
Kana sudah 13 hari ini tidak tidur dengan baik. Dia harus begadang demi Zeline yang sering bangun di malam hari. Kana dibantu Krishan yang kebetulan masih bekerja sampai larut malam.
Untuk urusan Zeline, Kana menolak memakai jasa baby sitter lantaran ia sendiri yang mau membesarkan Zeline tanpa campur tangan pembantu. Hanya saja untuk soal bebersih dan memenuhi keperluan Zeline, Krishan menyewa satu lagi asisten Zeline.
Malam itu, Kana merasa ada yang berbeda. Malam begitu tenang tanpa rengekan Zeline dan dia sepertinya sudah tidur pulas beberapa jam.
Kana terbangun, matanya langsung menangkap punggung Krishan yang tanpa baju itu tengah bergoyang-goyang.
Kana melihat kesebelahnya. Zeline tidak ada disitu dan nampaknya Krishanlah yang tengah menggendongnya.
Kana duduk dan mengikat rambutnya. Dia akan menggendong Zeline dan membiarkan Krishan tidur. Kana merasa kasihan pada Krishan yang rela menemani Zeline saat siang hari dan bekerja di malam hari. Krishan kekurangan istirahat.
"Krish.." panggil Kana dengan suara kecil.
Krishan menoleh dengan badan yang tetap bergoyang lembut.
"Berikan Zeline padaku. Kau istirahat saja."
Krishan menggelengkan kepalanya. "Tidurlah, sweetheart. Kau lebih butuh istirahat ketimbang aku."
Kana duduk disebelah Krishan. Dilihatnya bayi mungil itu tertidur pulas dengan bibir yang terbuka.
"Lucu sekali.." bisik Kana sembari mengelus lembut pipi bayinya. "Semakin hari dia semakin mirip denganmu."
"Ya, aku merasa takjub, karena ada seseorang yang wajahnya persis diriku. Rasanya seperti tidak mungkin tapi, lihatlah dia." Mata Krishan tak lepas dari Zeline yang masih saja tertidur.
"Kau menyayanginya, Krish?"
"Sayang, kau bicara apa. Jelas aku menyayanginya. Dia putriku. Darah dagingku yang lahir darimu. Aku mencintaimu dan anak kita." Jelas Krishan pada Kana yang tersenyum lebar.
Padahal dulu Krishan sangat sulit diajak serius untuk membahas bayi yang belum lahir itu. Tapi setelah Zeline lahir, Krishan memang terlihat sangat mencintainya.
"Cepat tidur. Aku yang akan mengurus Zeline." Bisik Krishan lagi.
Kana mengecup bahu Krishan. "Terima kasih, Krish." Katanya lalu mengecup bibir Krishan cukup lama sampai ia kembali berbaring memejamkan mata. Karena Kana memang merasa kurang tidur beberapa hari ini.
Untunglah Krishan sangat mengerti kondisi Kana yang sudah terlihat lingkaran hitam dibawah mata dan tubuhnya yang sedikit lebih kurus, membuat Krishan merasa bersalah karena belum bisa benar-benar membantu istrinya dalam merawat sang buah hati.
Paginya, Kana terbangun saat matahari sudah cukup panas sampai menembus gorden jendela kamar.
Kana tersentak saat menyadari bahwa dia tidur terlalu lama. Begitu juga sekelilingnya yang terlihat kosong. Tidak ada Krishan maupun Zeline disana.
Kana langsung keluar rumah, mencari kedua ayah dan anak itu dan mendapati Krishan duduk di taman tengah, menjemurkan Zeline dibawah cahaya matahari pagi.
"Morning, Sweetheart." Sapa Krishan dengan senyuman cerah. Nampaknya Krishan memang telah menjadi ayah yang bahagia.
__ADS_1
Kana mengecup bibir Krishan dan ikut duduk disebelahnya.
"Apa dia merepotkanmu?" Tanya Kana.
"Tidak ada yang merepotkanku. Baik Zeline maupun kau, sweetheart. Aku suka seperti ini."
Kana tersenyum puas. Lalu menatap lagi ke Zeline yang lagi-lagi tertidur.
"Aku akan membuat acara untuk Zeline." Tukas Krishan.
"Krish, bisa tidak, kau jangan lakukan itu."
"Kenapa? Aku ingin membuat perayaaan besar-besaran atas kehadiran Zeline di hidup kita."
"Aku.. hanya ingin menyembunyikan Zeline supaya tidak banyak orang yang tahu. Kau mengerti kan, Krish? Orang-orang jahat masih ada disekitar kita." Jelas Kana dengan lembut. Berharap suaminya akan mengerti, walau dengan wajah sedikit bertekuk, Krishan mengangguk setuju.
"Aku mandi dulu, ya. Siang ini ibu akan datang untuk melihat Zeline."
"Akhir-akhir ini Ibu sering datang, ya? Apa kau keberatan?" Tanya Krishan pada istrinya.
"Aku bisa melihat bahagia di wajahnya semenjak meminta maaf padaku, ditambah kehadiran Zeline membuatnya selalu rindu. Aku tidak keberatan." Kata Kana, menatap wajah Zeline yang kehadirannya banyak membuat suasana bahagia sangat terasa.
Hampir setiap hari Inka datang membawa berbagai macam keperluan bayi yang Kana belum mengerti. Inka bahkan membelikan barang-barang yang Zeline belum perlukan saat ini. Inka benar-benar menunjukkan sikap bahwa dia telah berubah. Perilakunya menunjukkan kalau dia sedang memperbaiki dirinya dengan perilakunya pada Baby Zeline.
Begitulah, kehidupan Kana jauh lebih berwarna semenjak Zeline hadir.
Krishan berjanji untuk membawa hadiah saat pulang kantor karena Krishan tidak bisa menemaninya seharian di rumah. Padahal, Krishan sudah berjanji untuk menemani sang buah hati. Tidak tahunya, Krishan malah punya acara dadakan yang mau tak mau harus mengingkari janjinya pada Zeline dan berjanji lagi untuk memberikannya hadiah. Kalau tidak, percayalah, amukan Zeline lebih ditakuti Krishan daripada marahnya Kana.
Kana sendiri tidak bisa membantu jika berkaitan dengan janji. Zeline tidak suka jika janji yang diucapkan tidak dilakukan, dia akan menangis dan marah sepanjang hari. Dan hari ini, Krishan membuatnya demikian.
"Mana Zeline?" Tanya Krishan pada Kana yang sedang menanam bunga. Belakangan perempuan itu sangat tertarik pada tanaman apalagi Inka sering membawa tanaman jenis baru untuknya.
"Dia diluar bersama Felix. Kenapa berbohong padanya?"
"Aku juga tidak tahu ada acara, sweetheart."
"Kau selalu begitu. Lihatlah, pulang-pulang kau mencari Zeline dan melupakan aku." Gerutu Kana dengan tangan yang penuh tanah.
Krishan mendekati istrinya, memeluk Kana dari belakang. "Aku kan, sudah melihatmu secara langsung. Kenapa harus dicari."
Hah. Kana mendesah kasar. Padahal dulu Krishan tidak mau punya anak karena takut perhatiannya teralihkan pada si buah hati. Tidak tahunya sekarang, Malah Krishan yang perhatiannya teralihkan sepenuhnya untuk Zeline. Krishan malah lebih mencintai Zeline. Bahkan dalam hal apapun, Krishan selalu mendulukan Zeline ketimbang dirinya.
"Kau cemburu pada anak sendiri, eh?"
"Mana mungkin. Sudah, sana. Temui dia, jangan lama-lama." Ucap Kana pada Krishan dan langsung beralih lagi pada bunganya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Felix tengah menemani anak majikannya yang sedang merajuk.
"Ayo, kita kembali. Kasihan Daddy mencari Zeline." Bujuk Felix ikut berjongkok di atas dedaunan yang berguguran.
Zeline menggelengkan kepalanya. Gadis kecil yang kini menginjak usia 6 tahun itu tidak suka jika sang ayah bekerja seharian dan tak ada waktu untuknya.
"Nanti akan paman beritahu Daddy supaya libur besok dan menemani Zeline di hari pertama sekolah." Bujuk Felix lagi.
"Daddy sudah bilang, dia tidak bisa datang. Zel benci sama Daddy!" Teriak gadis kecil itu.
"Tidak boleh begitu. Kalau Daddy diambil orang, bagaimana?"
"Biarin!"
"Yang benar?" Sambung Krishan dan membuat Felix langsung berdiri, menjauh, memberikan ruang untuk ayah dan anak itu.
Zeline membuang wajahnya. Dia benar-benar kesal pada sang ayah.
"Benar tidak apa-apa jika Daddy diambil orang?" Krisha berjongkok dihadapan putri kecilnya.
"Ya sudah, sana. Daddy juga sudah diambil pekerjaan Daddy yang selalu banyak dan terus sibuk itu!" Tukas Zeline dengan kesal.
"Besok Daddy bisa datang, kok. Daddy dan Mami akan mengantar di hari pertama Zeline sekolah."
"Yang benar??" Tanya Zeline dengan mata membulat. Jika begitu, dia mirip dengan Kana.
"Benar. Grandma juga ikut. Daddy besok libur dan setelah pulang sekolah, kita akan jalan-jalan, bagaimana?" Bujuk Krishan lagi.
"Yang benar?? Daddy janji?" Gadis itu mengulurkan kelingkingnya.
"Janji." Tukasnya dengan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking putrinya.
"Karena sudah tidak marah lagi, Daddy beri ini untuk putri Daddy." Krishan mengeluarkan hadiah yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya sejak tadi.
"Waaah.. ini keluaran terbaru kan, Daddy??" Teriak Zeline riang dan Krishan mengangguk cepat.
"Kamu suka?" Tanya Krishan pada Zeline yang matanya berbinar menatap kotak Barbie berwarna merah jambu itu.
"Ssuukkaa sangat. Terima kasih, Daddy." Gadis itu memeluk Krishan dan mencium pipi ayahnya.
Krishan menggendong Zeline dan berjalan menuju rumah mereka. Berkali-kali Zeline merajuk, berkali-kali itu pula Krishan selalu mampu membujuknya. Zeline, malah lebih suka ngambek daripada Kana. Entah belajar dari mana gadis kecil itu. Yang jelas, apapun yang dia minta, Krishan selalu berusaha memberinya walau harus rela di omel Kana karena suaminya itu dianggap terlalu memanjakan sang buah hati.
(Visual Zeline)
__ADS_1
**JANGAN LUPA KASIH BINTANG LIMA UNTUK CERITA INI YA🥰