
Kami menuju markas Foldcury. Seperti yang pernah Krishan jelaskan padaku. Foldcury adalah sebuah usaha ilegal yang dibangun ayah Arex. Tetapi dulu tak selebar sekarang. Berkat Krishan, bisnis ilegal ini maju dan berkembang dengan sangat pesat.
Untuk menutupi usaha besar ini, Krishan membangun hotel megah dan memberinya nama yang sama, yaitu Foldcury. Supaya orang tidak curiga saat mereka membahas pekerjaan ini diluar.
Krishan juga membentuk pasukan yang membelanya. Dulu, Foldcury ia buat hanya untuk orang-orang yang mendukungnya. Seiring berjalannya waktu, Krishan akhirnya membuat mereka berguna sebagai pengawal sewaan. Tak tanggung, para pengawal Krishan bahkan dikirim keluar negeri untuk mengawasi acara-acara besar disana. Mereka itulah orang-orang yang setia bersama Krishan bahkan saat pria itu terjatuh.
Setibanya disana, aku malah menganga melihat bangunan besar dan megah itu. Tulisan Foldcury terpampang besar disana. Kenapa ini malah lebih besar dari Shinprise?? Pikirku heran.
"Krish, kenapa ini besar sekali?" Tanyaku sembari berjalan masuk ke dalam.
"Karena ini markas pengawal, sayang. Banyak kamar, alat dan tempat latihan di dalamnya."
Penjelasan Krishan membuatku mengangguk apalagi kami melewati kolam renang yang sangat besar. Di dalamnya ada beberapa murid yang tengah latihan. Namun anehnya, tangan dan kakinya diikat lalu ia diceburkan ke dalam kolam. Aku berhenti menyaksikan itu.
"Jia, ada apa?" Krishan balik lagi saat menyadari aku tak ada disampingnya.
"Krish, anak itu tadi diikat tangan dan kakinya. Bagaimana dia bisa berenang??" Tanyaku terheran-heran. Menurutku itu siksaan, bukan?
Krishan malah ikut menyaksikan.
"Krish, bukankah kau harus memberitahunya kalau itu menyiksa?"
Krishan menunjuk ke arah kolam. Mataku mengikuti. Ah.. anak itu muncul dengan kaki dan tangan yang sudah terlepas dari ikatan.
"Kau tenang saja, sayang. Mereka diajari oleh orang yang tepat."
Krishan menggenggam tanganku dan menarikku berjalan. Mataku menangkap satu ruang tertutup tetapi aku tahu itu ruangan tembak karena melihat plang di atas dan juga suara tembakan.
Lalu langkahku terhenti lagi saat melihat seseorang berdiri dengan apel di atas kepalanya kemudian seorang lagi berdiri tak jauh dengannya, membidikkan senjata.
"Astaga, Krish.. itu.."
"Jia, semua sudah terlatih."
Ah. Benar. Hanya saja aku tidak terbiasa dan bagiku itu mengerikan.
"Kau ingin melihat-lihat, sayang? Aku harus segera ke ruangan wanita itu. Jika kau masih betah, Sean akan bersamamu." Aku tak menjawab dan hanya memperhatikan wajah takut anak yang diatas kepalanya ada apel merah.
__ADS_1
DOR!
Aku tersentak sampai menutup mata. Lalu kulihat apel sudah pecah di atas kepalanya. Ah, syukurlah dia selamat.
Aku berjalan lagi dan Sean mengikutiku dari belakang.
"Sean, kalau itu latihan apa?" Tanyaku sambil menunjuk lapangan yang seperti lapangan basket bagiku.
"Itu hanya anak-anak yang bermain basket biasa, Nona."
Oh, aku pikir ada latihan khusu juga.
"Berapa jumlah anggota disini?" Tanyaku penasaran.
"Sekitar 500 orang, Nona."
"Ah, banyak juga, ya."
"Dulu lebih banyak, Nona. Hampir seribu orang. Tetapi banyak yang kabur setelah tuan buta."
Benarkah? Kasihan, Krishan. Dia pasti sangat terpukul dulu.
Ucapan Sean membuatku menoleh padanya.
"Tuan Yohan menampung anak-anak terlantar dan mendidiknya disini supaya mereka punya kekuatan diluar sana. Jika sudah mampu menjaga diri dan mencari uang, mereka boleh keluar. Tetapi jarang sekali ada yang keluar. Lebih banyak yang mengabdi pada tuan Yohan."
Wah, aku tertegun. Jadi maksudnya, sekitar 500 orang ini dibantu Krishan?
"Tuan bilang, dia dulu sempat terombang ambing sebelum akhirnya dia pingsan tepat di depan panti asuhan. Hingga diapun ikut dirawat disana."
Cerita yang mengharukan ini, aku tidak mendengarnya dari Krishan. Aku pikir dia lahir di panti asuhan. Ternyata tidak.
"Foldcury inilah salah satu anak cabang yang tuan Yohan tidak ambil benefitnya. Dia menyerahkannya pada yang mengelola ini supaya bisa menggaji semua orang di dalamnya."
Aku mengangguk-angguk saja sembari mendengarkan semua perkataan Sean yang pasti lebih tahu.
"Lalu, apa Krishan pernah mendatangi panti asuhannya?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ya, tapi rumah itu sudah tidak jadi panti lagi. Yang punya sudah wafat dan keluarganya menjadikan itu rumah tinggal mereka."
"Begitu, ya. Lalu, kau?" Tiba-tiba saja aku penasaran soal Sean. Karena Krishan hanya menunjuknya saja sebagai orang yang paling ia percayakan.
"Saya orang pertama yang mengikuti tuan Yohan."
Kami berjalan menuju tempat Krishan sambil terus bercerita.
"Saya bertemu dia saat menjadi pengemis kecil di tengah kota. Bertemu dengannya adalah salah satu hal yang paling sangat saya syukuri. Hingga dia mengajari saya cara bertahan hidup dan akhirnya sayapun mengikutinya."
"Jadi, kau adalah saksi kehidupan Krishan?"
Sean tersenyum. Untuk pertama kali kulihat senyum itu merekah dan terlihat tulus.
"Tidak juga. Ada tuan Daniel dan tuan David yang satu panti dengannya. Saya hanya bertemu saat tuan Yohan sudah mulai bekerja dirumah makan milik orang tua asuhnya."
Hm, begitu rupanya. Ah, ada satu yang aku ingin sekali tahu.
"Sean. Apa nama panjang Krishan?"
Sean nampak mengerutkan dahi. "Jika Nona tidak tahu, artinya saya tidak berhak memberitahukannya."
"Apa? Ayolah, Sean. Aku selama ini melupakan itu. Kau tahu kan, kehidupan kami tidak selalu mulus."
Sean tampak berpikir sejenak. "Kenapa Nona tidak tanya langsung?"
"Aku ingin beritahu dia sesuatu. Cepatlah, beritahu aku. Dia takkan marah dengan soal itu, kan?" Tanyaku lagi dan Sean mengangguk.
"Dia Krishan Harcourt."
Langkahku terhenti. "Harcourt.." Ah, nama Krishan sangat sesuai dengan dirinya. Harcourt, adalah pertahanan yang kuat. Suamiku itu orang yang sangat kuat. Tapi kenapa Krishan tidak pernah pakai? Apa karena di negara ini, nama kepanjangan tidak begitu dibutuhkan?
"Aku sudah katakan, Krish. Aku mencintaimu dan aku tahu kau menipu perempuan itu, kan?"
Mataku langsung menangkap pada seorang perempuan duduk di kursi dengan tangan yang terikat, sementara Krishan duduk di depannya dengan tangan bersedekap di dada.
"Jujur saja padanya, bahwa kau sudah meniduriku saat setelah matamu sembuh. Kau mabuk dan aku masih sangat sadar itu. Kau juga tahu tapi kau menutupinya!" Pekik Sherly dengan urat leher yang menonjol, seakan ingin semua orang mendengar celotehannya. Aku memandangnya dengan tatapan bingung karena jika dilihat dari air wajahnya, Sherly seperti berkata sebenarnya. Lalu, apa aku harus percaya? Tapi Sherly adalah penipu ulung.
__ADS_1
"Jaga bicaramu!" Tukas Krishan.
"Dasar perempuan tak tahu diri! Aku yang berjuang dari awal bersama Krishan! Kau hanya merampas apa yang menjadi hakku!" Mata Sherly tajam ke arahku, sampai Krishan ikut terkejut saat melihatku berdiri mematung di depan pintu.