Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Showing Affection


__ADS_3

...PoV Kanazya Laurels...


"Aku akan keluar sebentar. Kunci pintunya lalu duduk tenanglah disini. Kau mengerti, sweetheart?"


Aku mengangguk walau hatiku penuh keraguan. Ada apa sebenarnya? Bukankah hanya kecelakaan saja? Memang wajah suamiku sangat tenang tetapi aku tahu diluar sedang tidak baik-baik saja.


Krishan keluar sementara aku mulai duduk diam menatap ke depan. Ingin sekali aku menoleh ke belakang namun aku harus ingat janjiku pada Krishan.


Di dalam mobil, aku benar-benar tak bisa tenang. Suara berisik dari luar sangat mengganggu. Apalagi aku merasa beberapa kali mobil bergoyang seperti dihantam dari belakang.


Aku memilih memejamkan mata saja supaya rasa penasaran yang muncul bisa kuatasi dengan baik.


Namun sia-sia. Mobil berguncang lagi, dan suara seseorang mengerang membuatku reflek menoleh ke belakang.


Aku mematung. Kulihat wajah suamiku yang kini sudah berubah. Wajah hangat dan lembut di mataku beberapa menit lalu menjadi menyeramkan. Krishan bukan membentuk wajahnya sedemikian buruk supaya terlihat kejam. Tidak, dia hanya diam dengan wajah dingin. Namun pancaran matanya penuh kebencian. Dia menghajar dengan sekali pukul dan itu sudah mampu melumpuhlan lawan. Aku.. sedikit takut.


Aku mengalihkan wajah ke depan. Aku takut Krishan melihatku yang ternyata tidak mengindahkan perkataannya. Jika sudah begini, aku tak yakin perasaanku bisa sama seperti tadi.


Padahal seharusnya aku yang paling tahu tentang suamiku. Tetapi nyatanya, melihatnya seperti itu saja sudah membuatku gemetar dan aku belum juga terbiasa soal ini.


TRANG!!


Aku reflek menjerit saat seseorang memecahkan kaca jendela mobil lalu berusaha membuka pintunya.


Krishan dengan cepat menarik baju lelaki itu dan menghajarnya dengan membabi buta. Kulihat wajah Krishan, dia benar-benar diluar perkiraanku. Nyatanya Krishan bisa membuat aura tubuhnya berbeda setiap kali dia berada di tempat yang berbeda pula.


Krishan membuka pintu dan langsung memelukku saat menyadari ketakutanku. Tapi, apa Krishan tahu kalau aku juga takut padanya.


Dia memelukku erat sekali sampai aku bisa mendengar detakan jantung Krishan yang beratur, napas yang berat dan leher hangatnya yang berada di dahiku. Sungguh nyaman, itu yang kurasakan. Ketakutanku perlahan menghilang. Dia Krishan, suamiku. Yang sangat bisa aku rasakan cintanya. Krishan saat ini melindungiku dan dia benar-benar bisa diandalkan. Selama ini aku sendirian, berlindung dan merasakan derita dan air mata yang sering kutahan. Memang sudah saatnya aku berlindung dibalik tubuh besar dan kasih sayang pria ini.


Aku mendekap Krishan dan bisa kurasakan kecupan hangatnya di puncak kepalaku.


"Kau baik-baik saja, sayang?"


Aku mengangguk karena aku memang sangat baik-baik saja dipelukannya.


"Tuan, mobil sudah datang." Sean sedikit membungkuk untuk melihat kami yang di dalam melalui kaca jendela yang pecah.

__ADS_1


Anak buah Krishan datang dan menyelidiki beberapa orang yang sudah tergeletak disana.


"Ayo, kita pulang sekarang."


Krishan menarikku keluar dan tetap berada dipelukannya, berjalan menuju mobil lain dan menutupi kepalaku dengan jasnya.


"Segera lapor padaku." Titah Krishan pada Sean yang kemudian menutupkan pintu mobil.


Kamipun menuju rumah, Sean membatalkan sejumlah agenda panjang Krishan karena dirinya yang berkeras ingin menjagaku.


Sepanjang jalan kami banyak diam. Aku yang didekapannya sibuk dengan pikiranku. Begitu juga Krishan yang tangannya menepuk-nepuk lembut bahuku. Seolah menenangkanku dengan kasus yang baru saja terjadi.


Kenapa Krishan tidak ingin aku melihatnya tadi? Padahal dia bisa saja memamerkan kehebatannya dalam bertarung padaku. Ya, walau kusadari pertarungan Krishan bukan pertarungan biasa. Itu seperti melempar nyawa orang lain. Sadis dan mengerikan di mataku. Tapi tak apa, dia melakukannya karena aku, karena dia ingin melindungiku.


"Krish.."


"Iya, sayang."


Aku mendongak, melihatnya yang menatapku dengan penuh cinta. "Terima kasih sudah melindungiku. Aku mencintaimu."


Krishan mungkin sedikit bingung dengan ucapanku yang tiba-tiba. Tapi sungguh, aku merasa sekarang, walau aku harus dikekang oleh Krishan sekalipun aku rela. Aku sudah sangat kesusahan selama ini dan kehadiran Krishan benar-benar sangat membahagiakanku.


Dia mungkin lelaki yang ditakuti diluar sana. Tapi padaku, Krishan sungguh berhati halus dan dia rela meruntuhkan egonya. Berkali-kali aku merasa Krishan berat jika membiarkanku keluar bermain. Tapi dia tidak melarang karena tak ingin terlalu mengekang dan membuat aku kecewa.


Aku memejamkan mata saat Krishan mengusap lembut leherku dengan ibu jarinya. Ah, aku merasa sangat cinta padanya.


Aku membuka mata karena Krishan menghentikan ciamannya. Dia menatapku lama dengan tatapan yang tak bisa kutebak.


"Terima kasih sudah bertahan denganku, Jia."


Sudah aku bilang, akulah yang sangat beruntung dan tidak akan kutinggalkan Krishan walau dimasa tersulitnya sekalipun.


~


Krishan tengah duduk santai di taman ruang tengah sambil membaca koran. Aku baru saja selesai mandi dan kulihat di depan rumah penuh pengawal. Tadi para pengawal itu datang terlambat karena semua musuh sudah dihabisi Krishan dan itu membuat mereka takut. Jika Krishan sudan turun tangan, artinya kerja mereka tidak dianggap baik. Oleh sebab itu mereka berinisiatif untuk berjaga diluar, padahal sudah kubilang pada mereka untuk bersikap santai saja sebab Krishan turun tangan juga karena melindungiku, bukan karena marah pada mereka yang lambat. Tetap saja, mereka menolak pergi.


Tok..tok..

__ADS_1


"Permisi, Nona."


Aku mendekat ke pengawal itu sementara Krishan langsung ke arahku sambil menenteng gulungan koran di tangannya.


"Ada kiriman makanan, Nona."


"Ah, aku memesankannya untuk kalian."


Para pengawal itu saling pandang.


"Kalian belum makan, kan? Aku tahu kalian lelah. Nikmati makanan itu."


Mereka malah diam menatap ke arah Krishan yang berdiri dengan wajahnya yang seperti ingin menerkam itu.


"Sudahlah, jangan takut pada Krishan. Ini aku yang membelinya." Sambungku lagi dan mereka tak juga menurutiku. Astaga, benar-benar.


"Krish, bisa tidak kau jangan menatap mereka begitu? Mereka belum makan. Kau ini, tega sekali!" Omelku pada Krishan yang malah seperti akan memarahi mereka.


"Jia, aku tidak mengatakan apa-apa." Elaknya.


"Tapi matamu itu mengawasi mereka!"


Krishan malas berdebat, dia mengangguk pada para pengawalnya dan spontan saja mereka kegirangan dan langsung melahap makanan yang kubelikan.


"Kau jangan boros pada mereka, Jia."


"Kau ini. Jangan pelit-pelit pada mereka, Krish." Krishan merangkul dan membawaku menuju kamar kami.


"Aku mencari uang untuk kau habiskan. Bukan mereka."


Aku tertawa mendengarnya. Senang juga tersentuh. Padahal uang yang Krishan berikan padaku saja jarang kupakai. Ditambah lagi, gajiku di kantornya berkali-kali lipat dia berikan padaku. Sangat tidak setimpal dengan diriku yang sering bolos ini.


"Jia, aku akan pergi ke markas untuk melihat dia."


Dia? Apa maksud Krishan, Sherly?


"Jika ingin ikut, bersiaplah. Kita akan kesana sebentar lagi."

__ADS_1


Aku mengangguk dan menatap punggung Krishan yang memasuki kamar dan membuka bajunya untuk berganti pakaian. Syukurlah dia mau mengajakku. Artinya memang Krishan sudah sangat terbuka padaku.


** Maaf terlambat, lanjut tengah malam ya **


__ADS_2