Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Old Feeling


__ADS_3

Author akan upload 3 bab sekaligus hari ini. Jangan lupa di like dan tinggalkan komentarđź–¤ disetiap babnya, ya. Supaya Author semangat. Enjoy reading~


...****...


Kana berjalan entah kemana. Dia hanya melihat langkah kakinya yang ingin menjauh dari hiruk piruk orang-orang. Entah mengapa langkahnya membawanya menuju sebuah jembatan.


Jembatan yang besar, dengan lampu-lampu jalan membuatnya terang dan indah. Di tambah kendaraan yang berlalu lalang, juga angin yang berhembus sangat kencang, membuat Kana menyukai tempat itu.


Dibawah sana ada sungai yang lebar dan dalam. Walau begitu, belum pernah ada kasus orang bunuh diri disana.


Biasanya, Kana datang saat pikiran dan hatinya tengah kalut, seperti sekarang ini.


Kana selalu berharap, hembusan angin bisa menyibakkan masalah-masalahnya.


Kana berdiri di depan tembok pembatas yang tingginya 1.2 meter. Dia memandang air sungai yang terlihat hitam di malam hari.


Mata Kana tak sengaja menangkap seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Orang itu mematung menghadap sungai.


Noah, kenapa dia berada disana?


Kana berjalan mendekat, dia tahu Noah juga pasti dalam kesulitan. Apalagi dia kehilangan pekerjaannya yang baru Kana sadari karena dirinya. Krishan pasti memecatnya.


"Noah."


Noah langsung menoleh, "Kana? Sedang apa kau disini?"


"Akulah yang bertanya, sedang apa kau kemari. Bukankah kau yang selalu bilang padaku, angin di jembatan ini tidak bisa membawa masalahku pergi?"


Noah menunduk sambil tersenyum kecut. Dia tidak menjawab karena memang benar, angin itu tidak membawa masalahnya pergi. Tetapi dia sedikit lebih baik. Ternyata, Kana benar. Berada di jembatan ini, membuat perasaan jauh lebih baik.


"Jangan memandangku seperti itu. Itu membuatku terlihat menyedihkan." Ucapnya saat menyadari Kana terus menatapnya.


Kana tersenyum melihat Noah yang menunduk. Mantan kekasihnya itu, 4 tahun menjalani hari-hari dengannya, membuat Kana sangat mengenalnya. Noah tidak pernah mau terlihat lemah. Apalagi saat bersama Kana, dia pasti terus membuat dirinya terlihat baik walau sedang dalam masalah.


"Noah, aku tahu perbuatanmu waktu itu."


"Maaf, Kana. Aku hanya ingin kau kembali padaku. Tapi saat ini, aku tidak punya apa-apa. Aku cukup tahu diri sekarang."


Kana baru kali ini melihat Noah berendah diri. Walau begitu, dia tidak ingin mengolok Noah. Sebab selama empat tahun, walau Noah berselingkuh, dia selalu membantu Kana dalam masalah keuangan, juga memberikan apapun yang Kana mau.


"Kau pasti bingung sekarang."


Noah mengangguk. Pandangannya terus ke depan. "Aku hanya tidak bisa terima dengan alasan yang mereka buat untuk memecatku. Padahal sudah hampir 6 tahun aku bekerja disana. Memangnya siapa kekasih Yohan yang aku ganggu??" Tanyanya dengan nada frustrasi.


"Aku."


Noah menoleh pada Kana, lalu tersenyum malas. "Lucu sekali, Kana."


Kana ikut tertawa. "Kalau begitu, mau minum?" Tawar Kana.


~


Mereka duduk di sebuah kedai kecil pinggir sungai. Angin yang berhembus sebenarnya cukup membuat tubuh Kana yang berpakaian pendek kedinginan. Tetapi dia menikmatinya.


Noah membuka jeketnya lalu merebahkannya di pangkuan Kana yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Kana tersenyum, Noah memang seperti itu. Tidak mengizinkan Kana memakai pakaian yang terlalu terbuka.


"Kau juga ada disana, artinya sedang galau." Ucap Noah lalu menuang minuman ke gelasnya, juga gelas Kana. Mereka duduk bersebelahan menghadap sungai yang mengalir lembut.


"Tidak juga. Aku memang sedang ingin menikmati angin."


Kana melihat Noah yang meneguk langsung gelasnya sampai habis. Dia benar-benar punya masalah besar.


"Noah, apa perempuan itu kekasihmu?"


Noah menuang lagi minumannya. "Siapa?"


"Yang satu divisi denganmu."


Noah diam sejenak, dia melihat Kana yang sebenarnya terlihat jauh lebih cantik.


"Kau jangan khawatir, aku sudah tidak punya perasaan padamu."


Noah tertawa kecut. "Sial." Umpatnya yang membuat Kana tertawa.


"Aku bersamamu lebih dari empat tahun. Kau memang bukan lelaki baik-baik.."


Noah tertawa mendengar ucapan Kana.


"Tapi tetap saja aku menginginkan kau bertemu dengan penggantiku yang jauh lebih baik." Lanjut Kana.


"Dia perempuan yang baik. Aku begini pun, dia tidak meninggalkanku, walau sudah jarang mau diajak bertemu." Jawab Noah. "Aku memang sudah menyadari, tidak ada perempuan yang sebaik dirimu."


Kana tersenyum, "Memang harus pergi dulu supaya kau menyadarinya. Sayang sekali, sudah terlambat."


Kana menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Kau tidak tahu betapa hancurnya aku melihatmu melakukan itu langsung di depan mataku."


Noah menunduk.


"Rasanya tidak akan ada hari baik dalam hidupku setelah itu. Hancur berkeping-keping." Tuturnya lalu menghela napas panjang. "Noah, katakan, apa yang membuatmu selingkuh. Apa aku memang penuh kekurangan? Jika begitu, kenapa kau selalu mengajakku kembali?" Tanya Kana benar-benar penasaran.


"Kau tidak ada kekurangan, Kana. Akulah yang banyak sekali kekurangan. Salah satunya sulit menyadari keberadaanmu yang sebenarnya sangat berarti. Aku selalu kehilangan saat kau tidak ada. Aku jahat, karena mempermainkan kebaikan dan ketulusanmu padaku, aku begitu karena tahu kau akan selalu memaafkanku." Tuturnya dengan penuh penyesalan.


"Aku sudah mendapatkan karmaku sekarang." Tambahnya.


Kana malah tertawa. "Karma yang sangat ringan. Tunggulah sampai kau menyaksikan orang yang kau sayangi juga melakukan seperti apa yang kau lakukan padaku."


Noah sedikit terkejut dengan ucapan Kana. Lalu menyadari bahwa itu bisa saja terjadi. "Aku mungkin akan mendapatkan karma yang lebih besar karena ternyata mantan kekasihku langsung mendoakan hal buruk di depanku."


Kana tertawa lepas. "Noah, aku bercanda. Masa-masa itu sudah lewat dan aku sudah jauh lebih baik sekarang."


Kana lalu melipat tangan di dada saat merasa mulai dingin. "Kalau aku boleh memberi saran, cari saja yang lain."


"Kenapa?"


Tidak mungkin rasanya Kana mengatakan bahwa dia baru melihat perempuan itu bersama David di belakang club.


"Pokoknya aku mengatakan ini bukan karena cemburu. Kau pikirkan saja itu." Ucap Kana sambil menuangkan minuman ke gelas Kana.


"Baiklah, sayang."

__ADS_1


Kana tersenyum, lalu diam menatap aliran air sungai.


"Noah.."


"Hm.."


"Aku...sudah menikah."


Noah diam, menatap Kana yang wajahnya tidak terlihat sedang bercanda.


"Kau ingat penjual bunga waktu itu? Dia...suamiku."


"Hahaha." Noah tertawa lebar. Kini dia tahu Kana bercanda.


"Lucu sekali, aku suka candaanmu."


"Noah, aku serius. Aku sudah menikah sekitar tiga bulan yang lalu."


Noah membuang wajahnya. Dia bisa melihat keseriusan itu. Hanya saja, entah kenapa hati Noah terasa seperti teriris. Apalagi lelaki itu buta. Noah tidak bisa menerimanya.


"Kau tidak bercanda?" Tanya Noah lagi meyakinkan.


Kana menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Noah.


"Tapi kau tidak memakai cincin."


Kana melihati jari manisnya. "Aku sengaja melepasnya. Pernikahan kami belum tercatat di negara."


"Jadi, kau benar-benar sudah menikah dengan lelaki tunenetra itu?"


"Iya, aku menikah dengannya."


"Kana, aku tahu hubungan kita juga sudah berakhir sejak tiga bulan lalu. Tapi, apa kau segila itu sampai menikahi lelaki tunanetra demi meluapkan rasa sakit hatimu padaku??"


Kana tak menjawab, dia juga waktu itu sangat bingung dan terhimpit. Tetapi, Kana tidak menyesali keputusannya walau sekarang dia mungkin akan bercerai dengan Krishan.


"Aku melakukannya dengan sadar, Noah. Sekarang, aku sudah jatuh cinta padanya." Ucap Kana sambil meneteskan air mata, lalu menghapusnya dengan cepat.


"A-apa.."


"Aku.. sangat mencintainya." Ucap Kana lagi lalu menutup wajahnya dan menangis terisak. Terus terang, Kana sangat merindukan Krishan. Tetapi dia juga belum benar-benar bisa menerima banyaknya kejadian besar yang menimpanya beberapa waktu belakangan.


Noah tak berkedip melihat Kana dengan ekspresi tak percaya.


"Kana.." Noah mengelus lembut kepala wanita yang bahunya tengah bergoyang karena terisak.


"Kana, jika kau jatuh cinta pada suamimu, kenapa kau malah menangis??"


Kana menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa bercerita pada Noah. Rumit sekali, Kana sendiri tidak mengerti.


Noah menarik Kana dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menangisi lelaki lain di pelukannya. Sungguh, perasaan yang sangat membingungkan dirinya. Walau begitu, dia menyayangi Kana. Benar-benar menyayangi wanita yang ia dekap erat di pelukannya. Noah berharap, Kana menemukan kebahagiaannya.


(visual Noah)


__ADS_1


__ADS_2