Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Accident II


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu....


"Kana, kau mau ke kafetaria?"


"Iya. Apa mau titip sesuatu?" Tanya Kana balik pada Bianna.


"Tidak, aku mau mengajakmu makan di kafe depan."


"Oke. Aku tunggu dibawah." Tuturnya lalu menuju lift.


Kana menyerahkan berkas ke divisi pengembangan di lantai satu. Setelah itu, dia duduk di lobi, bermain ponsel sembari menunggu Bianna. Tak lama, dia dihampiri oleh Sherly.


"Hai. Kita bertemu lagi." Sapa Sherly sambil duduk.


"Kurasa kau yang sengaja ingin bertemu denganku." Tukas Kana tanpa beralih dari ponselnya.


"Kau pikir aku kurang kerjaan?" Sherly melipat kakinya dengan santai.


"Kau sudah dengar kan, kalau Krishan membutuhkan donor kornea mata dan aku.."


"Ya ya ya, aku sudah mendengarnya langsung dari Krishan. Kau memintanya kembali padamu sebagai syaratnya, kan? Kau masih saja mengincarnya padahal jelas dia sudah tidak menyukaimu. Bukankah itu menyedihkan?"


Wajah Sherly berubah. Dia mulai merasa kesal.


"Kau pikir dia bisa mendapatkan donor dengan mudah? Selamanya dia akan buta!"


"Kau pikir aku sepertimu? Hanya menikmati kejayaannya, setelah terpuruk ditinggalkan, lalu kau menyesal dan membujuknya kembali dengan menawarkan bantuan mata?" Kana tertawa mengejek pada Sherly.


"Kau pikir aku tidak bisa membuatnya kembali padaku? Kau tidak tahu betapa dia mencintaiku dulu?? Dia bahkan tidak mengizinkanku kemana-mana jika tidak bersama dirinya."


"Kenyataan bahwa sekarang dia memilihku adalah yang terpenting. Dan.. aku lebih percaya padanya daripada kau." Tukas Kana lalu berdiri dan melangkah pergi.


"Kau yakin dia tidak membohongimu?" Langkah Kana terhenti dan menatap sebal ke arah Sherly. "Feeling-ku mengatakan, Krishan akan menerima tawaranku, karena aku sangat mengenalnya. Dia pasti tidak tahan dengan kegelapan yang setiap hari menjadi pemandangannya."


Kemudian Sherly ikut berdiri menatap Kana dengan senyuman. "Jika suatu hari Krishan menerima tawaranku, itu artinya dia membuangmu." Sherly melangkah meninggalkan Kana yang membeku. Mendengar ucapan Sherly, lagi-lagi dia merasa panas.


"Kana, ayo."


Bianna menggandeng tangan Kana tanpa tahu bahwa wanita itu sudah kehilangan rasa laparnya.


~


"Kana, kau tidak makan?" Tanya Bianna sambil mengunyah makan siangnya.


Kana hanya memesan lemon tea hangat demi menyelamatkan mood-nya hari ini.


"Aku tidak lapar." Jawabnya.


"Permisi, apa aku mengganggu?"


Mata mereka melihat pada sosok laki-laki yang menghampiri meja mereka.


"Oh, ada yang bisa dibantu?" Bianna berdiri sambil merapikan rambutnya saat melihat sosok laki-laki tampan dan berpakaian rapi itu menyapa.


"Begini, aku ingin berkenalan." Ucapnya dengan malu-malu.


"Wah, tentu boleh. Silakan duduk."


Kana menggelengkan kepala dengan tingkah laku Bianna pada lelaki itu.


"Aku Adam. Kalau kau.." Mata lelaki itu mengarah pada Kana.


"Kana." Jawabnya dengan tergagap karena ia yakin Bianna lah yang menyambutnya tadi.

__ADS_1


"Aku Bianna." Sambung wanita itu tampa ditanya.


"Apa kau bekerja di Shinprise?" Tanya Adam lagi pada Kana.


"Ya, aku dan Bianna bekerja disana." Kana mulai merasa kurang nyaman sebab lelaki itu justru terus memandangnya.


"Keren. Aku ingin bekerja disana tapi tidak bisa."


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Bianna.


"Tidak bisa saja. Oh ya, kalian ada waktu akhir pekan ini?"


"Ada."


"Tidak." Jawab Kana cepat.


"Kau ada urusan?" Tanya Adam.


"Aku akan pergi dengan suamiku."


"Hah?" Bianna ternganga dengan jawaban Kana.


"Kau sudah menikah?" Tanya Adam.


"Yang benar?? Kau sudah punya suami?" Bianna melotot pada Kana yang mulanya hanya ingin menghindari Adam.


"Kau temannya tapi tidak tahu?" Tanyanya pada Bianna.


"Kau single di data dirimu!" Tukas Bianna dengan tegas.


"Haha, sepertinya kau sibuk akhir pekan." Adam tertawa menutupi kebohongan Kana.


"Kalau Kana tidak bisa, aku bisa kok." Sambung Bianna dengan mata berbinar.


"Ah, begitu ya. Nanti aku kabarin lagi. Oh ya, kau tinggal dimana, Kana?"


"Kau tinggal di hotel?" Tanya Bianna tak percaya. Selama ini mereka tidak pernah membahas masalah itu.


"Hanya beberapa minggu karena rumahku sedang ada masalah." Jawab Kana seadanya.


"Di Foldcury, ya. Apa kalian bersahabat?" Tanya Adam yang membuat Kana tak nyaman. Orang baru sepertinya, terlihat seperti mengorek informasi.


"Hei, sahabatmu yang bernama Alana, kan? Aku sering lihat kau makan berdua dengannya." Tukas Bianna dan mendapat anggukan dari Kana.


"Aku rasa kita harus kembali, Bi." Ucap Kana cepat-cepat ingin memisahkan diri dari Adam.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Adam. Senang bertemu denganmu." Kata Bianna sambil berdiri dan diikuti Adam.


"Ya, senang bertemu kalian. Semoga bisa bertemu kembali."


Kana langsung melangkah keluar disusul Bianna dari belakangnya.


"Na, kau terlihat tidak suka. Padahal dia sepertinya tertarik padamu." Bisik Bianna menyamakan langkah dengan Kana.


"Ya, dia membuatku geli." Jawab Kana lalu langkahnya terhenti melihat Danny yang tengah menelepon di hadapannya.


"Nanti aku telepon lagi." Kata Danny pada orang diseberang teleponnya lalu beralih pada Kana.


"Kalau begitu, aku duluan." Bianna melangkahkan kaki meninggalkan Kana.


"Wah, tidak disangka bisa bertemu dengan....." Danny melirik IDC yang menggantung di leher Kana. "Nona Kana. Bagaimana bisa Krishan mendapatkan wanita cantik sepertimu?"


"Kau terlalu terang-terangan memujiku seolah tunanganmu itu tidak cantik. Apa semua berjalan lancar?" Tanya Kana sinis.

__ADS_1


Danny malah tertawa lebar. "Jika tidak lancar, aku akan menggaetmu untuk menjadi kekasihku. Kurasa kau takkan menolak."


Kana ikut tergelak. "Kau sungguh percaya diri."


"Tentu saja. Kau lihat, bahkan Sherly yang sudah bertunangan dengan Krishan saja bisa beralih padaku." Ucapnya dengan bangga.


"Benar juga. Kalau begitu, aku permisi." Kana melangkah pergi. Melayani Danny berceloteh terlalu menguras waktunya.


"Jika kau berubah pikiran, hubungi aku." Ucapnya pada Kana yang hanya tersenyum tipis.


"Oh ya, Kana, saranku berhati-hatilah. Karena kekasihmu itu sebenarnya sangat berbahaya."


"Apa maksudmu?"


"Kau akan segera tahu. Monster sepertinya, pasti sangat menakutkan untuk dijadikan pasangan hidup. Dia menyembunyikannya darimu karena dia menyadari kalau kau pasti akan lari setelah tahu."


"Jangan bicara sembarangan!"


Danny tidak merespon lagi. Dia melangkah pergi sambil terus tersenyum.


"Ck! That bastard !" Maki Kana sambil berlalu pergi.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


"Waah, kita bertemu lagi."


Kana membelalakkan mata, orang yang menculiknya waktu itu kini dihadapannya lagi.


"Hah, ini karena suamimu itu terlalu sombong. Bisa-bisanya dia mempermainkan kami!."


Dia duduk di tepi tempat tidur, memandangi tubuh Kana dari atas sampai bawah. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kaki yang terikat di atas tempat tidur. Entah apa tujuan mereka saat ini, namun getaran hebat mengguncang tubuh Kana. Dia sangat ketakutan.


"Kurasa suamimu itu tidak tahu kalau istrinya sangat cantik. Atau jangan-jangan dia belum pernah menyentuhmu? Hahaha." Pria itu tertawa lebar sementara Kana sudah mengalirkan air mata. Dia bahkan tidak bisa menjerit karena mulutnya yang diikat kain.


"Aku akan membuat perhitungan pada Yohan. Jika dia masih membangkang, kaulah yang akan menjadi mangsaku. Ahh, aku penasaran, apakah Yohan akan menurutiku demi kau istrinya, atau malah membiarkanmu saja karena dia mementingkan kekuasaannya. HAHAHA." Dia tertawa lebar lalu melangkah keluar.


"Hhmmmmpppp!!"


'Aku bukan istri Yohaaan!! Sialan!! Lepaskan aku! Kau salah tangkap, Bodoh!!' Maki Kana dalam hatinya sementara Pria itu terus tertawa sambil menutup pintu.


Krishan mengangkat ponselnya yang bergetar. Dia tahu siapa yang meneleponnya.


"Yohan, kau mencari istrimu, kan? Tenang saja, dia ada padaku dengan aman."


"Apa maumu, bedebah sialan! Jika berani kau menyentuh istriku sedikit saja, kau akan mati di tanganku!" Geramnya pada Felix, pria pendamping setia Arex.


"Hahaha. Lagak sekali. Aku suka gayamu yang tidak pernah berubah itu."


"Cepat katakan! Apa maumu, sialan!!" Bentak Krishan tak tahan. Matanya memerah dan berair membanyangkan ketakutan istrinya disana.


"Tidak banyak. Pertama-tama, aku mau kau datang sendiri untuk menjemput istri tercintamu ini. Kalau kau membawa seorangpun pendamping, aku akan memperkosa istrimu. Hahahaha."


BRAKK!!


Krishan membanting ponselnya dengan geram. Darahnya benar-benar mendidih mendengar ucapan Felix.


Dia mengerang keras. Mau tak mau, Krishan harus datang walau dia tahu tidak mungkin mereka langsung memberikan Kana padanya.


"Apa yang harus kita lakukan, Yohan?" Tanya Daniel yang ikut tak tenang sebab kini mereka tidak punya jalan.


"Biar aku datang sendiri kesana." Tukasnya dengan tangan yang mengepal dan rahang yang mengeras kuat.


Tbc

__ADS_1


(Visual Sherly)



__ADS_2