
"Jangan, Bas."
Bastian menoleh. Dia sama sekali tak berekspresi bahkan saat menyadari orang itu adalah Kana.
Lama mereka terdiam disana. Sampai akhirnya Bastian menyingkirkan tangan Kana dari lengannya.
"Jangan menghalangiku." Bastian menaikkan lagi kakinya ke besi kedua pagar pembatas. Membuat Kana semakin terisak.
"Bastian! Jangan! Bas, turun!" Kana mengguncang lengan Bastian sampai lelaki itu kembali menapaki aspal jalan dan mulai berang pada Kana.
"Kenapa kau kemari, hah? Kau yang membuatku seperti ini dan sekarang kau yang menghalangiku untuk mengakhirinya!" Pekik Bastian.
"Bukan itu maksudku, Bas!"
"LALU APAA! SETELAH MEMBUATKU BUTA DAN MEMBUNUH KAKAKKU, KAU MAU AKU BAGAIMANA?? MENDERITA? BUKANKAH INI YANG KAU MAU??" Teriak Bastian, membuat Kana mematung. Dia menatap Bastian yang wajahnya benar-benar menyedihkan di mata Kana. Entah mengapa, melihat Bastian seperti ini membuatnya sakit hati sendiri. Apakah dia terlalu kejam?
"Lalu aku harus bagaimana, Bas.." Tanya Kana dengan nada serak. Dia tak bisa menahan air matanya.
"Lalu aku harus bagaimana.. saat Kau berusaha menghancurkan hidupku dan Krishan, kau akan menghancurkannya, apakah aku harus diam saja? Aku istrinya, Bas. Dia suamiku. Aku harus membelanya. Jika kau jadi aku, kaupun pasti akan melakukan hal yang sama, kan??" Tanya Kana dengan mata yang sudah berair.
"Itu kesalahanmu! Kesalahanmu karena bersuamikan Dia!!" Pekik Bastian.
"Lihat! Kau lihat bagaimana aku sekarang?? Hidupku hancurr! Masa depanku hilang, aku sebatang kara!" Sambung Bastian lagi.
"Itu karena kesalahanmu! Kau sendiri yang membuat hidupmu seperti ini! Kalau saja kau datang padaku, meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan itu lagi, aku akan memaafkanmu, Bas. Aku akan membantumu mencarikan donor mata.." Ucap Kana sambil menyentuh rahang Bastian. Namun dengan cepat laki-laki itu menepisnya.
"Coba saja kau mau berubah, Bas. Aku akan memaafkanmu. Aku akan membantumu.. tapi kau tak melakukan itu bahkan sampai hari ini." lirih Kana. Dia menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
Bastian diam sebentar, sampai akhirnya ia kembali mengarahkan tubunnya ke depan sungai. "Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu."
Kana masih menangis diam disana. Tak menghiraukan ucapan Bastian.
Cepat sekali, Bastian langsung naik dan melepaskan genggamannya pada pagar besi, dia menjatuhkan dirinya.
"Bastiaan!!" Dengan cepat Kana menangkap tangan Bastian. Dia menggantung disana. Sekuat tenaga Kana menahan tangan Bastian sambil terus menangis. Hati Kana teriris. Dia takkan membiarkan Bastian mati begitu saja.
__ADS_1
"LEPASS!!" Terika Bastian dari bawah sana. Dia menggoyangkan tubuhnya supaya kedua tangan Kana yang menggenggam erat itu terlepas.
"Eng-gakk.." Kana menahan sekuat tenaga, walau dadanya terasa sakit akibat tekanan pada besi pembatas itu. Dia menahankannya.
"Enggak! Kumohon bas... kumohon jangan lakukan ini. Naiklah bas... naiklah." Derai air mata Kana menetes di wajah Bastian. Lelaki itu merasakan kesedihan Kana jika ia jatuh ke dalam sungai yang dalam dibawahnya. Tapi Bastian sudah tak memperdulikan itu.
"Bas, kumohon. Naiklah. Aku akan membantumu. Aku akan membantumu, Bas."
"Lepas! Lepass. Aku sudah tidak punya harapan. Kau yang menghancurkan itu!"
Kana menangis. Tangannya dengan kuat menahan tangan Bastian yang secara perlahan mulai menurun.
"Kau sahabatku, Bastian." Lirih Kana. Dia menatap Bastian yang sudah tak berniat untuk hidup. Entah mengapa Kana merasa sangat bersalah sekarang.
Bastian diam disana. Kana melihat air mata di sudut matanya ikut keluar.
"Aku bukan sahabatmu, Kana." Bastian melepaskan melepaskan tangan Kana dengan tangannya yang lain sampai terlepas.
"BASTIIAAAAANNNNN..." Kana menjerit kuat saat kedua tangannya tak lagi mampu menahan tubuh Bastian. Kana semakin tersiksa saat mendengar suara air dibawah sana.
Dengan cepat Krishan datang dan memeluk istrinya. Dia mendekap erat Kana sembari menatap air dibawah sana.
Krishan menenangkan istrinya yang belum juga berhenti menangis. Kana, dia mendengar ucapan terakhir Bastian. Lelaki itu mengucapkan kata Maaf sebelum ia melepas paksa tangan Kana dan terjatuh. Kana mendengarnya walau kata itu teramat pelan diucapkan oleh Bastian.
Tapi, tak ada kesempatan lain. Bastian sendiri yang tak menginginkan hidup. Dia memilih jalannya sendiri.
Berita heboh beredar keesokan harinya. Seorang mayat laki-laki ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Setelah mengenali siapa orang itu, beredarlah pemberitahuan bawah yang mati disana adalah Alexandry Ghiz Sebastian.
Alana menangis histeris di peti Bastian. Dia ditenangkan oleh Adam. Sementara Kana, ia sudah tak sanggup menangis. Matanya sembab dan wajahnya mulai bengkak. Satu malaman ia habiskan untuk menangisi Bastian. Dia memikirkan ucapan Maaf Bastian.
"Aku memaafkanmu, Bas." Lirih Kana pelan. Tanpa sadar air matanya mengalir lagi. Mata Kana terasa perih dan panas.
Krishan menggenggam erat tangan istrinya. Dia mengelus lembut tangan itu, menangkannya walau Krishan sudah tahu ia tak bisa membuat istrinya berhenti menangis.
"Kenapa kau seperti ini, Bas. Kau punya masalah apa, hah? Kenapa kau tak cerita pada kami.." rintih Alana disana. Dia terus saja menangis apalagi saat tahu ternyata Bastian tak punya keluarga seorangpun. Hanya teman-teman dekatnya yang datang ke gedung duka. Tempat Bastian akan disemayamkan disana.
__ADS_1
Seorang laki-laki berdasi mendekat. Dia berdiri di dekat peti Bastian. Lelaki itu melepas kacamatanya dan menunduk sebagai penghormatannya pada Bastian untuk yang terakhir kali.
"Apa kalian teman-temannya?" Tanya orang itu.
"Iya. Kami sahabatnya." Jawab Alana.
"Begini, sebenarnya, aku tidak tahu harus menyerahkan surat ini pada siapa." Lelaki itu mengeluarkan amplop cokelat dan menyerahkannya pada Alana.
"A-apa ini?"
"Itu salinan surat penyerahan peninggalan seluruh harta milik tuan Bastian pada beberapa panti, juga surat pernyataan donor oleh tuan Bastian." Jelasnya.
"Donor?" Tanya Kana ulang.
"Ya, sebelum meninggal, tuan Bastian menandatangani surat bahwa ia mendonorkan organ-organ tubuhnya."
Mata Kana melebar. Benarkah? Bastian melakukan itu?
"Tapi, tidak semua bisa diambil karena tuan Bastian meninggal dalam keadaan tenggelam." Lanjutnya lagi.
Krishan memeluk tubuh Kana yang nampak semakin lemas.
"Apa mau pulang saja?" Bisik Krishan dan Kana menggeleng kepala. Dia akan mengikuti upacara kematian Bastian sampai akhir. Sebagai penghormatan terkahir Kana, apalagi Bastian sudah meminta maaf padanya. Kana yang semula merasa bersalah, kini sudah bisa menerimanya. Bukan karena dirinya, tapi memang Bastianlah yang ingin mengakhirinya. Dia tak ingin lagi hidup bahkan setelah Kana menjanjikan banyak hal padanya.
Kana, kini berdiri di gundukan tanah beratas namakan Bastian. Orang-orang sudah pergi, begitu juga Alana yang dipapah Adam karena terlalu sedih dengan kematian mendadak Bastian.
Kana berjongkok, meletakkan sebucket bunga di atasnya. Kana mengusap pelan nisan milik Bastian.
"Bastian, sampai kapanpun, aku takkan melupakanmu. Bagaimana saat pertama kali kita bertemu, yang tak ku sadari ternyata kaulah pemilik Kafe tempat ku bekerja dulu. Itu sebabnya, kan, kau dengan mudah mengabulkan permintaanku untuk naik gaji 3x lipat." Kana tertawa pelan saat mengingat itu.
"Bas, kau lelaki hangat yang amat baik. Hanya saja, kau juga memanfaatkan ketulusanku dalam berteman. Tapi, kalau waktu diputar pun.." Kana mengadah ke atas, menahan air mata yang terus tumpah. "Jika waktu diputar, aku akan tetap berteman denganmu." Lirihnya lagi. Kana menunduk dalam beberapa detik, sebelum akhirnya dia memilih pergi dari sana. Menemui Krishan yang sudah menunggunya di ujung pemakaman.
Krishan merangkul istrinya, mengusap-usap bahu Kana perlahan sambil berjalan meninggalkan pekarangan basah yang telah diguyur hujan, seolah dunia ikut bersedih atas berpulangnya seorang Bastian.
Tbc
__ADS_1
Ada yang udah baca Syahdu?? Yuk dibaca. Dijamin bikin baper🥰🥰