Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Firstsight


__ADS_3

Krishan sempat mengamuk setelah mendengar bahwa Kana menghilang. Dia tidak bisa diam di ruangannya. Lelaki itu selalu saja ingin keluar mencari istrinya.


David dan Daniel sudah memastikan bahwa Kana tidak diculik oleh Arex. Begitu juga penjelasan dan rekaman cctv yang dilihat dari halaman restoran, bahwa Kana pergi dengan taksi.


Mereka juga sudah mencari taksi yang membawa Kana. Menurut sang supir, perempuan itu turun di sebuah kedai kopi, bukan di rumah seseorang.


Krishan sendiri sudah mulai tenang setelah dengan terpaksa dokter memberinya obat penenang.


"Bagaimana ini?" Tanya Daniel yang sudah kebingungan.


"Kau sudah cari ke rumah sahabatnya itu?" Tanya David pada Sean.


"Sudah, tuan. Dia juga terkejut saat saya mencari Nona Jia. Dia menduga kalau rumah tangga tuan dan nona pasti ada masalah." Jelas Sean.


"Jika begitu, kemana wanita itu? Apa dia gila? Kenapa saat suaminya bisa melihat, dia malah kabur?" Daniel memijit kepalanya yang mulai berdenyut.


"Yohan menipunya, jelas dia marah. Kau ini!" Tukas David.


"Bukannya seharusnya dia senang, menikahi lelaki mapan dan kaya raya seperti Yohan? Apa dia tidak berpikir bahwa saingannya sangat banyak tetapi Yohan memilihnya?" Daniel bersungut-sungut kesal. Bebannya jadi menambah karena Kana.


"Kau pikir semua perempuan begitu? Karena itulah Yohan tergila-gila pada perempuan yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya." Sahut David dan berhasil membuat Daniel berhenti menggerutu.


"Lalu, kita harus bagaimana?" Tanya Daniel lagi.


"Ya mau bagaimana lagi. Cari saja sampai dapat."


"Apa dia pergi ke luar negeri?" Tanya Daniel pada Sean.


"Tidak, tuan. Kami sudah cek seluruh perjalanan dan pemesanan, tidak ada nama Nona Jia." Jawab Sean pasti.


Daniel menghempaskan tubuhnya di atas sofa. "Terserahlah. Aku hanya ingin pembalasan berjalan lancar. Bagaimanapun aku harus membuat Yohan menghancurkan Arex."


"Kau tenang saja, itu pasti akan terjadi apalagi istrinya menghilang begini. Aku pastikan Yohan menyalurkan emosinya pada mereka." Tukas David sambil tersenyum miring.


Mereka menyadari kekuatan Yohan yang mampu menghancurkan Arex. Selama ini, Arex dan Felix tidak pernah seberani sekarang. Itu yang membuat Yohan tidak menghancurkan usaha mereka. Namun setelah ini, sudah pasti mereka akan hancur dengan cepat.


...♡♥︎♡♥︎...


Sudah 5 hari berlalu dan hari ini adalah hari dibukanya perban Krishan. Walau dia sudah meminta dari dua hari yang lalu, namun dokter menolak perlahan, syukurnya dokter bisa meyakinkannya untuk membuka perban di hari ke lima.


Dokter dengan perlahan membuka perban Krishan. Di sana, sudah ada David, Daniel, dan Sean. Mereka bahkan membuat rumah sakit penuh dengan pengawal untuk menjaga supaya Sherly tidak mendekat. Setiap hari wanita itu datang dan selalu saja mereka berhasil mengusirnya.


"Buka mata anda secara perlahan, tuan. Supaya mata anda tidak terkejut saat penangkapan cahaya yang masuk." Jelas dokter itu pada Krishan.


Krishan dengan perlahan membuka matanya. Baru sedikit saja, ia bisa merasakan cahaya yang menyilaukan masuk ke dalam matanya. Agak sedikit sakit, tapi dia memaksanya terbuka.


Pandangan Krishan kabur, dia lalu memejamkan mata dan membukanya lagi.


Daniel dan David mendekat, menatap Krishan dengan wajah khawatir sebab Krishan masih diam di tempatnya. Bola matanya pun tidak bergerak.


"Apa benar dia bisa melihat, dok?" Tanya David khawatir.


"Tuan, apakah pandangan anda jelas?" Tanya dokter itu.


Krishan tak menjawab. Dia terus menatap ke depannya.


David mendekat lagi, manatap mata Krishan yang terlihat sendu.


"Menyingkirlah, wajahmu terlalu dekat." Tukas Krishan sambil mendorong tubuh David.


"Ah, syukurlah. Kupikir kau masih buta." Ucap David lega.


Krishan langsung berdiri dari tempat tidur.


"Eh, mau kemana??" Tanya David.


"Mencari istriku. Ambil pakaianku, aku akan bersiap." Ucapnya menuju kamar ganti, diikuti Sean dari belakangnya.


"Apa? Astaga, yang benar saja! Kau bahkan baru melihat, Hei. Lihatlah kami dulu!" Teriak David pada Krishan yang semakin menjauh.


"Tuan, saya belum menjelaskan cara penyembuhannya pada tuan Yohan." Ucap dokter itu.


"Nanti asistennya yang akan menghubungi anda." Tukas David lalu ikut keluar mengejar Krishan.

__ADS_1


Krishan sudah berganti pakaian. Dia berjalan cepat dan seluruh anggota yang berderet membungkukkan badan saat melihat Krishan lewat.


"Apa sudah tahu dimana istriku?" Tanya Krishan.


"Belum, tuan. Kami tidak mendapat info apa-apa." Jawab Sean yang melangkah cepat disebelah Krishan.


"Bawa aku ke rumah dulu." Ucapnya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan.


Mereka menuju rumah Krishan yang dulu ia tinggali bersama Kana.


Sesampainya disana, Krishan masih bisa mencium aroma yang biasa ia rasakan saat pertama masuk pagar. Bunga yang penuh warna menghiasi taman. Sangat menyegarkan mata Krishan.


Dia buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Tuan, anda sudah pulang. Eeh?" Marry mematung melihat Krishan yang berlari masuk ke dalam kamarnya. "Tu-tuan Krishan sudah bisa melihat??" tanyanya pada Sean yang berdiri di depan pintu rumah dan pemuda itu mengangguk sambil tersenyum.


"Mana foto pernikahanku??" Teriak Krishan pada Marry saat ia tidak mendapatkan apapun dari dalam kamarnya.


"A-anu tuan, Nona Jia membawa semuanya."


"Membawanya kemana??"


"Saya tidak tahu, tuan. Dia membawa barang-barangnya. Saya kira, dia membawa untuk perlengkapannya di hotel." Jawab Marry sedikit panik.


"Apa ada satu foto saja yang memperlihatkan wajah istriku??" Tanya Krishan dan Marry menggelengkan kepalanya.


Krishan menendang lemari hingga jebol. Dia sangat frustrasi sebab orang yang pertama ia ingin lihat adalah istrinya. Tetapi Kana malah pergi dan tidak meninggalkan apapun untuk membuat Krishan menandai wajahnya.


Krishan membuka lemari, berharap menemukan satu saja yang membuat dia menandai wajah istrinya. Baju-baju Kana masih ada yang tertinggal disana. Krishan mengambil satu kemeja yang pernah ia robek. Dia tahu sebab kancing kemeja itu telah hilang karena ia membukanya secara paksa waktu itu.


Krishan mencium baju Kana. Rasanya sangat rindu dengan harum tubuhnya, dia ingin memeluk tubuh istrinya. Dia juga sangat ingin mendengar suara Kana, mengecup tengkuk leher wanita itu seperti yang biasa ia lakukan dulu.


"Kumohon, Jia. Kembalilah." Lirihnya sambil menghirup aroma baju itu, tanpa ia sadari matanya sudah berair. Rasa rindu pada istrinya membuat Krishan seakan melemah. Padahal dia sudah menanti hari ini, hari saat ia bisa melihat wajah istrinya.


"Antar aku ke rumah Alana." Titahnya sambil berjalan keluar menenteng baju Kana di tangannya.


~


"Coba sekali saja keluar, menghirup udara yang sedang sejuk ini." Ucap Alana yang melihat Kana duduk memangku popcorn sambil menonton film.


"Aku tidak minat."


"Ayolah, Kana. Kau tidak bisa seperti ini terus."


"Aku tidak ingin keluar, Alan."


"Bagaimana kau tidak semakin stres kalau begini!"


Tok..tok..tok..


"Siapa yang datang di hari libur begini!" Alana berdecak lalu menuju ruang depan. Dia mengintip dan matanya terbelalak melihat seseorang yang berdiri di depan pintunya bersama beberapa pengawal di belakangnya.


Alana berlari menuju kamar Kana.


"Hei, hei, hei, cepat sembunyi. Diluar ada suamimu." Bisik Alana sambil mengambil popcorn dan mematikan televisi.


"A-apa? Krishan datang? Apa dia masih buta?" Tanya Kana penasaran.


"Wah, penasaran, ya. Sana, jumpai suamimu kalau kau serindu itu!"


"Enggak. Aku mau sembunyi. Aku takut dia menyeret dan menghukumku." Tukasnya lalu mendorong tubuh Alana keluar.


"Kunci aku dari luar. Aku akan bersembunyi dalam lemari."


Alana mengangguk dan mengunci pintunya. Dia berjalan keluar, mencoba menenangkan diri dan mengatur raut wajah. Alana membuka pintu rumahnya.


Pria itu tidak tersenyum saat melihat Alana. Walau begitu, ia memang terlihat sangat tampan dengan kemeja peach yang terbuka menampilkan kaos putihnya.


"Krishan, ada apa?" Tanya Alana dengan raut yang dibuat bingung.


"Apa Jia di dalam?"


Alana malah menatap mata Krishan yang benar-benar melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Kau sudah bisa melihat??" Tanya Alana dengan mata membulat.


"Ya, aku langsung kemari setelah perban dibuka. Aku ingin bertemu Jia. Apa bisa aku menemuinya?" Ucapnya dengan wajah kalut yang tidak bisa disembunyikannya.


"Aah, itu. Dia tidak ada disini. Aku juga penasaran dia kemana, karena nomornya tidak aktif. Apa boleh aku tahu, apa yang membuatnya pergi?"


Krishan tidak menjawab, malah menatap ke dalam rumah Alana, berharap wanita itu muncul.


"Kau tidak percaya padaku? Kau bisa memeriksanya sendiri." Alana mempersilakan Krishan masuk walau tubuhnya sedikit tegang. Lelaki itu langsung melangkahkan kakinya ke dalam, berusaha mencari bau harum Kana yang selalu ia rasakan, tetapi tidak ketemu.


"Apa aku bisa masuk ke kamar Jia?" Tanyanya pada Alana.


Seketika Alana merubah raut tegangnya. "Boleh saja. Kamarnya yang itu."


Krishan membuka kuncinya lalu masuk. Di dalampun, dia tidak menncium aroma Kana. Dia melihat kamar itu rapi dan bersih.


Alana juga terkejut. Padahal tadi kamar itu berantakan dan penuh sampah makanan.


"Aku sudah bilang, kan. Istrimu tidak ada disini."


Krishan berdiri di dekat lemari. Rasanya dia tidak puas karena belum menemukan istrinya.


"Kau mengira aku menyembunyikannya dalam lemari?" Alana tertawa. "Aku jadi penasaran, kesalahan apa yang kau lakukan sampai istrimu pergi begitu?"


Krisha menghela napas. "Aku mengakui kesalahanku cukup besar. Katakan pada Jia, jika kau bertemu dengannya. Aku sangat mencintainya dan tidak bermaksud membohonginya. Suruhlah dia menemuiku, aku sangat kehilangan dirinya."


Alana mengangguk-angguk. Melihat ekspresi wajah Krishan sepertinya dia tidak berbohong.


"Baiklah, akan aku coba katakan kalau bertemu dengannya."


"Apa dia punya keluarga lainnya? Atau tempat yang menurutmu Kana berada. Aku benar-benar tidak tahu harus mencarinya kemana."


Alana menggelengkan kepala. "Kau juga tahu dia seperti yatim piatu, walau ibunya masih ada, tapi aku tidak yakin dia menemuinya. Mungkin dia sedang menenangkan pikirannya. Kalau sudah tenang, dia pasti akan menemuimu."


Krishan mengangguk lambat. "Baiklah. Terima kasih sebelumnya. Maaf mengganggumu."


Krishan keluar dari kamar Kana, membuat Alana lega seketika.


Setelah mereka pamit, Alana langsung menutup pintu. Dia masih melihat dari jendela, Krishan berdiri di depan rumahnya cukup lama.


"Wah, gila. Kana benar-benar beruntung." Gumamnya yang sudah tahu bahwa yang ia hadapi tadi adalah pemilik perusahaan terbesar di negaranya, yang merupakan suami sahabatnya.


Setelah Krishan pergi, Alana langsung menuju kamar Kana.


Dia membuka pintu lemari dan..


BUR!!


Semua sampah kacang dan makanan lainnya berjatuhan ke bawah. Sementara Kana menutup wajahnya dengan tangan.


"Hei, keluar!"


Kana menoleh keluar, lalu berdiri saat merasa sudah aman.


"Kenapa kau memasukkan sampah ke dalam lemari!"


"Aku sudah menduga, dia pasti akan melihat ke kamar ini. Haaah, untung saja aku tidak membawa parfum itu." Ucapnya lega.


"Kau dengar kan, apa yang dia katakan tadi?" Tanya Alana sambil melipat tangan di dada.


"Iya, aku dengar."


"Aku saja bisa merasakan dirinya yang kehilanganmu. Masa kau tidak berdetak sedikitpun??"


"Aku belum bisa menerima itu. Lagipula dia akan memandangku dengan mata yang dihadiahi oleh wanita gila itu, rasanya tidak sudi." Ucapnya cemberut.


"Hah, pusing aku melihatmu. Sudah, bersihkan sampah-sampah ini." Omelnya lalu keluar dari kamar.


Kana menarik napas dalam. Dia mengira Krishan tidak mencarinya karena dia pasti sudah lupa dan bersama Sherly. Ternyata tidak. Lalu mendengar penuturan Krishan tadi, perasaannya jadi kacau. Antara senang dan sedih, Kana tidak tahu mana perasaan yang lebih dominan. Keduanya bercampur dalam hatinya.


**Halo, Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan beri rating ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ya di Novel Author.


Jangan lupa baca karya Author yang lain, yaa.. Terima kasih🤍

__ADS_1


__ADS_2