Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Identity Revealed


__ADS_3

"BRENGSEKK!! BAJINGAN SIALAN! MENJAUHLAH DARI ISTRIKU!!" Teriaknya dengan sekuat tenaga, mencoba bangkit namun orang-orang itu malah menghantamnya hingga kepalanya menghantam lantai dengan keras. Krishan terdiam atas ketidakberdayaannya, sampai air mata mengalir dari sudut matanya.


"Hahahaha! Lemah sekali." Felix bangkit, dia memandang hina pada Krishan yang malah menangis.


"Hei, si buta sudah tidak berdaya. Buka ikatan istrinya supaya mereka bisa mati bersama."


Mereka membuka ikatan tangan Kana. Wanita itu masih terisak di tempatnya. Rasa sesak membuat dadanya terasa sakit.


Kana pelan-pelan mendekati Krishan, dia semakin menangis sesegukan saat banyak darah mengalir dari kepala Krishan.


Tanpa ampun, lagi-lagi orang itu menendangi badan Krishan.


"Cukuppp!! Sudahhh! Kumohon.." Teriak Kana sambil memeluk Krishan supaya hantaman dan pukulan yang mendarat itu terkena tubuhnya. Dia melindungi suaminya yang tampak sudah pasrah saja.


"Krish.. Kau masih kuat, kan. Ayo, kita keluar dari sini." Kana membantu Krishan berdiri.


"Kenapa buru-buru, acara belum selesai." Sahut Felix sambil tertawa.


"Kau jahat sekali. Kenapa kau melakukan ini?? Bukankah keinginanmu sudah diberikan??" Kana tersedu-sedu, dia teramat sedih melihat Krishan yang tak berdaya berdiri di belakangnya.


"Kau tidak akan tahu rasanya saat keluargamu dibantai oleh manusia sialan ini. Hahah, Bajingan. Senang rasanya melihatmu selemah ini, Yohan. Tak kusangka cita-citaku untuk menghantam monster akhirnya terkabulkan."


"A-apa katanya?" Gumam Kana mencoba mencerna ucapan Felix. Yohan?


"Sebenarnya, aku ingin sekali membunuhmu, Yohan. Tapi aku akan membiarkanmu hidup bersama istrimu itu hahaha. Toh, hidupmu sudah tidak ada harganya sekarang."


"Si-siapa Yohan?" Kana ingin mendengar lagi walau ia sudah tahu bahwa Felix memanggil Krishan dengan nama Yohan.


"Siapa Yohan katamu? Hahaha." Felix malah terbahak. "Nampaknya kau menyembunyikan sesuatu ya, Yohan. Apa kau tidak tahu, yang dibelakangmu itu adalah ketua terbesar penjahat di negara ini."


"Apa?" Kana menoleh pada Krishan dibelakangnya yang tertunduk sambil mengepalkan tangan. Terlihat darah yang mengalir kini menetes di dagunya.


"Wah, luar biasa mengejutkan. Bagaimana mungkin istrimu tidak tahu, ha?" Lagi-lagi Felix tertawa namun kini dibarengi para anggotanya.


"Suamimu itu ketua mafia besar! Tapi sekarang sudah tidak lagi. Hahaha."


"Krish, apa benar ucapan mereka??" Tanya Kana pada Krishan yang hanya menunduk menahan amarah. Dia ingin sekali mengamuk, tetapi kebutaannya benar-benar membuatnya semakin geram. Kini ia bahkan berdiri dibelakang istrinya sendiri, sesuatu yg ia tidak pernah bayangkan, dilindungi oleh perempuan.


"Biar aku yang jelaskan. Lihat ini.." Felix menunjuk berkas di tangannya. "Ini adalah surat pemindahan kekuasaan pimpinan Foldcury. Kau tahu apa Foldcury? Gudangnya kejahatan yang berkumpul disana. Narkoba, senjata ilegal, prostitusi. Apapun yang ilegal ada disini. Semua tunduk pada Foldcury, bahkan penguasa negara sekalipun!"


Kana terdiam. Dia pernah mendengar kalimat Felix dari orang-orang yang menganggap Yohan pembunuh berdarah dingin, monster, orang gila, dan masih banyak lagi. Tetapi, Krishan? Benarkah?


Kana melihat lagi ke arah Krishan yang hanya tertunduk. Menatap lelaki yang tidak membantah itu membuat Kana semakin yakin bahwa ucapan Felix adalah benar. Hati Kana merasa tergores dengan fakta baru ini.


"Yohan, kenapa kau menyembunyikan jati dirimu pada istrimu sendiri?? Hahaha, luar biasa. Aku sampai ingin terus tertawa!!" Tukas Felix kegirangan melihat apa yang didepannya.


Kana mengalirkan air mata sambil menatap suaminya. Luka luar biasa ia rasakan saat tahu Krishan membohonginya. Padahal jelas sekali ia terus bertanya tentang diri Krishan dan merasa banyak kebohongan yang ia bisa rasakan. Hanya saja, memikirkan Krishan adalah Yohan, tidak pernah ia bayangkan.


"Kau pasti tidak tahu, Yohan sampai membunuh banyak orang demi sebuah Foldcury! Kuakui kau memang hebat, Yohan. Setelah aku berhasil membuatmu kecelakaan, aku cukup puas. Tapi melihatmu buta? Aku lebih puaassss Hahahahah!!"


Krishan semakin mengepalkan tangan. Perasaan ingin menghantam dan membunuh Felix sudah diubun-ubunnya, tetapi dia sadar jika ia memberontak dengan keadaan selemah sekarang justru akan menyakitinya dan istrinya. Apalagi dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan pandangan gelap seperti itu.


Krishan menarik baju Kana yang membelakanginya. "Ayo, Jia."


Kana tak bergerak. Matanya terus menatap Felix yang masih tertawa puas. Entah mengapa rasanya menyedihkan sekali.

__ADS_1


"Jia.."


Kana berbalik, dia berjalan perlahan di sebelah Krishan. Air mata terus mengalir tak bisa ia tahan. Jika benar Krishan adalah Yohan, artinya noda darah yang kemarin ia lihat adalah darah orang lain. Krishan baru membunuh orang setelah menemuinya. Begitukah? Memikirkannya saja Kana tidak sanggup.


Bagaimana mungkin selama ini dia tidur dengan seorang pembunuh, bandar narkoba, juga ketua prostitusi? Krishan, dia menyamar menjadi orang lain, menipu dengan terlihat menyedihkan menjadi seorang pedagang bunga yang buta.


Kana mulai mengasihani dirinya yang tertipu telak oleh penjahat nomor satu itu.


Kana tak bicara sampai kaki mereka menginjak tanah di luar. Dia menangis tanpa suara, namun Krishan bisa merasakan itu.


PRANG!!


Kana reflek menunduk tersentak saat mendengar suara tembakan juga kaca pecah bersamaan.


Orang-orang di atas gedung berjatuhan dan sebagaian meluncurkan banyak tembakan ke arah luar pagar.


"Jia, tunduk!" Krishan menarik Kana dan mereka menunduk.


Kana menutup telinganya, tak kuat mendengar deretan suara tembakan di berbagai tempat.


"Kita harus bersembunyi!!"


Krishan menahan tangan Kana. "Jangan berdiri, kau bisa kena tembak."


Kana menolak saat lelaki itu ingin memeluknya untuk melindungi. Krishan terdiam dan mulai merasa sedih sesaat setelah menyadari penolakan dari istrinya.


"Jia.."


"Aaah." Kana menutup kepalanya saat tembakan menyasar ke tanah tepat di depan mereka. Dengan cepat Krishan memeluknya, melindungi istrinya.


Kana hanya diam. Dia juga tak bergeming di dalam dekapan Krishan. Dia masih terguncang dengan status suaminya itu.


Setelah suara tembakan berhenti, Kana mendorong pelan tubuh Krishan. Dia berdiri dan berjalan perlahan. Namun langkahnya terhenti saat banyak mobil masuk ke dalam halaman gedung itu.


Kana tak bergerak saat melihat banyak pria berjeket gelap keluar membawa senapan panjang. Mereka berlari masuk ke dalam gedung. Mata Kana menatap pada dua orang yang ia tandai wajahnya. Satu adalah yang datang ke hotelnya menemui Krishan waktu itu. Dan satu lagi, pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, David.


Mereka berjalan dengan beberapa orang dibelakangnya dan mendekat ke arah Kana dan Krishan.


"Maaf kami terlambat. Kami harus pastikan kalian keluar dari sana dulu supaya lebih leluasa menyerang." Ucap David lalu memberi salam pada Kana.


"Han, kau terlihat kacau. Kakak ipar, kau baik-baik saja?" Tanyanya pada Kana yang bahkan hampir tak bisa bernapas memikirkan fakta baru tentang kehidupannya.


David memanggilnya kakak ipar. Apakah dia keluarga Krishan? Pantas saja dia mudah sekali masuk ke perusahaannya. Padahal hampir tidak masuk akal jika dia diterima, tapi setelah tahu, Kana malah semakin terlihat menyedihkan. Dia mengira, kemampuannya memang baik untuk perusahaan itu.


Kana melangkah pergi, dia tidak ingin bergabung menjadi keluarga penjahat seperti mereka.


"Kakak ipar, mau kemana?" Daniel menghalangi langkah Kana. Dia berdiri di depan wanita yang wajahnya tampak sangat bingung dan kesal menjadi satu.


"Bawa istriku ke hotel. Jaga dengan ketat.." Krishan ingin mengancam, namun ia kini khawatir jika Kana tidak suka mendengarnya.


Kana akhirnya menurut saja karena tubuhnya pun sangat lelah. Menyaksikan kejadian hari ini sudah sangat menyiksa otaknya.


Sepeninggal Kana, Krishan masih berdiri dengan wajah geramnya. Bekas darah di kepalanya pun enggan ia bersihkan.


"Bawakan si sialan itu padaku." Titahnya dan mereka bersama-sama masuk ke dalam gedung.

__ADS_1


"Kuperintahkan untuk tembak, kenapa tidak kau tembak, bangsat!" Pekik Felix yang kedua tangannya di tahan oleh anak buah Krishan.


Orang yang dititah Felix membuka maskernya dan tersenyum cerah. Dia Evan, yang waktu itu sempat mereka hajar beramai-ramai karena ketahuan sengaja menjadi umpan.


Felix yang menyaksikan seluruh anggotanya terkapar bersimbah darah, mulai ketakutan apalagi saat melihat Krishan masuk bersama tiga sahabatnya tanpa tongkat, seolah dia telah menghapal letak gedung itu.


David meletakkan kursi di dekat Krishan, pria itu duduk dan langsung bersandar. Tanpa aba-aba, pasukan Krishan mendorong Felix ke bawah kaki tuan mereka.


"Ah, yang benar saja. Kami harus kehilangan banyak anggota demi mendapatkan berkas sialan ini." Tukas Daniel dan langsung menendang wajah Felix.


Lelaki itu tampak berusaha merubah raut wajah takutnya.


"Kau berani juga, Yohan." Ucap Felix sambil menghapus darah yang keluar dari hidungnya.


"Kalian bodoh, kenapa mau dipimpin oleh orang buta sepertinya!" Felix mencoba memprovokasi.


"Lihat, membela dirinya sendiri saja tidak bisa! Hahaha."


Bruk! Felix tersungkur, Daniel lagi-lagi menendangnya.


"Apa kau bisa membunuhku dengan matamu itu? Haha tidak, kau bahkan tidak tahu aku berada dimana. Hei, buta. Kau terlalu sombong. Pasanglah matamu selagi kau ingin membunuhku!"


Krishan berhasil terprovokasi. Dia tengah menahan keinginan untuk membunuh Felix.


"Bawa dia ke markas!" Titah Krishan yang dibuat bingung oleh Daniel.


"Kenapa? Kita akan menghabisinya, kan?"


Felix tertawa lebar. "Dia tidak bisa karena matanya buta. Dia bahkan tidak tahu kalau istrinya hampir kuperkosa hahaha."


BRUK BRUK BRAKK!!


David menghantam wajah dan tubuh Felix hingga ia terkapar.


"Jangan bunuh."


"Apa? Kau tidak ingin membunuhnya? Kenapa??" Pekik David.


"Aku akan membunuhnya langsung. Tapi nanti, setelah bisa melihat."


"Hahaha.." Felix yang sudah bersimbah darah masih bisa tertawa di atas lumuran darahnya.


"Aku akan sudah mati karena kelamaan menunggu orang buta bisa melihat." Ucap Felix.


"Bawa dia!"


Felix digotong keluar dari gedung. Jadwal eksekusinya akan segera ditentukan. Sementara Krishan masih duduk di tempatnya.


"Apa yang tengah kau rencanakan?" Tanya David.


"Hubungkan aku dengan Sherly. Aku akan mendapatkan kornea itu."


"Kau mau kembali padanya?" Tanya Daniel tak percaya. "Kau tidak bisa menipunya. Sherly akan menyuruhmu menandatangani perjanjian dan membuat video dirimu yang mengungkapkan janji sebagai bukti!"


Krishan tak menjawab. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya membalaskan dendamnya pada Arex juga Felix.

__ADS_1


Belum ada orang yang berani menyentuhnya sampai seperti ini. Krishan tengah menahan darah yang memanas dalam dirinya. Telinganya telah bising dengan jeritan Kana yang meminta tolong padanya namun ia yang lemah justru hanya pasrah. Kejadian tadi membuatnya tidak bisa menunggu waktu yang lama. Dia harus bisa melihat untuk segera menghancurkan Arex dan seluruh anggotanya.


__ADS_2