Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Spesial Bab 1


__ADS_3

Kana duduk sambil menyesap teh hangat di sore hari. Matanya tengah asyik disuguhi bunga-bunga di taman Inka dengan beraneka ragam warna yang masih bermekaran.


Sudah beberapa bulan berlalu, Kana masih tetap memimpikan seorang anak hadir dalam kehidupannya. Tapi Krishan tidak.


Ah, mengingat itu, leher Kana terasa tegang. Kemarin, Kana dan Krishan berjalan-jalan santai. Mereka duduk disebuah bangku taman yang memperlihatkan suasana sore hari yang hangat dengan pemandangan banyaknya keluarga yang ikut bersantai.


Kana menikmati pemandangan satu keluarga kecil. Dimana sepasang suami istri memiliki anak laki-laki berusia kurang lebih 2 tahun.


Anak itu sangat manja. Tidak mau berjalan sendiri. Dia terus meminta sang ibu menggendongnya, juga akan menangis bila sang ayah mencium si ibu. Hal itu, tentu saja membuat Krishan mengernyitkan dahi.


"Gemas sekali." Gumam Kana yang melihat anak itu nangis dipangkuan ibunya. Si ibu dan ayah tertawa dan terus membujuk anak itu.


"Gemas?"


Kana menatap suaminya. Wajah pria itu berubah masam.


"Yang seperti itu gemas? Apa jika kita punya anak juga akan begitu?"


Kana mengangguk kecil. Dia heran, kenapa Krishan malah terlihat kesal?


"Ah, lebih baik tidak usah punya anak saja." Tukasnya.


"Apa? Kenapa??"


"Lihatlah, dia marah waktu ayahnya mencium ibunya. Anak macam apa itu? Apa aku juga nanti tidak bisa menciummu??"


Kana melongo, pria tua di sampingnya sangat tidak masuk akal. Apa dia tidak bisa melihat, bahwa yang menangis adalah anak usia 2 tahun?


"Krish, bukan seperti itu. Anak itu menyayangi ibunya. Itu sebabnya dia cemburu saat orang lain mencium ibunya." Jelas Kana, tapi nampaknya penjelasan itu tak membuat Krishan mengerti.


"Tetap saja, itu artinya aku tidak akan bisa berdekatan denganmu, kan? Karena sudah pasti kau akan menuruti anak itu ketimbang aku."


"Anak itu?? Anak kita, Krish!"


"Iya, iya. Anak kita. Tapi aku tak mau punya anak. Kau pasti akan lebih mementingkan dia nantinya dari pada aku. Iya, kan? Lihat perempuan itu. Dia bahkan seperti tak punya kehidupan lain selain mengurus anaknya."


Kana diam sebentar memandang suaminya. "Krish, memang benar dunia perempuan akan berubah setelah punya anak. Tapi kami akan sangat senang dengan hal itu. Anak adalah nomor satu dikehidupan seorang ibu."


"Nah, kan. Anak nomor satu, lalu aku nomor berapa?"


Kana mulai tampak kesal. "Ah, kau ini. Memang begini jika menikah dengan pria yang usianya lebih tua 10 tahun. Pemikirannya sudah seperti orang sepuh!" Kata Kana dengan kesal kemudian pergi meninggalkan Krishan yang masih duduk disana.


"Apa? Sepuh? Sweetheart, mau kemana, hei!" Krishan mengejar Kana yang sudah merajuk padanya.


Aaah. Mengingat itu Kana merasa kesal lagi. Sampai sekarang bahkan ia belum berbicara normal dengan Krishan. Lelaki itu juga sejak kemarin terus membujuk Kana yang masih enggan berbicara banyak pada suaminya itu.

__ADS_1


Kana menengok ke arah Sean dan Felix dari jauh. Sean tengah menyorotkan ponselnya ke arah Kana. Jelas sekali Krishan sedang bervideo call dan meminta Sean menyorotinya. Sebab dari tadi ponsel Kana berdering, tentu saja dari Krishan dan dia tidak mau menjawabnya.


"Maaf, Ibu mengangkat teleponnya lama."


Kedatangan Inka membuat raut wajah kesal Kana memudar seketika. Hari ini, dia memilih berkunjung ke rumah ibunya. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin bertemu.


"Ibu.. aku ingin bertanya."


Inka menunggu pertanyaan anak satu-satunya itu.


"K-kenapa.. aku.. belum juga hamil?"


Pertanyaan itu terasa sulit keluar dari mulut Kana. Rasanya, mereka tak cukup akrab untuk saling mengobrol lebih dalam.


Inka menarik napas, terlihat sedikit berpikir sebelum akhirnya mencondongkan badan ke arah Kana. "Ibu juga dulu begitu."


"Hah, benarkah?"


Inka mengangguk lambat, seperti tengah mengingat sesuatu. "Ibu mendapatkanmu setelah dua tahun menikah."


"Tapi, aku juga sudah dua tahun menikah." Lirihnya.


"Tidak apa, Jia. Jangan terlalu diambil pusing. Justru stres itulah yang akan membuatmu semakin sulit mempunyai keturunan. Tenangkan pikiran, carilah kegiatan yang bisa melepaskan penat."


Kana menatap Ibunya. Seumur-umur, baru inilah dia mendengar nasihat baik dari ibunya. Dia menarik senyum tipis. Entah mengapa ada rasa bahagia dalam hatinya.


Inka mengangguk lagi. "Ibu dulu sering menanam pohon supaya lepas stres dan benar saja, satu bulan kemudian, ibu hamil dirimu."


Inka mulai bercerita panjang lebar tentang dirinya dahulu saat memperjuangkan kehadiran Kana dalam hidupnya. Dan Kana pula mendengarkannya dengan seksama. Melihat wajah ibunya yang tampak ceria saat bercerita, membuat Kana merasa sesuatu menyembul keluar dari dalam hatinya. Yaitu kebahagiaan. Dia tak begitu mendengarkan apa yang Inka katakan, karena perjuangan yang Inka maksud, tidak bisa Kana tangkap karena Inka pada akhirnya meninggalkannya. Kana hanya menatap wajah ibunya. Ibu yang menelantarkannya, dan sekarang telah bersamanya. Walau pada awalnya Kana tak berniat akrab dengan sang ibu karena masih menyimpan sakit hati, tapi lama-lama hatinya luluh juga. Apalagi Inka banyak berubah.


"Bagaimana, apa kau paham?"


Kana mengangguk lambat. "Iya, aku paham." Jawabnya dengan asal.


Setelah mendengarkan banyak nasihat dan saran dari ibunya, Kana langsung meluncur ke rumah Alana. Sebab, sahabatnya itu baru saja melahirkan dan Kana tentu saja sedikit cemburu. Itu sebabnya dia memantapkan hati sebelum akhirnya menguatkan diri untuk datang kesana.


Sesampainya disana, Kana disambut baik di rumah itu oleh Inna dan suaminya. Kana datang dengan membawa banyak sekali bingkisan yang dilangsir oleh Felix dan Sean dari mobilnya.


Hal itu tentu membuat Inna dan keluarga mereka yang berada disana tercengang.


"Siapa dia?" Bisik salah satu keluarga Inna.


"Kana, banyak sekali." Alana memperhatikan satu-satu hadiah dari Kana. Ada stroller bayi, lemari kecil beserta baju-baju penuh di dalamnya, dan masih banyak lagi.


"Aku tidak tahu harus bawa apa. Jadi, aku belikan saja semuanya. Baju-baju di dalam lemari juga sampai usia 3 tahun. Kuharap kau menyukainya."

__ADS_1


"Ya ampun, kau bicara begitu. Jelas aku sangat suka."


Alana memeluk sahabatnya itu. Dia langsung mengajak Kana masuk ke dalam kamar bayinya.


Setelah melihat Kana masuk, langsung para kerabat Alana melihat-lihat barang bawaan Kana dengan rasa takjub.


Alana menunjukkan bayinya. Dia menggendong bayi mungil itu. "Ini dia si raja tidur. Laki-laki, namanya Marcello Holmes."


Kana mengusap lembut pipi Baby Marcello yang amat halus. Pipi itu kemerahan dan benar-benar membuat gemas.


"Boleh kugendong?" Pinta Kana.


Dengan cepat Alana menaruh Marcello di tangan Kana. Bayi itu tengah tertidur pulas di tangan Kana. Dia menimang Marcello dengan tatapan yang haru. Bayi mungil seperti ini, kapan aku memilikinya? Batin Kana.


"Gendong yang lama. Katanya, kalau seseorang belum juga memiliki keturunan dan menggendong bayi, dia bisa hamil."


"Kata siapa?"


Kana menoleh, Krishan sudah berdiri di ambang pintu. Wajah Kana berubah malas. Apalagi Krishan hadir padahal tak diminta.


Krishan mendapat kesempatan bagus. Dia tahu istrinya itu takkan menunjukkan sikap tak suka di depan orang lain. Jadi, dia mengecup puncak kepala Kana lalu memeluk pinggangnya, ikut menatapi bayi mungil yang tengah memejamkan mata.


"Begitulah kata orang-orang. Tidak ada salahnya juga dicoba hihi." Sambung Alana.


"Kami memang sengaja menundanya. Karena aku masih ingin berdua dengan istriku." Tukas Krishan sambil mencium pelipis Kana, Membuat wanita itu mau tak mau tersenyum saja. Walau dalam hatinya masih sangat malas berdekatan dengan Krishan.


"Setelah kulihat-lihat, dia mirip denganmu." Celetuk Kana pada Alana.


Wanita itu tertawa riang. "Benar. Banyak yang bilang begitu. Adam sampai kesal karena itu."


Kana tersenyum mendengarnya. Lucu sekali, jika dia punya anak, apakah anak itu akan mirip dengannya atau Krishan?


"Cepatlah punya anak. Untuk apa ditunda lama-lama." Tukas Alana.


"Kami sedang memikirkannya. Iya kan, sweetheart?"


Lagi, Kana tersenyum supaya semua berjalan dengan lancar tanpa banyak pertanyaan dari Alana.


"Kau mau menggendongnya, Krish?" Kana mulai mengerjai Krishan.


Pria itu melirik Kana dan Alana secara bergantian. Sedang mencari alasan untuk menolak. Tapi Kana dengan cepat meletakkan bayi itu di tangan Krishan yang mau tak mau langsung menangkupnya.


"Jia, aku tidak bisa menggendong bayi." Ucapnya sembari menggendong bayi itu dengan kaku.


Kana tersenyum puas. Dia memotret Krishan dengan ponselnya karena ini akan menjadi bahan tertawaannya nanti. Tapi, Kana malah terhanyut dengan pemandangan Krishan yang terus menatapi bayi di tangannya. Dia bergoyang demi membuat kenyamanan si bayi mungil.

__ADS_1


Kana terenyuh, apakah ini gambaran seorang Krishan saat menjadi ayah? Kana mulai gusar dengan hal itu. Dia benar-benar sudah sangat tidak sabar menunggu hal itu terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2