
Arex duduk menggoyangkan kaki di depan Daniel. Dia memperhatikan laki-laki yang wajahnya sudah penuh luka. Tangan Daniel diikat dan dia berlutut di depan Arex.
"Beraninya kau mengusik keluargaku. Setelah berani membunuh ayahku, kau mau menghancurkan adikku?" Tangan Arex mengepal, matanya tajam menatap Daniel yang sejak tadi melawannya.
"Itu karena kau pengecut. Lari dari masalah yang kau ciptakan sendiri. Sekarang, lihatlah, keluargamu dan kau akan mati."
BRUK!!
Hantaman keras mengenai dada Daniel. Dia terjerembab kebelakang dan terbatuk saat darah keluar dari mulutnya.
"Bos. Mereka sudah menentukan tempat pertukarannya." Seorang anak buah Arex memberi laporan.
"Dimana?"
"Bekas tempat pembuangan sampah, bos. Bukit Ruston. Mereka sudah berada disana, juga membawa tuan Felix ikut serta. Mereka akan menyerahkan keduanya asal Daniel tak cedera sedikitpun."
"Felix?" Arex menatap Daniel yang masih terbatuk di atas lantai.
"Obati dia!" Titah Arex pada anak buahnya. Mereka segera mengangkat Daniel menuju ruang kesehatan.
Sementara di tempat lain, Bastian dan Felix sudah di atas bukit. Angin kencang dan terik matahari membuatnya menyipitkan mata.
"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya Felix pada Bastian yang tubuhnya terikat di atas kursi.
Bastian tak menyahut. Hanya napasnya yang terdengar. Pandangannya kosong ke depan. Angin menyibakkan rambutnya yang terus menyapu wajah amarahnya.
"Bagaimana caramu untuk lepas? Apa kau sudah memikirkannya?" Tanya Felix lagi.
"Bastian, kau mendengarku?"
Suara dari earpiece yang menyangkut ditelinga Bastian tak membuatnya bergerak.
"Kau sudah tahu aturan mainnya, kan? Jangan takut, aku akan baik padamu jika kau menurut."
Tangan Bastian mengepal. Rasanya ia sangat murka namun tak bisa berbuat apa-apa. Rasa dendam menumpuk dalam hatinya. Jika ia terbebas, dia takkan membiarkan Kana maupun suaminya hidup. Itu janjinya.
Kana terus menatap ke arah Bastian yang bergeming di atas sana.
"Bbzzt. Nona, Arex sudah datang."
Sean memberi laporan melalui Earpiece di telinga. Kana bisa melihat beberapa mobil masuk ke dalam pekarangan bukit itu.
"Nona, tuan Arex yang memakai kacamata dan kemeja hitam."
Kana mengangguk. Rasanya susunan yang telah ia buat sudah matang. Setiap sudut, sudah diduduki oleh penembak jitu jarak jauh. Jika Arex berani macam-macam, maka bersiaplah untuk mati.
__ADS_1
"Hei, David. Naiklah." Tukas Kana melalui Walkietalkie-nya.
Tak lama, David keluar dari mobilnya dan naik ke atas bukit kecil itu.
David yang bersama Sean, menemui Arex yang juga membawa Daniel.
Kana bisa mendengar percakpan mereka melalui rekaman yang dibawa Sean. Dia tak ikut ke atas karena permintaan Sean sendiri yang ingin menyelamatkannya.
"Serahkan Daniel. Maka kami akan menyerahkan dua orang ini padamu. Sesuai kesepakatan. Jangan ada pertarungan apapun." Tukas Sean.
Arex menatap adiknya yang tak bergerak. "Sanders, kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang mereka lakukan padamu?" Tanya Arex.
"Cepat bawa aku dari sini." Suara berat Bastian terdengar. Dadanya naik turun, Dia mengerang seperti ingin memberontak.
Melihat gelagat aneh dari Adiknya, membuat Arex curiga.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" Sentaknya pada David.
"CEPAT BAWA SAJA AKU DARI SINI, SIALAN!" Pekik Bastian pada kakaknya, yang terdengar sangat nyaring di telinga Kana.
Arex mengepalkan tangannya. Dia tahu sesuatu yang tak baik terjadi, tetapi dia memilih menurut saja pada Sanders.
"Dia adalah tanda bahwa kalian tidak akan mengganggu siapapun yang berkaitan dengan keluarga Yohan." Tukas Sean yang menunjuk Felix.
Arex lalu menatap tangan kanannya itu yang sudah lama tak bertemu.
"Aku pulangkan dia." Tukas Arex tiba-tiba, membuat mata Felix membulat.
"Apa kau bilang?" Tanya Felix dengan gemetar.
"Apa artinya kau masih menginginkan peperangan, tuan?" Tanya Sean dengan sopan.
"Jika sudah selesai, maka kami akan pergi." Kata Arex tanpa menjawab. Anak buahnya menyerahkan Daniel pada David, dan Arex melepas ikatan Bastian di kursinya.
"Sial sekali nasibmu, Felix." Gelak Kana dari dalam mobilnya.
Kana melihat pergerakan Sean dan yang lain menuruni bukit. Dia tersenyum miring, untunglah semua berjalan dengan lancar tanpa banyak drama.
Saat berdiri, Bastian terjatuh. Dia berusaha duduk di atas tanah.
"Ada apa denganmu?" Tanya Arex dan Bastian malah menangis dengan wajah yang memerah. Tangan Bastian mengepal di atas tanah.
"Cepat! BAWA SAJA AKU PERGI DARI SINI!!" Pekik Bastian yang langsung membuat Arex semakin memanas. Dia menyadari, bahwa ada kesalahan dari mata adiknya. Berulang kali Arex mendekatkan jarinya, memberikan pergerakan yang tak membuat mata Sanders merespon.
Arex menggenggam tanah dengan geram. Urat lehernya mulai keluar saat menyadari penglihatan adiknya itu telah menghilang.
__ADS_1
Arex berdiri dan melepaskan tembakan ke atas. Sebuah tanda yang ia lakukan untuk membuat sebuah pemberontakan.
"APA YANG KAU LAKUKAN, SIALAN! JANGAN LAKUKAN APAPUN!!" Teriak Bastian pada Kakaknya.
"Apa maksudmu? Hah? Kau buta karena mereka, kan? Jawab aku! Aku akan membunuh mereka semua!!"
Sementara Kana, dia terdiam saat mendengar suara senjata dikokang. Dia menoleh, seseorang sudah menodongkan senjata tepat di kepalanya. Dari spion mobil, Kana melihat para pengawalnya yang sudah tergeletak tanpa suara.
"Keluar sekarang." Titah orang itu.
Kana menurut. Dia keluar dari mobilnya. Berjalan perlahan sesuai arahan orang itu.
"ARRGHHHH..." Bastian berteriak dengan air yang keluar dari sudut matanya. "Tidak bisakah kau melakukannya sajaa!! Kita dalam bahaya!" Pekik Bastian.
"Apa maksudmu, hah??"
Percakapan kedua orang itu masih terdengar di telinga Kana. Matanya menatap Bastian dan Arex yang masih di atas sana.
Bastian menangis. Dia menepuk-nepuk dadanya. "KAU LIHAT INI!" Bastian menarik kancing kemejanya hingga terlepas keseluruhannya. Arex terbelalak melihat lilitan bom waktu di dada adiknya.
"A-apa yang.."
"Sudah aku bilang, kan! Jangan lakukan apapun! Sekarang, apa yang kau lakukan, hah?"
Arex menatap Kana yang dibawah. Wanita itu juga tengah melihat ke arahnya. Seluruh anggota mengarahkan senjata ke masing-masing target. Tak terkecuali Sean yang membidik orang dibelakang Kana.
"Kau melakukan satu kesalahan, Bas."
Suara dari audio di dekat Bastian membuat Arex menegang. Dia sadar, apa yang ia ucapkan dari tadi ternyata terekam.
"APA YANG KAU LAKUKAN, JALLANG! APA MAUMU, BANGSATT!" Teriak Arex dari bukit, yang suaranya dengan jelas terdengar oleh semua orang disana.
"Suruh semua anggotamu untuk menurunkan senjata. Dan pergilah baik-baik. Maka aku takkan meledakkan bomnya."
Kana berbicara melalui Walkietalkie yang terhubung ke dekat Bastian.
"TIDAK AKAN! DARIPADA ITU, LEBIH BAIK SEMUA MATI SEKALIAN!!" Teriak Arex.
"APA YANG KAU KATAKAN! LAKUKAN SAJA PERINTAHNYA DAN PERGI DARI SINI!" Pekik Bastian yang nampaknya belum mau mati.
DOR!
Satu tembakan terlepas. Seseorang dibelakang Kana tergeletak dengan darah di kepalanya. Kana menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria yang sangat ia kenali berdiri dengan pistol di tangannya.
"K-Krishan..."
__ADS_1
Mata Kana membulat. Krishan? Bukankah dia tengah operasi? Kenapa dia ada disini? Batin Kana yang menegang, saat menyadari, sepertinya suaminya itu sudah tahu rencananya.