Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Unconfident


__ADS_3

Krishan berjalan mendekati Kana yang tengah merapikan diri di depan cermin. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang, lalu tangannya meraba keseluruh tubuh Kana.


"Kau suka sekali merabaku." Katanya sambil memberikan warna pada bibirnya.


"Hm.." Krishan menciumi bahu Kana. "Kau pakai baju warna apa?" Tanya Krishan yang ingin menggambarkan istrinya dalam bayangannya.


"Aku pakai blouse dan rok hitam."


"Sangat menawan." Pujinya lalu mencium tengkuk leher Kana.


"Krish, jangan main-main, nanti aku terlambat."


"Coba panggil aku dengan nama yang kau sebutkan di pertunangan Sherly."


Kana mengerutkan dahinya. "Apa memangnya?"


"Coba ingat-ingat.."


Kana mencoba mengingat lagi. "Krishy?"


"Hm, aku menyukainya." Ucapnya lalu mencium lagi bahu Kana, menghirup aroma yang tidak pernah lepas dari hidungnya.


"Baiklah, Krishy. Sekarang menyingkir dulu, aku mau mengikat rambutku." Kana mendorong tubuh Krishan lalu mulai menata rambutnya.


Seakan tak mau menjauh, Krishan mendekat lagi lalu memutar tubuh Kana menghadapnya.


"Jangan terlalu cantik, aku takut kau direbut orang." Rengeknya dengan manja.


"Aku tidak cantik. Siapa yang mau denganku?"


Krishan memeluk tubuh Kana lagi, seolah tidak mempercayai ucapan istrinya.


"Aih, Krish. Astaga." Kana berlari dan berdiri sedikit agak menjauh dari Krishan, dia mulai menata rambutnya lagi.


"Hei, kau dimana?" Krishan mulai berjalan meraba tempat, mencari Kana yang berdiri di atas sofa.


"Sudah sana, minum kopi. Semenjak sekamar denganku, kau menghilangkan aktifitas pagimu itu."


Krishan langsung menoleh pada sumber suara.


"Cepat, sebentar lagi aku keluar." Tukas Kana lagi.


Krishan dengan malas berjalan menuju pintu.


"Oh ya, Krish. Pulang kerja aku akan bertemu Alana. Jadi kalau aku terlambat, kau makan duluan, ya?"


"Hm.." jawabnya tanpa menoleh lagi pada Kana dan menutup pintu kamar.


Kana tahu, Krishan sebenarnya berat mengizinkannya karena Kana lebih memilih diluar daripada bersamanya. Tetapi Kana malas membahasnya sebab dia tidak ingin diatur-atur oleh suaminya. Itu sebabnya dia memberi perjanjian sebelum menikah.


...◇◆◇◆...


Kana duduk di kursi melingkar. Kali ini, dia tidak ingin mabuk. Dia perlu melayani Krishan nanti sepulang dirinya dari tempat ini, supaya mood suaminya membaik.


"Kana.." Alana datang lalu mengecup pipi sahabatnya.


"Lama sekali." Gerutu Kana yang sudah menunggu.


"Astaga! Cuma 10 menit, Kan?"


"Menunggu itu bosan. Dua menit juga terasa lama!" Omelnya pada Kana yang mengerutkan dahi.


"Kau kenapa?" Alana merasa Kana agak berbeda.


"Tidak ada, aku mau memberimu kabar baik."


Alana menunggu berita dari Kana.


"Akuu... sudah..." mata Alana mulai melotot mendengar kata perkata. "Satu kamar dengan Krishaann!!"


Mata Alana kini membulat sempurna. "No Waayy!!" Pekiknya kesenangan.

__ADS_1


"Yes Waayy!!" Balas Kana tak kalah heboh. Mereka berpelukan, tak menghiraukan orang-orang disekitar mereka.


"Waahh.. bagaimana rasanyaa.." Alana menyentuh kedua pipi Kana yang tampak memerah mengingat lagi malamnya bersama Krishan di hotel mewah waktu itu.


"Kau harus tahu, dia sangat.." Kana mengangkat kedua jempolnya.


"Aku bisa melihat itu dari dirinya yang gagah. Aaahh irinya.. Beruntung sekali. Sudah tampan, jago pula." Alana cemberut.


"Ya, Tuhan juga adil. Dia memberiku kesulitan selama ini. Lalu bertemu Krishan dan menjadi tuan putrinya." Kana meneguk minumannya dengan senyum lebar di bibirnya.


"Benar. Kau sudah banyak mengalami kesulitan. Jadi, kau pantas mendapatkannya sekarang." Alana menepuk-nepuk pundak Kana.


"Rokok!" Pintanya pada Kana.


"Tidak ada."


"Hah? Tumben." Kata Alana.


"Entah, aku juga baru cek tasku. Mungkin diambil Krishan pagi tadi."


"Wah, sudah ada tanda-tanda akan dibatasi, nih." Alana mulai terkekeh dan Kana hanya mencebikkan bibir.


"Minummu juga berubah. Apa dilarang juga?" Alana terkekeh lagi.


"Tidak, ini aku yang memang tidak ingin."


"Kana?"


Seorang laki-laki menghampiri Kana.


"Bas? Kau disini?" Kana mempersilakan Bastian duduk. "Kenalkan, ini sahabatku."


"Hai. Alana."


"Bastian." Dia menyambut tangan Alana.


"Kenapa kau mendadak berhenti bekerja?" Tanya Bastian sembari duduk di hadapan Kana.


"Oh, aku pindah kerja, Bas."


"Kau tahu darimana?"


"Ah.." Bastian nampak gelagapan. "Lupakanlah. Biar aku yang traktir." Bastian memanggil pelayan dan memesan beberapa botol bir.


"Aku tidak mi.."


"Wah, terima kasih ya, Bastian." Potong Alana sambil menyepak kecil kaki Kana di bawah meja.


Demi menghabiskan waktu bersama, mereka bermain permainan dimana yang kalah harus menghabiskan satu gelas bir.


Sialnya, Kana selalu kalah dan kini dia benar-benar mabuk karena telah menghabiskan beberapa gelas bir.


"Bas, bisakah aku minta tolong? Antarkan Kana, please. Aku pusing." Pinta Alana yang masih menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Baiklah. Aku akan mengantarnya." Bastian memapah tubuh Kana lalu membawanya ke mobilnya.


Dia langsung mengantar Kana hingga depan pintu rumah. Marry membukakan pintu. Tanpa diminta, Bastian masuk dan meletakkan Kana di atas sofa ruang tengah.


Krishan berdiri di depan pintu kamarnya. Hidungnya menangkap bau alkohol dan parfum Kana yang beradu, juga parfum lain yang berada disana.


"Terima kasih, tuan, sudah mengantar Nona Jia." Ujar Marry pada Bastian yang membalas dengan senyuman.


Bastian melihat ke arah Krishan yang tak bergeming, dia ingat lelaki itu mengatakan bahwa dia adalah kakak Kana. Dia menundukkan kepala pada Marry. "Saya permisi." Ucapnya lalu pergi dari rumah itu.


Krishan mengingat suara itu. Suara pemilik kafe tempat Kana bekerja dulu, Bastian.


Marry membantu memapah Kana ke kamar Krishan. Dia juga membukakan sepatu dan baju Kana, menggantikannya dengan baju tidur yang nyaman.


Setelah itu, Marry keluar dan menutup pintu. Meninggalkan Krishan yang sejak tadi mematung di tepi tempat tidur. Entah apa yang ia pikirkan, namun wajahnya tampak dingin.


~

__ADS_1


Kana mengerjap beberapa kali, dia membuka mata dan melihat ruangan dan harum Krishan di tempat tidur. Menyadari itu, dia melanjutkan tidurnya karena dia tahu kini tempatnya tidur adalah tempat teramannya.


Beberapa detik, dia membuka mata lagi dan langsung bangkit. Pikirannya mulai tak tenang saat melihat terik matahari dari jendela.


"Hah, jam berapa ini??" Kana bangkit dan mencari ponselnya namun tidak ketemu. Dia keluar kamar dan mendapati Marry tengah membereskan dapur. Kana melihat jam di dinding ruang tengah.


"Astagaa." Dia menepuk dahinya, sudah pukul 11 siang dan dia tidak dibangunkan sama sekali.


"Bi, kenapa aku tidak dibangunkan??" Tanya Kana dengan wajah yang kesal.


"Maaf, Nona. Tuan melarang."


"Apa? Dimana dia sekarang?"


"Tuan di toko."


Kana memperhatikan dirinya yang sudah berganti pakaian.


"Siapa yang mengganti bajuku?" Kana bertanya sebab tidak mungkin Krishan bisa melakukan itu.


"Saya, Nona. Tadi malam Nona pulang bersama teman Nona yang laki-laki."


Mata Kana membulat. "Bastian??" Kana memegang kepalanya yang sedikit pusing, dia masuk ke dalam kamar dengan perasaan kacau.


"Bastian yang mengantar? Akh.. Krishan pasti marah." Kana langsung menuju kamar mandi, bersiap untuk menyusul Krishan ke tokonya.


Setelah mendapatkan ponselnya, Kana menghubungi kantornya untuk melapor bahwa dirinya tengah sakit. Dia terpaksa berbohong karena hanya itu pernyataan yang paling gampang diterima, apalagi ia masih anak baru disana.


Kana melihat toko Krishan yang agak ramai dengan wanita paruh baya. Mereka tertawa dan bercanda disana.


Kana masuk ke dalam toko, suara lonceng di pintu tidak mengalihkan perhatian mereka. Begitu juga Krishan, dia seolah tidak tahu dengan kedatangan Kana. Dia terus tersenyum ke arah wanita-wanita tua itu, ikut bercanda pada mereka yang Kana yakin Krishan sendiri tidak begitu menikmati candaan mereka.


"Kalau begitu, kami permisi dulu." Seru mereka sembari terus tersenyum pada Krishan, keluar toko sambil membawa beberapa potong bunga.


Setelah mereka semua pergi, Krishan masih terus dengan aktifitasnya, seperti tidak menghiraukan kehadiran istrinya.


"Krish.." Kana bergerak ke arahnya, dia mengalah sebab dialah yang salah.


Krishan tak menyahut, dia terus menyusun pot bunga di atas meja panjang.


Kana memeluk tubuh Krishan dari belakang. Dia harus membujuk Krishan supaya mau memaafkannya.


Ah, tubuh Krishan yang bagus ini sangat enak untuk dipeluk baik dari depan maupun belakang. Kana melingkarkan tangannya, menghimpitkan pipinya di punggung Krishan dengan lembut tetapi pria itu tak juga merespon.


"Krish, maafkan aku. Aku salah, aku minta maaf padamu, ya."


Krishan tak juga merespon, membuat Kana geram. Dia membalikkan tubuh Krishan dengan paksa lalu memeluknya dari depan.


"Krish, kau harus maafkan aku. Aku tahu, aku salah. Tapi aku tidak bermaksud membohongimu." Ucapnya sambil terus memeluk Krishan. Dia mendongak untuk melihat respon suaminya.


"Aku memang bersama Alana, lalu Bastian datang dan mentraktir kami. Begitu saja. Dan aku kalah di permainan itu, yang mengharuskan aku minum segelas bir berkali-kali. Aku juga tidak tahu kalau Bastian yang mengantarku. Maafkan aku, Krish."


Krishan menghela napas panjang. Dia memang masih sangat kesal berlapis pada Kana. Pertama, Kana lebih memilih pergi keluar daripada makan malam bersamanya. Kedua, Kana mengatakan pergi dengan Alana lalu ternyata tidak hanya Alana. Ketiga, Kana diantar pulang oleh laki-laki lain. Ditambah lagi, Kana tidak sadar total dan bau alkohol sangat mengganggu hidung Krishan semalaman.


"Krish, percayalah padaku. Aku tidak berbohong." Kana lalu berjinjit, mengecup sekilas bibir Krishan.


"Krriisshh.. ayolaah." Rengek Kana saat tak mendapat respon apapun dari suaminya.


"Iya, aku percaya padamu." Jawabnya pendek lalu membalas pelukan Kana.


Krishan tidak begitu merespon karena otaknya yang kini berpikir tentang kedekatan Bastian dan Kana.


Bukan tak mungkin mereka berdua bersama, sebab Bastian menyukai istrinya, begitu juga Kana yang pernah membatalkan janji demi pergi bersama lelaki itu.


Setelah kejadian malam tadi, pikiran Krishan semakin kacau. Bagaimana jika Kana meninggalkannya demi laki-laki lain? Dia terus memikirkan hal itu, takut jika Kana benar-benar pergi darinya. Apalagi dengan dirinya yang tak bisa melihat, membuatnya semakin tidak percaya diri berada disamping Kana.


"Krish.."


Kana membuyarkan lamunan Krishan.


"Kenapa? Apa perlu aku menelepon Alana, supaya kau betul-betul percaya?"

__ADS_1


Krishan membelai lembut rambut istrinya. "Tidak perlu. Aku percaya padamu." Tukasnya lalu mencium kening istrinya.


TBC


__ADS_2