
...PoV Kanazya Laurels...
Aku memberi ruang pada Krishan yang masih meluapkan emosinya di dalam kamar. Biarkan saja, dia pasti butuh waktu untuk menerima lagi dirinya seperti dulu.
Aku diantar Sean dan beberapa pengawal menuju markas mereka. Di dalam mobil aku menonton rekaman cctv kejadian yang menimpa Krishan. Rekaman itu hanya menunjukkan jalan di depannya, lalu tak lama beberapa mobil mengawal Krishan dari samping, belakang, dan depannya.
Mereka melempari kaca mobil dengan batu-batu berukuran sedang. Ada juga yang memukuli kaca mobil dengan balok kayu. Krishan melaju kencang namun mereka terus mengejar sambil terus melempari batu itu. Hingga entah bagaimana mobil terbalik.
Aku menutup ponsel dan menyandarkan tubuhku. Melihat video itu membuatku hancur dan marah. Rasa dendam mendadak muncul. Gejolak ingin membalas perbuatan mereka pada suamiku membara dan aku benar-benar ingin menghabisi siapapun yang melakukan itu pada Krishan.
Krishan, perasaanku sangat tidak enak saat ini karena terus mengingatnya. Selama ini aku hanya berdiri dibelakangnya, dilindungi olehnya karena kelemahanku. Sekarang, sudah saatnya aku berdiri tegak disampingnya, membelanya, juga melindunginya dari orang-orang yang sudah berani membuat suamiku berhangus dada.
Kini tinggal bagaimana aku bisa menyelamatkan mental Krishan. Jangan tanya soal kehadiranku disisinya. Jelas aku akan terus di dekatnya untuk melayani dan menghiburnya. Dia suamiku, pria yang sangat mencintai dan kucintai. Apapun dia lakukan untuk membuatku bahagia, maka sekarang giliranku yang akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia dan tak merasa kekurangan apapun ditengah keterpurukannya. Termasuk menyingkirkan orang-orang yang mengusiknya.
Setelah sampai, aku langsung turun menuju penjara Felix. Aku membuka kacamata yang sejak tadi kupakai dan berjongkok melihat Felix dibalik jeruji besi yang sempit itu.
"Hai, lama tak bertemu."
Felix tersenyum menatapku dengan wajah babak belurnya. Badannya penuh luka goresan. Sepertinya dia memang benar-benar disiksa.
Ingin sekali aku meludahi wajahnya itu karena teringat dengan perbuatannya padaku waktu itu. Tapi aku akan melakukan sesuatu yang lebih parah. Dengan kode jariku, para pengawal membuka pintu sel dan memasang borgol di tangan Felix. Dia memberontak dan terus mempertanyakan apa lagi yang akan kami lakukan padanya. Apa lagi, katanya? Ini baru akan mulai.
Aku duduk di kursi yang disediakan Sean, memperhatikan Felix yang wajahnya mulai berang menatapku.
"Apa kau mau balas dendam sekarang?? Hah??"
"Jawab saja pertanyaanku kalau kau tidak suka kekerasan." Ucapku dengan menunjukkan sisi yang belum pernah kutampilkan dan aku sendiripun tidak tahu kenapa aku begini. Perasaan apa yang tengah kurasa sekarang, emosi yang besar timbul di hatiku. Sedih, marah, kecewa, menyesal, semua menjadi satu.
"Aku tidak akan menjawab apapun perkataanmu bahkan jika aku mati sekalipun."
Tepat sekali. Perkataan yang sudah Sean gambarkan padaku. Felix sialan ini benar-benar anjing peliharaan yang setia. Bahkan dia rela mati demi menjaga rahasia majikannya.
Aku menaikkan sedikit daguku untuk memberi kode pada pengawal. Sebelumnya, aku sudah memberitahu mereka rencanaku demi membuat Felix membuka mulut. Mereka menaburkan bubuk gatal di punggung Felix. Upaya yang kulakukan supaya lelaki itu tersiksa.
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian lakukan. Sialan! Lepas. Apa yang kalian lakukan padakuu!!" Pekik Felix memberontak. Namun beberapa orang itu menahan tubuhnya dan yang lainnya terus menuang serbuk yang akan membuat punggung Felix gatal-gatal.
Tak menunggu lama, reaksi serbuk itu mulai membuat Felix menggeliat. Dia merasa punggungnya amat gatal namun sialnya kedua tangannya diborgol dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak seperti orang kesurupan.
"Gataal! Hei, apa yang kau tuang tadi, ha? Aaakhh.." Felix menjatuhkan dirinya dan menggeliat diatas lantai.
"Sialan.. GATAAALLL. Cepat Garukkan punggungkuuu.."
Aku duduk santai seperti menonton aksi hiburan di depanku. Mungkin kematian memang tidak akan membuat Felix mau membuka mulut, tapi penyiksaan yang seperti ini, kemungkinan akan membuatnya tak berdaya.
"GATAAALLL... AAAKHHH.." Felix mulai berdiri dan menggesek-gesekkan punggungnya di tembok.
"Tukar posisi." Titahku pada para pengawal. Tangannya kini dipindahkan ke belakang, diborgol lagi dan serbuk ditabur dibagian depan.
"Hei, hei, sialan! AAAAKHHHH.." lagi, Felix menggeliat dan menggesek-gesekkan bagian depan perutnya ke lantai. Itu saja tidak akan bisa membuatnya lega. Karena reaksi gatal itu sangat kuat. Orang yang terkena serbuk itu, tidak akan puas jika tidak menggaruk dengan pisau. Apalagi Felix yang tidak bisa menggaruk tubuhnya, tentu saja itu akan membuatnya frustrasi.
Seluruh badan Felix memerah dan bintik-bintik kecil muncul disana. Mungkin tubuh Felix tidak kuat menahannya makanya bisa timbul reaksi alergi seperti itu. Baguslah, itu pasti akan membuatnya sangat menderita.
"Kau masih belum berniat menjawab pertanyaanku?"
Aku menyipitkan mata. Padahal posisinyalah yang tengah tersudut, kenapa dia malah mengancamku. Kurang ajar.
"Begitu, ya. Tambah lagi." Titahku dan itu membuat Felix menjerit.
"Aaakkk jangaaan.. aaakh. Hidungku.. hidungku gataaall.."
Hm, hidungnya pasti terhirup serbuk itu makanya ikut gatal. Apakah aku harus menghentikan saja? Aku mulai tak tega.
"Baikkkk! Baikk aku akan bicaraa, aku akan bicaraaa.." napas Felix memburu, hidung dan matanya pula memerah. Terus terang sebenarnya aku sedikit takut. Bagaimana jika serbuk itu membuat Felix mati. Bukankah itu artinya aku menjadi pembunuh? Tapi untunglah dia mau membuka mulut.
"Lepaskan dan beri dia pisau."
Pengawal membuka borgol dan dengan cepat Felix menggaruki seluruh tubuhnya dengan sangat kuat. Lalu saat pisau buah dilemparkan ke dalam, dia langsung mengambil dan menggarukkan sisi pisau dengan cepat hingga membuat jaringan kulitnya terkelupas dan sangat merah. Jika dia melakukan itu terus menerus, maka darah akan mengalir dari kulitnya.
__ADS_1
"Cepat katakan, siapa adik Arex!" Ah, aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin cepat-cepat mendengar ucapannya dan keluar dari ruang penyiksaan ini.
"Te-terus terang, a-aku benar-benar tidak mengenal siapa adiknya. Aku tidak tahu yang mana orangnya.. aakhh.." Felix belum berhenti menggaruk, dia meringis saat merasa perih dibagian kulitnya.
"Yang kutahu.. namanya Sanders. Mereka.. berencana menghancurkan Yohan secara perlahan.."
"Dari keluarga mana dia dibesarkan??" Tanya Sean.
"Di-dia besar di Inggris. Aku.. tidak tahu siapa yang mengadopsinya.. Arex benar-benar menyimpannya dengan rapat. Yang kutahu, dia punya nama lain disini."
"Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Aku tidak Tahu.. Sumpah.." Felix meringis, dia menggaruk punggungnya dengan kasar.
Sepertinya Felix sudah berterus terang. Jika tangan kanan Arex pun tidak tahu, mau bagaimana lagi?
"Katakan, dimana tempat persembunyian Arex!" Titah Sean lagi.
"Sumpah.. Arex tidak percaya siapapun selain Sanders. Dia pergi sendiri.. tanpa pengawalan.." ucapnya dengan napas yang seperti akan habis. Felix mulai menghentikan aktifitasnya karena merasa kulitnya sudah mengelupas dan mengeluarkan darah.
"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.
"Arex pernah dikhianati sahabatnya, Nona. Persis tuan Yohan. Itu sebabnya Arex lebih hati-hati." Jelas Sean dan aku hanya mengangguk saja.
"Siram dia pakai air hangat." Titahku. Aku mulai merasa ngeri melihat tubuh Felix dan beranjak keluar dari ruangan itu.
Entah apa lagi yang dipertanyakan Sean, aku tidak tahu karena kini aku memandangi lapangan tembak yang diisi beberapa orang yang tengah berlatih.
Tak lama, Sean menghampiriku.
"Sean, ajari aku menembak."
Sean tampak kaget dengan permintaanku. "Tapi, Nona.."
__ADS_1
"Jangan beritahu Krishan. Karena sekarang, aku ingin melindunginya." Tekadku sudah bulat. Aku harus bisa beladiri dan latihan apa saja demi pertahanan diri. Aku harus menemukan dalang dibalik semua ini.
Tbc