
"Maaf, aku mengundang tanpa persetujuanmu."
Kana mengusap lembut lengan Krishan. Dia sempat lupa untuk meminta izin dulu sebelum mengundang orang lain datang ke rumah mereka.
"Tidak apa-apa, sweetheart. Ini rumahmu." Jawab Krishan.
"Kau tidak perlu keluar. Aku hanya ingin menepati janji pada Alana karena mereka ingin sekali datang kesini." Jelas Kana tanpa menjelaskan rincian rencananya pada Krishan.
"Apa tidak mengapa? Itu seperti tidak sopan."
Kana tampak sedikit berpikir. "Aku hanya tidak ingin kau merasa-"
"Aku akan menyapa mereka sebentar." Ujar Krishan sambil tersenyum tipis.
"Baiklah jika kau tidak masalah. Aku pergi dulu. Siang nanti aku akan kembali. Kau mau titip sesuatu?"
Krishan menggelengkan kepalanya. Lalu Kana mengecup kening, kedua mata, dan bibir Krishan sedikit lama.
"Kalau ada apa-apa kabari aku."
Krishan mengangguk lagi. "Hati-hati di jalan."
Kana mengangguk dan beranjak dari meja dapur. Saat sampai di depan pintu, Kana berbalik menghadap Krishan. Wajah lelaki itu masih menampilkan gurat senyum. Kana membuka pintu, lalu menutupnya lagi tanpa bergerak dari tempatnya. Tentu saja setelah mendengar pintu tertutup, Krishan menurunkan garis senyumnya.
Krishan mengeluarkan rokok dari sakunya. Entah sejak kapan rokok itu ada padanya. Karena setahu Kana, Krishan tidak pernah merokok sejak pertama bertemu sampai kecelakaan terakhir ini. Apa Krishan semenderita itu sekarang?
Krishan menyesap rokoknya dalam-dalam. Lalu mengeluarkan asapnya secara kasar.
Kana membuka sepatunya dengan sangat perlahan kemudian berjalan tanpa menimbulkan suara.
Kana sengaja tidak memakai parfum atau wewangian apapun. Dia hanya ingin tahu akrifitas Krishan sejak ia pergi. Karena menurut laporan Marry, Krishan berteriak di dalam kamar entah karena apa. Tetapi Marry juga tidak berani bertanya.
Setelah beberapa kali isapan, Krishan menggenggam Rokoknya kuat-kuat sampai hancur.
Kana meringis sendiri, bukankah tangannya akan sakit karena api rokok itu? Tetapi wajah Krishan tak berubah, dia seperti tak merasakan sakit.
Krishan berdiri, dia diam beberapa saat. Tanpa aba-aba, Krishan menendang kuat meja di depannya sampai membuat Kana memejamkan mata saking terkejutnya.
BRAK!
Sekali lagi, Krishan menendang meja yang hampir saja mengenai kaki Kana.
__ADS_1
Ah, ternyata seperti itu. Krishan memang sangat menderita. Dia belum juga bisa menerima kondisi dirinya yang sekarang. Dia juga beberapa kali bertanya tentang perkembangan penyelidikan pelaku utama yang membuatnya seperti sekarang. Tetapi Sean membantu Kana menyembunyikannya dari Krishan.
Pria itu berjalan melewati Kana. Wajahnya bertekuk dan terlihat sangat kesal. Ingin rasanya ia memeluk suaminya itu, tetapi Kana menahan diri. Krishan juga sudah berusaha kuat menyembunyikan keterpurukannya pada Kana. Tugas Kana sekarang hanya menjadi lebih kuat untuk bisa menemukan dan melawan musuh Krishan.
Kana tersentak, Krishan berteriak dari dalam kamar.
"BRENGSEK!!"
Kana menoleh pada Marry yang sejak tadi berdiri di dapur. Marry tertunduk lalu melanjutkan aktifitasnya. Sementara Kana memilih pergi saja dari pada melihat Krishan seperti itu.
Kana mulai melangkah keluar, dia sudah memakai pakaian olahraga dan sepatu. Hari ini dia akan berlari kecil menuju Foldcury sesuai apa yang Richi instruksikan.
Kana memukul-mukul dadanya yang terasa sesak setelah melihat suaminya. Dia mengatur napasnya sebentar sebelum memutuskan untuk berlari. Setelah dirasa lebih baik, Kana mulai berlari kecil dari gerbang rumahnya. Namun dia berhenti saat mendengar banyaknya suara sepatu dibelakangnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Kana mengerutkan alis melihat beberapa pengawalnya hanya memakai kaos dan berlari dibelakangnya.
"Kami ikut berlari bersama nona." Jawab salah satu dari mereka.
"Tidak perlu sampai seperti itu. Kalian masuk saja ke dalam mobil."
"Tidak, nona. Kami merasa tidak sopan membiarkan nona berlari sementara kami santai di dalam mobil."
"Benar, nona. Kami akan mengikuti anda. Kami sudah terbiasa seperti ini." Jawab yang lain. Lima orang pengawal itu memang sengaja melakukannya karena tidak ingin nona mereka kenapa-napa. Apalagi Kana sangat baik pada mereka, selalu membelikan makanan enak disaat yang tepat.
Jarak rumah sampai ke markas foldcury sebenarnya hanya 12 kilometer. Tetapi Kana hanya berlari semampunya.
Kana hanya mampu berlari kecil sepanjang 1 kilometer. Dia tidak kuat berlari lama. Itu sebabnya Richi meminta Kana berlari saja seberapa mampunya, bertahap dan harus ada kenaikan walau 50 meter setiap hari.
Sepanjang berlari tadi, Kana sudah banyak memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya. Walau belum menemukan jalan, dia yakin setelah makan siang bersama Adam dan yang lain, dia akan menemukan hal baru.
Kana duduk sembari mengatur napas. Dia membuka ponselnya, memutar video yang Sean kirim padanya, yaitu cctv dashboard mobil.
Sudah berulang kali Kana menonton video itu, berharap ada jejak kecil yang ditinggalkan para berandal itu. Tetapi nampaknya tidak ada. Video berdurasi tiga puluh menit itu benar-benar tidak meninggalkan celah.
Kana mendesah pelan sembari menyandarkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berpengalaman untuk hal seperti ini. Begitupun, dia takkan menyerah. Kana langsung berdiri saat melihat dua pelatihnya datang. Semangatnya langsung bangkit, target dalam satu bulan menjadi kuat akan ia dapatkan apapun resikonya.
...°•°•°•°•°•...
Baru Kana melangkah menuju kamar, pintu rumahnya diketuk pengawal yang membawa Alana dan yang lain.
Kana sontak tersenyum lebar lalu memeluk Alana yang sudah tersenyum lebar padanya.
__ADS_1
"Ayo, masuk."
Kana mempersilakan Alana, Bastian, dan Adam masuk ke dalam. Alana memutar kepalanya melihat rumah Kana yang sangat jauh dari ekspektasinya.
"Aku pikir rumahmu seperti istana."
Komentar pertama Alana membuat Kana terkekeh. Sudah ia duga Alana akan berbicara seperti itu.
"Tapi rumah ini sangat nyaman." Sambung Bastian.
"Ya, kau benar." Alana mengitari rumah yang tak begitu lebar itu. Dia melihat sepasang kursi di taman tengah yang mataharinya menyinari langsung tanpa penghalang. "Sangat menenangkan pandangan mata." Puji Alana.
Kana tersenyum lebar mendengar pujian teman-temannya. "Aku akan memanggil Krishan. Kalian duduklah. Aku akan berganti pakaian dulu."
Kana berjalan menuju kamarnya sembari tersenyum kecil menatap kamera tersembunyi disudut plafon.
Tak lama, Kana keluar bersama Krishan. Melihat itu, Alana dan yang lain langsung berdiri.
"Hai, selamat datang. Kuharap kalian merasa nyaman disini." Sapa Krishan pada yang lain.
"Rumahmu nyaman sekali, tuan." Puji Bastian yang memang sudah tahu karena pernah mengantar Kana yang dalam keadaan mabuk.
"Kuharap kami tidak mengganggu anda." Tukas Adam.
"Tidak sama sekali. Nikmatilah, tapi maaf, ada sesuatu yang harus kulakukan di dalam." Balas Krishan.
"Tidak masalah." Sahut Alana yang merasa sedikit sedih melihat kondisi Krishan yang kembali seperti semula.
Krishan berjalan menuju kamar diikuti Kana dari belakangnya.
"Kau mau diambilkan apa?" Tanya Kana setelah melihat Krishan duduk di atas sofa depan jendela kamar.
"Tidak ada." Ucap Krishan dan ia tampak berpikir sesaat. "Temanmu itu, aku seperti mengenal suaranya."
Kana mengerutkan alisnya. "Tentu, kau sudah sering bertemu mereka."
"Bukan. Tapi seperti mengenal suara lain."
__ADS_1
Kana terdiam di tempatnya. Benarkah? Suara lain? Apa Krishan mendengar suara seseorang saat kecelakaan terjadi? Kana menegang di tempatnya. Rasa ingin tahunya meningkat tajam setelah mendengar pengakuan Krishan. Suara siapa yang Krishan maksud?
"Krish.. Apa maksudmu.. Suara Adam?" Tanya Kana dengan nada yang tersendat..