
...Flashback Off...
"Bagaimana acting-ku selama ini?" Bastian tertawa kecil. "Pasti kau sangat terkejut. Aku sangat memaklumi itu." Ucapnya seraya berjongkok di depan Kana.
Bastian menyelipkan rambut Kana ke belakang telinganya. Dia memandang wanita itu dengan senyum kecilnya.
"Harus kuakui, aku memang tertarik padamu sampai-sampai aku ingin mengubah rencana. Karena kukira kau dan si buta itu memang kakak beradik. Yah.. aku kecewa karena ternyata kalian suami istri." Jelasnya pada Kana yang pipinya sudah basah.
"Bas, tolong jangan seperti ini. Aku menyayangimu karena pertemanan kita. Kau orang baik, Bas. Ini bukan Bastian yang kukenal."
Bastian berdiri sambil tertawa-tawa.
"Bukan Bastian yang kukenal katanya. Hahaha." Dia merasa gelak dengan ucapan Kana. "Hei, kaulah yang tidak mengenalku."
Kana menunduk lemah. Apa yang Bastian katakan benar. Dialah yang tidak mengenal Bastian.
"Sayang sekali. Karena si buta itu, kau jadi kena batunya."
"Apa kau akan membunuhku, Bas?" Tanya Kana dengan suara serak.
"Yah, tergantung situasinya."
Kana menelan ludah. Jika orang tuanya saja Bastian tega membunuhnya, apalagi hanya seorang Kana.
BUM!
Gedung itu sedikit berguncang karena ledakan. Membuat Bastian terlonjak dan segera menuju pintu dan membukanya sedikit.
"Sialan! Siapa yang berani melakukan itu!" Pekiknya sambil mengintip keluar. Membuat Kana tergelak kecil. Akhirnya para pengawalnya telah tiba.
"Siapa yang be-"
Bastian tak melanjutkan ucapannya saat ia berbalik dan mendapati Kana berdiri dengan menodongkan senjata api ke arahnya.
Mata Bastian membulat. Dia melihat tali yang sudah tergeletak di atas lantai. Ikatan tangan Kana sudah terlepas dan dari mana dia mendapatkan senjata itu?
"Satu kesalahan bisa meluruhkan semua pondasimu. Yaitu, kau terlalu meremehkanku." Ucap Kana dengan tersenyum miring pada Bastian.
"A-apa yang.."
"Kau kira aku perempuan lemah yang hanya akan pasrah pada keadaan. Kau mengira aku akan terkejut saat tahu kaulah musuh, kau mengira aku tidak bisa berbuat apa-apa." Kana memiringkan kepalanya, menatap wajah Bastian yang sudah sejajar dengan pistolnya. "You wanna start the game ?
Bastian diam sesaat. Pikirannya mulai berjalan normal saat setelah dia menyadari, bahwa dia memang terlalu meremehkan perempuan itu.
Bastian langsung mengubah ekspresinya. Dia yang awalnya terkaget, harus berusaha mengecoh Kana. Bastian tertawa kecil lalu berjalan mendekati Kana. Membuat gadis itu perlahan mundur.
"Ahahaa. Apa kau sudah berlatih? Kau masih terlihat kaku."
Kana sedikit bergetar. Memang dia sudah berlatih, tapi tak sangka prakteknya secara langsung membuatnya takut. Apalagi jika ia harus menembak Bastian yang wajahnya berbeda sekali. Bastian tampak mengerikan.
"Jangan bergerak. Atau aku benar-benar akan menembakmu!"
__ADS_1
"Do you wanna start the game? Hahaha." Ejek Bastian mengulang ucapan Kana tadi. "Kau pandai sekali menggertakku. Aku sampai takut." Ucap Bastian sambil terus melangkah perlahan. "Sekarang, tembaklah aku. Aku ingin lihat kemampuanmu."
"Kau meremehkanku, Bas."
"Tidak. Aku tahu kau cerdas." Bastian berhenti saat Kana sudah berada tepat di belakang tembok.
Suara tembakan dari berbagai sudut mulai terdengar. Nampaknya para pengawal sudah berhasil naik.
DOR!
Tanpa aba-aba, Bastian terhuyung beberapa langkah kebelakang saat lengan kanannya berhasil ditembak Kana.
Dia meringis sambil memegangi lengan yang sudah mengeluarkan darah.
"SIALAN!!" Pekik Bastian berang. Dia langsung berlari ke arah Kana yang terkejut dan menghantam wajah gadis itu hingga Kana terjatuh. Kini, Bastian merebut pistol yang dijatuhkan Kana.
"Argh.." Kana berusaha bangkit. Tak disangka, tinjuan Bastian nampaknya membuat tulang hidungnya bergeser dan mengeluarkan cairan kental merah.
"Hah, perempuan sialan. Berani kau membuatku luka." Bastian mengarahkan senjata pada Kana yang perlahan berdiri.
Mata Kana tak lepas dari Bastian yang tingkat kemarahannya sudah berada di puncaknya.
"Nampaknya, hari ini adalah hari terakhirmu." Ucap Bastian. "Kau mungkin berpikir aku akan mengasihanimu."
Kana mengusap darah yang keluar dengan kasar. Dia bisa mencium amis dari darahnya sendiri. Dia bingung, ingin menyerang namun kepercayaan dirinya melemah. Apa dia bisa?
'Yang paling utama adalah membangun nyali '
Kana berjongkok dengan mata yang terus mengarah pada Bastian. Dia mengambil pisau dari balik sepatunya.
Melihat itu, Bastian tertawa. "Kau mau melawan pistol dengan pisau??"
Kana menggenggam pisau dengan kuda-kudanya. Dia dengan cepat berlari ke arah Bastian, membuat pria itu gelagapan dan langsung melepaskan tembakan ke arah Kana.
DOR!
BUK!
Bastian terhantam ke belakang sementara Kana dengan sangat cepat menusukkan atas lutut Bastian dengan pisau hingga lelaki itu menjerit. Kana menekan tangannya, menusukkan pisau itu hingga dalam sekali, Kana terus menusukkan pisaunya sampai ia merasa ujung pisau mengenai tulang paha Bastian.
Kana membiarkan pisaunya tertancap disana. Dia melihat Bastian yang menjerit hingga urat-urat lehernya muncul.
"ARRRGHHH.. BANGSAATTTT!!"
Kana, dengan napas terengah mengambil pistol yang terjatuh di dekat Bastian.
"Sayang sekali, Bas. Aku hanya mengisi satu peluru di dalamnya." Ucapnya lalu mengambil peluru di balik kaus kakinya dan mengisikan amunisi ke dalam pistol itu.
TAK! Kana mengokang senjata dan mengarahkannya ke Bastian yang masih meringis. Tak bisa ia pungkiri, tangannya bergetar. Entah karena apa, yang jelas ini kali pertama Kana melakukan hal semacam ini.
Kana terduduk di kursinya. Dia mengatur napas dan jantungnya yang berdebar kencang.
__ADS_1
"Sialan kau, Bas. Kau membuatku menjadi seperti orang jahat."
Bastian tak menjawab. Dia terus meringis menatap lututnya.
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasar. Sean dan yang lain langsung mengarahkan senjata pada Bastian. Matanya menelisik sekitar. Melihat Bastian mengaduh dengan pisau yang tertancap di atas lututnya dan Kana yang duduk di kursi menatap ke arahnya, menggenggam pistol dengan bekas darah di wajah, membuat Sean tercengang. Benarkah itu perbuatan majikannya?
Kana memerintahkan Sean dengan matanya. Dia berdiri sementara Sean dan Evan langsung mendudukkan Bastian di kursi dan mengikat tangan Bastian yang memberontak.
"Kalian sudah membawanya?" Tanya Kana dan mendapat anggukan dari Sean.
Evan mengeluarkan selembar kertas dari jeketnya dan menyerahkannya pada Kana.
"Nona, sebaiknya obati dulu luka nona." Ujar Sean.
"Tidak ada waktu." Jawabnya dan langsung membaca isi kertas itu dengan seksama sebelum akhirnya berdiri di depan Bastian.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan, Bas." Kana menunjukkan kertas di depan Bastian. "Tanda tangani ini."
"Aku tidak akan menanda tangani apapun!"
Kana menyerahkan surat itu pada Sean. Lelaki itu memberi tinta pada jari Sean di belakang, membuat lelaki itu menggeliat.
"Sialan! Apa yang kau lakukan!" Pekiknya sementara Sean terus membubuhkan sidik jari Bastian pada kertas itu.
Setelah selesai, Kana menunjukkan hasil sidik jarinya pada Bastian.
"Sudah kau tanda tangani. Terima kasih, ini akan sangat berharga bagiku." Kata Kana.
"APAA ITU BANGSAT!!"
BRAK! Hantaman keras dari Sean mendarat di wajah Bastian.
"Berhati-hatilah saat berbicara dengan bos kami."
Bastian terjatuh bersama kursinya. Dia memberontak, mencoba sekuat tenaga melepaskan ikatan tangannya.
Kana berjongkok di depan Bastian sambil melebarkan kertas itu di wajahnya.
"Kau bertanya ini apa? Ini adalah surat bahwa kau menyerahkan matamu pada Krishan."
"APAAA! SIALAN! BANGSATT! LEPASKAN AKU. AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ITU! AKAN KUBUNUH KAU!!"
BRAK! Lagi, Sean menghantam wajah Bastian berkali-kali dengan kakinya, membuat wajah itu membiru dan berdarah.
"Permainannya baru saja dimulai, Bas. Selanjutnya adalah kakakmu." Ucap Kana lalu pergi, meninggalkan Bastian bersama para pengawalnya.
"BANGSAT. PEREMPUAN JALLANG!"
Entah apa yang terjadi. Pintu tertutup namun teriakan Bastian berubah menjadi jeritan.
__ADS_1
Beberapa pengawal mengikuti Kana keluar dari gedung itu menuju ke rumah. Dia akan pulang, menemui Krishan yang tidak boleh tahu kalau dia baru saja mengalami hal yang ternyata cukup menyerukannya.