
"Krish.."
Kana menyarkan kepala sembari menatap Krishan yang ikut tunduk menatapnya. Mereka kini sudah di dalam mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang.
"Kau harus dihukum, Jia. Kau berjalan sendirian tanpa pengawal dan tiba-tiba sudah mabuk saja."
"Aku tidak suka diikuti." Jawabnya dengan cemberut.
"Itu semua demi kebaikanmu, sweetheart. Untung Alana meneleponku. Kalau tidak?"
Kana menatap suaminya dengan bibir yang manyun. Dia tidak bisa membantah kalau sudah menyangkut keselamatan dirinya, mengingat saat tadi dia dibuntuti oleh Adam dan bertemu Danny.
"Jadi, kau mau menghukumku?"
"Ya, kita tidak akan bekerja selama 3 hari dan kau harus terus berada disampingku. Untuk kedepannya, aku yang akan mengantarmu kemanapun kau pergi."
Ah, ini tidak baik. Batin Kana.
"Mmmhh.." Kana tak menjawab ucapan suaminya. Dia membungkamnya dengan bibir lalu menerobos dengan lidahnya. Hal semacam itu disukai Krishan. Jadi, dengan melakukan itu saja, Kana yakin Krishan tak akan lagi marah.
Suara decapan kian terdengar saat Krishan membalas ciuman istrinya. Krishan mengangkat Kana duduk di atasnya. Lalu mulai menggerayangi tubuh gadis itu.
"Cepat cari hotel terdekat!" Titahnya pada Sean yang berada dibalik kemudi. Rasanya dia tidak bisa lagi menahan jika Kana sudah memulainya. Malam ini, dia akan menghabisi istrinya sendiri.
~
Krishan sebenarnya tidak ingin melepaskan ciumannya saat masuk ke dalam kamar. Hanya saja wajahnya yang sudah tampil di berbagai macam media membuatnya harus menjaga sikap. Lalu dia masuk sendiri ke dalam kamar saat istrinya pamit sebentar entah kemana.
Suara pintu terbuka tertangkap di telinganya. Krishan mendapati Kana membawa satu botol bir dan dua kaleng bir di pelukannya.
"Sweetheart.."
"Krish, kita lanjutkan pestanya."
Kana meletakkan botol-botol itu diatas meja lalu menarik tangan Krishan untuk duduk di atas sofa.
"Aku belum pernah minum denganmu." Nada bicara Kana dibuat manja, supaya Krishan mau minum bersamanya.
"Kau pasti lelah dengan gosip yang beredar, kan. Makanya, minumlah saat bersamaku."
__ADS_1
Krishan malam menatapnya dengan wajah khawatir. Kana tahu apa yang dipikirkan suaminya. Dia baru saja sembuh dari penyakit dan hanya disuruh membatasi minuman, bukan menghentikan selamanya.
"Kita pernah minum bersama di hotel dekat pantai. Kau ingat? Sekarang, kita tidur saja."
Kana tak mendengarkan suaminya. Dia memutar botol wine lalu menuangnya secara perlahan.
"Aku tahu apa yang kau khawatirkan, Krish. Aku tidak apa-apa."
Tukasnya lalu menyerahkan satu gelas wine untuk Krishan.
"Apa ada sesuatu, Jia?"
"Hm, aku bertemu Danny."
Krishan meletakkan wine yang diberikan Kana, memutar tubuh wanita itu menghadap ke arahnya.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Kana menggeleng, "dia mengajakku bekerja sama untuk menghancurkanmu."
Terlihat kebingungan di wajah Krishan. Nampaknya diapun belum tahu.
"Dia tidak tahu kalau kita sudah menikah. Dia mengira pasangan yang kau katakan saat pidato itu adalah Sherly. Jadi, dia akan balas dendam pada wanita itu." Kana menyesap anggur di tangannya.
Krishan menggelengkan kepala. "Dia menonaktifkan ponselnya. Sepertinya dia bersembunyi untuk melakukan rencana ini. Aku sudah membungkam dan mengancam semua media yang menayangkannya."
Kana mengangguk lambat. "Soal Arex bagaimana, Krish?"
"Dia juga lari keluar negeri. Kami berhasil menangkap beberapa anak buahnya yang masih berkeliaran. Tapi tebakanku, tangan kanannya masih berkeliaran disini."
"Dia punya tangan kanan?"
"Hm, begitu kata Felix. Tapi dia juga tidak tahu orangnya. Dia adik Arex."
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa Arex sampai membuatmu celaka?"
"Jia.." Krishan menggenggam kedua tangan istrinya. "Tolong katakan padaku jika kau bertemu Danny lagi, atau apapun yang membuatmu takut. Lalu, kedepannya aku yang akan bersamamu kemanapun kau pergi."
"Krish, kau tidak menjawab pertanyaanku."
__ADS_1
Krishan menatap mata istrinya. Kali ini, ia bisa melihat wajah Kana yang diam menunggu jawaban. Sementara otaknya tengah memikirkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakannya pada Kana. Hal semacam ini membuatnya trauma kehilangan Kana.
"Aku akan cerita, tapi janji kau tidak meninggalkanku lagi, kumohon."
Genggaman Krishan yang semakin kencang membuat Kana tahu, itu adalah hal besar yang ia simpan rapat selama ini.
"Sesuatu yang terjadi di masa lalumu, tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Krish. Aku janji."
Mendengar jawaban Kana, Krishan pun perlahan mengambil napas dan mulai menceritakannya.
"Jia, Foldcury yang pernah kukembangkan pada awalnya milik tuan Stafanus. Dia adalah bosku waktu itu. Saat itu Foldcury sedang berada di titik terbawah. Lalu aku membantu Stefanus membangkitkan lagi dengan janjinya yang akan memberikan separuh saham Foldcury padaku. Tapi setelah kubantu, dia tidak menepati janjinya hingga membuatku dan bawahanku kecewa."
"Lalu, hubungannya dengan Arex?"
"Dia.. anak Stefanus. Aku membunuhnya."
Kana reflek menarik tangannya dari genggaman Krishan, dan itu membuat Krishan tertegun dan langsung menggeser duduknya lebih mendekat.
"Jia, aku tidak melakukannya dengan sembarang. Dia bukan orang biasa. Stefanus bisa membunuhku duluan jika dia melihatku memberontak."
Krishan menarik tangan Kana lagi, menatap mata wanita yang kini menatapnya dengan takut.
"Jia, jangan menatapku seperti itu, kumohon. Itu masa lalu dan aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Krishan dengan hati yang tak tenang melihat perubahan istrinya.
Kana mencoba mengatur detak jantungnya yang masih terkejut dengan ucapan Krishan. Padahal dia sudah pernah dengar itu dari orang lain, bahwa Yohan mudah saja menghabisi nyawa orang. Tetapi mendengarnya langsung dari mulut Krishan ternyata lebih menakutkan.
"Jia, aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku ingin hidup normal bersamamu, aku juga ingin hidup tenang. Setelah urusan Sherly dan Arex selesai, aku yakin tidak akan ada gangguan yang sama seperti itu."
"A-aku mengeti, Krish. Aku ingin tidur." Kana berdiri dan langsung naik ke atas tempat tidur. Tubuhnya membelakangi Krishan. Dia sedikit takut, apakah suatu hari jika dia menyakiti hati Krishan, bisa bernasib sama dengan orang yang sudah dibunuh Krishan. Ingin dia bertanya sudah berapa orang yang Krishan bunuh, tapi dia juga takut mendengar jawabannya. Ah entahlah, Kana mulai memejamkan mata dengan hati yang resah. Namun jauh dari lubuk hatinya, dia tahu Krishan bersungguh-sungguh dalam menyayanginya dan terlihat tidak akan menyakiti dirinya.
Lengan besar terasa menghimpit di pinggangnya. Krishan sudah berbaring di belakangnya, memeluk dirinya dari belakang. Kana memejamkan mata saat napas hangat Krishan terasa di tengkuk lehernya.
"Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku, Jia. Aku sangat mencintaimu. Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia." Bisiknya di belakang Kana, sambil menempelkan hidungnya di tengkuk gadis itu.
"I-iya, Krish.."
Krishan membalikkan tubuh Kana menghadapnya. Dia bisa mendengar suara Kana yang tercekat.
"Jia, kau takut padaku?"
__ADS_1
Kana tak menjawab. Dia memang agak takut tadi, tapi keyakinan dalam hatinya akan Krishan sudah lebih dominan.
"Jia, sorot matamu, aku sangat bisa melihatnya. Tatap aku dengan cinta seperti biasa Jia." Pinta Krishan dengan memohon.