Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
New Slave


__ADS_3

Tangan kiri Krishan menggenggam erat tangan Kana. Sementara dokter membuka lilitan perban Krishan dengan hati-hati.


Tak bisa dipungkiri, setelah satu minggu menunggu akhirnya Krishan bisa melihat lagi dan kebahagiaan itu terukir jelas di bibirnya. Dia terus tersenyum. Apalagi saat ini ada Kana di sampingnya.


"Tuan, silakan buka mata anda dengan perlahan."


Krishan membuka matanya perlahan. Dari awal mata itu terbuka, Krishan sudah menangkap cahaya yang sedikit menyilaukannya.


Mata Krishan terbuka lebar. Kepalanya langsung menoleh ke kiri, dimana Kana duduk di tepi ranjangnya.


"Krish.." Kana mendekatkan wajahnya, memastikan apakah mata Krishan benar-benar sudah bisa melihat. Tapi Kana malah terperanjat saat Krishan dengan cepat menarik tengkuknya dan mencium bibir Kana dengan sangat lembut.


"T-tuan.." dokter pun ikut terkejut melihat apa yang ada di depannya. Seharusnya Krishan memberitahu dulu apa yang ia rasakan, tapi lelaki itu malah dengan rakus menciumi istrinya tepat di depan semua orang.


Sean langsung menyuruh semua orang disana keluar. Termasuk David dan Daniel yang dianggap tak ada oleh Krishan, ikut menggerutu kesal.


Setelah menyadari semua orang keluar, Krishan melancarkan aksinya.


"Krish.."


Tanpa peduli, Krishan terus mellumat bibir istrinya.


"Aku sangat merindukan wajahmu." Bisiknya dengan napas memburu. Dia kembali menciumi bibir Kana dan menggendong tubuh mungil itu duduk di pangkuannya.


Kana pun tak bertanya apakah matanya benar-benar bisa melihat. Sebab apa yang Krishan lakukan sekarang benar-benar menyatakan bahwa dia sangat bisa melihat.


Krishan memperdalam ciumannya tanpa ia sadari, tangannya menggenggam erat lengan Kana yang masih dibalut perban, membuat wanita itu merintih kesakitan.


"Aaahh.." Kana mengerang, memegangi lukanya.


"Jia, astaga. Maafkan aku." Krishan mulai panik. Ia benar-benar lupa kalau luka di lengan istrinya itu masih terasa.


"Tidak apa, Krish. Hanya tersenggol sedikit."


"Baiklah. Aku akan pelan-pelan." Kana tertawa mendengar ucapan suaminya. Ia kira Krishan akan berhenti, nyatanya tidak.


"Kau sibuk belakangan ini. Kita sudah berapa hari tidak melakukannya." Ucap Krishan dengan wajah cemberut. Lucu sekali di mata Kana.


"Sebenarnya aku suka kau bermain dengan sedikit kasar."


Ucapan Kana membuat Krishan tersenyum dan mengecup bibirnya lagi.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati." Bisik Krishan yang mulai mendekatkan bibirnya pada Kana. Mengecupnya lagi dengan tangan yang mulai meraba masuk ke dalam baju Kana. Dia menyentuh sesuatu yang mengganjal dengan sangat lembut, membuat gadis itu mengerang tertahan.


Erangan yang Krishan rindukan, membuatnya dengan cepat membuka baju Kana dan bisa melihat pemandangan indah di depan wajahnya. Pemandangan yang sudah lama ia tidak lihat.


Bibirnya terus mengecup, tangan kirinya menyentuh leher Kana sementara tangan lain membuka kaitan yang membuat pandangannya pada dada istrinya terbatas.


Krishan memandang istrinya yang begitu cantik di hadapannya. Mata Kana menyiratkan bahwa kini ia tak ingin berhenti, membuat Krishan semakin tertantang.


"Selamat telah bisa melihat lagi, sayang." Bisik Kana dengan napas memburu, menahan nikmat atas remassan Krishan pada dadanya.


"Aku yang akan memimpinnya." Bisik Kana lagi dengan tersenyum nakal. Membuat Krishan ikut tertawa dan membiarkan Kana melakukan hal sesukanya di atas tubuh kekarnya itu.


...♡♥︎♡♥︎...


Kana mematung saat baru membuka pintu dan mendapati banyak orang menunggu di depan ruangan Krishan.


Para pengawal, Sean, David, dan Daniel duduk disana. Apalagi Daniel, menatapnya dengan kesal.


Krishan keluar dengan memakai kacamata bening. Tentu saja karena paksaan istrinya yang mau mata suaminya itu terjaga dari debu dan polusi lainnya. Tapi walau begitu, kacamata itu malah menambah kegagahannya.


"Kalian disini?" Tanya Krishan. Dia menatap istrinya yang malah menganga. Krishan tersenyum karena sangat tahu apa yang ada di otak istrinya.


Tentu saja, bukankah suara Kana yang menddesah tadi sangat kuat? Pastilah orang-orang di depan ini mendengar itu.


"Aa.. kami hanya ingin melihat kondisimu." Jawab David.


"Aku baik. Terima kasih. Tapi kau tetap masih memegang Shanprise." Jawab Krishan. Dia melirik Kana yang masih mematung.


"Kami pergi dulu. Terima kasih sudah datang." Ucap Krishan dan langsung menyeret istrinya pergi dari sana.


"Kau melakukannya dengan baik." Bisik Krishan meledek Kana, sembari mengecup pilipis istrinya. Kana langsung meninju pelan perut Krishan yang terus saja terkekeh.


Langkah mereka terhenti saat Felix berdiri di dekat mobil mereka. Segera Sean berlari kecil dan hampir menghajar lelaki itu jika saja Kana tak menghalanginya.


Felix menunduk dan langsung berlutut di depan Krishan dan Kana.


Kana tersenyum tipis. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi.


"Aku akan menjadi budakmu."


Kana tersenyum puas. Jelas saja, saat kembali, Felix pasti tidak tahu mau pulang kemana. Seluruh asetnya disita Arex, lalu Arex pula sudah mati dan terakhir yang Kana dengar, perusahaan mereka mengalami penurunan tajam dan Bastian juga tidak pernah tahu kabarnya. Tak ada yang mengurus perusahaan itu.

__ADS_1


Lihatlah Felix. Penampilannya sangat memprihatinkan. Pasti dia sangat kesulitan bertahan hidup seminggu belakangan, mempertahankan gengsinya untuk tak kembali pada Kana. Walau akhirnya dia menyerah dengan keadaan dan memilih melanjutkan hidupnya menjadi budak Kana.


Krishan menatap Felix dingin. "Kau tahu kan, aku tidak pernah memberi tempat pada anak buah musuh."


"A-ampunkan aku." Felix menunduk dalam. Krishan sudah bisa melihat dan dia menjadi sangat takut. Lalu mau bagaimana lagi, bukankah Kana yang mengatakan bahwa ia boleh menjadi budaknya?


"Baiklah. Aku terima."


"Terimakasih, nona. Terima kasih!" Felix kegirangan.


"N-nona.." Sean menatap tak percaya. "Nona, dia ini musuh."


"Ya, aku tahu. Tapi mulai hari ini, dia adalah budakku. Jadi kalian tidak boleh menyiksa dan menyuruhnya kecuali atas perintahku." Ucapnya sambil menatap Krishan.


Suaminya itu menghela napas. Permintaan istrinya sudah pasti tak bisa ia tolak. Apalagi baru membuka mata, Kana sudah melayaninya dengan sangat nikmat.


Krishan mengangguk pada Sean. Lelaki itu langsung memanggil pengawal lain untuk mengurus Felix supaya lebih rapi saat mendampingi Kana.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang dikendarai Sean.


"Kau marah padaku?" Tanya Kana yang memeluk lengan suaminya.


"Mana mungkin aku marah padamu, sweetheart." Jawabnya sembari mengelus lembut pipi Kana. "Katakan, siapa yang telah mengajarimu sampai begitu hebatnya?"


"Dua orang perempuan dari kota sebelah."


"Perempuan?" Tanya Krishan heran.


"Ya, mereka sangat hebat."


"Begitu? Sean, undang mereka ke acara makan malam. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mereka."


"Baik, tuan."


Kana melepaskan pelukannya pada Krishan saat ponselnya berdering. Alana, dia yang menelepon.


"Ya, Alan?"


"Kana!! Cepat kemari. Bastian.. Bastian dalam bahaya!" Pekik Alana dari seberang telepon.


Ah, benar. Alana belum tahu ceritanya. Batin Kana.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan kesana segera." Jawabnya sambil menutup ponsel dengan senyuman. 'Ada apa dengan Bastian? Memangnya aku peduli?' Batinnya lagi.


Tbc...


__ADS_2