Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Krishan's Tattoo


__ADS_3

"Aku akan membuatmu puas, sayang." Tukas Krishan lalu membalikkan posisi Kana yang kini ia sandarkan ke dinding dan memulai kekuasannya di tubuh Kana yang sejak tadi telah meremang.


Kana mengerang saat Krishan mulai mengarahkan wajanya ke dadanya.


"Krish.." dia menekan belakang kepala Krishan supaya laki-laki itu semakin memperdalam permainannya di gundukan indah wanita itu.


Krishan tak mau banyak pemanasan, karena dia tahu istrinya itu sudah tidak bisa menahannya, maka dia memulainya disana.


Hingga beberapa jam kemudian, mereka berpindah ke tempat yang lebih empuk. Malam itu, Kana lebih banyak berkuasa atas tubuh suaminya. Entah mengapa dia merasa lebih puas jika melakukannya di atas, dari pada dibawah.


Matahari pagi terbit, Kana sudah bersiap pergi bekerja. Dia memakai sepatunya sementara Krishan masih tergolek di atas tempat tidur bertutupan selimut di atas pinggangnya.


Ada rasa menyesal dalam dirinya, kenapa dia tidak ikut meminum anggur itu agar bisa mengimbangi Kana. Padahal sudah beberapa jam melakukannya, namun Kana tak juga merasa puas. Sampai Krishan kelelahan pada tengah malam, namun Kana memaksanya melakukannya lagi. Dia benar-benar kalah telak, apalagi entah bagaimana Kana sangat kuat jika dicampur dengan obat itu.


"Apa kau kelelahan?" Tanya Kana sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Tidak.." elaknya.


"Siapa suruh meletakkan obat itu ke dalam wine." Tukas Kana santai dan Krishan tidak bergeming.


"Aku pergi, sarapanmu di atas meja. Pelan-pelan makannya."


Kana membuka pintu. "Astaganaga!" Dia terlonjak mendapati seseorang dengan setelan serba hitam berdiri lalu sedikit membungkukkan badan pada Kana.


"Ada apa?" Tanya Krishan dari atas tempat tidur.


"Hai, selamat pagi. Aku Daniel, sahabat Yo.. maksudku Krishan."


"Krish.. temanmu." Kana terus menatap orang di depannya.


"Suruh masuk, Baby.."


Daniel masuk sementara Kana langsung keluar. Dia diikuti beberapa orang pengawal dari belakang. Dia diantar sampai kantornya oleh supir Krishan setiap hari, karena Krishan masih sangat khawatir musuhnya itu melakukan hal yang sama pada istrinya.


"Wah, sepertinya ada pertempuran semalam." Kata Daniel yang melihat baju-baju berserakan di lantai. Dia duduk di meja yang sudah tersedia makanan.


Krishan bangkit, lalu memakai celana boksernya. "Ada apa kemari pagi-pagi?"


"Berita tentangmu masih terus disebarkan oleh mereka. Aku sampai kewalahan menutupinya. Kurasa sekarang kita perlu membalas sedikit pada mereka." Jelasnya sambil meletakkan salad di atas piringnya.


Krishan duduk di sebelahnya. "Terserah padamu. Yang jelas, aku belum mau Jia mengetahui siapa aku."

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Aku yakin dia bisa menerima dengan senang hati. Siapa yang tidak kenal Yohan, pemilik KGroup."


"Senang kepalamu. Dia selalu mengutuk dan memaki Yohan sebagai kepala preman yang haus darah."


"Apa? Hahaha. Bagaimana jika dia tahu yang dikutuk ternyata suaminya sendiri, ya?" Tawa Daniel.


"Letakkan roti di atas piringku." Titahnya dan Daniel meletakkan sesuai perintah.


"Lakukan saja apa yang menurut kalian baik. Intinya jangan sampai Jia-ku terlibat. Belum saatnya." Lanjut Krishan sambil mengunyah rotinya.


"Baiklah, akan kulakukan."


"Bagaimana soal donor mata?" Tanya Krishan.


"Belum. Kau harus sabar kalau mau cara yang legal."


"Semakin hari keinginan untuk melihat semakin besar. Aku benar-benar ingin melihat istriku."


Daniel mengangguk, dia mengerti perasaan Krishan. "Aku paham. Tapi urutanmu masih sangat jauh untuk mendapatkannya."


"Sebenarnya, Sherly menawarkanku kornea mata. Aku memikirkannya beberapa kali. Tapi aku tahu, Jia pasti menolak karena itu pemberian Sherly." Terangnya pada Daniel.


"Coba saja ceritakan. Aku rasa dia akan menerimanya. Apalagi demi kesembuhan matamu. Rasaku dia akan senang." Kata Daniel memberi opini.


"Benarkah? Kalau begitu, Kau beli saja dari dia."


"Sudah kucoba, tetapi dia menolak." Jawab Krishan.


"Lalu, dia mau apa?"


"Kembali padaku." Katanya sambil meletakkan sisa roti di atas piring.


"Apa? Apa dia tidak tahu malu? Kenapa tiba-tiba begitu?" Tanya Daniel keheranan.


"Mana aku tahu. Tapi aku akan coba menemuinya dan menawarkan hal lain supaya dia mau memberikanku kornea mata itu." Ucapnya lalu menenggak air putih di dekat piringnya.


...♧♣︎♧♣︎...


Kana berjalan santai mengantar berkas ke lantai satu. Lalu tidak sengaja dia bertemu Sherly, mantan pacar suaminya.


Nampak Sherly tengah berbicara serius di lobi bersama beberapa orang, salah satunya David.

__ADS_1


Kana mencoba untuk tak peduli, dia tidak ingin mendapat perhatian wanita itu. Tetapi sayang, Sherly langsung berdiri di hadapannya saat ia ingin naik ke lift.


"Wah, tidak disangka kau bisa bekerja disini."


Kana melengos, dia sangat tidak ingin mendengar apapun dari mulut Sherly.


"Bisa menyingkir?"


Sherly tersenyum miring. "Bisa juga kau bekerja di kantor Krishan. Maksudku, bekas kantor Krishan."


Kana mengerutkan dahinya, ia tak paham maksud wanita di depannya itu.


"Ah, jangan-jangan kau tidak tahu, ya?" Sherly terbahak. "Dulu, Krishan adalah CEO disini. Tapi orang disana itu, sudah merebutnya."


Kana melihat ke arah mata Sherly memandang. Disana, David tengah duduk sendiri menyusun berkas-berkas di atas meja.


Benarkah demikian? Tapi kenapa Krishan tidak pernah cerita? Batin Kana.


"Bagaimana ya, reaksi Krishan kalau dia tahu bahwa kau ini bekerja di Shanprise. Aahh.. Shanprise itu kepanjangan dari Krishan Enterprise. Masih tidak tahu juga? Hahaa, payah."


Kana menghela napas, dia tahu saat ini perempuan di depannya tengah berusaha memanasinya. Hanya mengandalkan hubungan lama mereka, Sherly sudah bisa membuat kekesalan di hatinya memuncak.


"Ternyata kau ini tidak tahu apa-apa tentang pacarmu, ya? Aku jadi curiga tentang hubunganmu itu."


"Kau masih mencintai kekasihku, ya?" Kana memandangnya sambil menyipitkan mata. Dia merusaha mengalihkan topik dan memberi pertanyaan yang menohok.


"Kau pikir begitu? Pada orang yang buta dan bangkrut?" Tanya Sherly balik sambil tertawa.


"Kalau begitu, berhentilah menggangguku." Kana berjalan lagi namun Sherly menghalangi langkahnya.


"Aku ingat kau pernah mengatakan kalau Krishan sangat hebat di ranjang. Itu benar karena aku sudah merasakannya."


Kana menatap tanpa berkedip. Ingin sekali dia mencekik-cekik wanita itu.


"Tapi, aku akan memberitahu satu hal yang pasti Krishan sembunyikan. Tentang tato di dadanya. Kau tahu kan, tato gambar dua pistol dan bunga di tengahnya? Mungkin kau mengira itu hanya ukiran, tapi perhatikanlah, kelopak bunganya ada huruf S." Sherly merapatkan wajahnya ke telinga Kana. "Yang artinya, Sherly. Tanda cinta yang ia ukir di dadanya untukku."


Kana mengepalkan tangannya. Kalau tidak memikirkan kantornya, dia pasti sudah menghajar wanita itu.


Sherly tertawa pelan sambil berjalan dengan anggun melewati Kana yang matanya menyorot tajam.


Darah Kana mendidih, dalam otaknya terus berpikir, apa benar yang dikatakan Sherly? Sial. Itu pasti menjadi hal buruk kedepannya jika ia melihat tato itu. Apalagi saat mereka melakukannya di atas ranjang. Sumpah, ingin sekali Kana pulang dan memastikan itu sendiri. Semoga apa yang diucapkan Sherly hanyalah omong kosong. Pekiknya dalam hati.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2