
"Nona, kenapa tuan Krishan tidak ikut?" Tanya Marry yang duduk di hadapan Kana, menemani perempuan itu makan.
"Kami sedang ada masalah." Jawab Kana sambil cemberut.
"Begitu, ya. Semoga cepat terselesaikan ya, Nona. Tuan Krishan itu sangat sayang pada Nona Jia. Saya juga bisa merasakan itu." Tutur Marry tiba-tiba dan berhasil membuat Kana mengangkat kepalanya.
"Bibi tahu?"
"Tentu, sangat terlihat. Semenjak kehadiran Nona di rumah ini, tuan Krishan selalu ingin cepat pulang dan lebih banyak tersenyum. Dia bahkan tidak seperti tuan Krishan yang biasa."
Kana diam sesaat mendengar penjelasan Marry. Benarkah demikian? Menang dirinya pun bisa merasakan itu. Tapi, kebohongan Krishan sangat menyakitinya. Krishan seperti tidak menganggapnya penting hingga terus menyembunyikan dirinya yang sebenarnya.
"Memangnya.. Krishan yang dulu seperti apa, Bi?" Tanya Kana sambil memainkan garpu di atas steak. Sesekali dia memotong daging dan mengunyahnya lagi.
"Tuan Krishan orang yang perfeksionis. Semua harus serba sempurna. Dia akan marah jika ada yang tidak sesuai dengan seleranya. Dia juga jarang pulang kesini, bahkan saya hanya datang pagi dan sore untuk bersih-bersih dan menyiapkan makan. Lalu setelah menikah, dia meminta saya tinggal supaya melayani Nona Jia juga."
"Begitu, ya." Kana ingin bertanya perihal Yohan. Tetapi jika Marry ternyata tidak tahu, dia pasti terkejut atau bahkan meninggalkan Krishan.
"Saya yakin tuan Krishan sangat mencintai Nona. Hanya saja, tuan Krishan adalah orang yang tidak banyak kata. Jadi mungkin saja dia bingung menjelaskan banyak hal pada Nona."
"Tapi dia membohongiku, Bi. Dia tidak jujur padaku tentang masa lalunya." Tukas Kana.
"Saya paham, Nona. Tapi, lihatlah sisi tuan Krishan, dia pasti punya alasan kuat kenapa harus menyembunyikan hal itu, kan? Saya yakin dia sangat mencintai Nona." Ucap Marry sembari berdiri setelah mendengar bunyi uap air yang mendidih di dapur.
Kana memang belum mendengar alasan dari Krishan sebab dia terlalu marah kemarin. Krishan bahkan memintanya untuk berpikir dan menenangkan diri.
Kana mengangguk-angguk, membenarkan semua perkataan Marry bahwa Krishan memang menyayanginya dan dia bisa merasakan itu. Kana akhirnya berusaha untuk melapangkan dadanya untuk menerima Krishan jika lelaki itu mau meninggalkan Foldcury.
Kana merasa bersyukur memilih datang ke rumah itu, sebab pikirannya mulai terbuka saat mendengar ucapan Marry. Jika Marry berkata begitu, sepertinya memang benar. Dia juga mencintai Krishan. Jadi, tidak ada salahnya mencoba memberi kesempatan pada Krishan. Lagi pula, Krishan juga tidak akan setuju jika dia meminta untuk pisah. Bisa saja lelaki itu malah menyekapnya di rumah. Hal itu bisa saja terjadi mengingat dirinya sekarang adalah Yohan, pria yang namanya sering ia dengar lantaran mengerikan.
Ponsel Kana berdering, dia melihat nomor baru yang masuk.
"Halo?"
"Hai, Kana. Aku punya berita bagus untukmu."
Kana menghela napas. Dia mengenal suara itu dan kini terdengar sangat riang.
"Beritamu tidak pernah bagus. Sudah, ya."
__ADS_1
"Ini penting, bahkan sangat penting. Kau harus mendengarkanku sampai selesai." Tukas Sherly dari seberang.
Kana menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bodoh jika dia melayani Sherly. Sebab wanita itu selalu mengatakan hal yang sebenarnya tak penting. Dan setiap mereka mengobrol, selalu berakhir dengan pertengkaran dengan Krishan.
"Aku pernah bilang kan, kalau aku pasti bisa membuat Krishan kembali padaku? Aku tidak sangka secepat ini, tapi akhirnya Krishan menerimaakuuuu.." teriaknya dari seberang.
"Ya, ya, selamat, ya." Jawab Kana cuek, dia tahu perempuan itu tengah berbual.
"Dia akhirnya menerima donor dariku. Kau takkan percaya, hahaa. Poor, Kana. Sebentar lagi kau akan dicampakkan. Hahaha. Sudah ya, aku tengah di salon karena Krishan sedang operasi mata dan sebentar lagi akan bisa melihaat. Dadah."
Kana tak bergeming, bahkan teleponnya masih ia tempelkan di telinga. Benarkah? Krishan tidak pulang semalaman dan memintanya untuk berpikir, ternyata tengah menemui Sherly dan menerima tawarannya?
Kana menelpon Krishan, dia perlu penjelasan langsung dari lelaki itu.
Tak lama menunggu, Krishan mengangkat teleponnya.
"Jia, aku senang kau menelepon. Ada hal yang ingin aku katakan padamu." Tukas Krishan langsung.
"Apa kau akan operasi mata?" Tanya Kana dingin.
"Iya, sayang. Sebentar lagi aku akan bisa melihatmu."
Krishan diam sejenak dan hal itu membuat Kana meneteskan air mata. Ternyata benar, Krishan sudah menentukan pilihan.
"Jawab, Krish. Ya atau tidak."
"Jia, aku akan jelaskan dengan detail padamu."
"Jawab saja, Krish. Iya, atau tidak??" Bentak Kana yang sudah tak sabar. Air mata sudah mengalir dari sudut matanya.
"Operasi akan kita mulai, tuan." Terdengar suara seseorang dari sana.
"Tunggulah sebentar." Jawab Krishan dengan nada yang terdengar pelan.
"Jia, Sean akan ke hotel untuk menjelaskannya padamu. Kumohon percaya padaku. Aku akan membereskan hal ini."
"Jawab aku, sialan!" Kana menggertakkan giginya. Padahal dia sudah mulai meluluh pada suaminya. Tetapi apa yang Krishan lakukan sekarang membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
"Iya, Jia. Tapi tidak begitu, aku dan Sherly tidak akan bersama."
__ADS_1
"Kau selalu memintaku percaya padamu, tetapi selalu berakhir dengan menyedihkan karena kebohonganmu. Apa aku terlalu bodoh di matamu, tuan Yohan?"
"Jia, bisakah kau dengarkan aku sebentar saja?? Sean akan kesana segera dan kumohon dengarlah dia."
Kana langsung menutup ponselnya.
Muak, itu yang ia sekarang rasakan. Krishan terlalu banyak memintanya mendengar dan mengerti. Sementara pria itu sama sekali tidak memikirkan perasaannya.
Yang kemarin saja masih membuatnya syok, lalu sekarang dia membuat perkara baru lagi. Seolah Krishan merasa Kana hanyalah permasalahan kecil yang bisa diatasi dan nantinya juga akan mengerti.
Tak bisa dipungkiri, Kana langsung memilih tempat untuk menangis. Dia ke kamar Krishan dan menghabiskan satu jam di dalam untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu.
Jika Krishan mengatakan dia tidak bersama Sherly, itu malah bertentangan dengan ucapan Sherly sendiri yang terdengar sangat bahagia atas keputusan Krishan.
TRING!
Pesan masuk dari Sherly. Dia mengirim foto pintu ruang operasi Krishan. Disana terlihat wajah-wajah yang Kana kenali sebagai David dan Daniel.
'Aku akan menjadi orang pertama yang ia lihat. Betapa senangnya^^'
'Kau yakin, tidak menjadi satpam disana?" Balas Kana dengan geram.
TRING!
Kana membuka video yang dikirim Sherly. Video Krishan yang tengah duduk sambil berbicara.
'Aku Krishan, akan menerima hadiah kornea mata dari Sherly Walts. Sebagai balasan dariku, aku menyetujui kontrak yang dibuat oleh Sherly dan tidak akan melanggar isi kontraknya.'
Kana menjatuhkan ponselnya. Ia tidak bisa menahan air matanya.
"Sialan kau, Krish.." Maki Kana sambil terus menangis. Dia memukul-mukul dadanya yang sakit karena isakan yang tidak bisa ia tahan.
Krishan benar-benar luar biasa. Walau begitu, Kana menyalahkan dirinya sendiri yang mudah sekali ditipu. Padahal sudah banyak sekali hal yang Krishan tutupi darinya. Namun Kana selalu menimbang ini dan itu supaya tetap bersama. Tapi kali ini rasanya sudah letih. Hal-hal besar yang baru ia sadari membuatnya sangat frustrasi ditambah sekarang Krishan sudah menentukan pilihannya.
Kana menyibakkan rambutnya kebelakang. Baginya, Krishan menemui Sherly saja sudah kesalahan. Dia melupakan janji bahwa dirinya tidak boleh berhubungan soal apapun dengan wanita itu. Tetapi Krishan melanggarnya.
"Baiklah, aku yang berhenti, Krish." Gumam Kana sambil mengelap air matanya.
TBC
__ADS_1