
Aku masih merasa kesal dengan kejadian tadi. Jadi aku memanggil Alana ke sebuah kafe kecil tak jauh tempat aku bertemu Bastian tadi.
"Sebenarnya, tidak perlu sampai seperti ini, Kana." Kata Bastian tiba-tiba.
"Tidak, Bas. Alana harus tahu." Tukasku sambil menatap tajam ke arah Alana. Aku sudah bilang berkali-kali pada Alana tentang betapa anehnya kelakuan Adam. Tapi Alana tidak mendengarkanku, maka dia harus tahu sekarang bahwa ada yang tak beres dari laki-laki yang dia sukai itu.
"Ada apa? Kenapa kalian sampai memanggilku di jam kerja seperti ini?" Tanya Alana penasaran.
"Aku pernah cerita kan, padamu. Kalau Adam mengikutiku waktu itu? Sekarang, dia juga mengikutiku." Tukasku.
"Mengikutimu? Kana, bisa saja dia tengah berjalan-jalan. Bukankah waktu itu Adam bilang dia juga satu jalan denganmu?" Tanya Alana dengan alis yang berkerut.
Kana membuang wajah dengan kesal. Memang dasar Alana keras kepala. Apa jangan-jangan dia sudah cinta mati pada Adam??
"Bas, cepat ceritakan kronologinya!" Biarkan saja Bastian yang menceritakannya. Supaya Alana bisa berpikir sendiri.
"Tadi aku ada di Fairy Wedding di depan sana karena mereka memintaku membuatkan web dan app. Lalu saat aku ingin keluar dari sana, aku melihat Kana jalan sendirian tapi aku juga melihat Adam berjalan perlahan mengikuti Kana. Pada awalnya, ku kira Adam ingin mengagetkan Kana dari belakang. Lalu aku ingat cerita Alana kalau Adam pernah juga mengikuti Kana. Jadi, aku menariknya ke jalan kecil itu tapi Adam malah marah padaku."
Alana menghela napas lalu meneguk minumannya.
"Aku juga yakin kalau dia sudah menargetkanmu. Karena saat pertama kali bertemu, dia menanyakan banyak hal tentangku termasuk kau." Jelasku lagi.
"Aku?"
"Ya, aku bilang kalau sahabatku bernama Alana. Itu sebabnya dia bisa ada di club yang sama denganmu. Aku yakin dia sengaja dan berpura-pura berkenalan denganmu."
Alana tampak sedikit shock tapi dia juga nampaknya belum mau percaya begitu saja, walau berita ini keluar dari mulutku.
"Aku sudah memintanya untuk tak lagi menghubungimu." Ketusku.
Mendengar itu, kedua mata Alana menyipit. "Apa kau bilang?"
"Dia selalu mencurigakan, Alan." Ucapku mulai kesal pada Alana.
"Kana, apa sebaiknya tidak kau tanya saja maksudnya melakukan itu? Kukira dia pasti menyukaimu." Tukas Bastian.
__ADS_1
"Ayolah, Bastian. Dia tahu aku sudah bersuami."
Mereka berdua hanya diam. Terlebih Alana. Aku jadi curiga, udah sampai dimana hubungannya dengan Adam? Karena belakangan dia memang tak makan siang lagi denganku.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Alana.
Aku diam sebentar. Aku juga tidak tahu sebab aku hanya kesal dan tak ingin berteman lagi dengan Adam. Tapi, nada Alana terdengar sangat malas plus kesal. Kenapa?
"Alan, apa kau tidak percaya padaku dan bastian?"
Alana menarik napas lalu menatapku. "Kan, apa kau merasa Adam sangat menyukaimu sampai dia harus mengikutimu begitu?"
"Apa?" Alana bicara apa? Kenapa dia malah berpikir kesana?
"Kemarin kau bilang dia mengikutimu, padahal saat itu kita juga berkumpul bersama di satu tempat. Pastilah jalan yang kau ambil juga dia lalui. Lalu, kau bilang dia berada di lorong ruanganmu saat acara pembukaan toko barumu. Seolah dia tengah mengintipmu dan Krishan di dalam kamar. Apa itu masuk akal? Apa menurutmu kau sangat penting sampai dia terus membuntutimu? Untuk apa?"
Aku menatap Alana tak percaya. Kenapa dia malah berpikir begitu?
Alana menghela napas lagi. "Dan sekarang, dia mengikutimu lagi? Apa dia sekurang kerjaan itu, Kana? Kau tahu, posisinya sangat penting di Wellgroup, dia bukan pengangguran yang menguntitmu kemana pun kau pergi."
"Lalu?"
Ah, aku juga tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu tujuannya mengikutiku seperti itu. Sebenarnya aku mulai curiga kalau dia bisa saja Sanders. Tapi..
Tunggu dulu. Adam bekerja di Wellgroup? Astaga, benar. Dia pernah mengenalkan diri padaku.
Alana tertawa kesal. "Lihat, kau sendiri tidak bisa menjawabnya. Aku tahu banyak sekali pria yang tergila-gila padamu, Kana. Tapi bukan berarti semua orang seperti itu." Alana lalu berdiri dari tempatnya, membuatku reflek berdiri apalagi aku tahu Alana tengah kesal padaku.
"Tunggu, Alana. Sumpah, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau tahu kalau Adam bukan laki-laki yang baik buatmu!" Terangku dengan tegas supaya Alana tidak salah paham.
Alana mulai tersenyum tipis. "Begitu, ya? Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas perhatianmu."
Alana langsung pergi tanpa mendengarkan aku yang sudah teriak memanggil namanya. Dia pun tak lagi menoleh, wajahnya sangat kesal. Aahh, sial! Kenapa jadi seperti ini?
"Kana.."
__ADS_1
Bastian ikut berdiri. "Sebaiknya aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, Bas. Aku akan pulang sendiri." Jawabku sambil mengambil tas di kursi dan berlalu pergi. Entahlah, karena kesalah pahaman dengan Alana membuat suasana hatiku jadi sangat buruk.
Aku masuk ke dalam mobil. "Sean, periksa orang yang bernama Adam dari perusahaan Wellgroup. Aku mau datanya setelah aku di rumah. Ingat, rahasiakan dari Krishan." Titahku sembari menyandarkan punggung karena perdebatan tadi ternyata menguras tenaga.
"Baik, Nona." Sahut Sean, lalu mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang.
"Sean."
"Ya, Nona." Sahut Sean sambil menatap ke jalan di depannya.
"Kau tahu temanku yang bernama Bastian?"
"Tahu, Nona."
"Aku yakin kau sudah menyelidikinya saat aku jalan dengannya dulu."
Sean tak menjawab, aku bisa menebaknya setelah mengetahui siapa suamiku.
"Ceritakan padaku detail dirinya." Titahku pada Sean yang langsung menjawab dengan terperinci.
"Dia Alexandry Ghiz Sebastian. Ghiz adalah nama ayahnya. Dia lahir di Yunani, kemudian mereka pindah ke tengah kota saat usia Bastian 7 tahun. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat usianya 17 tahun. Lalu, dia mendirikan banyak usaha dan bekerja di bidang IT. Tidak ada catatan buruk. Dia dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin. Dia juga banyak mendapat prestasi dan-"
"Cukup."
Sean diam dan akupun memejamkan mata. Tak ada yang perlu dicurigai dari Bastian. Huff, aku menunggu data-data tentang Adam. Kemungkinan besar, dialah adik Arex yang disembunyikan itu. Apalagi dia bekerja di perusahaan Arex. Bukankah sangat jelas?
Setelah sampai, aku masuk kamar menemui Krishan sebentar. Pria yang masih saja murung itu ternyata tengah tertidur. Aku merasa kasihan, apalagi dia tidak bisa melanjutkan berjualan bunga karena kini wajahnya sudah dikenali banyak orang.
Aku keluar kamar untuk meminta laporan Sean. Lelaki itu datang membawa sebuah kertas.
"Nona, ini data lengkap tentang Adam." Ucapnya lalu pamit.
Aku mulai membacanya secara perlahan semua tentang Adam yang kini membuatku membeku.
__ADS_1
Adam? Benarkah..?