Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Special Bab 4


__ADS_3

"Kau mau cek kandungan?"


Tanya Kana pada Sherly yang lewat di depannya. Perempuan itu sedikit kaget dengan adanya Kana yang duduk di bangku tanpa ia sadari.


Sherly langsung menutup ponselnya dan berjalan mendekati Kana. Sementara Kana ikut berdiri.


"Kenapa menikah tidak mengundangku?" Tanya Kana.


Sherly melirik perut buncit Kana sembari tersenyum kecil. "Kenapa aku harus mengundangmu?"


"Kupikir kau harus mengundang mantan tunanganmu, kan? Supaya memperjelas kalau kau benar-benar sudah melupakannya dengan baik." Tukas Kana sembari mengelus perutnya, memperjelas bahwa diapun tengah hamil, walau perutnya lebih besar dari perut Sherly yang belum begitu nampak.


"Aku sudah sangat melupakannya dan hidup dengan bahagia."


"Selamat. Aku senang kau dan Danny bersatu kembali." Ucap Kana tulus dari hatinya.


"Apa? Hahaha. Siapa kau bilang? Danny?" Sherly malah tertawa lebar. "Aku tidak bersamanya lagi karena aku sudah menemukan laki-laki yang tepat dalam hidupku."


Kana melongo. Bukan Danny rupanya. Pantas saja Kana juga heran karena Danny benar-benar sudah terpuruk karena Krishan menghancurkan perusahaannya.


"Ayolah, siapa perempuan yang mau hidup bersama laki-laki bangkrut. Be smart, girl." Sherly tergelak walau Kana mengangguk tanpa ia sadari. Sebab dia memilih Krishan juga karena ingin menumpang hidup, kan.


"Sweetheart." Krishan datang setengah berlari. Dia lalu mendekat dan menatap Sherly dengan tajam.


"Hai, kau tampak lebih tampan." Puji Sherly terang-terangan.


"Kau lihat siapa yang berada disampingnya, berbeda jika disampingmu." Ledek Kana dan Sherly malah tergelak.


"Sayang.."


Seorang laki-laki datang dan mengecup Sherly. "Oh, tuan Yohan, senang bertemu anda." Laki-laki itu langsung menunduk hormat.


"Sayang, kau mengenal tuan Yohan?" Tanya pria itu.


"Dia mantanku, aku sudah katakan padamu, kan, kalau aku mantan tunangan Yohan, kau saja tidak percaya." Tukas Sherly terang-terangan, seolah memuji dirinya yang pernah mendapatkan orang hebat.


"Jika sudah selesai, kami akan pergi." Ujar Krishan.


"Ya, tuntun istrimu itu supaya tidak jatuh." Tukas Sherly dengan nada ketus namun Kana tahu wanita itu tengah peduli padanya.


Kana hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Krishan merangkul istrinya sembari melangkah.


"Aku tidak sangka kau benar-benar mantan tunangan Yohan." Ujar suami Sherly yang masih menatap ke arah punggung Yohan.


Sherly tak menjawab, dia menatap dua orang yang sangat terlihat saling mencintai. Dan perempuan itu, Kana, dia sangat beruntung karena kebaikan hatinya. Itu yang membuat Sherly akhirnya mau memikirkan semua ucapan Kana waktu itu padanya.


"Tapi, kenapa kalian putus? Apa kau dicampakkan?"


Pertanyaan suaminya membuat Sherly terpojok. "Apa?? Aku yang mencampakkannya! Dasar. Kau harus tahu itu. Beruntunglah karena kau mendapatkan aku yang pernah dicintai oleh Yohan." Omel Sherly sambil berjalan menuju ruangan dokter kandungannya.


...♡♥︎♡♥︎...


Kana akhirnya berhasil merebahkan diri setelah seharian berjalan kesana kemari mencari peralatan bayi perempuannya. Besok, dia tinggal meminta Felix mendekor kamar bayi sesuai dengan yang ia inginkan.


"Sweetheart." Krishan ikut berbaring, memeluk istrinya dari belakang. Kegiatan sehari-hari Krishan yang tak pernah lepas dari kecupan di tengkuk istrinya.


Kana meraih tangan Krishan, meletakkannya di perut buncitnya itu. Mengeluskan dengan perlahan, dia ingin Krishan bisa merasakan tendangan dari si bayi yang sejak tadi Kana rasakan.


"Sejak tadi menendang terus, giliran Daddy pegang perut Mami kok kamu diam, sayang?" Tanya Kana pada perut buncitnya. "Kamu pasti bisa merasakan kasih sayang minim dari Daddy, ya?"


"Sweetheart, aku menyayangi putri kita." Bisik Krishan merapatkan pelukannya.

__ADS_1


DEG


"Eh.." Krishan langsung mengangkat kepalanya saat merasakan tendangan dari perut buncit Kana.


"Jia, apa dia tadi menendang?"


Kana dengan cepat mengangguk. "Itu karena kau mengatakan sayang padanya."


Krishan buru-buru duduk dan meletakkan lagi tangannya di perut Kana.


"Sayang, Daddy menyayangimu dan Ibu. Apa kau mendengar Daddy?"


Krishan dengan wajah sumringah menunggu tendangan dari calon anaknya.


"Jia, dia tidak merespon." Katanya dengan nada kecewa. Kana sampai menahan tawa, akhirnya Krishan bisa merasakan cinta pada anaknya sendiri.


"Coba sekali lagi."


Krishan perlahan menunduk, dia mengelus lembut perut istrinya. "Sayang, baik-baik di dalam perut Mami, ya. Cepatlah keluar. Daddy tidak sabar ingin melihatmu."


DEG. Lagi, tendangan Krishan rasakan di telapak tangannya.


"Jia, apa dia mengerti?" Tanya Krishan dengan raut takjub.


Kana tersenyum lebar, mengelus lembut kepala Krishan yang masih asyik mengelus lembut perutnya.


"Tentu. Jadi, rajin-rajinlah bicara padanya, Krish."


Krishan mencium perut Kana kemudian berbaring lagi, memeluk Kana yang kini berhadapan dengannya.


"Aku akan sering menyapanya mulai sekarang."


Kana memeluk suaminya. Rasanya amat menyenangkannya karena sebentar lagi Krishan bisa merasakan hidupnya menjadi ayah.


"Aku serahkan padamu, sweetheart. Pilihanmu selalu yang terbaik."


Kana menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku ingin itu darimu. Pikirkanlah, aku akan menerimanya setelah anak ini lahir."


Krishan mengangguk, PR baru baginya adalah mencari nama anak perempuannya yang harus mempunyai arti yang bagus. Dia akan mencarinya dengan sungguh-sungguh karena istrinya yang memintanya.


...****...


Beberapa bulan sudah berlalu. Kini hanya tinggal menunggu beberapa hari untuk Kana melahirkan anaknya. Saat ini dia tengah memperhatikan detil kamar si kecil.


Ruang anak perempuannya di dominasi warna pink. Perabotan dan lainnya sudah lengkap di dalam bahkan mainan yang untuk usia 3 tahun telah dibelikan Krishan. Laki-laki itu kini lebih bersemangat menanti putrinya. Krishan juga selalu menurut apapun yang Kana katakan jika itu untuknya dan putrinya.


"Nona, ada tamu datang." Ucap Marry dari pintu.


Kana langsung keluar rumah dan mendapati Ibunya berdiri di depan pintu. Belum diizinkan masuk sampai tuan rumah yang memintanya.


"Ibu, silakan masuk."


Inka dengan senyum merekah masuk ke dalam rumahnya dengan menenteng beberapa tas belanjaan.


Tak lupa ia mengedarkan pandangan, memperhatikan rumah anaknya yang baru pertama ia datangi.


Inka duduk setelah Kana menyuruhnya. Kana pula tersenyum melihat ibunya yang masih memperhatikan rumahnya. Dia tahu, sang ibu pasti memikirkan sama hal dengan Alana saat datang ke rumahnya yang menyangka Kana akan memiliki rumah luas dan megah.


"Ibu pasti mengira rumahku besar dan mewah, benar?"


Inka langsung tertunduk malu karena tebakan putrinya benar.

__ADS_1


"Dimana Krishan?" Tanya Inka basa-basi. Dia juga tidak ingin bertemu menantunya karena ada hal yang ingin dia katakan pada Kana.


"Sedang keluar, bu."


Syukurlah, Inka bernapas lega. "Ah, ini ibu bawakan sedikit makanan dan peralatan bayi. Ibu tahu kamu pasti sudah melengkapinya. Hanya, ibu ingin memberi saja."


Kana langsung membuka tas belanjaan yang diberi Ibunya.


Kana diam sesaat setelah membuka sebuah kotak makanan. Itu adalah irisan daging dengan kecap dan bawang bombay. Makanan kesukaan Kana sejak dulu. Tapi Kana memang tidak pernah memakannya lagi semenjak Inka meninggalkannya. Juga dirinya yang tidak mampu membeli daging waktu itu.


"Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Inka saat melihat Kana hanya diam menatap masakannya itu.


"Aku suka." Jawabnya cepat dan langsung memanggil Marry untuk menyimpankan makanan itu.


Kana membuka tas satu lagi. Sebuah selimut berwarna merah jambu dengan motif angsa bermahkota.


"Cantik sekali. Terima kasih, bu." Ucap Kana dengan sungguh-sungguh, dia menyukai pemberian ibunya.


"Syukurlah kalau kau suka. Sebelumnya, maaf kalau ibu datang dengan sembarang. Ibu meminta alamatmu dari Alana. Setelah mendapat kabar darimu kalau kau akan melahirkan dalam waktu dekat, ibu jadi ingin bertemu."


Kana melihat raut yang canggung dari ibunya. Mungkin dia benar-benar ingin bertemu sebelum Kana melahirkan.


"Ibu.. ingin meminta maaf."


Kana tak berkedip menatap ibunya. Wajah itu menunduk dan memillin jari. Entah apa yang merasuki ibunya yang tiba-tiba saja meminta maaf. Soal apa?


"Ibu sudah menelantarkanmu dari kecil. Kau hidup kesusahan dan aku hanya melihatmu dari jauh."


Suara Inna mulai serak. Kana bisa melihat air yang menggenang di matanya.


"Melihatmu berusaha keras sampai sekarang, sebenarnya membuatku malu. Tapi, aku juga menyesal, sekarang aku hidup sendirian."


Inka mengatur napasnya. Sepertinya dia tidak ingin menangis karena terlihat upayanya untuk menahan supaya air mata tidak terjatuh.


"Jia.." Inka mencondongkan duduknya menghadpa Kana. Dia menggenggam tangan anaknya dengan erat.


"Maafkan ibu. Ibu belum meminta maaf dengan pantas padamu." Katanya sembari meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan.


"Ibu tahu, ibu sangat tidak tahu diri. Tapi setiap hari ibu selalu merasa menyesal. Potongan ingatan saat dirimu bayi terus terbayang dan itu sangat menghantuiku. Ibu tidak hidup dengan tenang selama ini. Apalagi setelah mendengar anak yang kau kandung adalah perempuan, membuatku semakin merasa bersalah. Ibu ingin menebus kesalahan ibu. Tolong katakan, apa yang harus kulakukan supaya kau melupakan segala kesalahan ibu."


"Itu tidak bisa terlupakan." Jawab Kana dengan menatap ibunya. Dia tahu Inka sedang berusaha keras menjadi ibu yang baik saat ini.


Mendengar itu, Inka menunduk. Dia menghapus air mata yang kian deras.


"Aku tidak bisa melupakan itu. Goresannya terlalu dalam."


"M-maaf.." Ucap Inka ditengah isakannya. Kana menatap ibunya. Bahu wanita itu terguncang karena luapan emosi dalam dadanya yang harus ia keluarkan. Inka menangis, sementara Kana, rasanya air matanya tidak bisa mengalir. Hanya saja melihat Inka menangis seperti itu membuat Kana ikut sesak.


"Tapi ibu masih punya kesempatan untuk menjadi ibu yang baik buatku." Lanjut Kana lagi, mencoba memberi kesempatan pada Ibunya.


Inka mengangkat kepalanya. Wajah yang basah itu menatap Kana dengan rasa haru.


"Aku memutuskan untuk memaafkan masa lalu karena sekarang hidupku sudah sangat baik. Oleh sebab itu, akupun meminta ibu untuk menjadi lebih baik dari masa lalu. Khususnya untukku."


Inka memeluk Kana. Dia menangis di bahu anaknya. Rasa sesak di dada Kana kini merambat ke matanya yang perih. Dia menangis haru bersama ibunya.


Ya, Kana sudah memaafkan ibunya. Apalagi kini dia akan menjadi seorang ibu. Jika suatu hari dia melakukan kesalahan, Kana ingin anak perempuannya memaafkannya seperti ia memaafkan ibunya.


"Terima kasih, Jia. Terima kasih sudah menerimaku lagi." Ucap Inka yang masih terus menangis. Tanpa mereka sadari, Krishan tersenyum melihat kedua perempuan yang saling menangisi. Apalagi istrinya. Ketulusan Kana membuatnya merasa ia bukan hanya menikahi wanita mandiri yang cantik. Tetapi juga menikahi perempuan tulus yang lembut. Krishan menutup pintu perlahan, dia memilih keluar lagi sampai kedua wanita itu selesai dengan urusannya.


TBC

__ADS_1


**Jangan lupa supportnya, Pen. Like, Komen, Vote dan hadiah. Juga Tap Love pada semua karyaku ya, Pen. Sudah Baca Syahdu si gadis sewaan?? **


__ADS_2