinya ikut pilu.


"Jia, maaf aku datang terlambat." Lirih Krishan. Dia benar-benar merapatkan tubuhnya dan istrinya seolah melarang udara masuk ditengah mereka.


"Krish.. hiks hiks.." Jia memendamkan wajahnya di dada Krishan. Rasanya sangat nyaman dan menenangkannya. Walau tidak tahu entah bagaimana dia bisa bersama Krishan, yang jelas Krishan pasti menyelamatkannya.


"Aku disini, Jia. Aku tahu kau tidak salah, aku yang salah. Maafkan aku, Jia. Maafkan aku. hssshh.." Ucap Krishan lembut sambil mengusap-usap punggung Jia yang tangisannya sampai membuat bahunya naik turun. Istrinya itu pasti sangat ketakutan.


...•°•°•°•°...


"Ternyata istrinya, hahahaa."


Kedua kakinya yang ia letakkan di atas meja bergoyang-goyang, ikut menikmati hasil cctv siang tadi.


"Wow. Aku mendapat dua kejutan besar! Pertama, Yohan sialan itu, walau tidak mati setidaknya dia buta. Dan yang tak kalah penting, ternyata dia sudah menikah. Hahaha." Tawanya menggelegar di ruangan luas miliknya.


"Hah, akhirnya kau punya kelemahan juga, Yohan. Manusia sok jago sepertimu, tidak akan bertahan lama." Tukasnya sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi, tuan. Gedung kita dibakar habis oleh mereka, juga beberapa anggota tewas dan yang terluka, mereka bawa dan sepertinya akan dijadikan budak." Ucap seseorang yang ada dibelakangnya.


"Haah, setahan apa berita bohong itu tersebar, akhirnya terkuak juga kebenarannya. Hahaha. Cepat, susun rencana selanjutnya! aku tidak suka berlama-lama. Aku tidak sabar ingin melihat Yohan menderita seumur hidupnya, Hahahaha." Tawanya lagi kini lebih lebar karena rasa puas yang semakin membesar.


...♡♥︎♡♥︎...


Krishan masih di atas tempat tidur bersama istrinya. Dia memeluk sambil menepuk-nepuk lembut punggung Jia. Jia sudah tenang, dia tidak bergerak dari dekapan suaminya yang membuatnya aman dan nyaman.


"Kita makan, ya? Kata Marry kau belum makan dari tadi malam."


Jia menggelengkan kepala, dia merasa tidak berselera.


"Katakan, kau ingin makan apa? Aku akan membelikannya."


Jia menggelengkan kepalanya lagi.


"Sayang, makan sedikit saja, ya? Kata dokter yang memeriksamu tadi, kau harus makan saat sudah siuman."


"Krish.."


"Hm?"

__ADS_1


"Siapa mereka.." tanyanya dengan suara parau.


Krishan berdiam sebentar sambil mengelus lembut rambut istrinya. "Mereka orang-orang yang mau menyingkirkan aku, Jia. Perusahaanku adalah saingan mereka. Jadi, mereka akan melakukan segala cara supaya aku jatuh." Jawab Krishan seadanya. Dia enggan menjelaskan lebih banyak pada Jia, karena belum waktunya.


"Kenapa sampai seperti itu?"


"Entahlah. Itu sebabnya aku tidak ingin orang-orang tahu kau istriku." Ucapnya sambil mengecup lembut puncak kepala Jia.


"Lalu sekarang bagaimana? Apa aku tidak bisa keluar rumah?"


"Bisa. Aku akan mengantarmu kemanapun dan akan ada yang mengawalmu nanti."


Jia mengangguk saja, sebab dia masih merasa takut.


"Jia, katakan padaku, apa yang mereka lakukan padamu."


Jia diam sejenak, mencoba mengingat lagi apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Mereka menanyakan segala macam bisnis yang Yohan jalankan, saat kubilang tidak tahu, mereka mengancam akan membunuh." Suara Jia seperti tercekat, membayangkan itu sudah terlewati rasanya sangat lega.


"Lagi?"


"Mereka menyebut nama Yohan Yohan. Aku tidak mengerti, kupikir karena aku karyawannya, makanya mereka menyekapku. Jadi aku katakan saja tidak ada kaitannya pada Yohan sialan itu."


Krishan berdehem, rasanya ingin sekali mengatakan kalau dirinyalah yang dikatakan sialan oleh istrinya itu. Tetapi dengan keadaan yang seperti ini, rasanya Jia mungkin akan lari.


"Ada lagi?"


Jia menggeleng. "Tidak. Tapi Krish, Mereka tidak ada menyinggungmu dan malah terus-terusan bercerita tentang dirinya dan Yohan dulu. Jika memang hubungannya dengan Yohan, kenapa mereka malah menculikku? Memangnya apa hubunganmu dengan Yohan sialan itu?"


Krishan menghela napas, sudah berkali-kali Jia memakinya secara tidak langsung.


Krishan bangkit, "hubungan bisnis. Ayo keluar dan makan."


"Kita dimana?" Jia menengok kesana kemari, sejak tadi dia tidak memperhatikan sekeliling.


"Hotel yang kemarin kita datangi. Kita akan tinggal disini untuk sementara."


"Begitu, ya." Jawabnya tanpa tenaga, lalu menggeletakkan dirinya lagi. "Krish, bisa tidak makanannya saja yang kemari?"


Mendengar itu, Krishan tersenyum lebar. "Tentu bisa, sayang."


Dia meraba tembok dekat nakas, lalu memencetnya. "Bawa makan siang ke kamarku." Ucapnya pada orang diseberang.


"Ba-baik, tuan."


Jia menahan tawa. Krishan bisa mendengar itu dari telinganya, keningnya berkerut karena bingung.

__ADS_1


"Krish, hari sudah gelap. Ini waktunya makan malam." Ucap Jia lalu terkikik sambil memeluk dari belakang suaminya yang duduk di tepi ranjang, sambil berharap agar suaminya itu tidak tersinggung sebab dia tidak bisa lagi menahan tawanya.


TBC


__ADS_2