
"Krish, kau besok ada rencana?"
Kana meletakkan kopi di atas nakas sebelah Krishan yang tengah bersandar sambil membaca buku di atas tempat tidur.
"Tidak."
"Apa kita bisa pergi ke suatu tempat?"
Kana duduk sambil memperhatikan suaminya yang hening karena fokus pada bukunya. Dia merasa Krishan tengah sibuk, hingga ia memutuskan untuk tidur saja dari pada berbicara tetapi tidak disahuti.
Tak lama, Krishan merasa kamarnya terlalu hening. Dia menoleh pada istrinya yang sudah tak bersuara itu. Ternyata sedang memejamkan mata membelakanginya.
Dia menutup buku, lalu berbaring di sisi istrinya.
"Jia, kau sudah tidur?" Krishan berbisik sambil mengecup bahu istrinya.
Kana membalikkan tubuhnya menghadap Krishan.
"Kau mengatakan sesuatu tadi?"
Kana mengangguk. Walau dia sedikit kesal, tapi mencoba memaklumi aktifitas Krishan yang bertambah karena kini dia sudah bisa melihat. Apalagi, Kana sebenarnya belum kenal pasti dengan rutinitas Krishan saat bisa melihat.
"Maaf, aku tengah fokus."
Satu sifat Krishan yang sangat Kana kenali adalah Krishan yang tidak bisa membelah fokus. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi di dekatnya jika dia sudah fokus pada satu hal.
Tetapi, berdasarkan apa yang pernah disampaikan David, dulu saat mereka bersekolah, Krishan adalah anak yang paling cerdas. Sayangnya, dia anak yang sangat nakal. Dan yang membuat Kana semakin jatuh cinta pada Krishan, saat David bercerita bahwa Krishan tidak pernah menjaili yang namanya perempuan. Dia akan diam dan tidak melawan jika yang memukulnya perempuan. So loved, Krishan.
"Jadi, apa yang ditanyakan cintaku tadi?"
Kana mengecup bibir Krishan.
"Aku tanya, apa besok ada kegiatan?"
"Hmm.. ada. Seharian bersamamu, di kamar ini."
"Bisa kita keluar saja?"
Krishan mengungkung Kana, ia bertumpu dengan kedua lengan, lalu menciumi wajah istrinya.
"Krish, hentikan!" Kana merasa geli dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Kau mau kemana, hm?"
"Aku ingin ke rumah ibu. Aku sudah mengantongi alamatnya. Apa kau mau?"
"Bertemu ibu mertua? Tentu saja. Tapi, kenapa tiba-tiba, sweetheart?"
Kana mengelus lembut rahang tegas Krishan. "Entahlah. Setelah melihatnya kemarin, aku merasa sedikit bersalah telah mengatakan kata yang tak pantas."
Kana menceritakan pertemuannya dengan sang ibu beberapa hari lalu, dan lelaki itu mengangguk-angguk saja tanda ia mendengarkan curhatan istrinya.
"Jadi, aku ingin menemuinya saja, mengenalkanmu padanya."
"Aku setuju saja, sayang. Apapun asal kau bahagia."
"Terima kasih, Krish. Lalu, soal ibu Alana.."
__ADS_1
Krishan mengangkat alisnya.
"Kau jangan apakan dia."
"Memangnya mau kuapakan?" Tanya Krishan balik.
"Aku tahu kau memotong gaji ayah Alana, kan?"
Krishan menjatuhkan wajahnya di dada Kana. Dia tidak mau menjawab karena pasti akan dimarahi istrinya itu.
"Krish.."
"Aku sedang sibuk, Jia." Krishan melingkarkan tangannya di tubuh Kana.
"Krish, ayolah.."
Krishan tak menjawab. Dia memejamkan matanya sambil memeluk tubuh istrinya itu.
"Tuan Yohanku sayang.." Kana melembutkan suaranya sambil mengelus lembut rambut suaminya.
"Aku memang sakit hati pada ibu Alana. Tapi jika kau juga menghukum ayahnya, itu tidak adil. Ayah Alana menganggapku seperti anaknya. Dia ayah yang baik, Krish."
"Benarkah?"
"Hm.."
Krishan mengingat laporan Sean tentang Ayah Alana yang memang tidak memiliki cacat di perusahaannya.
"Tapi aku tidak mau menarik apa yang sudah kulakukan." Ucap Krishan dengan tegas.
"Iya, baiklah. Tapi, jangan lagi lakukan apapun."
"Apaaa?"
Krishan mengangkat kepalanya dan menatap istrinya. "Lusa malam akan ada acara besar KGroup. Aku akan menunjukkan wajahku di depan semua orang yang akan hadir. Jadi, kau harus datang bersamaku, sebagai istriku."
"Aah, tidak bisa." Tolak Kana tanpa berpikir. "Aku masih ingin bekerja, Krish. Kalau orang-orang tahu aku istrimu, aku pasti dihormati dan dibedakan. Aku tidak mau seperti itu."
"Baby, itulah cara untuk membungkam ibu Alana. Supaya dia menghormatimu."
"Apa ibu Alana akan datang ke acaramu?"
"Tentu. Orang-orang akan berdatangan saat tersebar berita kalau seorang Yohan, pemilik KGroup yang selama ini tidak suka muncul ke publik akhirnya menunjukkan diri." Terang Krishan dengan nada yang berbangga.
"Kenapa tiba-tiba menunjukkan diri?"
Krishan merapatkan bibirnya. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia hanya ingin membuat Ibu Alana bertekuk lutut pada istrinya.
"Wajahmu berubah begitu, sepertinya ada yang tidak beres."
Krishan mengecup bibir Kana, lalu merebahkan diri disebelahnya.
"Tidak ada, hanya.. sudah waktunya saja. Kau lihatlah suamimu besok, sayang. Aku akan dikelilingi banyak penjilat."
"Hahahaha." Kana malah tergelak. "Aku pikir kau mau bilang dikelilingi para wanita."
"Itu sudah pasti. Tapi, aku selalu membatasi diri. Itu sebabnya, aku ingin kau hadir sebagai istriku. Hm."
__ADS_1
"Tidak. Aku lebih nyaman menjadi karyawan saja."
"Kau tidak cemburu kalau banyak yang mendekatiku?"
"Cemburu, pasti. Tapi, kau harus ingat siapa yang menemanimu saat kau tidak bisa melihat." Tukas Kana dengan bibir mencebik.
"Haaahh.." Krishan menindih tubuh istrinya lagi, menciumi bibir yang belakangan selalu ia rindukan.
"Aku tahu, Sweetheart. Aku sangat tahu." Ucapnya lagi dan terus menyesap dan mellumatnya dengan sangat bernapsu hingga Kana mendorong tubuh Krishan. Dia mengambil napas banyak saat berhasil menjauhkan wajah Krishan darinya.
"Sayang, kenapa kau menahan napas."
"Haah. Siapa yang menahan napas. Aku tidak bisa napas!" Sungut Kana pada Krishan yang tergelak mendengarnya.
"Maaf, sayang." Krishan memeluk istrinya. "Aku terus bernafsu setiap melihat wajahmu. Terus aku harus bagaimana.." Ucapnya dan memendamkan wajahnya di dada Kana.
Kana mengelus lembut rambut Krishan. Sungguh, hatinya sangat bahagia sekarang. Rasanya, tidak perlu hal lain asal Krishan terus mencintainya seperti sekarang.
"Aah!" Krishan tiba-tiba bangkit, menarik laci nakas dan mengambil kotak berwarna merah dari dalamnya.
"A-apa itu, Krish?" Kana tahu itu kotak perhiasan, namun kotak itu lebih besar dari yang sering ia lihat.
Krishan membukanya di hadapan Kana, dan itu sukses membuat Kana menganga.
"Ya ampun, Krish. Ini.."
"Untukmu sayang."
Kana menutup mulut tak menyangka, Krishan membelikannya cincin, anting, kalung, dan gelang tangan yang sangat indah di matanya.
"Kau suka?" Krishan tersenyum melihat respon istrinya.
"Krish, ini.. berlebihan."
"Tidak, sayang. Ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu." Krishan menarik tangan Kana, memakaikannya cincin itu. Lalu memakaikan gelang dan juga kalung.
"Kau mau memakai antingnya?"
Kana hanya diam menatap perhiasan putih yang menempel di jari dan pergelangan tangannya.
"Krish.." Kana tidak bisa berkata-kata.
"Aku akan memberikan tokonya padamu, sweetheart. Aku membuatnya untukmu."
Kana tertawa bahagia. "Krish, kau yang terbaik." Kana mengecup bibir Krishan, dia amat berterima kasih untuk hadiah, cinta, dan kasih sayang yang sudah Krishan berikan padanya.
...☆★☆...
Acara yang diadakan oleh KGroup akan dimulai satu jam lagi. Jalan menuju gedung besar itu sudah dipenuhi bunga papan dari berbagai pejabat dan perusahaan baik dalam maupun luar negeri. Begitu juga orang-orang dan media yang sudah sangat ramai berkumpul sambil memperbincangkan wajah seorang Yohan yang tak mau memunculkan diri di media manapun selama ini.
Apakah dia sudah tua, atau masih muda. Apakah dia menikah, atau belum menikah. Lalu, apa alasannya selama ini menyembunyikan diri lalu sekarang muncul terang-terangan? Banyak pertanyaan yang sudah media siapkan.
Beberapa hari belakangan, desas-desus tentang Yohan yang tampan dan kharismatik ramai diperbincangkan dari Shanprise. Namun, tak ada yang berani mengambil fotonya mengingat itu sangat dilarang.
"Berita belakangan ini banyak menyangkut dirimu, Han. Ada yang mengatakan kau amat tampan, ada juga yang mengatakan kau seorang gay." Tukas David.
"Apa? Sialan. Kenapa bisa Gay??" Umpat Krishan kesal mendengarnya.
__ADS_1
"Aku yang menyebarkannya. Kenapa?"