
"Jia.."
Panggilnya dengan suara gemetar dan perempuan itu menoleh padanya.
"Jia.." Krishan mencoba melihat wajah perempuan itu dengan seksama.
"Apa aku mengenalmu?"
Krishan menundukkan mata saat suaranya bukan seperti suara yang sudah sangat menempel di telinganya.
"Maaf, saya salah orang.."
Krishan berjalan perlahan. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Kana lagi. Tetapi nomor itu belum juga aktif.
"Jia, sampai kapan kau menjauh." Lirihnya lalu melangkah pergi.
...°•°•°•°•°•°•°•°...
Kana duduk menghadap jendela yang terbuka. Di luar sedang turun hujan. Tak bisa ia pungkiri, saat ini dia terus memikirkan Krishan. Lelaki itu juga tengah kesulitan karena mencari dirinya. Walau Kana juga tidak mengerti, kenapa seorang seperti Yohan harus melelahkan dirinya untuk mencari satu perempuan jika dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Kana ingat, bagaimana hujan membantunya dekat dengan Krishan. Saat lelaki itu terjatuh di tengah guyuran hujan.
Kana memeluk lututnya. Rasanya teramat rindu dengan hangatnya sentuhan Krishan. Dia mencintai lelaki itu.
Di sudut lain, Alana berdiri memperhatikan Kana yang sejak tadi mematung melihat hujan. Entah mengapa, walau dari belakang, Alana bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu.
Kemarin sejak pulang dari rumah sakit, Kana lebih banyak merenung. Mungkin dia sedih karena ada penyakit di dalam rahimnya. Saat mendengar ucapan Alana bahwa bisa saja dirinya hamil, ada sedikit harapan dalam hatinya supaya itu terjadi. Entah mengapa, padahal dia ingin berpisah dari Krishan. Tetapi saat tahu itu Miom, Kana malah syok dan menangis.
Alana terus menyemangati Kana, untunglah penyakit itu masih bisa hilang hanya dengan meminum obat dan persentase kesembuhannya juga tinggi. Tetapi tetap saja dia menangis. Alana sudah bisa menebaknya, itu pasti karena Krishan.
Alana meletakkan teh hangat di atas meja, membuat lamunan Kana terpecah.
"Sedang memikirkan suamimu?"
Kana tidak bisa mengelak pada sahabatnya itu.
"Pulanglah, aku tahu dia masih mencarimu sampai sekarang."
Kana tak menjawab, dia meletakkan dagu di atas lututnya.
"Kana, kau tidak bisa terus seperti ini. Krishan juga punya hak atas dirimu, karena kau istrinya."
Alana diam sejenak, melihat Kana yang tak juga bergeming.
"Kau marah karena dia menerima hadiah dari wanita itu, kan? Padahal menurutku, dia hanya mengambil kesempatan emas supaya bisa melihatmu. Kesempatan untuk mendapatkan kornea mata itu kecil, Kana. Kau tidak bisa egois, membiarkan dia terus mengalami kebutaan. Dia juga ingin melihat dunia, melihatmu. Lalu setelah dia bisa mendapatkan kornea, kau malah kabur darinya."
__ADS_1
Kana malah semakin memendamkan wajahnya. Terlihat tidak ingin mendengar apa-apa dari Alana.
"Hah, ya sudahlah." Alana berdiri. "Terserah padamu saja. Jangan menangis kalau Krishan bosan menunggumu lalu menikahi wanita lain!" Tukasnya lalu meninggalkan Kana.
Dia mengangkat wajah saat Alana sudah pergi. Kana merenung, apa yang dikatakan Alana benar. Tapi Sherly, dia sangat membenci wanita itu. Tidak mungkin dia membiarkan Kana bersama Krishan. Dia akan menuntut apa yang sudah Krishan janjikan. Krishan, sebenarnya apa yang kau lakukan? Tanyanya dalam hati.
...♡♥︎♡♥︎...
Kana melirik jam di tangannya. Sudah hampir tengah malam dan Pub di depannya terlihat sepi.
Loyal Pub, tempat yang David bilang bahwa Krishan selalu berada di tempat itu.
Ya, setelah berpikir panjang, akhirnya Kana mau menemui suaminya lagi. Dia akan mendengarkan semua penjelasan dari mulut Krishan secara adil. Setelah itu, barulah dia akan memutuskan akan berpisah dari lelaki itu atau menetap.
Kana melangkah masuk, dia sempat terhenti saat deretan pengawal berdiri dan Kana mengenali beberapa wajah mereka. Para pengawal yang berderet itu langsung membungkuk saat menyadari siapa yang masuk saat itu.
Tempat itu benar-benar tidak ada orangnya. Hanya Krishan sendiri duduk di depan meja bartender.
Dengan matanya, Kana memerintah para pengawal untuk keluar. Dengan cepat, mereka keluar dari sana, membiarkan kedua pasangan itu melepas rindunya.
Kana berjalan perlahan. Melihat punggung Krishan saja sudah membuat Kana tersenyum.
Kana melihat Krishan yang duduk menunduk, memegang segelas alkohol di tangannya.
Suara kursi bergeser membuat Krishan mengangkat kepalanya dengan berat. Dia sudah sangat mabuk, menatap seorang perempuan yang berani duduk disebelahnya.
"Katakan pada David sialan itu. Jangan lagi memesankan perempuan."
Kana berdecak. David brengsek. Berani sekali dia melakukan itu.
Kana menuang minuman di gelasnya. Sejenak dia teringat, bahwa dia tidak bisa meminum alkohol.
Krishan menoleh padanya. Dengan mata yang menyipit, Krishan menatap wajah Kana.
"Kau...cantik sekali."
Kana tersenyum, dia belum ingin berbicara supaya bisa mendengar semua ocehan Krishan padanya.
"Ah, sial. Aku..sudah punya istri. Aku..tidak tertarik.." Krishan menuang lagi minumannya. Badannya sedikit sempoyong, kepalanya pun terasa berat saat alkohol sudah terlalu banyak masuk ke dalam tubuhnya.
"Dia.. pergi.."
Kana menopang pipi, melihat Krishan yang duduk disebelahnya dengan tersenyum cerah. Wajah Krishan terlihat sangat sedih, tetapi ucapan dibibirnya membuat Kana luluh dan terasa menyenangkan karena Krishan sangat mencintainya.
"Jiaa..." Krishan sedikit berteriak, lalu menenggak minumannya lagi.
__ADS_1
"Jiaa.. Aku merindukanmu.." Wajah Krishan murung. Membuat Kana berniat menyentuh wajahnya.
Perlahan dia menyentuh lembut pipi Krishan, membuat lelaki itu menoleh dengan alis berkerut.
"Kau sedang merayuku?? Aku.. Tidak akan bisa dirayu.." Krishan menyingkirkan tangan Kana.
"Akuu.. Aku ini.."
Kana menahan tangan Krishan saat ia ingin menenggak lagi minumannya, membuat Krishan lagi-lagi menatapnya.
"Kau.. Apa.. Istriku.. sepertimu?" Tanyanya dengan kepala yang sudah amat berat. Dia terus meracau tentang istrinya.
Kana tersenyum. Melihat senyuman indah itu, Krishan pun ikut tersenyum.
"Aku.. Merindukan istriku.." Ucapnya.
"Apaa.. Aku.. Bisaa.. Bersama .. Istriku lagi..?"
Kana mengangguk dengan senyuman penuh di bibirnya.
Krishan malah terus menatapnya, seolah dia mengenal perempuan di depannya.
Kana menangkup kedua pipi Krishan, melihat matanya dengan seksama. Entah mengapa, racauan yang keluar dari mulutnya membuat Kana merasakan debaran cinta. Krisha mencintainya dan dia sangat bisa merasakan itu sekarang.
Kana langsung mencium bibir suaminya. Dia dengan perlahan menyentuh tengkuk Krishan lalu mellumat bibirnya sembari menutup mata, menikmati sesuatu yang sudah sangat lama ia lewatkan. Rasanya sangat rindu hingga membuat aliran darah berdesir ke seluruh tubuhnya.
Sedangkan Krishan, dia tidak membalas ciuman wanita itu, tidak juga membantahnya karena dia merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Benteng yang ia bangun untuk menepis semua rayuan wanita perlahan runtuh karena sentuhan yang membuatnya berdebar. Ada apa? Sentuhan wanita itu membuat hasrat yang sudah lama menghilang muncul kembali.
Krishan masih saja diam sampai wanita itu menyudahi ciumannya. Kana menatap matanya masih dengan senyuman, seolah wanita itu sangat bahagia bertemu dengan dirinya.
Krishan entah mengapa tak ingin mengakhiri ciuman itu. Dia menarik tengkuk Kana dan mencium bibirnya lagi. Krishan menyesap bibir Kana dengan lembut, seperti yang biasa ia lakukan pada istrinya.
Setelah merasakan hangatnya balasan dari wanita itu, Krishan melingkarkan tangannya di pinggang Kana, merapatkan tubuh wanita itu ke dekapannya, seolah dia takkan melepaskan wanita itu begitu saja. Dia sudah memulainya dan ini akan menjadi malam yang panjang.
Krishan tidak mendengar suara, tidak juga mencium aroma tubuh wanita itu, tetapi sentuhan tangan dan bibirnya, dia sangat mengenalinya. Ini seperti sentuhan Jia, istrinya.
Entah wanita ini istrinya atau bukan, Krishan hanya terus mencium dan merasakan debaran yang sama saat bersama istrinya. Hangat napasnya, juga cara wanita itu bermain dibibirnya, membuat Krishan semakin merindu pada Jia.
Wanita itu.. sangat mirip dengan Jia. Tanpa ia sadari, ia mengecup wanita itu dengan sangat lama. Seolah ia menyalurkan rasa rindu yang terpendam pada perempuan yang sentuhannya mirip sekali dengan sentuhan istrinya, Kanazya Laurels.
TBC
...**Hallo, Ada yang udah baca Syahdu?? Yuk dibaca. Dijamin bikin baper🥰🥰****👋****...
__ADS_1