
Beberapa minggu berlalu. Setelah pertemuan dengan Adam, Kana memutar ulang rencananya. Ternyata musuhnya itu memang sangat berbahaya dan sudah mulai menebar racun. Untuk itu, Kana berlatih lebih keras.
Kana duduk setelah berhasil berlari dari rumah sampai markas Foldcury tanpa berhenti. Napasnya tersengal dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia meneguk air dalam botol tanpa sisa.
"Nona."
Sean berdiri mempersilakan Kana untuk mengikutinya. Kana bangkit dan berjalan menuju lantai paling bawah. Tempat dimana Felix berada.
Dia membuka pintu dan mendapati dua orang laki-laki di dalamnya. Satunya adalah Felix yang nampaknya sudah lebih baik. Sedangkan satu lagi....
"Senang bertemu denganmu. Kau terlihat lebih baik." Kana tersenyum ramah pada seorang laki-laki dengan darah segar mengalir dari kepalanya.
Lelaki itu menatapnya tajam dengan wajah yang sudah penuh lebam dan luka. Dia berlutut dengan tangan yang diikat rantai.
"Aku tidak sangka kau sekejam itu." Sahut Felix yang berada di dalam penjara.
Mendengar itu, Kana tersenyum tanpa mengalihkan matanya dari lelaki yang berlutut itu.
"Diamlah. Ini bukan giliranmu." Jawab Kana.
Dia menarik napas sambil terus menatapi lelaki itu dari ujung ke ujung. Nampaknya anak buahnya sudah memberi banyak pelajaran padanya karena aksi tutup mulut yang sungguh ketat.
Kana berjongkok di hadapannya. Lalu menunjukkan secarik kertas yang tertempel sempurna dengan bahasa asing.
"Kau yang menulis ini?"
Mata lelaki itu menatap tajam pada kertas itu sekilas lalu menatap Kana seperti ingin menerkamnya.
"Kau atau orang itu?" Tanya Kana lagi, tetapi Danny masih terus menatapinya dengan geram. Hal itu tak membuat Kana gentar.
Kana melemparkan kertas itu ke arah Danny hingga terjatuh di hadapannya.
"Terlalu jauh kau berlari, jika akhirnya menemukanmu hanya seperti menangkap tikus got. Penuh lumpur." Kana berdiri dan menghadap ke arah Felix.
"Aku memperingatkanmu. Saat ini, hidupmu bergantung padaku. Perusahaanmu hancur, kau akan mengalami penyiksaan setengah mati dan tak ada siapapun yang bisa menolong bahkan orang itu." Kana memberi jeda dari kalimatnya. Menatap Felix dengan tajam hingga laki-laki itu menunduk.
__ADS_1
"Semua yang berkaitan dengan Arex, aku akan menghabisinya tanpa sisa. Aku akan mempertimbangkan jika kau mau membuka mulutmu. Jangan berharap orang itu menolongmu. Jika kau tak mau bicara, maka Felix.." Felix mengangkat kepalanya menatap Kana dengan takut. "Aku akan membunuhmu."
"Ke-kenapa aakuuu.." Felix gemetar. Dia memegang besi dengan tatapan memohon pada Kana.
"Karena kau juga berkaitan dengan Arex."
Kana mengalihkan lagi pandangannya ke arah Danny yang kini bahunya naik turun menahan amarah menatap Kana.
Namun Kana tersenyum miring. Dia mengangkat sebelah kaki dan meletakkannya di bahu Danny.
"Pengkhianat, penipu, pembunuh, berandal sepertimu harus diajari cara nurut dengan majikan." Kana mendorong Danny dengan kakinya hingga laki-laki itu tergeletak di atas lantai.
Kana mendekat lagi, memperhatikan Danny yang berusaha bangkit namun gagal.
Kana menyentuh pipi Danny dengan ujung sepatunya. "Kuberi waktu sampai siang ini. Aku akan datang dengan kabar gembira darimu. Jika tidak..." Kana menjalankan ujung sepatunya hingga menuju pusat tubuh Danny dibawah sana. Dia menekan dengan kakinya hingga membuat Danny meringis dan meringkuk kesakitan. Hal itu juga membuat Felix dan beberapa pengawal disana merasa ngilu dan refleks merapatkan paha dan menutupi adik kecil mereka.
Kana dengan senyuman lebar keluar dari ruangan itu menuju tempat ia latihan bela diri. Sementara Sean mulai menaikkan airphone-nya. Ruangan itu sudah kosong, hanya tinggal Felix dan Danny berdua di dalam. Tanpa mereka sadari, percakapan mereka terekam dan tersambung oleh Sean dibalik ruangan mereka.
...°•°•°•°•...
Kana terhenti saat sebuah mobil besar menghalang langkahnya. Seseorang menariknya masuk ke dalam mobil secara paksa. Kana memberontak, namun tenaganya tidak bisa mengimbangi 4 orang yang memeganginya dan seseorang lagi menutup mulutnya dengan kain yang berisikan obat bius.
Mobil berjalan kencang sementara tubuh yang terus memberontak perlahan melemas dan tak bisa membuka matanya lagi. Kana dibawa pergi entah kemana. Seseorang yang memperhatikan dari jauh tersenyum tipis menyaksikan penculikan itu. Rencana barunya kini akan dimulai lagi.
~
Kana membuka mata perlahan, dia mengerjap beberapa kali. Lalu perlahan mengangkat lehernya yang mulai terasa sakit.
Kana tertahan saat tangannya hendak memegang lehernya yang pegal. Tangannya terikat dibelakang kursi. Dia mencoba menariknya berkali-kali namun gagal.
Kana mulai memperhatikan sekitar. Dia terdiam cukup lama melihat sebuah kaki jenjang berdiri dihadapannya. Perlahan pandangannya naik menuju badan yang bersetelan lengkap dengan jas dan dasi.
Tubuh Kana kaku melihat sosok lelaki yang tersenyum lebar dihadapannya.
"Hai, Kana. Senang bertemu denganmu." Sapanya pada Kana yang tampak tercengang.
__ADS_1
"Bas.."
Lelaki itu tertawa pelan. "Iya, ini aku."
Bastian berjalan beberapa langkah mendekati Kana yang masih menampilkan wajah tak percaya dengan apa yang ia saksikan sekarang.
"Ja-jadi.. kau.." Kana menahan air yang menggenang di matanya. Sungguh lelucon. Orang yang lama sekali dekat dengannya, menjadi teman dan tempat menuangkan curahan hati, ternyata adalah musuh yang sengaja mendekatinya. Cantik sekali, sampai ia tak bisa membedakan ketulusan dan kebohongan besar.
"Kau.. memanfaatkan.. pertemanan kita.." Kana tak bisa menahan lagi air matanya. Sungguh, Bastian tak terlihat seperti seorang pengkhianat.
"Apa kau terkejut?"
Kana menoleh kesamping, dia tak ingin menatap Bastian.
"Bukankah hal itu terlalu biasa? Dua kubu besar saling menyerang dan harus ada yang menjadi duri dalam daging, kan?"
Kana tak menjawab. Tubuhnya terasa berguncang melihat seorang Bastian berdiri menjadi musuhnya saat ini.
"Mari perkenalan ulang. Aku Alexanders Ghiz Sebastian. Atau yang akrab dipanggil Bastian. Dikeluarga, aku biasa dipanggil sebagai Sanders. Ah, maksudku keluarga kandungku. Sebab keluarga tiriku sudah mati. Disini." Bastian menunjuk telapak tangannya. "Di tanganku sendiri." Lanjutnya lagi dengan senyuman yang sangat jahat di mata Kana.
Kana bergidik, dia tak menyangka Bastian-lah yang membunuh kedua orang tua yang mengasuhnya sejak kecil.
"Ah, mungkin kau bertanya-tanya, kenapa aku melakukan ini padamu. Iya, kan?" Bastian memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana.
"Semua karena suamimu. Si buta itu. Beraninya dia mempermainkan keluargaku. Membunuh ayahku dan menyingkirkan kakakku."
Kana menunduk, dia tidak tahan dengan air mata yang mengalir terus menerus. Rasa sesak menyelimuti dadanya.
"Sudahlah. Aku hanya ingin bermain sebentar awalnya. Lalu entah mengapa, aku merasa bermain denganmu cukup mengasyikkan. Lalu, inilah saatnya waktu yang tepat untuk membalaskan dendam keluargaku padamu dan suamimu. Kuharap kau menyesal telah menikah dengan orang buta itu." Kata Bastian sambil mengeluarkan pisau dari kantong celananya.
TBC
Ada yang udah baca Syahdu?? Yuk dibaca. Dijamin bikin baper🥰🥰
__ADS_1