Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Deep Explanation


__ADS_3

Kana menatap suaminya yang terlelap di hadapannya. Setelah ciuman yang sangat lama tadi, Krishan pun tak sadarkan diri. Nampaknya dia benar-benar tengah banyak memikirkan Kana.


Dengan cepat Kana membawanya ke rumah mereka dan disambut gembira oleh Marry yang sangat tahu kondisi Krishan setelah kepergian Kana. Setelah mengganti pakaiannya, dia tidur disebelah Krishan dan kesempatan yang sangat baik ia gunakan untuk memandangi wajah suaminya saat lelaki itu memiringkan tubuh menghadapnya.


"Aku begitu merindukanmu.." gumamnya pada Krishan sembari menyentuh wajahnya dengan perlahan, membuat lelaki itu sedikit bergerak.


Mata Krishan terbuka, dia melihat Kana dengan mata yang berat.


"Tidurlah, besok aku akan mulai bekerja." Ucap Kana dengan lembut.


"Jia.." Krishan langsung memeluk Kana dengan erat saat mendengar suara yang sangat ia kenali. "Jia.. aku rindu.." gumamnya dan mulai tertidur lagi. Membuat Kana tertawa pelan karena gemas melihat suaminya itu.


"Apa benar kau Yohan? Lelaki sepertimu?" Gumam Kana lalu mengecup dagu Krishan. Dia memejamkan mata, tidak sabar menyambut pagi saat dimana Krishan menyadari dengan sebenarnya bahwa istrinya telah kembali.


~


Krishan terbangun saat cahaya matahari menembus masuk melalui celah gorden. Dia menghadap sisi lain karena matanya silau terkena cahaya hangat itu. Krishan tidak langsung bangkit, dia merasakan kepalanya yang masih agak berat.


Krishan menatap langit-langit kamar saat dia menyadari kehadiran istrinya tadi malam.


"Mimpi itu terasa begitu nyata." Gumamnya lalu memijit kepalanya yang terasa pusing.


Krishan mengingat malam tadi, saat dimana seorang perempuan menghampirinya. Samar-samar potongan ingatan itu muncul, sampai dimana ia mengecup perempuan itu.


"Aah.. bodohnya.." Krishan menepuk dahinya. Jika saja Jia tahu kalau dia telah mencium seorang wanita. Pasti Jia semakin marah padanya.


Krishan bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat dia merasa tubuhnya teramat ringan. Dia menyadari kalau dia hanya memakai cellana dallamnya.


Siapa yang melakukannya? Krishan terpaku di tempatnya lalu menyadari sesuatu. Apakah dia tanpa sadar membawa wanita itu kemari dan melakukan hal-hal yang....


Krishan memakai bajunya dan langsung keluar dari kamar. Dia melihat Marry membereskan meja makan.


"Tuan, selamat pagi. Saya akan menyiapkan sarapan."


"Jangan bilang pada siapapun tentang tadi malam."


Marry mengerutkan alis, dia tak paham soal apa yang Krishan katakan.


"Apa perempuan itu ikut masuk ke dalam?" Krishan menunjuk kamarnya sementara Marry yang masih bingung mengangguk.


Krishan terlihat frustrasi. Dia berpikir, berarti yang tadi malam dia peluk adalah perempuan itu.


"Apa dia sudah pergi?"


Marry mengangguk lagi. "Nona Jia sudah pergi pagi-pagi sekali, tuan. Dia juga bilang akan mengambil barang-barangnya dan..."


"Siapa?"

__ADS_1


"No-nona Jia, tuan."


Krishan bengong, kepalanya yang berat itu memaksanya berpikir. Apa maksudnya itu? Apa Jia datang saat dirinya mabuk?


"Apa Jia datang kemari? Kapan?? Kenapa kau tidak bilang padaku??"


"Nona Jia datang bersama tuan tadi malam. Pagi tadi, dia sudah pergi. Katanya berangkat kerja."


Krishan melongo mendengar perkataan Marry sampai dia menyadari bahwa istrinya ternyata sudah menunjukkan wajahnya malam tadi.


"Aahhshitt!!" Umpatnya dan langsung berlari ke kamar. Sementara Marry hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


~


Kana berjalan perlahan menuju gedung Shinprise. Walau gedung itu milik suaminya, dia tetap akan bekerja seperti karyawan lainnya.


"Apa benar CEO kita berganti?"


"Entahlah, berita pagi tadi katanya begitu."


"Kenapa tiba-tiba sekali?"


Kana mendengar percakapan dua orang di depannya. Apa David berhenti bekerja? Pikirnya.


Kana berhenti sebentar untuk membenarkan posisi sepatunya yang kurang nyaman. Setelah itu, dia masuk dan terdiam saat melihat para karyawan berkumpul di depan, lalu menunduk ke arahnya.


Seperti merasakan sesuatu, Kana menoleh ke belakangnya dan seketika ia terkejut mendapati Krishan berdiri bersama beberapa pengawalnya dengan setelan jas dan dasi hitam, sangat rapi dan tampan. Kana bahkan tak sadar jika dirinya menatap Krishan terlalu lama.


Krishan tersenyum kecil pada Kana, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift. Mata mereka bertemu cukup lama sampai pintu lift tertutup. Sementara para karyawan sudah membubarkan diri menuju tempat masing-masing sambil mengoceh tentang ketampanan pemilik perusahaan itu.


"Wah.. gila. Kau terang-terangan sekali menatapnya." Bianna mencolek pinggang Kana yang tak bergerak di tempatnya. "Dari mana saja kau, hah?"


"I-itu tadi..."


"Itu tuan Yohan."


Iya, Kana juga tahu. Maksudnya, posisinya sebagai apa.


"Tidak kusangka dia setampan itu. Astaga, pantas saja dia menolak masuk media. Pasti tidak ingin diganggu kaum hawa. Dia sudah punya kekasih belum, yaaa..." Bianna mulai menunjukkan rasa ketertarikannya.


"Dia itu gay." Ucap Kana langsung. Tak rela suaminya di puja-puji orang lain.


"Apa?? Yang benar?? Kau tahu darimana??"


Kana tak menyahut lagi. Dia berjalan masuk ke dalam lift menuju mejanya, diikuti Bianna dari belakang yang masih terus melayangkan pertanyaan.


Tak lama Kana duduk, Sean berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Permisi, Nona Kanazya. Anda dipanggil oleh tuan Yohan."


Mendengar itu, seluruh mata tertuju pada Kana yang juga melongo.


"Kana, mungkin dia tertarik padamu." Bisik Bianna dari depan.


Kana langsung bergerak menuju lift, didampingi oleh Sean.


Sesampainya di lantai paling atas, jantung Kana mulai berdetak kencang. Aneh, padahal suaminya sendiri. Kenapa dia gugup?


Sean mengetuk pintu lalu membukanya. "Silakan, Nona Jia."


Kana masuk dengan perlahan, matanya tidak menangkap Krishan di ruangannya.


Tiba-tiba dari balik pintu, seseorang menarik tangan Kana dan menyandarkannya di daun pintu sampai pintu itu tertutup rapat.


"Krish.."


Suara itu, dia merindukan suara itu.


"Panggil lagi."


"Krishan.."


Krishan tersenyum. Selama ini, hanya suara ini yang selalu mengisi hari-harinya.


Dia menatap wajah Kana dalam-dalam. Alis, mata, hidung, bibir, Krishan melihatnya dengan seksama. Wajah itulah yang selama ini menemaninya.


"Cantik sekali." Bisiknya sambil mengelus lembut pipi Kana. Entah mengapa dia merasa anugrah yang besar pasti telah jatuh padanya. Walau buta, dia bisa mendapatkan wanita seperti Kana.


Pantas saja banyak yang memuji istrinya. Apalagi David sialan itu. Untunglah Krishan dengan cepat memintanya mengganti posisi setelah mendengar istrinya bekerja hari ini.


Krishan mencium kening Kana. Lalu kedua pipi dan juga dagu. Dia menatap lama bibir itu, bibir yang sebenarnya tadi malam sudah ia rasakan. Hanya saja, dia tidak menyadarinya.


Krishan mencium bibirnya, membuat Kana menutup mata dan menggenggam jas suaminya saat Krishan memperdalam ciumannya.


Kana membiarkan Krishan menyesap bibirnya tanpa mau membalas. Entah mengapa ciuman kali ini terasa berbeda, ini lebih nikmat. Kini hatinya berdebar lebih kencang karena Krishan sadar dan melihat wajahnya.


Krishan melepas ciumannya, membuat wajah Kana cemberut. Krishan hanya tersenyum sambil mengusap lembut bibir yang telah basah itu.


"Jia, aku mohon padamu, tolong, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak sanggup.."


Kana menatap mata Krishan, dia mengaku salah. Dia lari karena tidak ingin kehilangan untuk kedua kali setelah masa sulit bersama Noah. Lalu berat sekali rasanya jika Krishan pun meninggalkannya saat hati Kana sudah sangat mencintainya.


Kana menarik tangan Krishan untuk duduk di sofa, Krishan pun terus menggenggam tangannya dengan erat. Dia takut Kana akan meninggalkannya lagi.


"Sekarang, ceritakanlah semuanya padaku, Krish. Apa kau akan kembali pada Sherly?"

__ADS_1


Krishan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Jia, aku menipunya. Sejujurnya aku merubah isi kontrak itu tanpa sepengetahuannya. Waktu itu, aku sangat kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa saat kau dipermainkan Felix. Aku.. Merasa sangat tidak berguna. Sejak saat itu, aku ingin sekali membalas lelaki sialan itu. Itulah kenapa aku langsung memutuskan untuk mengambil hadiah dari Sherly. Kupikir, aku bisa menjelaskannya nanti padamu tanpa aku tahu kau malah pergi dariku." Tuturnya sambil menunduk sementara Kana menatapnya dengan senyuman indah, saat ternyata selama ini dia salah paham. Tetapi perpisahan diantara mereka nyatanya membuat hatinya semakin mencintai Krishan.


__ADS_2