
Krishan membuatkan teh hangat untuk istrinya. Hari ini, dia dan Kana bercuti dan akan mengunjungi Inka setelah pulang dari rumah sakit.
"Kana.."
Kana menutup ponsel dan mendongak, melihat ke arah Krishan yang berdiri di depannya.
Eh tunggu, Krishan memanggilnya Kana?
"Kana.." Ucap Krishan lalu duduk di hadapan istrinya. "Kenapa sejak awal kau memberikan nama yang berbeda dari panggilanmu yang biasanya?"
"Apa itu mengganggumu?" Tanya Jia lalu meminum teh yang dibuat suaminya.
"Aku hanya penasaran. Apa kau memang sejak awal berniat lari dariku?"
Kana tergelak dengan wajah Krishan yang terlihat serius.
"Apa kita bisa pergi sekarang, nanti kau akan menemukan jawabannya."
Walau masih bingung, Krishan menurut saja. Dia menggenggam tangan Kana dan mereka menuju rumah sakit untuk cek kesehatan Kana sebelum ke rumah Ibunya.
Sesampainya di rumah sakit, perut Kana kembali di USG dan tampak raut puas di wajah dokter Margy.
"Syukurlah, miom sudah tidak ada lagi. Tapi, tetap jaga pola hidup sehat ya, Nona Kana. Kurangi alkohol, kalau bisa hindari. Makan sayur-sayuran dan buah." Ucap dokter Margy lalu memberi vitamin tambahan untuk Kana.
"Terima kasih, dokter. Lalu, apakah aku bisa punya anak?"
Krishan menatap Kana yang disampingnya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis mendengar ucapan itu. Sebab dia juga ingin punya keturunan dari Kana.
"Tentu bisa. Tidak ada masalah sama sekali."
"Ah, benarkah." Kana tersenyum cerah menatap suaminya yang sejak tadi masih memandang ke arahnya. "Kita bisa punya anak." Ucap Kana dengan berbisik sembari menggenggam erat jari Krishan.
"Terima kasih, dokter." Kana beranjak keluar dari ruangan dokter Margy.
Mereka berjalan saling bergenggaman tangan. Terus terang, Kana sebenarnya ingin bertanya pada dokter Margy mengenai hal yang belakangan menyangkut dipikirannya. Mengapa ia belum hamil juga padahal sudah lama berhubungan dengan Krishan tanpa pengaman. Apakah ada sesuatu yang membuat dirinya sulit hamil? Tapi dia merasa malu jika menanyakan itu di depan Krishan. Dia takut Krishan kecewa jika ternyata dia tidak bisa memberi Krishan keturunan.
"Jia.."
Kana menoleh pada suaminya.
"Memikirkan apa? Kenapa melamun?"
Kana memperhatikan sekitar. Ternyata dia sudah di depan mobil dan pintu juga sudah dibukakan oleh Krishan.
"Tidak, Krish. Kita ke rumah Ibuku, kan?"
__ADS_1
Krishan tersenyum lalu menangguk. Mereka masuk ke dalam mobil menuju rumah Inka.
Sesuai dengan alamat yang diberikan Alana, rumah Inka ternyata lumayan mewah. Halamannya luas, juga banyak bunga-bunga disana. Seingat Kana, mereka dulu memang sempat punya banyak tanaman. Itu artinya, ibunya itu memang pecinta tanaman. Tak seperti dirinya yang hanya menyukai saja, tetapi tidak tertarik untuk merawatnya.
Krishan mengetuk pintu beberapa kali sampai seseorang membukanya.
Mata Inka menangkap lelaki bertubuh tinggi berdiri dengan senyum hangat. Lalu Kana, anak semata wayangnya tengah bergenggaman tangan dengan lelaki yang ia mulai tahu, adalah menantunya.
Inka menatap Kana dengan nanar karena mengingat ucapan Inna Tunner bahwa anaknya kini tengah mengidap penyakit miom.
"Jia, masuklah."
Kana tersenyum menatap suaminya, lalu mereka masuk ke dalam. Syukurlah, dia sedikit takut tadi kalau ibunya akan mengusir mereka.
"Duduklah dulu. Aku akan membuatkan minum." Ucapnya dan langsung menuju dapur.
Krishan duduk sementara Kana berjalan melihat-lihat rumah Ibunya. Dia memperhatikan satu persatu foto yang berjejer di dinding. Semua foto-foto ibunya baik sekarang maupun dulu saat muda.
"Apa ada sesuatu sampai datang kemari?"
Inka datang membawa dua gelas teh dan meletakkannya di atas meja.
"Tidak. Aku hanya ingin mengenalkan suamiku pada Ibu." Kata Kana sambil duduk disebelah suaminya.
Inka menatap Krishan dengan seksama. "Apa kau bisa melihat? Bukankah kau buta?"
"Saya melakukan operasi." Jawab Krishan.
Inka mengangguk dan dia merasa lega dengan itu.
"Ibu, apakah tinggal sendirian?" Tanya Kana yang memang tidak tahu apa-apa tentang ibunya.
"Iya. Aku tinggal sendirian."
Kana tak bertanya lagi karena dia tahu mungkin ibunya memang sudah ditinggalkan suaminya.
"Lalu, Ibu Alana bilang, kau sakit.."
"Ah, iya. Tapi sudah sembuh." Jawab Kana sedikit canggung mengingat dia tak akrab dengan ibunya.
"Boleh aku ke toilet?" Kana berdiri, lalu Inka menunjuk arah kamar mandi.
Sepeninggal Kana, Inka terus memperhatikan menantunya yang memang sangat tampan dan gagah.
"Apa kau benar-benar mencintai Jia?"
__ADS_1
Krishan tersenyum saat nama itu disebut. "Saya sangat mencintai Jia, Bu."
Inka mengangguk, dia memang melihat lelaki di depannya seperti orang yang baik-baik dengan senyum hangatnya.
"Tolong jaga dia. Aku sudah melewatkan kesempatan bagus dalam hidupku untuk merawat anakku satu-satunya demi kesenangan sendiri. Kuharap kau bisa membahagiakan anakku." Ucap Inka dengan nada menyesal karena tidak tahu bagaimana tumbuh kembang Kana selama ini. Dia sadar bahwa dia memang ibu yang jahat.
"Saya akan menjaganya bahkan sampai ujung nyawa saya."
"Ah.. begitu, ya." Inka sedikit kaget dengan jawaban Krishan yang sampai mengatakan hal semacam itu.
Sementara di tempat lain, Kana tidak benar-benar menuju toilet. Dia masuk ke kamar Inka. Memperhatikan fotonya sewaktu kecil yang menggantung di dinding kamar itu. Dia menahan air matanya. Selama ini Kana yakin, tidak ada ibu yang mampu melupakan anaknya. Walau dia sangat kecewa, tapi melihat banyaknya foto dirinya yang terpampang di kamar Inka, membuatnya sedikit terharu.
Tidak hanya foto kecilnya. Entah dari mana Inka mendapatkan foto Kana yang sekarang. Juga foto dirinya saat berdiri di belakang kasir ketika bekerja di kafe dulu.
Kana keluar dari kamar menuju dapur untuk melihat isi kulkas dan lainnya. Tidak banyak bahan makanan di dalamnya dan sepertinya ucapan ibunda Alana benar bahwa ibunya sudah mulai kesulitan dalam ekonomi.
Percakapan Krishan dan mertuanya terhenti saat melihat Kana muncul.
"Bisa kita pergi, Krish?" Kata Kana tanpa duduk.
"Sudah mau pulang? Aku belum menyiapkan makanan.."
Kana tersenyum tipis. Dia tahu stok makanan yang ada di dapur Inka.
"Tidak apa. Aku ingin mengundang ibu makan malam. Ibu akan dijemput jam 7. Bersiaplah." Ucap Kana dengan senyuman.
Krishan berdiri dan menggandeng tangan istrinya keluar dari sana.
Sean membukakan pintu mobil, membuat Inka mengerutkan dahi dan bertanya-tanya, kenapa Kana memiliki mobil mewah juga pengawal segala.
Kana berhenti sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Ah iya, aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening ibu."
"Apa? Dari mana kau..."
"Rekening? Itu bukan hal yang berat bagiku." Ucapnya lalu melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil.
Inka tertegun di tempatnya. Walau dia sendiri tidak tahu apa yang membuat anaknya berubah seperti itu. Padahal baru kemarin Kana mengatakan kalau dia menyesal telah dilahirkan dari rahimnya dan sekarang, Kana malah memperlakukannya seperti ini.
Setelah mobil menghilang dari pandangannya, Inka langsung mengecek saldo rekeningnya dari ponsel dan dia menganga, Kana mengiriminya 250juta rupiah.
"J-jia.." Inka menutup mulutnya yang terbuka. Tak menyangka dengan uang sebanyak itu diberikan Kana untuknya. Dia mulai menangis. Rasa menyesal dalam hatinya kini mulai sangat dalam terasa.
Dia mengadahkan wajah menatap langit, "terima kasih sudah mendidik anak ini dengan sangat baik." Ucapnya lalu menghapus air mata. Dia mengakui bahwa suaminya, memang lelaki yang sangat baik.
__ADS_1