Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
A Way


__ADS_3

Kana duduk di lobi markas Foldcury menunggu kedatangan Richi Darrel dan Clair untuk latihan seperti biasa. Dia membuka ponsel dan melihat ruang obrolannya bersama Alana.


Dia sudah mengirimi pesan permintaan maaf, tetapi Alana belum juga membaca pesan itu. Berkali-kali Kana telepon juga tidak mau angkat. Alana pasti marah besar padanya. Dia berencana menemui Alana hari ini setelah latiha.


Kemudian, pikiran Kana melayang lagi mengingat kejadian tengah malam tadi.


Setelah melakukan aktifitas panas bersama Krishan, Kana tertidur sampai ia terbangun dan menyadari Krishan tidak ada disebelahnya. Lelaki itu duduk di depan sofa menghadap jendela. Entah apa yang dia pikirkan, tapi Kana bisa merasakan bahwa Krishan masih saja bersedih dengan apa yang menimpanya. Kenapa Krishan selalu membohonginya belakangan ini?


Lamunan Kana buyar saat Richi Darrel dan Clair mendekatinya. Ia langsung berdiri.


"Apa bisa kita mulai?" Kata Kana dengan semangat.


"Tentu." Jawab Clair sembari mereka berjalan menuju ruang tembak.


"Maaf aku meminta pada kalian latihan untuk satu harian ini."


"Tidak apa, kami mengerti. Kami akan senang jika nona cepat mahir." Jawab Clair lagi.


"Tapi nona, mohon maaf. Jika ingin latihan, ada baiknya beban yang ada di pundak, kita singkirkan dulu sebentar supaya bisa fokus dan matang."


Kana yang awalnya bingung, kini mengerti. "Ah, maaf. Apa terlalu kelihatan?"


Clair hanya tersenyum lalu memberikan senjata pada Kana. "Sangat kelihatan, nona. Saya harap nona baik-baik saja."


"Terima kasih." Kana sebenarnya ingin sekali bertanya pada mereka, apalagi mereka adalah anggota kelompok yang bekerja sama dengan militer, pastilah sudah mengerti tentang permainan seperti ini. Mereka pasti bisa membantu. Tetapi Kana tidak boleh gegabah. Hal penting ini, tidak boleh tercium oleh siapapun.


"Nona, bisa bicara sebentar?" Sean sudah berdiri diambang pintu.


"Aku akan segera kembali." Ucap Kana pada kedua teman barunya dan langsung keluar mengikuti Sean.


"Ada apa, Sean?"


"Nona, saya menemukan ini di kantong baju tuan Yohan yang dipakai saat kecelakaan."


Kana mengambil potongan-potongan kertas dari tangan Sean. Beberapa potongan kertas itu bebercak darah dan sepertinya sebuah susunan kata.


Kana memperhatikan tiap potongan kertas. Yang paling jelas adalah tulisan 'tyf' disalah satu potongan kertas itu.

__ADS_1


"Saya sudah memeriksa kertas itu dan hanya ada sidik jari tuan Yohan. Tapi tulisan itu saya pastikan bukan tulisan tangan tuan Yohan." Sambung Sean lagi.


"Apa tulisannya ini?"


"Kami juga belum mengetahuinya, Nona. Sepertinya ini bahasa luar."


Kana benar-benar tak mengerti mengapa lawannya sangat lihai dan berhati-hati, hingga ia tidak bisa menemukan celah sedikitpun.


"Apa kalian tidak menemukan petunjuk lain?" Tanya Kana lagi.


"Motor yang mereka pakai dibuang ke dalam sungai, nona. Tidak ada data pemilik dari kendaraan itu. Jadi, kita benar-benar tidak menemukan petunjuk apapun."


Mendengar itu, Kana mendesah berat. Dia yang tidak pernah berhadapan dengan hal seperti ini sebelumnya, membuatnya tidak pandai berpikir untuk menyelesaikan masalah, maupun menemukan jawaban.


"Baiklah kalau begitu. Tolong kirim video rekaman dashboard mobil padaku. Lalu pergilah keseluruh penerjemah bahasa. Catat apa saja makna tulisan itu di berbagai bahasa."


Sean mengangguk dan berlalu dari tempatnya dan Kana pun masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, kalian menunggu."


"Tidak apa, nona. Silakan." Richi meletakkan pistol di atas meja. Dia sudah mengisi peluru untuk Kana gunakan.


"Apa ada masalah, nona?" Tanya Clair yang melihat diamnya Kana.


"Barusan aku mendapatkan informasi baru soal...." Kana membuang napasnya dengan kasar. Rasanya dia memang harus berbagi cerita karena dia tidak tahu harus berbuat apa. "Sebenarnya Yohan kecelakaan dan aku ingin mencari tahu siapa orang dibalik semua ini."


Setelah mengatakan itu, Kana melihat kedua wajah gadis itu tidak berubah. Apa mereka sudah tahu?


"Orang-orang besar memang selalu melakukan hal semacam itu." Sahut Clair dan mendapat anggukan dari Richi.


Begitukah? Kana mengerti mengapa kedua perempuan itu bersikap biasa. Mereka pasti sudah sering melihat kejadian seperti ini.


"Ya, aku yakin pelakunya adalah pesaing bisnisnya. Tapi aku sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun, karena mereka melakukannya dengan sangat bersih."


"Tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan jejak."


Kana menatap Richi. Dia tahu Richi adalah perempuan yang cerdas dan yang dikatakannya itu, apakah benar? Ucapan gadis itu juga mendapat anggukan dari temannya.

__ADS_1


Richi tersenyum melihat wajah bingung Kana.


"Dari pada menunggu, coba saja pancing dia keluar." Sambung Richi lagi.


"Dipancing?"


Richi mengangguk. "Ya, kadang-kadang kita memang perlu mengorbankan diri sendiri demi menemukan jawaban dari teka-teki dalam hidup."


"Hei, cara seperti itu cuma dilakukan oleh orang gila sepertimu!" Tukas Clair tiba-tiba yang tahu kalau temannya itu selalu memancing lawan dengan mengorbankan dirinya sendiri.


Richi menatap Kana dengan serius. "Kenapa? Bukannya nona Kana berlatih keras supaya bisa melawan mereka secara langsung?"


Kana menahan napasnya. Melawan mereka secara langsung? Tidak, dia tidak pernah berpikir seperti itu. Dia hanya ingin belajar untuk membela dirinya. Bukan untuk berperang seperti itu karena Kana tidak punya nyali soal itu.


Tapi, apa yang dikatakan Richi ada benarnya. Dia tidak bisa menunggu lawannya yang terus menyerang. Lalu, memancing lawan? Bagaimana caranya? Pikiran Kana mulai berputar mencari cara.


"Nona, jangan dengarkan dia. Dia memang lain dari pada yang lain!"


Richi hanya tertawa kecil, "Mari kita mulai, Nona." Ucapnya sembari menyerahkan senjata pada Kana.


...○●○●...


Kana duduk dengan tubuh yang penuh keringat. Setelah kepulangan dua orang pelatihnya itu, dia mulai berpikir lagi tentang apa yang diucapkan Richi.


"Bagaimana caranya?" Gumamnya sembari membuka lilitan kain yang ia gunakan saat latihan bela diri bersama Richi tadi.


TRING


Kana mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


'Aku akan maafkan kalau kau meminta maaf pada Adam karena kau tak punya bukti menuduhnya seperti itu.'


Kana membaca pesan Alana dengan perasaan jengkel. Yang benar saja, hanya karena Adam, Alana seperti ini padanya.


Lalu tiba-tiba terlukis senyum tipis di bibir Kana.


'Baiklah, aku akan meminta maaf pada Adam. Datanglah ke rumahku besok di jam makan siang. Ajak mereka juga😚.'

__ADS_1


Kana beranjak dari tempatnya menuju pintu keluar sembari meletakkan ponselnya di telinga. "Sean, antar aku pulang sekarang. Lalu, perintahkan yang lain untuk memasang kamera tersembunyi disetiap sudut rumah."


Kana teringat ucapan Richi. Dia memang tidak bisa diam saja karena akan memperlambat terungkapnya kasus ini. Dengan memperbaiki hubungan bersama Adam, maka akan lebih mudah menemukan siapa dalang dibalik kecelakaan yang dialami Krishan ini.


__ADS_2