
Kana pulang ke rumah bersama pengawal. Dia menolak tawaran suaminya untuk pulang bersama karena tidak ingin mengundang curiga orang-orang satu kantor.
Dia duduk di sofa, membuka sepatu sambil memutar pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.
Lain kali dia akan protes kalau Krishan akan mengikat tangannya lagi pakai tali pinggang.
Mata Kana menangkap Krishan sudah bersandar di pintu kamar menatap ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya Krishan sambil berjalan ke arahnya.
Belum menjawab, Krishan meraih tangan Kana lalu mengelusnya dengan lembut.
"Apa aku mengikatnya terlalu kencang?"
Kana hanya tersenyum melihat wajah bersalah Krishan.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin.."
"Tidak apa, Krish. Lakukan saja apa yang membuatmu puas." Kata Kana sembari mengelus rahang tegas lelaki itu.
"Aku akan melakukannya, tapi kau juga harus bilang jika itu membuatmu tidak nyaman."
Kana mengangguk dan seketika Krishan menggendong tubuhnya.
"Krish!" Refleks tangan Kana melingkar di leher Krishan.
"Sudah lama aku ingin melakukan ini." Ucapnya sembari membawa Kana menuju kamar. Disudut lain, Marry tengah tersenyum senang melihat kedua pasangan itu.
~
"Krish, bisa aku minta sesuatu padamu?" Tanya Kana sambil menggosok perlahan punggung Krishan. Lelaki itu ingin melakukan apa saja yang mereka pernah lalui berdua saat Krishan buta. Kini, dia ingin mandi bersama Kana di bathup seperti waktu itu.
"Bukan sesuatu, Jia. Tapi semuanya. Apapun itu, katakan."
Kana tersenyum lalu menyiram tubuh Krishan dengan lembut, mengakhiri mandi mereka.
"Aku pernah bilang padamu, kan, kalau aku bertemu dengan Noah dan sudah menyelesaikan segala urusanku dengannya." Kana menghanduki Krishan, membantunya mengelap wajah dan dada bidangnya.
"Lalu?"
Kana mengikuti Krishan keluar kamar mandi, yang kemudian meneguk air di atas meja.
"Jadi, bisakah kau mempekerjakannya kembali.." Kana mengatakan secara perlahan supaya Krishan tidak marah. "Please." Tambah Kana lagi.
__ADS_1
Krishan menatap istrinya lalu duduk di tepi tempat tidur dengan pinggang yang masih berbalut handuk.
"Kenapa?"
Kana duduk disebelah Krishan, menggenggam tangan lelaki itu.
"Dia sudah 6 tahun bekerja di perusahaanmu, Krish. Sejak awal saat perusahaanmu belum begitu berkembang. Dia sangat frustrasi kehilangan pekerjaan itu. Dia sangat mencintai pekerjaannya."
Krishan melihat Kana dengan tatapan menyidik. "Alasan lain? Kenapa kau sampai seperti itu padanya?"
Kana menarik napas. Bagaimana cara mengatakannya pada Krishan agar dia tidak marah.
"Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Bahkan saat berpisah denganku pun, dia tidak segila itu. Lagi pula, aku pernah bilang padamu, aku sudah menganggapnya seperti saudara, kau ingat?"
"Dia sudah membuatku marah."
Kana menangkup kedua pipi Krishan, menatap wajahnya dalam-dalam.
"Krish, sejujurnya Noah sering membantuku saat aku kesusahan dulu. Dia sering memberiku uang dan membelikan kebutuhanku dengan gaji yang ia dapat di perusahaanmu."
Kana melihat Krishan masih diam mendengarkan, raut wajahnya juga sudah mulai menghangat saat ia bercerita tentang kebaikan Noah padanya.
"Aku tahu kau tidak suka karena kejadian waktu itu. Tapi itu sudah lewat dan aku baik-baik saja sekarang bersamamu dan mencintaimu lebih dalam karena masalah yang kita hadapi bersama." Jelas Kana meyakinkan.
"Tergantung bagaimana caramu memperlakukanku malam ini." Bisiknya dan langsung menyesap bibir Kana. Krishan membuka jubah mandi Kana lalu membuka handuknya.
Krishan duduk bersandar lalu menepuk pahanya. "Sini." Titahnya.
Kana duduk menghadap Krishan dengan tubuh mereka yang sudah tak berkain sehelaipun.
Krishan menciuminya sampai Kana merasa sulit mengambil napas. Entah mengapa, Krishan yang bisa melihat ini lebih ganas dari Krishan yang buta.
Perlahan Kana mengangkat tubuh untuk memasukkan benda berharga Krishan ke dalamnya. Kana melenguh saat kedua pusat kenikmatan itu menyatu dengan sempurna pada posisi Kana yang duduk di atasnya.
Aah, Kana tidak tahu bahwa posisi ini membuatnya gila. Sungguh, inti tubuh Krishan benar-benar menyentuh titik nikmat itu dengan sangat sempurna.
Krishan membimbing Kana untuk menggerakkannya sesuai keinginan wanita itu, sebab apa yang Kana rasakan, Krishan ikut merasakannya.
Dia bisa dengan jelas melihat Kana yang menganga dan memejamkan mata. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata karena kenikmatan yang sedang ia rasakan.
"Kau suka?" Bisik Krishan di wajahnya. Wanita itu membuka mata, lalu menciumi bibir Krishan dengan lahapnya. Membuat Krishan tersenyum nakal karena kini, istrinya benar-benar terasa buas dan dia sangat menyukai itu.
"Ini akan menjadi posisi favoritku." Bisiknya pada Kana yang menggerakkan pinggulnya dengan wajah yang tak bisa digambarkan.
__ADS_1
Krishan langsung mengubah posisi tanpa melepas penyatuan mereka. Kini, dia mengungkung Kana yang tampak sudah lelah mendominasi permainan. Sekarang, giliran Krishan yang akan membuat Kana semakin mengerang hebat karena nikmatnya yang Krishan berikan padanya.
...☆★☆...
"Kana, ada apa?" Tanya Noah saat baru duduk di tempatnya.
Kana memintanya datang malam itu dengan alasan yang sangat penting.
"Sudah dapat pekerjaan?" Tanya Kana dan Noah menggelengkan kepala. Akan sulit mendapat pekerjaan setelah dipecat dari salah satu perusahaan Kgroup.
Kana menyerahkan satu amplop putih pada Noah.
"Apa ini?"
"Bukalah." Ucap Kana penuh senyuman.
Noah terbelalak mendapati ID Card miliknya dan juga sebuah surat. Surat pencabutan pemecatan yang artinya Noah diterima lagi di Shinprise.
"K-kana, kau dapat darimana ini?"
"Tidak penting dapat darimana, yang penting kau sudah bisa masuk kerja besok." Ucap Kana penuh semangat.
Noah memeriksa surat itu. Nama dan logo perusahaan, juga tanda tangan ketua Yohan juga dibubuhkan disurat itu.
"Itu asli. Aku tidak mungkin membuat surat palsu." Kata Kana yang menyadari tatapan Noah pada surat itu.
"Iya, aku tahu ini asli. Tapi, bagaimana kau bisa.."
"Pokoknya, selamat bekerja kembali di Shinprise, Noah. Kuharap kau senang dan jangan frustrasi lagi."
Kana berdiri, sementara Noah masih memandang kertas itu di tangannya.
"Aku hanya ingin menyampaikan itu."
Noah ikut berdiri dan mengikuti Kana sampai di depan mobil.
"Sampai jumpa besok." Kana melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh seorang pengawal.
"Sudah?" Tanya Krishan yang menunggu di dalam mobil.
Kana mengangguk. "Terima kasih, Krish." Kana mengecup bibir Krishan, lalu menyadarkan kepalanya di dada pria itu.
Sementara Noah masih menatap bingung pada mobil hitam mewah yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia sedikit terkejut saat Kana masuk ke dalam mobil itu. Sejak kapan Kana punya mobil dan pengawal? Dia juga melihat seseorang yang menunggu Kana di dalam mobil, hanya saja ia tak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Entahlah, Noah mulai tersenyum menatap kertas di tangannya. Untunglah, akhirnya dia bisa kembali bekerja seperti sedia kala.
__ADS_1
TBC