Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
New Store


__ADS_3

"Krish.."


Kana masuk saat Daniel dan David baru keluar dari ruangan. Dia langsung duduk di sebelah suaminya.


"Aku dengar dari Sean kalau Sherly sudah ditangkap?"


"Iya, sweetheart. Nanti aku akan kesana."


"Aku ikut, Krish. Aku ingin melihatnya."


"Daripada itu, Jia. Sebaiknya kita pergi melihat toko perhiasanmu yang hampir selesai."


Mata Kana berbinar mendengarnya, "kau sudah membangunnya? Aku pikir baru rencana saja."


Krishan membelai rambut istrinya yang cepat sekali melupakan permintaannya barusan.


"Semua yang kukatakan padamu bukanlah omong kosong, sweetheart. Kita pergi sekarang?"


Kana mengangguk cepat dan langsung berdiri. Krishan merangkul istrinya sembari keluar ruangan dan menuju lift.


"Eh, tapi.. kita pergi sendiri-sendiri saja." Kata Kana sambil melepas rangkulan suaminya.


"Baiklah, aku keluar duluan. Aku tunggu di dalam mobil."


TING


Pintu terbuka dan Sean ada di dalam lift.


"Tuan, anda mau pergi kemana?"


"Ke Kanazya Jewells. Kau duluan, sayang."


Kana masuk ke dalam lift, dia tersenyum manis sambil melambaikan tangan pada Krishan hingga pintunya tertutup.


"Ah.. manisnya.." gumam Krishan yang masih menatap ke arah pintu lift. "Aku beruntung kan, Sean. Aku mendapat istri yang sangat baik dan cantik."


"Sangat beruntung, tuan. Nona Jia sangat cantik."


Krishan langsung nenoleh pada Sean di sebelahnya. "Kau baru saja memuji istriku, Sean." Tukas Krishan panas.


"Ah, maaf. Maafkan saya, tuan." Sean memilih mengalah dan menunduk sebagai penyesalan kata yang dia ucapkan walau sebenarnya ia tidak merasa bersalah. Dia kan, hanya menjawab saja. Pikirnya.


"Sudah, ayo cepat ke basement."


Mereka pun menuju tempat parkiran mobil. Krishan menunggu istrinya beberapa menit, namun tak juga muncul.


"Sean, kenapa lama sekali?"


"Apa perlu saya jemput, tuan?"


"Ya, jemput sana."


Baru Sean membuka pintu, Kana muncul dengan mengendap, menoleh kesana kemari seperti dintai.


Kana masuk ke dalam mobil lalu bernapas dengan lega.

__ADS_1


"Jia, ada apa?" Tanya Krishan kebingungan.


"Aku takut ada yang melihatku masuk ke dalam mobilmu, Krish. Ayo, jalan."


Mobilpun berjalan keluar dari gedung Shanprise menuju gedung yang sudah dibeli Krishan untuk toko istrinya.


"Krish, apa orang-orang disana tahu kalau akulah Kanazya?"


Krishan merangkul istrinya. "Mereka akan segera tahu."


"Tapi.. aku tidak ingin diketahui sebagai istrimu."


"Lihat saja nanti, sweetheart."


Sesampainya disana, Krishan dan Kana sudah disambut deretan wanita dan pria yang memakai seragam berwarna putih.


Mereka menunduk saat Krishan dan Kana keluar dari mobil.


Wajah Kana bersinar menyaksikan mereka yang kini berdiri di depan gedung besar dan namanya ada di atas gedung itu.


"Selamat datang di Kanazya Jewels, Nona Kana." Sambut seorang wanita yang berdiri paling depan.


"Saya ditugaskan sebagai manager di toko Nona Kana." Lanjutnya lagi.


"Krish, dia tahu aku?" Bisik Kana pada Krishan.


"Tentu. Pegawai harus mengenal bosnya." Balas Krishan.


"Seperti yang sudah menjadi aturan bagi kami, bahwa kami dilarang memberitahu siapa pemilik asli dari toko ini." Tukas wanita itu dan Kana mengangguk-angguk lalu tersenyum menatap suaminya.


"Terima kasih, Krish." Ucapnya dan Krishan mengecup singkat bibir Kana.


Kana menoleh, wanita itu memberikan gunting yang dihiasi pita. Lalu tangannya mengarahkan pada pita yang berada di depan pintu.


"Krish, benarkah?"


Krishan mengangguk. "Ini adalah tokomu, sayang. Milikmu. Jadi kau yang harus meresmikannya untuk pertama kali. Aku akan meresmikan ini ke publik dua hari lagi supaya segera dibuka."


Kana berdebar. Kini dia akan memiliki satu usaha yang bukan main besarnya. Pemberian dari suami tercintanya.


Kana menggunting pita itu, diiringi tepuk tangan meriah dari karyawan disana. Beberapa orang memotret Kana.


"Ayo, masuk." Krishan menggaet pinggang Kana masuk ke dalam toko besar itu.


Kana menganga, design-nya sangat indah dan mewah. Deretan steling kaca dan jejeran perhiasan sudah ada di dalamnya.


"Kau suka?"


Kana dengan cepat mengangguk. "Krish.. aku suka sekali." Ucapnya dan memeluk suaminya. Rasanya sangat bahagia memiliki suami seperti Krishan.


"Sekarang, pergilah berkeliling. Jika kau suka, kau boleh ambil sesukamu. Tempat ini milikmu."


Kana mencium pipi Krishan lalu didampingi beberapa orang melihat-lihat perhiasan yang terpampang. Sesekali ia ternganga saat melihat harga perhiasan itu.


"Sean."

__ADS_1


"Ya, tuan."


"Bagaimana wanita itu?"


"Dia menolak bicara, tuan. Katanya, dia hanya akan buka mulut jika tuan yang datang kesana." Jelas Sean.


Krishan tak menyahut. Dia memang akan kesana karena ingin mendengar langsung dari mulut wanita itu. Tetapi dia tak ingin istrinya itu ikut. Dia takut lidah Sherly yang beracun itu akan membuat Kana bersedih lagi nantinya.


~


"Krish, kau mau kemana memangnya?" Tanya Kana saat sudah berada di dalam mobil. Krishan bilang dia akan mengantar Kana ke kantor lebih dulu.


"Aku ada urusan, Jia." Jawabnya kemudian mengecup tangan Kana yang ia genggam.


"Urusan apa? Apa kau mau bertemu Sherly? Aku bilang, aku mau ikut kalau kau kesana."


"Jia, ada yang ingin aku urus sebentar.."


"Hei, Sean. Katakan dengan jujur, apa kalian mau ketemu wanita itu??" Mata Kana tajam menatap Sean.


Sean tergagap, sesekali dia melirik bosnya dari spion depan.


"Cepat jawab. Kalian mau kesana, kan?"


Sean tak berani menjawab, dia juga tahu wanita disebelah Krishan itu punya kuasa yang sama dengan suaminya. Jika wanita itu membencinya, dia juga bisa tersingkirkan.


"Jia, iya, aku hendak kesana." Jawab Krishan cepat.


Kana melihat Krishan dengan tatapan malas. "Kau mau membohongiku lagi, Krish?"


"Bukan begitu, Jia. Wanita itu berbahaya. Jadi aku.."


BRUK!!


Krishan menahan dirinya dengan satu tangan ke sandaran kursi depan akibat tubrukan dari belakang mobil. Untunglah Kana berhasil ia dekap dengan tangan lainnya hingga tidak membuat wanitanya terjatuh.


"Jia, kau tidak apa-apa?"


"Ti-tidak.." jawabnya dengan nada gemetar karena syok atas guncangan yang terjadi.


"Tuan, ada yang menabrak kita dari belakang." Sean keluar dari mobil dengan satu tangan menggenggam ponsel dan menempelkan ke telinganya.


"Sweetheart, jangan keluar. Tetaplah disini." Ucap Krishan yang melihat segerombol orang keluar dari minibus hitam dibelakang.


"Krish, ada apa?" Tanya Jia panik.


"Hanya kecelakaan biasa, sayang." Jawabnya mencoba menenangkan Kana walau dibelakang mobilnya terlihat wajah orang-orang yang kurang bersahabat.


Krishan menangkup kedua pipi Kana dengan tangannya. "Jia, dengar aku." Ucap Krishan sambil sesekali menoleh ke belakang mobil. "Berjanjilah jangan lihat kebelakang."


"Ada apa, Krish?" Krishan langsung menahan kepala Kana yang ingin menoleh ke belakang.


"Sekali ini saja, Jia. Turuti permintaanku. Berjanjilah jangan lihat kebelakang." Kata Krishan lagi sambil menatap mata Kana dalam-dalam.


Melihat wajah Krishan yang tenang, membuat Kana menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku akan keluar sebentar. Kunci pintunya lalu duduk tenanglah disini. Kau mengerti, sweetheart?"


Kana mengangguk walau hatinya penuh keraguan. Sebenarnya.. Apa yang ingin dilakukan Krishan? Bukankah dibelakang seseorang menabrak mobil mereka?


__ADS_2