Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Inna's Bashfulness


__ADS_3

Kana masih saja tersenyum sejak tadi. Rasanya ingin sekali dia menghamburkan diri di tubuh Krishan jika tidak mengingat dimana posisi mereka sekarang.


Krishan menghadiahinya toko perhiasan dengan namanya. Kana semakin terpesona saat melihat Krishan yang sempurna di matanya berdiri dengan pembawaan diri yang memang seperti seorang pemimpin yang layak dihormati.


"Kenapa senyum terus?" Tanya Bianna saat melihat Kana.


"Tidak.."


"Dasar aneh." Tukas Bianna. "Ah, teman-teman, Aku pulang duluan, ya. Aku masih ada janji." Bianna berpamitan pada Bastian dan Alana, lalu dia pergi.


"Suamimu keren! Aku tahu kau terus senyum karena itu."


Alana merangkul pinggang Kana sambil tertawa. Dari dalam gedung, mereka diperhatikan oleh Inna yang sudah tidak berkutik sejak tadi. Dia merasa sangat malu dan takut kalau Kana akan memberinya perhitungan seperti apa yang Alana katakan tadi.


Raymon Fuller, Ayah Alana merasa istrinya sedikit aneh. Dia memperhatikan gelagat ketakutan dari wajah Inna.


"Ada apa?" Tanya Raymon.


"A-apa.. aku pernah cerita. Kalau K-kana sudah menikah?"


"Tentu. Hampir setiap malam kau menghina anak itu karena menikah dengan pria buta."


"Ah.." leher Inna terasa tercekik mendengar kalimat yang diucapkan suaminya.


"Ja-jangan ucapkan itu lagi."


"Kau ini kenapa??" Tanya Raymon keheranan, tetapi Inna tak juga mau bicara. Matanya terus menatap Kana dan anak perempuannya yang masih bercanda di depan gedung, tak memperdulikan orang-orang yang lewat di hadapan mereka.


Inna melihat ke arah depan, tempat Krishan yang masih berbincang bersama jajaran orang penting lainnya.


Inna merasa miris pada dirinya sendiri. Kalau saja promosi suaminya tidak dibatalkan, pasti suaminya juga sudah ikut bergabung diantara mereka. Sayangnya, naik jabatan pun harus gagal karena kelakuannya sendiri. Hal itupun tidak ia sampaikan kepada suaminya karena ia malu.


Padahal, niat awal Inna datang ke acara itu adalah menemui tuan Yohan dan menceritakan bahwa suaminya mengalami ketidak adilan di anak cabang perusahaan Yohan. Dia akan melaporkan bahwa seseorang telah membatalkan promosi suaminya dengan alasan yang tidak jelas. Tapi, setelah melihat siapa tuan Yohan itu, barulah Inna mengerti kenapa itu bisa terjadi.


"Ayo, pulang." Raymon merangkul istrinya yang masih membeku. Rasa bencinya pada Kana berubah menjadi takut. Terlebih Yohan memang terlihat sangat mencintai istrinya. Bukan itu saja, Inna juga telah menghina suami Kana. Mengingat itu, dia menggigit lidahnya sendiri karena merasa telah lancang pada pemimpin perusahaan terbesar itu.


Dengan langkah berat, Inna mengikuti suaminya. Dia terus menunduk dalam, apalagi saat mereka melewati Kana. Sungguh, nyali yang sejak awal masih sekuat besi menghadapi Kana, harus meluruh lantaran tameng gadis itu adalah sebuah tanur peluruh Besi yang mampu menghabisi nyalinya tanpa sisa.


"Ibu, sudah mau pulang?" Tegur Alana yang menahan tawa dengan sikap ibunya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Jangan pulang larut." Sahut Raymon. "Kana, kapan-kapan bawalah suamimu menemui ayah. Kau sudah seperti anakku." Ucap Raymon sambil tersenyum tulus dan langsung melangkah lagi.


"Lihat ibuku, Kana. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya." Kekeh Alana pada sahabatnya itu.


"Itu ibumu, Alana." Sambung Bastian menegur Alana yang mengejek ibunya.


"Haha, maaf. Selama ini aku selalu merasa bersalah pada Kana. Memberi ibuku pelajaran, bukan sesuatu yang salah menurutku."


"Aku tidak ada niat untuk menghukum ibumu, Alan. Tapi, Krishan juga sulit dilarang."


"Aku sangat mengerti, Kana. Sebagai suami, dia pasti sangat sakit hati jika kau dihina oleh siapapun itu." Ucap Alana sambil menunduk.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi." Ujar Kana sambil mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


"Permisi, Nona. Tuan menunggu di mobil." Sean menghampiri Kana.


"Aah, benarkah?" Kana kegirangan karena sudah tak sabar bertemu suaminya. "Bas, Alan, aku pulang duluan. Kalian bagaimana?" Tanya Kana.


"Aman, hati-hati di jalan." Bastian melambaikan tangan pada Kana yang langsung pergi dengan senyum lebar di pipinya.


"Haah, lega rasanya." Ucap Alana sambil menatap langkah Kana yang menjauh.


"Lega kenapa?"


"Lalu, kau?" Alana menoleh pada Bastian.


"Aku? Memangnya kenapa? Aku tidak mau terburu-buru. Ingin menikmati dulu."


"Jangan lama-lama. Nanti tiba-tiba sudah tua saja."


"Kan, masih ada dirimu. Hahaha." Canda Alana.


"Aku tidak mau." Ejek Bastian dan langsung mendapat tepukan di punggungnya.


Sementara Kana berjalan dengan penuh senyum menuju mobil suaminya yang sudah terparkir di tempat khusus.


Kana berlari kecil, sudah tidak sabar rasanya ingin menemui suami yang berhasil membuatnya terpana sejak tadi. Krishan yang biasanya manja, tiba-tiba berubah menjadi sosok berwibawa yang sangat patut untuk dikagumi.


Pintu mobil dibukakan oleh Sean, dan Kana langsung masuk, memeluk dan menciumi Krishan yang terkaget dengan aksi istrinya yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Jia.."


"Hmmmm.." Kana menekan bibirnya di pipi Krishan hingga wajah pria itu hampir tak berbentuk.


"Sweetheart.."


Kana langsung duduk di pangkuan Krishan, menghadap ke arah pria yang rahangnya kini mengeras melihat tingkah seksi istrinya.


Tanpa kata, Kana langsung mellumat bibir Krishan, menyesapnya hingga membuat Krishan memberikan kode pada Sean dengan tangannya, supaya lelaki itu keluar dari mobil.


Setelah mendengar pintu mobil tertutup, Krishan langsung menjalarkan tangannya kesuluruh tubuh Kana, membuka kancing baju wanita itu satu persatu tanpa melepas ciuman mereka.


Krishan menyingkap rok Kana, dan wanita itu membuka tali pinggang Krishan dengan cepat. Membuka kancing dan mengelus lembut sesuatu yang telah mengeras di balik celana Krishan.


"Yohan di dalam, kan?"


Langkah David ditahan Sean yang sudah berdiri membelakangi mobil.


"Apa-apaan kau, Sean. Aku ingin menemui Yohan!"


David seketika terbelalak melihat mobil yang bergoyang tak jauh dari tempatnya dan Sean berdiri.


"Astaga! Apa mereka tidak tahu tempat??"


"Sudahlah, ayo pergi. Besok saja hubungi Yohan." Tukas Daniel sementara David masih berdiri dengan berkacak pinggang, melihati mobil yang terus bergoyang dengan mulut yang menganga. Untung saja kaca mobil itu hitam hingga tidak memperlihatkan apa yang kedua orang itu lakukan di dalam sana.


"Seumur-umur aku belum pernah mencobanya di dalam mobil. Untuk apa Yohan membangun hotel semewah Foldcury?" Gumam David yang terheran-heran dan langsung melangkah pergi.


Sementara di dalam mobil, hawanya sudah terasa panas. Gejolak yang sejak tadi ia pendam akhirnya bisa Kana lepaskan bersama suaminya.


Kana yang masih dipangkuan Krishan mulai melemas. Dia menangkup kedua pipi Krishan dengan tangannya, menempelkan dahinya di dahi Krishan sambil tersenyum puas mengatur napas. Krishan menyelipkan rambut yang menghalangi ke belakang telinga Kana. Tubuh mereka penuh keringat, lelah sudah mulai terasa.


"Aku mencintaimu, Krish.." ucap Kana dengan napas yang masih terengah. "Aku.. sangat mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu, Jia.." Bisik Krishan dengan nada berat, yang terdengar sangat seksi di telinga Kana.


Kana pun menjatuhkan diri di pelukan Krishan yang langsung melingkarkan tangannya, memeluk istri yang memang sangat ia cintai itu.


~

__ADS_1



**Jangan lupa baca karya Author "Syahdu (Teman Tidur Kontrak)" **


__ADS_2