Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
a little hope


__ADS_3

Krishan tampak berpikir. Dia menatap kosong ke depannya. "Entahlah. Aku lupa. Bisa saja aku salah karena terlalu banyak mendengar macam suara."


"....tapi, Adam? Rasanya memang aku pernah mendengar suaranya sebelumnya."


DEG!


Kana mengepal kuat tangannya. Benarkah, Adam, satu-satunya suara yang belum pernah Krishan dengar sebelumnya.


"Kau.. mendengar suara itu, dimana?" Tanya Kana dengan nada yang sedikit bergetar. Dia menahan dirinya dari emosi yang bergejolak.


"Mungkin sebelum kecelakaan." Krishan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat, Jia. Memangnya kenapa?"


Kana menggigit bibirnya. Sebelum kecelakaan, katanya? Ah, sedikit saja lagi, dia pasti bisa menangkap orang yang telah mencelakai suaminya. Kana mengatur napas dan menenangkan diri sebelum mengeluarkan suara. Dia tak ingin Krishan curiga.


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


Krishan mengangguk lambat. "Pergilah, temani teman-temanmu." Ucap Krishan lalu merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Kalau ada sesuatu yang kau inginkan, panggil saja aku."


Kana keluar dari kamar dan mendapati Bastian berdiri tak jauh darinya. Pandangannya naik menatap bingkai foto yang tergantung di dinding berwarna putih itu.


"Bas?"


Bastian langsung menoleh, dia terlihat agak canggung setelah kedapatan memperhatikan foto pernikahan Kana dan Krishan disana.


"Ah, aku.. melihat foto perniakahanmu." Ucapnya dengan sedikit kaku.


Kana tersenyum lebar dan ikut berdiri menatap fotonya.


"Kami menikah dengan sederhana dan tidak mengundang siapapun. Hanya Alana."


Bastian mengangguk lambat, lalu kepalanya menoleh ke arah dimana Alana dan Adam tengah asyik bercanda.


Kana ikut memperhatikan, dia melihat gurat sedih di wajah Bastian.


"Alana sedang jatuh cinta, nampaknya."


Bastian menoleh pada Kana yang seakan tahu apa yang ia pikirkan.


"Tak apa. Dia sudah minta maaf padaku." Kata Bastian.


"Aku juga akan meminta maaf padanya." Lanjut Kana kemudian terdengar helaan napas dari mulutnya.


"Itu lebih baik. Kuharap dia tidak melakukannya lagi setelah ini." Sambung Bastian dan mendapat anggukan dari Kana.


"Ayo, kita makan siang." Ajak Kana pada Bastian. Dia berjalan menghampiri Alana dan Adam, lalu mengajak mereka duduk di atas meja makan yang sudah tersedia banyak hidangan.


"Wah, terlihat enak." Alana mulai mengisi makanan di atas piringnya. Begitu juga yang lain.


Alana dan Adam tampak seperti biasa. Berbeda dari Bastian dan Kana yang saling pandang.

__ADS_1


Kana sebenarnya sangat enggan memulainya, meminta maaf pada Adam yang kecurigaannya semakin meningkat setelah mendengar ucapan Krishan.


"Ehm.." Kana memulai pembicaraannya.


"Adam, maafkan aku. Aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak."


Adam meletakkan garpu dan pisaunya, mendengarkan kalimat Kana yang nampaknya belum selesai.


"Aku.. menuduhmu tanpa bukti. Dan semua hanya salah paham. Kuyakin kau bukan orang yang seperti itu." Kana menggoyang-goyangkan kakinya dibawah meja tanda dia hanya ingin pembicaraan ini cepat selesai.


"Iya. Aku mengerti. Aku juga minta maaf jika sudah membuatmu merasa tidak nyaman." Tukasnya.


Kana mengangguk dan senyuman lebar terukir di wajah Alana.


"Begitu, dong. Kalian berdua orang terdekatku. Jadi, jangan saling bermusuhan. Aku tidak suka." Sambung Alana yang langsung menaikkan tangannya dengan segelas anggur merah.


"Mari bersulang."


Mereka semua menyambut Alana dengan dentingan gelas. Suasana masih agak canggung walau Alana dan Adam sudah sangat biasa.


Kana menatap interaksi dua orang itu. Alana dan Adam terus menertawakan sesuatu yang di telinga Kana sangat tidak lucu. Dia terus memperhatikan keduanya dengan seksama sembari memutarkan wine di gelasnya.


Kana meneguk anggurnya dan mendapati Bastian juga tengah memperhatikan dua orang itu dari kaca gelasnya.


Kana menurunkan gelas, menatap Bastian yang lalu menoleh padanya. Bastian tersenyum kecil lalu meneguk anggurnya. Bastian, apakah dia menyukai Alana dan tengah merasa cemburu sekarang? Ah, entahlah. Suasana ini sangat aneh. Acara yang seharusnya diramaikan oleh empat orang, hanya diisi oleh dua orang itu.


Kana menyendokkan buah ke mulutnya. Bagaimana jika Alana tahu siapa Adam sebenarnya. Apakah dia akan memohon dan menangis pada Kana sembari meminta maaf? Entahlah. Kana hanya penasaran kedepannya seperti apa sambil berharap semoga itu tidak terjadi, supaya Alana tidak sakit hati.


Aroma anggur membuat suasana hati Kana lebih baik dari saat ia melihat Alana dan Adam seperti tadi. Ada rasa cemburu dan sedih melihat keakraban itu. Apalagi Alana lebih memilih Adam ketimbang dirinya.


Alana, sahabatnya sejak dulu, sekarang lebih memilih Adam yang baru ia kenali. Alana sampai rela tak memaafkannya sampai ia yang meminta maaf pada Adam. Sungguh menjengkelkannya.


Pandangan mata Kana naik melihat keatas, dimana kamera tersembunyi ada disana. Dari situlah, dia akan melihat pergerakan aneh yang mungkin saja tidak ditangkap mata Kana secara langsung.


"Nona.."


Sean datang membuyarkan lamunan Kana.


"Hari ini tuan Krishan harus datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin."


"Benarkah? Baiklah, aku akan siap-siap."


Kana dengan hati-hati membuka pintu kamar dan mendapati Krishan tertidur di atas sofa.


Kana duduk perlahan disebelahnya. Matanya tak lepas dari wajah Krishan yang sendu. Lihatlah pria itu, saat tidurpun wajahnya masih terus bersedih. Kana merasa sangat bersedih setiap kali melihat Krishan seperti ini. Tak ada lagi keceriaan yang dulu sering menghiasi rumah tangga mereka. Walau Krishan tersenyum, namun Kana tidak melihat itu seperti sebuah kebahagiaan yang nyata.


"Krish, apa perlu aku memberikan mataku untukmu?" Entah mengapa, gumaman itu keluar begitu saja dari mulutnya saat hatinya merasa tersayat jika Krishan menunjukkan wajah sedunya. Kana sangat mengiba.


Dia mengelus lembut rahang kokoh Krishan. Pria di hadapannya ini, kini seperti tak punya kehidupan nyata. Dia tidak pernah keluar rumah, tidak banyak permintaan seperti dulu, tidak banyak bicara, makan seadanya, benar-benar hanya Krishan yang sekedar merasa terpaksa menjalani hidup.


"Krish.."

__ADS_1


Kana menatapi mata yang perlahan mulai terbuka. Krishan langsung melihat ke arah Kana. Cahaya matahari yang menyorot ke arah mereka membuat mata Krishan menangkap bayangan Kana.


Krishan menyentuh pipi Kana dengan tepat. "Mereka sudah pulang?" Suara berat Krishan terdengar.


"Sudah. Sekarang kita harus ke rumah sakit."


Krishan mengangguk lambat. Lalu duduk menegakkan tubuhnya.


"Mau kubantu ganti baju?"


Krishan mengangguk lagi, dan Kana langsung berdiri menuju lemari pakaian Krishan.


"Ada apa, Jia?"


Kana menghentikan aktifitasnya. Dia menoleh pada Krishan yang sudah membuka bajunya.


"Suaramu terdengar sendu." Lanjutnya lagi.


Kana tersenyum tipis. Dia mengambil satu kemeja lalu duduk disebelah Krishan.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Krishan lagi.


Kana tidak langsung menjawab. Dia memakaikan baju Krishan secara perlahan, mengancingkannya satu persatu sembari terus menatap mata Krishan.


"Tidak apa, aku hanya sangat mencintaimu."


Mendengar itu, Krishan mencium bibir Kana sekilas. "Aku juga sangat mencintaimu." Balasnya sambil terus menatap ke arah Kana.


"Krish.."


"Iya, sweetheart."


"Bagaimana kalau ternyata.. mataku tidak bisa melihat sebelah." Tanya Kana tiba-tiba.


"Apa maksudmu, Jia? Ada apa dengan matamu?" Krishan meraba mata Kana yang ternyata sudah berair. Dia dengan segera menghapusnya.


"Jia, katakan padaku. Ada apa? Apa yang terjadi? Apa matamu sakit?" Tanya Krishan mulai panik.


"Bukan, Krish. Aku.." Kana menggantung kalimatnya. Dia merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Berulang kali dia berpikir untuk menemukan cara, tetap saja gagal. Apakah jika dia memberikan Krishan secuil harapan, Krishan akan bisa menyelesaikan apa yang menjadi beban bagi mereka sekarang ini?


"Aku bersedia memberikan apa yang bisa kuserahkan padamu, jika kau sangat membutuhkannya."


Krishan mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu, Jia?"


"Aku.. ingin memberikan mataku padamu."


Krishan membeku dengan tangan yang masih menyentuh wajah Kana.


"Aku melihatmu hanya pura-pura padaku, Krish. Aku merasa gagal, aku tidak bisa membuatmu seperti dulu. Kau tidak bahagia, kan, Krish." Kana terisak. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di pundaknya. Apalagi Krishan juga sangat berubah sekarang, tidak ada penyemangatnya. Kemarin Kana masih merasa bisa melewatinya. Tapi melihat Krishan, hatinya kembali merasa berat.


"Jia.." Krishan menariknya dalam pelukan. Dia mendekap erat wanita yang sudah melepaskan isakannya di dadanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Jia. Maafkan aku.." lirih Krishan yang tanpa sadar mengalirkan air mata. Dia tidak tahu, kalau Kana ternyata menyadari keterpurukannya selama ini. Krishan bukan sengaja. Hanya saja, dia memang merasa putus asa. Namun tak ia sangka, jika itu sampai membuat istrinya mau mengorbankan matanya untuk dirinya.


__ADS_2