
Pertunangan Alana dan Adam akhirnya dibatalkan. Karena pihak Alana lebih memilih melangsungkan pernikahan saja dari pada tunangan.
Sudah sebulan berlalu sejak kematian Bastian yang sempat membuat seluruh saraf Kana tegang, kini dia berdiri di depan ruangan Alana yang tengah bersiap di acara pernikahannya.
Tangan Kana menggantung, dia ingin mengetuk. Tapi, entah apa yang membuatnya tertahan disana.
"Kau tidak masuk?"
Suara Adam membuat Kana menoleh. Laki-laki itu sudah rapi dan lengkap dengan setelan jas dan dasi kupu-kupunya. Dia terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Ah, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu dan pimpinan Yohan. Terima kasih sudah mempekerjakanku di Shanprise dengan posisi yang setara. Karena itu pula, keluarga Alana benar-benar bisa menerimaku." Ucapnya dengan senyum lebar.
Ya, sejak kematian Bastian, Wellgroup tempat Adam bekerja pun ikut runtuh. Perusahaan itu sudah benar-benar bangkrut dan seperti menghilang begitu saja. Sejak itu pula, pengangguran membludak dan banyak orang bangkrut juga sengsara.
"Ya, baiklah. Aku masuk dulu." Kata Kana yang malas mengobrol dengan Adam. Lalu tangannya tertahan di handel pintu.
"Kau mau kemana?" Tanya Kana pada Adam.
"Melihat calon istriku."
"Aku tidak mengizinkanmu. Sana, pergi." Kana masuk ke dalam dan menutup pintu.
Dia mendapati Alana sudah bersiap di depan cermin. Ada ibunya disana. Tampak gugup saat melihat Kana berjalan anggun ke arah Alana. Kini dia percaya diri di depan Inna. Perempuan itu tak akan bisa berkutik lagi padanya.
"Calon pengantinku." Kana memeluk Alana dengan sangat erat. Dia juga bersedih karena sahabatnya ini akan menikah.
"Kau gugup?"
Alana mengangguk cepat. "Pegang ini. Tanganku dingin." Katanya sembari menggenggam tangan Kana.
Kana tersenyum lebar. Aneh, dulu dia tak merasakan itu saat menikah dengan Krishan.
"A-aku akan memberikan waktu untuk kalian." Inna yang menyadari keberadaannya tak dilihat, langsung keluar dari ruangan pengantin.
Alana terkikik. "Kau tahu, ibuku bilang dia ingin dekat denganmu. Hihii. Nyatanya, saat melihatmu dia langsung kabur."
"Dia bilang begitu?"
Alana mengangguk cepat. "Ibuku juga bilang, dia dan ayah harus bisa bicara dengan Krishan supaya hubungan lancar. Lalu aku bilang, 'Ibu, Yohan bahkan tak ingin melihat ke arah ibu karena dia tahu apa saja yang sudah ibu lakukan sejak dulu pada kecintaannya.' Hihii. Lucu sekali respon ibuku. Dia langsung murung." Alana malah terkekeh mengingat ucapan Ibunya tadi.
"Is, kau ini. Kenapa begitu pada ibu sendiri."
"Biarkan saja." Tukasnya sambil terkekeh.
UEEKK..
Alana tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan, dia berlari menuju westafel dan Kana mengikutinya dari belakang.
"Alan, kau kenapa??"
Alana terus muntah di westafel dan Kana mengurut bahunya.
"Haah.." Alana tampak kacau.
"Ada apa, kau kenapa? Apa sakit?" Tanya Kana panik.
"Eng... enggak. Mungkin karena aku gugup." Ucapnya dengan nada pelan.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi wajahmu pucat."
"Dia hamil."
Kana menganga. Dia mendengar itu dari Adam yang berdiri santai di ambang pintu. Kana beralih pandang ke arah Alana. Wanita itu malah cengengesan sambil menggaruk lehernya yang Kana yakin tak gatal.
"Hehehe. Eng.. iya. Aku hamil. Dua minggu."
"APAAA!!"
Kana benar-benar menganga lebar. "K-kau.. jadi karena ini kau menikah??"
"Tidak, kok. Aku dan Adam memang saling cinta. Dan tak ada yang tahu kalau aku hamil. Sumpah."
Kana menggelengkan kepalanya. Heran, kenapa anak ini terlalu sembrono begitu.
"Hah." Kana melepas napasnya yang terasa sesak di dada. Ya sudahlah, pikirnya. Toh mereka akan menikah.
~
Kana keluar dari ruangan Alana dan mendapati ibunya berdiri tegak diantara teman-temannya. Inka benar-benar sangat cerah dengan gaya yang begitu luar biasa. Dia pasti sudah dari kemarin pergi ke salon dan berbelanja demi bisa tampil hari ini. Dia pasti senang karena Kana memberinya uang yang banyak setiap bulan dan bisa pamer dengan teman-temannya yang lain. Walau begitu, dia tak pernah mengaku-ngaku sebagai mertua seorang Yohan.
Berbeda dengan perempuan disebelah Inka, ibunda Alana tak banyak bicara. Apalagi saat dia tahu siapa Inna sekarang, membuatnya terlihat sangat kecil.
Kana menggelengkan kepala melihat kelompok ibu-ibu itu. Dia membiarkan saja apa yang Ibunya lakukan, yang penting orang tua itu senang.
Beberapa menit telah berlalu. Kini, kedua pengantin tengah mengucapkan sumpah mereka berdua. Kana dan Krishan berdiri berdampingan di sudut belakang. Krishan sejak tadi menyenggol lengan Kana yang mematung menatap ke depan. Matanya berkaca, dia ikut terharu melihat sepasang kekasih itu kini resmi menjadi suami istri. Tepuk tangan meriahpun terdengar riuh di telinga.
"Jia.. aku ingin memelukmu." Bisik Krishan.
"Tidak bisa. Kau pimpinanku disini." Ucap Kana. Dia tak mau jika Krishan ketahuan beristrikan dirinya karena banyak koleganya disana.
Kana tak menjawab. Dia masih fokus menghadap ke depan.
"Sweetheart."
"Hm.."
"Ayo, menikah."
Kana spontan menoleh. "Apa?"
"Ayo kita menikah seperti mereka. Aku ingin merayakan pernikahan kita yang dulu. Aku ingin menyenangkanmu. Aku ingin kita punya kenangan istimewa."
Kana menatap mata Krishan. Lelaki itu tersenyum lembut.
"Kau mau aku dikenali banyak orang?"
Senyum Krishan memudar. Benar juga. Istrinya itu, entah sampai kapan mau menutup diri. Padahal desas-desus dialah istri pimpinan Yohan sudah terdengar karena nama Kanazya menjadi salah satu perusahaan KGroup. Juga banyak yang melihat Kana mondar-mandir ke ruangan Yohan, membuat orang semakin yakin. Walau demikian, Kana tampak tak peduli jika mereka belum melihatnya dan Krishan bermesraan secara langsung.
"Ck. Ya sudahlah." Krishan kembali menoleh ke depan. Wajahnya sudah bertekuk-tekuk dan Kana hanya tertawa kecil, merasa gemas dengan Krishan. Kalau saja bukan karena banyaknya orang-orang, dia pasti sudah akan menyantap suaminya itu dengan bertubi-tubi ciuman. Namun, Kana mulai murung. Ada sesuatu yang mengganjil di hatinya saat ini..
...♡♥︎♡♥︎...
TAK
Kana melempar benda kecil ke westafel. Dia menghidupkan keran dan membasuh wajahnya dengan kasar. Lalu menatap diri di depan cermin. Entah mengapa, rasa kesal menyelimuti dirinya.
__ADS_1
Krishan hadir dan memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuk Kana yang tak merespon.
"Ada apa, sweetheart?" Tanya Krishan melalui kaca di hadapan mereka.
Kana tak menjawab. Matanya menatap benda kecil yang berada di dalam westafel. Begitu juga Krishan, dia ikut melihat kearah mata Kana memandang.
"Sweetheart.." Krishan mencium puncak kepala Kana dengan lembut. "Jangan dipikirkan, sayang. Aku tidak apa-apa. Aku tak ingin dirimu bersedih dan stres."
Kana membalikkan tubuhnya menghadap Krishan. Wajahnya cemberut dengan mata yang mulai berkaca.
"Alana sudah hamil, Krish. Tapi aku belum hamil sampai sekarang." Rengek Kana yang langsung meneteskan air mata. "Padahal aku sudah telat 3 hari, tapi hasilnya tetap negatif!"
"Hei.." Krishan dengan sigap menghapus air mata itu. "Jangan bersedih, Jia. Kita kan, sudah periksa dan tidak ada masalah. Memang hanya belum waktunya saja."
"Tapi aku takut.. bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan anak untukmu??" Tanyanya lagi dengan suara serak.
"Aku tidak menuntut, Jia. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu lebih dari apapun. Jangan pikirkan soal anak. Pikirkan saja aku. Aku masih ingin terus berdua denganmu." Krishan mengecup bibir istrinya. "Jangan bersedih karena itu ya, sweetheart."
Kana mengangguk lambat.
"Kalau begitu, kita buat anak saja dulu. Sering-sering supaya cepat jadi." Krishan langsung menggendong Kana menuju tempat tidur.
"Hei, hei, Krish."
"Kenapa? Katanya mau punya anak. Ayo buat setiap hari. Hihi.."
Kana pun pasrah. Ia tak bisa menolak permintaan suaminya yang berusaha mengambil kesempatan dibalik keinginan Kana yang ingin segera mempunyai anak.
...•°•°•...
Aku juga pasrah. Kehidupan pernovelan pun tidak bisa sempurna. Sudah mendapat suami tampan, tajir, setia, baik budi, bucin, rajin menabung. Kana juga cantik, seksii, yaaa.. minimal harus punya kekuranganlah. Ya, Nggak?
End~
Eh, belum habis cerita. Maksudnya cerita ini sudah End, Tapi tulisan aku yang belum End.
BAIKLAH~
PANGGIL AKU PEN YAAA, KARENA AKU JUGA AKAN PANGGIL KALIAN PEN (FRIEND/PENA) JANGAN THAR THOR OTHOR LAGI🤭
Aku mau kasih tahu kalau sekarang, aku mau fokus ke cerita Syahdu ( Teman Tidur Kontrak ) Soalnyaaa..
CERITA ITU JUGA MENYANGKUT DI KEHIDUPAN NYATA AKU🥲😭😭
Walau tidak semua, hanya part bagian Wicak dan Syahdu aja, sekitar 80% menyangkut kehidupan nyataku Pen. Ikuti alur dua orang itu, ya. Karena dari sanalah aku menuangkan kenangan sejak kelas 1 SMA bersama mantan pacar HAHAHAHAHA..
Terima Kasih sudah membaca MENIKAHI LELAKI TUNANETRA🥺🥺🥺🥺 untuk pembaca garis keras, big hug buat kalian. Semoga terus membaca tulisan aku ya, Pen. Maaf kalau masih banyak kesalahan. Nanti aku kasih BAB SPESIAL DEEHH BUAT KALIAN YANG TAP FAV DI CERITA SYAHDUUUU...
AKU MAKSA, NIH!!😠
OKEDEH. SAMPAI KETEMU DI CERITA SANG PENAKLUK TAKLUK DAN SYAHDU YAAAA...🤧🤧🤧🤧 😙😙😙😙😙
DITUNGGU BAB SPESIAL LELAKI TUNANTETRANYAAAAA!!!!!!!
Eh, Bentar deh. JANGAN LUPA KASIH PENILAIAN TERBAIK KALIAN BUAT CERITA INI YA, PEENNN🥳😆😆😆😆
Nb1: cerita belum benar-benar tamat sampe JiaYohan menjadi kakeknenek.
__ADS_1
(mudah-mudahan bab spesial udah ada mulai besok)
Nb2: NB1 akan dihapus jika aku sudah gak kuat nulis 3 novel sekaligus😂😂😂😂