
Sebelumnya...
"Evan, dimana istriku?"
Krishan tengah bersiap menjalani operasi. Dia menginginkan Kana berada disampingnya. Tetapi sejak tadi, Kana pamit keluar sebentar dan sudah satu jam tak juga kembali.
"Eng.." Evan menatap ke atas, berharap menemukan jawaban yang tepat dan tuannya tidak curiga.
"Jangan tutupi lagi. Aku sudah sangat kesal karena kalian bermain dibelakangku."
Nada Krishan terdengar bagai aungan singa. Membuat bulu di sekujur tubuh Evan berdiri.
Berbeda dengan Sean yang bisa bersikap tenang, Evan justru terang-terangan merasa takut pada Krishan walau ia tahu, pria itu belum pernah memarahi anggota inti.
Krishan yang semula sudah berbaring di atas brankar, bangkit dan berjalan ke arah jendela luar.
"T-tuan, maafkan saya. Sebenarnya, nona Jia tengah menjebak Arex."
Krishan tak bergerak. Dia memang menatap kosong ke depannya, tetapi ia sebenarnya terkejut dengan pernyataan Evan.
"Kami menemukan kertas berisikan kata-kata di dalam baju tuan saat kecelakaan. Lalu setelah ditelusuri, tulisan itu adalah tulisan Bastian, teman nona Jia."
"Apa? Jadi, maksudmu laki-laki itu pelakunya?" Tanya Krishan.
"Ya, tuan. Dia adik tuan Arex. Nona Jia berhasil membuat Felix membuka mulut. Oleh sebab itu, nona menjebak Bastian dan dia berhasil menangkapnya. Tapi kemarin, tuan Daniel berhasil ditangkap Arex dan hari ini, Arex meminta Bastian dan ditukar dengan tuan David."
Krishan menahan dirinya yang ingin mengamuk. Tangannya mengepal, kenapa istrinya bisa berjalan sejauh itu tanpa ia ketahui? Dia tak sangka kalau Jia sampai ikut hal seperti ini.
"Ini berbahaya, kenapa kalian melibatkan istriku." Suara berat Krishan terdengar, membuat tangan Evan bergetar.
"Ka-kami sudah melarang, tuan. T-tapi hampir semua rencana nona Jia berhasil. Dan hari ini, n-nona Jia juga merencanakan sesuatu dalam pertukaran ini."
"Dimana?"
"Di bukit Ruston, tuan."
Suara pintu terbuka, membuat Krishan menoleh ke arah suara.
"Tuan, mari kita mulai operasinya." Seorang dokter datang dan memberitahu Krishan bahwa persiapan operasi sudah siap dan akan segera dimulai.
"Tunda. Aku ada urusan penting." Ucapnya kemudian membuka baju operasinya, mentitahkan Evan untuk memakaikannya baju dan pergi ke tempat dimana Kana dan yang lainnya berada.
~
__ADS_1
Setelah sampai, Krishan langsung keluar dari mobil. Cuaca terik membuat Krishan bisa melihat bayangan orang-orang disekitarnya. Dia melihat 2 orang di atas gundukan tanah, juga seseorang yang rambut panjangnya berkibar tertiup angin, jelas itu istrinya. Lalu matanya menangkap orang lain berdiri dengan menodongkan pistol yang sejajar dengan kepala Kana.
"T-tuan, nona Kana-"
"Evan, berikan aku senjata." Ucapnya memotong kalimat Evan. Tanpa diberitahupun, dia sudah tahu situasinya.
Evan dengan cepat memberikan senjata api pada tuannya.
"90 derajat dari depan, tuan. Tapi hati-hati, dia sangat dekat dengan nona Kana."
Tanpa basa-basi, Krishan dengan cepat melepaskan tembakan sebelum sesuatu terjadi pada istrinya.
Suara tembakan membuat banyak badan terkejut. Mata mereka langsung mencari siapa yang terkena serangan timah panas itu.
Kana langsung membalikkan badan. Matanya membelalak melihat laki-laki dibelakangnya terjatuh dengan kepala yang mengeluarkan darah.
Dengan gemetar Kana melihat ke arah suara tembakan. Dia semakin tertegun saat melihat sosok Krishan berdiri dengan pistol di tangannya.
"K-krishan..."
"Siapa yang bertanggung jawab jika kau dalam bahaya seperti ini?" Tanya Krishan dingin.
Kana menunduk, dia tahu kesalahannya yang tak menceritakan semua pada pemimpin yang sebenarnya. Evan berdiri menunduk saat Kana melihatnya, dan Kana tahu, Krishan pasti sudah mendengarnya dari Evan.
"Berdirilah dibelakangku."
Nada dan wajah berang Krishan membuat Kana tak berani menolak. Dia berdiri dibelakang laki-laki itu walau rasa sebenarnya yang ia khawatirkan sekarang justru suaminya itu.
"Krish.. maaf.." bisik Kana pada Krishan yang bergeming. Dia tak menjawab. Matanya fokus pada bayangan Arex yang turun dari bukit itu.
"Apa kau pura-pura buta sekarang?" Arex menatap anak buahnya yang sudah terkapar dengan banyak darah dikepalanya.
Beberapa orang meng-cover Arex dari belakang, begitu juga pengawal Krishan yang terus membidik ke arah masing-masing target.
"Aku tak segan membunuhmu sekarang, jika kau berani menyentuh istri-"
"KAU YANG SUDAH BERANI MENYENTUH ADIKKU, SIALAN!" Pekik Arex lalu mengokang senjata, mengarahkannya ke kepala Krishan.
Kana bisa merasakan kemarahan Arex. Dada lelaki itu naik turun, matanya memerah dengan wajah berang yang tak kalah mengerikan.
Krishan tahu apa yang sedang dilakukan Arex. Dia yang sejak tadi mengangkat senjata mulai meletakkan telunjuknya di pemicu pistol.
"Aku tak segan menghancurkanmu dan juga istrimu. Pergilah ke neraka, sialan."
__ADS_1
DOR!
Satu tembakan terlepas. Terdengar teriakan dari atas bukit. Bastian, dia tidak tahu apa yang terjadi dibawah sana. Hanya saja, apa yang dilakukan kakaknya pasti suatu kesalahan. Siapapun yang tertembak dibawah sana, pastilah membuat hidupnya semakin sengsara nantinya.
Krishan menegang. Dia melihat ke belakang saat tersentak dengan suara tembakan yang berasal dari belakangnya.
Kana, berdiri tegak dengan tangan memegang pistol. Krishan bisa melihat bayangan istrinya memegang senjata. Yang membuat Krishan penasaran, apakah suara tembakan itu Kana yang ciptakan?
BAK!
Arex berlutut saat tubuhnya mulai tak mampu lagi menopang diri yang perlahan melemah. Napasnya di ujung, Arex merasakan dadanya yang nyeri luar biasa. Timah panas itu berhasil menusuk ke jantungnya. Dia masih bisa melihat wajah Krishan sebelum akhirnya benar-benar terjatuh.
Suara tembakan masih berlanjut. Dari tempat mereka, para pengawal itu menembaki beberapa anak buah Arex yang berusaha menembak Krishan.
Kana berjalan selangkah ke depan Krishan, melindungi suaminya dari orang-orang yang hendak membunuhnya.
Suara tembakan terus terdengar sampai Krishan sendiri tidak bisa melihat siapa yang terkena serangan. Kana pula terus menembak sampai semua musuh mereka habis.
Kana diam sesaat. Dia menurunkan senjata secara perlahan. Puas. Itu pertama yang ia rasakan. Kini dirinya bisa berdiri tegak melindungi dirinya dan juga Krishan. Adrenalin yang tidak biasanya ia rasakan, kini benar-benar bergejolak saat ia dalam bahaya.
Sementara Krishan, menatap istrinya dengan tertegun. Wanita yang manja dan lemah lembut itu terlihat tangguh di hadapannya sekarang. Dia terus menatap bayangan istrinya. Rambut perempuan itu tertiup angin, membuat Krishan sangat ingin melihat wajahnya. Wanita itu, dia telah melindunginya dengan begitu hebat di matanya.
Kana membalikkan tubuh. Dia tersenyum puas menatap suaminya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Kana pada lelaki yang tengah terpukau dengan aksinya.
"Jia.."
Kana mendekat, dia menyentuh perlahan rahang Krishan. Lalu mencium bibir suaminya dengan lembut. Tanpa sadar Kana meneteskan air mata. Entah mengapa terasa lega. Mungkinkah setelah ini, tidak akan ada lagi hambatan dalam kehidupan mereka..
"Dari mana kau belajar menembak, hm?" Bisik Krishan pada istrinya.
Kana hanya tersenyum, menempelkan keningnya dengan kening Krishan.
Lelaki itu memeluk tubuh Kana, sampai ia menyadari, jarinya menyentuh cairan yang keluar dari bahu Kana.
Krishan meraba cairan itu, dia mendapati bau darah dan cairan itu mengalir, dengan sedikit lubang disana.
"J-jia.."
"I'm fine, Krish. I'm fine.." bisik Kana memejamkan mata, merebahkan kepalanya di dada Krishan, sampai beberapa detik setelah itu, Kana tumbang. Dengan cepat Krishan mengangkat tubuh istrinya. Dia pula mendengar banyak langkah kaki berlari mendekat, membantu Krishan membawa Kana masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
TBC
__ADS_1
**Bau-bau mau tamat nih**