
Kana duduk di depan meja yang penuh makanan. Dia belum diizinkan bekerja hari ini. Kata Krishan, dia harus menemaninya di kamar seharian. Sudah jelas tujuannya, Kana mendesah kesal. Padahal dia bukan tipe yang suka seharian di kamar.
"Jia, apa tidak suka dengan makanannya?" Krishan bertanya sebab dia tidak mendengar aktifitas di atas meja.
"Suka..." jawabnya lalu mulai menyantap makanannya.
"Apa mau berbelanja lagi?" Tanya Krishan lalu mulai menyantap roti panggang miliknya.
"Tidak."
"Mau berenang?" Tanya Krishan lagi.
Kana melihat kolam renang di depannya.
"Aku tidak bisa berenang."
"Mau aku ajari?" Tawar Krishan.
"Tidak, sudah jelas sekali tujuanmu bukan hanya mengajariku berenang." Tukas Kana lalu minum air putih di depannya dan Krishan tertawa lebar, merasa lucu dengan rencananya yang ketahuan.
"Sini, duduk." Krishan menepuk pahanya.
Kana menggeser kursi dan duduk di pangkuan suaminya.
"Kenapa tidak pakai parfum?" Tanya Krishan yang tidak mencium aroma kesukaannya di leher Kana.
"Aku kan, di rumah saja.."
"Sana pakai. Aku mau menciumnya di lehermu." Titahnya dan Kana benar-benar bergerak untuk menyemprotkan parfum di beberapa titik yang biasa ia tempatkan.
Setelah itu, Kana duduk lagi di pangkuan Krishan tetapi kini dia duduk mengangkang menghadap Krishan yang sempat membulatkan mata, lalu tersenyum. "Aku suka posisi ini." Ucapnya lalu memulai aksinya.
"Krish kenapa kau tidak pakai sendiri kalau memang menyukai baunya."
"Aku lebih suka kalau bau itu menempel di kulitmu." Ucapnya lalu menghisap kulit leher Kana hingga gadis itu mengerang tertahan.
"Krish.. aku bilang jangan buat tanda apapun."
"Hmm, baiklah." Krishan memendamkan wajahnya di dada Kana, lalu memeluknya dengan erat.
"Aku mencintaimu.." ucapnya dan Kana hanya mengelus lembut rambut Krishan.
"Jia.."
"Hm?"
"Kiss me." Krishan mendongakkan wajahnya, bibirnya sedikit terbuka sebagai tanda bahwa ia menginginkan sentuhan disana.
__ADS_1
"Kau harus dihukum, Krish. Kau mengabaikanku saat gairahku sudah diujung."
"Jia.."
Kana bangkit dan duduk di kursinya. Dia memakan buah-buahan di atas meja.
"Jia.."
Kana tak menyahut, dia membiarkan saja Krishan yang tengah kesal dengan keputusannya.
"Ayolah, Jia. Kemarin hanya salah paham, kan."
"Bagimu salah paham. Bagiku itu perbuatan yang sangat jahat karena aku hampir gila menahankan itu. Rasanya aku ingin sekali menarik siapa saja laki-laki yang lewat di depan rumah. Hah, untung aku masih bisa berpikir panjang." Keluhnya pada Krishan yang melongo mendengar ucapan Kana.
"Baiklah, aku menghargai itu. Sebagai gantinya, aku akan membelikanmu barang-barang mewah apapun yang kau suka. Kau mau mobil keluaran terbaru? Tas limited Edition? Aku akan membelikan apapun, tetapi kau harus membiarkanku menjelajahimu."
Kana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh semua itu. Yang kumau adalah menghukummu sampai aku puas."
Terdengar helaan napas panjang dari Krishan, nampaknya dia harus bersabar sampai istrinya merasa puas dengan hukumannya.
"Jia, jika kau ingin..."
"Tidak ada yang kuinginkan dan berhentilah membujukku." Ucapnya lalu memasukkan buah anggur ke mulutnya sambil menatap Krishan yang wajahnya benar-benar lesu.
~
"Han, istrimu baik-baik saja?" Tanya Daniel yang memperhatikan Kana dari jauh. Wanita itu tengah duduk sendiri di depan meja bartender.
"Sedang apa dia?" Tanya Krishan.
"Merokok.." jawab Daniel agak ragu.
"Sedang stres berarti." Jawab Krishan santai dan Daniel mengerutkan alisnya.
"Aku pikir istrimu gadis polos yang tidak mengenal dunia malam." Ucap David yang ikut menoleh pada Kana.
"Benar, aku juga berpikir begitu saat melihat wajahnya itu." Timpal Daniel dan Krishan hanya tertawa ringan.
"Lihat caranya memegang rokok.." David memperhatikan Kana yang mendongak, lalu menghembuskan asap rokok ke atas secara perlahan.
"Sial, Dia seksi sekali. Dari mana kau mendapatkan wanita seperti itu?"
"Brengsek, jaga mulutmu." Maki Krishan. Tetapi David tidak peduli sebab sahabatnya itu tidak bisa melihat apa yang tengah ia saksikan sekarang.
"Sudah, putar kepalamu itu. Fokus pada tujuan kita sekarang." Ucap Daniel.
"Hei, Yohan. Kau harus segera mengoperasi matamu. Rugi jika kau tidak bisa melihat istrimu." Tukas David lalu beralih pada Krishan. "Kau pasti terus meminta jatah padanya, kan? Tanpa melihatpun, kau pasti tahu istrimu sangat seksi."
__ADS_1
"Aku akan menyuruh orang mencongkel matamu untukku jika kau tidak berhenti menatap istriku!"
"Baiklah, baik. Aku tidak menatapnya lagi." Ucapnya berbohong, dia masih terus menatap Kana.
"Aauw!" David meringis saat Daniel menimpuk kepalanya dengan tumbukan berkas karena telah membohongi Krishan.
"Mari mulai." Ucap Daniel dan memulai rapat mereka.
...○●○●...
Kana masuk ke dalam kantor dan mendapati kebisingan disana.
Noah mengamuk dan melempar beberapa file ke meja pekerja lain dan dia terlihat berang. Wajah Noah masih memerah dan biru di beberapa tempat seperti lebam akibat berkelahi.
"Hei, kenapa dia?" Tanya Kana pada Bianna yang berdiri di dekatnya.
"Perusahaan memecatnya tiba-tiba dan dia tidak terima. Aku dengar katanya dia menyenggol kekasih tuan Yohan."
Kana menganga. Noah menyenggol kekasih tuan Yohan? Apakah dia sudah gila?
"Yang benar?" Tanya Kana tak percaya.
"Dia sudah dua hari tidak datang, katanya di rumah sakit karena di hajar anggota tuan Yohan. Setelah datang, tahu-tahu IDC-nya tidak berfungsi dan dia telah dipecat. Hei, bukannya kau kemarin berciuman dengannya, ya??"
Kana membelalakkan matanya, "Aku tidak sengaja, tahu!"
"Aku pikir kau dan Noah lanjut ke hotel. Ternyata dia bersama Evelin. Jadi, orang-orang ini berpikir kalau Evelin menjalin hubungan dengan tuan Yohan." Jelas Bianna.
Ternyata Noah mengajak pacarnya itu kesana sebab dirinya yang kabur diam-diam? Ah, Noah sungguh Brengsek. Batin Kana.
"Tapi, kalau dia kencan dengan tuan Yohan, kenapa malah berselingkuh dengan Noah yang tidak ada apa-apanya?" Tanya Kana dan Bianna menaikkan bahu tanda tidak tahu.
"Sudahlah, ayo ke atas." Ajak Bianna dan mereka langsung naik ke lift.
Kana sedikit merasa kasihan pada Noah sebab dia sudah bertahun-tahun dan sangat bangga bisa bekerja di Shanprise, tetapi harus dipecat dengan alasan yang tidak ada sangkut paut dengan kinerjanya di perusahaan.
"Kau tahu berita terbaru?" Tanya Bianna yang meletakkan tas di atas mejanya.
"Apa?"
"Aku baca berita, tuan Yohan ternyata selama ini buta. Aku sempat melihat fotonya dari belakang memegang tongkat. Artikel itu lalu menghilang, sepertinya K-Group dengan cepat memblokir berita-berita itu."
"Jelas itu hoax. Kau tidak tahu betapa dia kejam dan bengis. Aku dengar, dia sering menghajar orang-orang yang tidak mau menyetor pajak padanya." Jelas Kana dengan suara pelan. "Mustahil dia buta."
"Kau benar juga." Ujar Bianna sambil mengangguk-angguk.
Tbc
__ADS_1